Malam Jumat Pekan Kedua

1152 Kata
“Besok malem jumat minggu kedua ya?” “Iya mas.” “Kalau begitu aku siap-siap dulu.” “Apa mas yakin?” Sebelum sempat mengucap salam, suara ayah dan ibunya dari arah meja makan yang cukup serius tertangkap oleh Deny. Lelaki itu berjingkat mendekati ruang makan. Sandal hitamnya sudah ia buka lebih dulu di depan dan pintu sudah kembali ia tutup. Deny baru saja kembali berjalan dari warung di ujung g**g milik pak Ngadiman untuk membeli penggaris dan busur yang diminta guru matematika untuk dibawa besok. ia sungguh terburu-buru dan setengah berlari karena warung itu tutup jam Sembilan malam. Beruntung ketika Ngadiman baru akan menutup warungnya, Deny sudah sampai. Jaraknya tidak cukup jauh, hanya lima menit perjalanan. Meski begitu, rasanya begitu melelahkan harus berlari konstan selama lima menit.   Lampu ruang tamu sudah gelap. Memang begitulah kebiasaan keluarga ini, jam Sembilan, pencahayaan ruangan tersebut akan dimatikan. Dan mungkin karena terlalu serius, kedua orang tuanya sama sekali tak mendengarkan deritan papan kayu yang dibuka-tutup tersebut. Deny bersembunyi di balik tembok, berusaha menguping apapun yang keduanya bicarakan. Entah mengapa Deny melakukan hal ini, remaja lelaki itu juga tak tahu. Padahal ia bisa saja masuk dan langsung bertanya pada keduanya. “Mas, sudahlah… lakukan saja tugas mas seperti biasa. Beresin berkas, keliling hutan waktu siang saja. Buat apa malam?” “Kamu tahu kan kenapa mas setuju dipindahkan ke sini?” “Tapi aku tetep aja nggak setuju! Gimana kalau cerita itu benar?” “Ya kalau cerita itu benar, tugasku memberantasnya. Memang apa lagi?” ‘Prak’ “Aduh…” “Deny?” Deny mengaduh dengan tertahan. Ia tak tahu sejak kapan ada pot tanaman di ruang tamu. Mungkin baru saja dipasang Kirana selagi Deny pergi? Tapi seingat lelaki tersebut, tk ada pot tadi siang. Ia merutuk tanaman tak bersalah yang membuat jarinya ngilu. “Kamu kenapa?” “Kepentok pot bun.” Lelaki tersebut masih mengaduh kecil dan berbungkuk memegang jari tengah kaki yang sepertinya akan bengkak esok hari. “Ini siapa deh yang masang?” “Loh, itu dah di situ sejak tadi pagi. Kamu aja yang engga sadar.” Setelah sakit yang ia rasakan memudar, Deny menatap Kirana dan Chandra yang masih berdiri di depannya. “Kamu ngapain sih kok kayak sembunyi-sembunyi masuknya?” Chandra bertanya menyelidik. “Engga sembunyi kok. Orang Deny diem-diem soalnya ngira ayah sama bunda udah tidur.” Berkilah, Deny berusaha mencari alasan mengapa ia terlihat seperti kucing yang sedang mencuri. “Udah ah, Deny mau masuk kamar, ngantuk banget lagian.” Bbur-buru, remaja itu melewati kedua orang tuanya yang geleng-geleng kepala menatap punggung Deny yang menghilang di balik daun pintu. Di dalam kamarnya, pria itu langsung menghempaskan tubuh di kasur empuk. Ia memikirkan percakapan Chandra dan Karina yang membuatnya penasaran. Beberapa hari yang lalu, teman-temannya juga ribut membicarakan malam jumat. Satu-satunya hal yang ia tahu soal malam jumat adalah… sunnah rasul? Alias… ihik-ihik. Apa ayah dan ibunya akan membuatkannya Deny adik? Memikirkan itu sudah membuat Deny merasa jijik sendiri. ia begidik dan menutupi wajahnya dengan bantal. ‘s****n! Tidur saja ah!’ *** “Jangan lupa hari ini kunci semua pintu dan jendela sebelum magrib. Tetap di kamar dan sebisa mungkin langsung tidur ya.” Ucap Astuti. “Saya akhiri pelajaran hari ini. