Serahkan Semua Padaku

1239 Kata
“Halo, nama saya Deny. Saya dari Jakarta. Salam kenal semuanya.” Deny menatap teman-teman barunya dengan khidmat, berharap ia bisa memberikan kesan sopan dan ramah kepada dua puluh lima siswa yang ada di ruangan ini. pandangannya kemudian mengedar ke sekitar. Ia bisa melihat Fira duduk bersebelahan dengan Laila yang menundukkan kepala ketika mata Deny berserobok dengannya. Sedangkan Bima duduk sendiri di depan, di belakangnya gerombolan Nata memandang Deny dengan senyum miring. Meskipun tak suka, Deny tak ingin bereaksi terlalu kentara. Apalagi satu-satunya bangku kosong adalah bangku di sebelah Bima yang artinya Deny harus duduk di depan Nata dan kawan-kawannya. Meskipun belum berkenalan secara resmi, namun Deny sudah tahu siapa anak-anak buah Nata. Ada Damar, Rendi, dan Gani. Damar memiliki rambut ikal dan belah tengah, dengan hidung bangir dan mata belo. Ia memang jauh lebih tampan dibandingkan dengan Nata, si ketua geng. Tapi tampilannya yang berantakan rasanya bisa membuat para wanita kabur. Sementara itu Rendi merupakan lelaki yang paling kecil dengan gigi gingsul yang nampak jika tersenyum. Deny lebih mudah mengingatnya karena motor Rendi adalah motor yang paling berisik dibandingkan dengan motor tiga orang lainnya. Sementara itu Gani bertubuh paling besar. Ia tidak lebih tinggi dari Deny, namun tubuhnya yang gemuk membuat Gani jauh lebih perkasa. “Ada yang mau bertanya lebih lanjut?” “Deny udah punya pacar belum?” suara nyaring dan dilanjut dengan cekikik para wanita dari sebelah kanan membuat Deny salah tingkah. Deny bisa langsung mengetahui kalau pemilik suara yang barusan bertanya tersebut adalah Naya, kembaran Nata. Beberapa fitur wajah Naya mirip dengan Nata, misalnya saja mata dan hidung mereka yang sama kecil. Dan jelas, cara mereka tersenyum juga sama. Sama menyebalkan. “Belum.” Jawab Deny singkat. Ia masih tersenyum masam ketika cekikikan tersebut berlanjut. Naya sama seperti Nata, punya tiga orang lain sebagai teman gengnya. Ada Dhea dengan rambut pendek seperti Fira, Alya dengan jepit pita nangkring di rambut, dan Meri, gadis berkacamata besar dan berbando sama besarnya. Info ini ia ketahui tentu saja dari Fira. Gadis itu dengan senang hati memberi tahu Deny mengenai siapa-siapa saja yang perlu pria tersebut kenali dan cap ‘berhati-hati’. Kumpulan orang-orang ini adalah orang dengan latar belakang keluarga yang luar biasa di Temayang, orang tua mereka dianggap berada karena merupakan petinggi desa. Tentu bagi Deny ini hal yang biasa saja. Dengan taraf hidup yang cukup tinggi dna perbandingan teman-teman yang orang tuanya betulan ‘kaya’, bagi Deny pekerjaan-pekerjaan orang tua remaja-remaja di depannya ini bukan apa-apa. Misalnya ayah Gani yang merupakan ketua RW, tak bisa disandingkan dengan ayah Roy yang merupakan dosen di universitas ternama di Jakarta. Tapi bahkan Roy tidak sesombong itu! Yah, masa bodohlah… Deny sama sekali tak peduli soal hal tersebut. Baginya harga seseorang ditentukan oleh sikap dan kemampuan diri sendiri, bukan orang tuanya. Melihat para lelaki dan perempuan yang sombong dengan pekerjaan orang tua membuat Deny hanya mengelus d**a diam-diam. “Deny duduknya di sebelah Bima ya,” ujar Astuti, wali kelas sebelas IPA. Mengangguk, Deny berjalan dan menyalami Bima dengan semangat. “Mohon bantuannya ya Bim.” Deny berbisik. Bima mengangguk antusias.  Belum ada lima menit Deny duduk, kursi belakangnya terasa didorong-dorong, membuat pria itu merasa tidak nyaman dan ingin berbalik menonjok siapapun yang menganggunya –tentu saja itu adalah Damar. Semua itu Deny tahan mengingat bahwa ia baru saja masuk. Meskipun coba menahan, lama-kelamaan pria itu tak tahan juga. Di sela Astuti menulis, Deny membalikkan badan. “Diem anjing!” Damar dan Nata terlihat tersenyum mengejek, membuat Deny semakin geram. “Selamat datang di Neraka.” Ucap Damar pelan, namun Deny bisa mendengarnya jelas. Lelaki itu mengepalkan tangan, bersiap menonjok. “Deny, ada apa balik badan?” suara Astuti mengejutkan Deny membuat pria itu menoleh dengan agak panik. “Engga bu, mau pinjam pulpennya Damar!” Dengan sigap, Deny merebut pulpen yang Damar genggam di tangannya. Membuat Damar kaget dan tanpa sengaja, “a*u!” “Damarianto! Ngomong apa kamu?!”  