Arkana diam membisu setelah menyelesaikan rapat bersama para pemegang saham. Ia berdiri menghadap jendela besar sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Langit terlihat cerah siang ini, awan putih berarak mengikuti arah angin memberikan kesejukan. Suara hiruk pikuk ibu kota terdengar nyaring, segala aktivitas terjadi memperlihatkan betapa sibuknya hari-hari kerja. Di balik diamnya, Arkana terus bergulat dengan pikiran sendiri. Antara benar atau tidak, antara kebetulan atau nyata, hal-hal tersebut masih berkeliaran. Elang yang hendak mengajak adiknya makan siang bersama menatap lekat punggungnya dalam diam. Ia tahu jika Arkana sudah seperti ini pasti ada sesuatu terjadi. Sebagai seorang kakak yang sudah bertahun-tahun hidup bersama, Elang memahami arti diamnya sang adik. "Ada apa

