"Ada apa, Steve?" Lyana bertanya, setelah ia terjebak dengan keheningan yang cukup lama bersama Steve. Setelah Irina pulang dengan sejuta kutukan untuk Steve karena tersinggung dengan keangkuhan lelaki itu, Lyana segera naik ke atas ke kamar utama, memenuhi keinginan Steve. Detik itu jugalah Lyana sadar Steve sedang dalam suasana hati yang tak baik. Aura di kamar mereka berat, penuh ketegangan. Bahkan, Lyana pikir ia bisa memotong ketegangan pekat yang tercipta saat ini secara fisik. Steve telah melepas jasnya, membiarkan kemeja hitam membalut badannya yang berotot. Lengan kemejanya digulung hingga siku, dua kancing kemeja teratasnya ia biarkan terbuka, memamerkan d**a bidang berwarna tembaga. Auranya mengintimidasi, siap menggiling siapa pun dalam jarak dekat darinya. Agaknya Stev