Deny yang berbalik menghadap depan hanya bisa menahan senyum kemenangan. Ia tak menyangka alasan yang dibuat-buatnya barusan bisa mendatangkan masalah untuk Damar. Tentu dalam hati Deny bersorak-sorai meskipun wajahnya terus menampakkan ekspresi datar. “Eh, bukan bu… saya…” “KELUAR KAMU DAN KELILINGI LAPANGAN DUA KALI!” Deny bisa merasakan aura lemas keluar di belakangnya. Lelaki itu menutupi mulutnya dengan sebelah tangan karena tidak lagi bisa menahan senyum yang tercetak di wajah. Beberapa anak perempuan lagi-lagi cekikikan melihat Damar menyeret langkah keluar kelas. Di gawang pintu, Damar sempat menatap Deny dengan tajam seolah meminta remaja tersebut menunggu pembalasannya. “Nggak takut tuh.” *** “Kalian liat nggak tadi ekspresinya Damar. Hahaha, sepanjang tadi pelajaran pada kicep semua empat orang itu!” Bukan Fira, bukan Deny, yang banyak bicara kali ini adalah Bima. Lelaki itu secerah sinar mentari. Bagaimana tidak? Sudah lama sekali sejak ia tidak diganggu oleh kelompoknya Nata seharian penuh. Semua ini berkat Deny. Beberapa kali Deny berhasil membuat Nata dan kawan-kawannya dimarahi oleh guru sehingga kelompok mereka jadi bulan-bulanan. Hebatnya, ini baru sehari! Bayangkan jika Deny terus berada di Temayang sampai lulus. Bima bisa menjalani sekolahnya dengan perasaan tenang dan tentram seperti dahulu di kelas satu. Kelas dua SMA ini memang merupakan masa-masa paling tak menyenangkan bagi Bima. Karena sikap impulsifnya yang terburu menyatakan perasaan dan kekagumannya pada Naya, Bima jadi bahan rundungan Nata dan teman-temannya. “Semangat banget sih Bima.” Tiba-tiba Karina menginterupsi. “Ini minum dulu biar nggak haus.” Salah tingkah, Bima mengangguk dengan malu. Sementara itu ketiga teman lainnya tertawa kecil memperhatikan kelakuan Bima, terutama Deny. Bima yang selama beberapa hari ia kenal merupakan pribadi pemalu dan penakut. Ia tak tahu lelaki itu bisa bersemangat seperti ini hanya karena balasan Deny terhadap perlakukan geng Nata. Seperti biasa, hari ini empat s*****n tersebut berhenti di rumah Deny dan beristirahat sambil bercengkrama menggunakan karpet. Meskipun kini sofanya sudah bertambah, namun karena sudah terbiasa, mereka lebih senang duduk di bawah dan menikmati lembutnya karpet merah tersebut. “Emang kenapa sih kok kalian seneng banget? Emang selama ini Nata engga pernah ada yang berani ngelawan?” tanya Deny sambil memamah lumpia yang baru ibunya buat. Makanan lezat tersebut harus ia tahan untuk ditelan karena belum dingin alias masih panas. “Ya siapa sih Den yang berani lawan?” ujar Fira sewot. Meskipun Fira dan Nata pernah berpacaran, namun Deny tidak bisa menemukan jejak-jejak sayang dan cinta kepada Nata di mata Fira. Membuat lelaki itu bertanya-tanya apa betul Fira pernah jatuh cinta dengan anak kepala desa tersebut. “Iya Den. Selain bapaknya kades, usaha bapaknya juga jadi donor terbesar kalau sekolah mau ngadain acara.” Bima berujar. “Iya. Dia memang sering dimarahin, tapi ya sekedar itu doing.” Kali ini suara lembut Laila ikut nyeletuk. “Kemarin dia sempat ketahuan sama pak Bondan lagi ngerokok di belakang. Anak lain mah bakal langsung diskors, tapi Nata engga.” Yang lain mengangguk-angguk menyadari bertapa berkuasanya Nata di sekolah. Bahkan guru paling killer sekalipun tak berani memarahi remaja tersebut. Memang tidak bisa dibaiki, Deny berjanji akan membalas tiap-tiap perbuatan Nata dengan tindakan yang setara. “Kalian tenang aja ya. Selama ada aku, aku akan berusaha bikin Nata kapok ngebully kalian.” Ujar Deny menenangkan. Pria itu tersenyum dan menatapi satu-persatu teman barunya. Mata Deny kemudian bersinggungan dengan Fira yang menatapnya penuh pengharapan. ‘Ada bintang-bintang…’ Sementara itu, satu gadis lainnya menunduk ketika mata Deny dan matanya bertabrakan untuk kedua kalinya hari ini. Laila merasa malu sendiri. Pipinya merona merah panas tak menyadari kalau Deny tak lagi menatapinya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN