Setiap malam jumat, di bulan kedua warga Temayang akan menutup pintu dan jendela rumah mereka rapat-rapat. Tirai ditutup dan lampu dimatikan. Tidak boleh ada satupun yang keluar. Semuanya itu harus dilakukan sebelum matahari tenggelam, sebelum tak ada cahaya lagi di ufuk barat. Anggap saja ini seperti nyepi ala Hindu. Tapi sementara kamu menyepi di dalam rumah, di luar akan ada suara gonggongan menyalak-nyalak yang mencekam.
Mungkin tidak akan semenakutkan tersebut jika hanya satu atau dua. Suara ini bersahut seperti ada puluhan, bukan… ratusan bahkan. Ada ratusan anjing yang siap menerkam. Jika saja itu anjing sungguhan, kamu bisa tinggal menaruh racun di depan rumah. Atau apalah yang bisa mengusir mereka datang, membunuh, atau… entahlah. Semua cara pernah dicoba, tidak ada yang berhasil. Tidak sama sekali. Yang mencoba melakukannya selalu kehilangan nyawa.
Hantu.
Makhluk jadi-jadian.
Dedemit.
Memedi.
@su Njegog.
Begitu orang lain menyebutnya.
Tidak bisa disentuh, misterius, dan… tidak ada yang pernah betul-betul melihat hatu-hantu tersebut di wujudnya. Apalagi jika bukan hantu? Warga terlalu takut untuk membuka gorden, menatap keluar, dan mereka hanya meringkuk di dipannya masing-masing berharap berhasil melewati malam mencekam dan subuh segera datang. Selain takut… tidak pernah ada yang selamat ketika melihat @su njegog. Tubuhnya akan ditemukan di pinggir hutan larangan. Mungkin sudah kaku, atau dingin-dingin tanpa hangat, tapi jelas sudah tak bernyawa. Masih mending bila hantu itu mau menaruh tubuhmu di sebelah situ, ada banyak tubuh yang tidak kembali,
Satu-satunya yang bisa diketahui soal @su njegog adalah jejak yang sepertinya mengarah ke hutan larangan. Bagian hutan yang tak sekalipun akan diinjak masuk oleh warga. Bagian paling berkabut, dengan pohon menjulang tinggi dan begitu tebalnya sebagai pagar awal, bagian paling seram –yang merupakan asal dari hantu hewan berlarian keluar.
Konon katanya hantu-hantu anjing itu adalah pesugihan peliharaan pemilik villa di dekat hutan larangan. Pemilik villa tersebut dan keluarganya mengalami kecelakaan yang menewaskan semua anggota tanpa terkecuali puluhan tahun silam. Karena tuannya sudah tidak ada, pun tidak ada yang memberikan “makan”, hantu-hantu tersebut lepas dan turun ke desa mencari tuannya yang hilang dan tentu saja… mencari makan.
Tak apa, kamu akan selamat jika sembunyi di dalam rumah sampai subuh. Karena jika fajar telah menyingsing suara itu akan pergi, derap itu menghilang. Maka dari itu, warga memilih untuk tinggal di dalam. Hanya semalam saja mereka perlu patuh, hanya perlu semalam mereka berada di dalam ruang, diam, dan pura-pura tak terjadi apa-apa. Hanya semalam mendekam dan mereka tak akan jadi makanan.
Tidak sulit bukan?
Hanya semalam saja.
Malam jumat di pekan kedua, bulan apa saja.
Jangan keluar. Tutup pintu, jendela, gorden, dan matikan lampu. Kalau berani keluar, nanti kamu tak selamat. @su njegog akan menyeret jiwa dan tubuhmu ke dalam hutan itu.
***
“Hiii… serem banget.” Deny menatap Bima dengan mata yang dibesar-besarkan. “Atut nih abang Bim-bim.”
“Ew!” Bima dengan jijik menyingkir dari sebelah Deny.
Mereka kini sedang berjalan bersama menuju rumah masing-masing setelah tadi berbicara dengan Man yang menggebu-gebu menceritakan @su njegog. Tentu saja rumah paling dekat dari sekolahan adalah rumah Deny. Tapi menurut penuturan Man, rumah Deny bukanlah tempat paling ujung dari yang terujung.
“Tuh lihat,” tunjuk Bima menggunakan dagu. “Itu jalan ke villa dan hutan larangan.”
Sebuah jalan kecil yang kemarin Deny kira mengarah ke sawah ternyata merupakan jalan menuju hutan yang digadang-gadang sangat menyeramkan oleh warga Temayang. Jalanan itu tidak beraspal, aspal memang hanya mengarah ke sekolah dan kemudian berhenti di situ karena memang setelah sekolah, tak ada bangunan papan apapun lagi. Bangunan bakso pak Man berada sebelum sekolah, jadi tetap kena aspal. Dan Deny pikir, ujung desa satu-satunya adalah SMAnya. Ia tak pernah tahu ada ujung yang lain, bahkan sebuah rumah lagi di balik jalan ini.
“Berarti kalo belok sini, nanti ketemu @su njegog?” ujar Deny menggoda dengan sedikit membelukkan langkahnya ke arah setapak di samping.
“Den!” buru-buru Bima menggandeng tangan Deny dan melangkah cepat melewati jalanan tersebut.
“Ahahahahaha.” Terpingkal, Deny menatap Bima yang setengah ketakutan, setengah kesal. “2017 kok masih percaya setan!”
“Kamu tuh ya!” Bima makin kesal dengan ocehan Deny dan tawa yang tidak behenti. Tapi pria itu tak melakukan apapun dan membiarkan sahabat barunya terus tertawa sampai mereka sampai pada perhentian pertama, rumah Deny.