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Sejak pagi tadi setiap keluar ruangan, guru-guru selalu mengucap hal yang sama. Memang ada apa dengan malam jumat? “Den, hari ini nggak ke rumah dulu ya.” Ujar Bima berbisik seolah takut didengar oleh Nata dan gerombolannya. Sementara itu Nata yang ditakuti tidak terlihat tertarik pada obrolan Bima dan Deny. Beberapa hari ini memang intensitas gangguan di sekolah berkurang, meski begitu kadang di jalan pulang, Nata dan kawan-kawannya masih sering menggeber-geberkan motor saat lewat. “Kenapa?” “Ini malam jumat minggu kedua. Kamu nggak tahu?” “Hah?” Bima menggelengkan kepalanya penuh kekesalan. Pria itu menengok ke belakang dan menatapi Nata yang masih asyik mengobrol dengan teman se-geng. “Nanti pulang mampir warung bakso dulu aja.” “Eh? Oke.” Deny mengangguk meskipun masih tak tahu apa yang sedang Bima bicarakan. “Fira sama Lele gak ikut?” “Engga. Mereka juga mau balik lebih cepet kayaknya. Kita berdua aja ya.” Kembali mengangguk, Deny kemudian membereskan peralatan sekolah yang berserak di meja. “Ayo pergi sebelum mereka sadar.” Bima melangkah keluar dengan hampir mengendap diikuti Deny yang menenteng sebelah tasnya. *** “Pak, bakso kalih es teh e kalih.” (pak bakso sama es tehnya dua). “Oke mas bro.” Kedua pria itu duduk berhadapan. Kali ini Deny duduk menghadap pemandangan tebing dan sambil menikmati pemandangan di depan masing-masing. Warung bakso ini berada di sebelah barat sekolahan. Tidak terlalu jauh dari sekolah dan biasanya banyak siswa yang duduk menikmati semangkuk pentol panas tersebut, tapi hari ini sepertinya hanya ada Bima dan Deny. “Ada apa sih Bim? Kok pada ngomongin soal malem jumat minggu kedua.” Deny bertanya tanpa basa-basi. “Kenapa malam jumat? kenapa minggu kedua?” “Emang kamu nggak dikasih tau sama orang tua kamu? Aku dengar mereka emang dipindahin untuk nyelesaiin masalah ini?” “Masalah apa?” “a*u njegog.” Deny mengrinyit mendengarnya. Ia tahu arti a*u njegog adalah anjing yang menyalak, tapi apa hubungannya sampai warga setakut ini? Sampai semua orang memutuskan untuk cepat pulang? Sampai semua guru memperingatkan untuk menutup pintu dan jendela? “Mas, mangke aku tutup jam loro.” (mas, nanti saya tutup jam dua). Suara Man mengagetkan Deny. Beliau membawa bakso yang dipesan di tangannya dengan dua buah es the yang kelihatan menyegarkan. “Oke pak.” “Apa katanya?” tanya Deny. “Jam dua tutup.” “Lah, bentar lagi dong?” “Iya.” Bima menimpali. “Yuk dimakan dulu biar ga keburu-buru nanti.” Keduanya makan dengan khidmat, menikmati bakso dan es teh yang mengalir melalui kerongkongan. Deny menyukai tempat bakso ini, apalagi meja yang menghadap ke arah tebing. Bakso pak Man memang berada di sisi tebing. Sebagian lantai bambunya mengambang di udara dan bersanggakan bambu dan kayu yang lebih besar di bawahnya. Pemandangan pohon-pohon besar dan hamparan sawah terasering di depan mata tak pernah dirasakan Deny selama di Jakarta. Beberapa kali ia sempat liburan ke puncak atau ke Bandung di rumah neneknya, namun tak sekalipun ada pemandangan sebagus ini. “Jadi gimana? Apa itu a*u njegog?” “Mas e mboten ngertos?” (masnya nggak ngerti?) tanya Man menyambung. Tangannya sibuk memasukkan mangkuk dan gelas ke dalam sebuah wadah bamboo cukup besar beserta beberapa alat masak kecil lainnya. “Mas e sek pindahan saking Jakarta nggih?” “Bener pak. Dek ne gak ngerti boso jowo.” (betul pak, dia nggak ngerti bahasa jawa) Bima yang menggantikan menjawab pertanyaan Man karena tahu Deny akan gagap. “Owalah mas.” Man mengangguk dan menghentikan pergerakan tangan. Beliau mengambil kursi di sebelah Bima dan menghadap Deny dengan raut wajah serius. “Jadi gini mas, a*u njegog itu…”          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN