"Aaaaa!" Lulu berteriak sekencang-kencangnya. Bik Mar yang baru keluar dari kamar juga ikut berteriak. "Lulu! hei, liat aku. Liat aku!" seseorang berusaha memegangi bahu Lulu. Lulu yang awalnya berontak, perlahan mulai sadar lalu, menghela nafas lemah. "Danar!" buk! Lulu memukul dàdã Danar dengan kesal, "Ngapain kamu di rumah aku? trus kenapa bediri kek hantu segala, bikin kaget tau gak!" Lulu meninggikan suaranya. Sejauh Danar mengenal Lulu, baru kali ini wanita itu berteriak, dan bicara dengan nada tinggi seperti itu. Bukannya minta maaf, Danar malah cengengesan melihat ekspresi Lulu. "Ya ampun, Den Danar kenapa nakutin Neng Lulu? ih Bik Mar ikutan spot jantung loh, Bik Mar kira tadi ada apaan, Astaghfirullah," Bik Mae mengelus dàdã sambil istighfar berkali-kali. "Bik Mar, kok Danar