“Nggak mau mampir dulu, bos?”
“Dah dibilangin mau pulang cepet juga.”
“Hehe, nggak usah sewot dong Bim.” Deny berhenti tertawa karena melihat Bima masih takut dan kelihatan khawatir jika terlambat pulang. “Makasih ya Bim infonya! Nanti aku liat deh @su njegog kayak gimana.”
“Den!” Bima melotot sambil setengah beteriak. Ia betul-betul seperti melihat demit ketika Deny mengatakan kalimat barusan. “Mau percaya nggak percaya terserah! Tapi jangan buka apapun malam nanti. Matikan lampu juga. Dan ayahmu… cegah beliau keluar ya Den.”
Deny mengrinyit. “Emang ayahku kenapa?”
“Aku dengar dari ayahku, pak Chandra mau keluar malam ini. masukk ke hutan larangan.” Dari nadanya, Bima betulan cemas. Dan Deny tidak bisa lagi tertawa karena ia pun baru tahu info ini.
Deny memang tak percaya hantu-hantu anjing dari hutan larangan, tapi ide bahwa sang ayah akan keluar di malam ketika orang tak ada yang keluar membuat Deny tak enak hati.
“Kamu juga jangan keluar ya Den.” Pamit Bima.”Aku nggak mau kehilangan sahabat baruku.”
Deny tersenyum mendengar kata 'sahabat'. Meskipun agak terharu, Deny memutuskan tak ingin terbawa suasana.
“Hihihi, iya Bima sayang.” Bernada banci, Deny mencolek lengan Bima yang membuat remaja itu melompat geli.
“Nggilani!” (menjijikan).
“Ahahahahaha!”
***
Deny tak langsung menuju ruang makan ketika pulang sekolah seperti biasanya. Berkat obrolannya dengan Bima tadi, pria itu menuju ruangan ayahnya yang berada di bagian kiri, di samping ruang keluarga.
“Ayah!” dengan sedikit menjeblak dan tanpa fafifu, Deny membuka pintu kamar. Membuat sang penghuni terhenti dari pergerakannya dan mengelus d**a karena kaget yang mendera.
“Deny, kamu ngapain ngagetin gitu.”
“Ayah ngapain mau ke hutan malem-malem? Biasanya juga patrol siangan. Itupun bukan di hutan sebelah vila.”
“Hutan larangan maksud kamu?”
Deny sebenarnya tak ingin menyebut hutan tersebut sebagai “larangan”, siapa yang melarang? Lagian menurut Deny, semua hutan sama saja. Tapi ya sudahlah, remaja tersebut menganggukkan kepala.
“Kamu takut @su njegog?”
“Emang betulan ada?”
“Katanya sih.”
“Ayah percaya?”
Ada jeda agak lama yang membuat Deny merada tidak nyaman. Meskipun banyak sifat Karina yang menurun pada Deny, keyakinan Deny pada hantu yang betulan nol besar menurun dari Chandra. Ayahnya bukanlah orang yang percaya hal supranatural, lalu kenapa sekarang beliau seperti setuju pada legenda aneh desa Temayang itu?
“Begini Den… ayah memutuskan kemari karena masalah ini. Bukan soal percaya atau tidak, ini lebih pada menyelesaikan masalah yang harus diselesaikan. Kalau @su njegog betulan ada, kita tinggal panggil dukun, kalau engga ada, lebih bagus lagi, hutan belakang villa bisa diklaim lagi oleh pemerintah.”
“Terus ayah dapat apa?” Deny mendengarkan ayahnya sambil melipat tangan. “Ayah kan sudah kerja di belakang meja. Masih harus ke lapangan buat apa?”
“Itu urusan orang tua.”
Remaja lelaki itu mendecih tak suka. ‘Dasar sok tua,’ cibir Deny dalam hati, ‘Masih 45 dah berasa kakek-kakek kali ya?’. Tapi setidaknya, kini ia tahu alasan mengapa ayahnya ngotot pindah ke Temayang. Pasti ada hadiah dan imbalan yang dijanjikan orang kantor pada ayahnya hingga beliau setengah mampus mau menyelesaikan masalah hutan desa ini.
Deny berdeham, “Begini yah… bukan masalah percaya atau tidak. Tapi seperti yang ayah bilang, ayah udah tua. Dan seperti orang tua pada umumnya, ayah itu sudah jompo. Kena angin dikit aja udah dikerokin sama bunda, apalagi ini mau jalan ke hutan. Udahlah, nggak usah sok kuat deh. Geli.”
Chandra tertawa kecil melihat betapa skeptic putranya. Dalam hatinya, pria tua itu tahu kalau putranya mungkin sudah mulai termakan mitos desa ini. Tapi tak apa, ini artinya Deny peduli padanya.
“Pokoknya ayah nggak boleh keluar. Pilih malem lain kek, ini milih malem jumat.”
“Kamu percaya ya?”
“Apanya?”
“Hantu.”
Deny menampakkan wajah jijiknya yang membuat Chandra kembali tertawa.
“Pokoknya gausahlah keluar segala. Males nggotong ayah kalo pingsan.”
Kembali, Deny menutup pintu kamar ayahnya dengan keras. Meninggalkan Chandra yang kembali geleng kepala. Sejurus kemudian tangan Chandra kembali bergerak menyiapkan peralatan untuk nanti malam, tak mengindahkan permintaan –ultimatum anaknya barusan.
‘Tiga setengah jam lagi.’