Reynaldy sudah duduk manis di kursi lab sambil melihat catatan yang ditinggalkan Pak Hamdi. Dia tidak tahu saat Ara masuk ke dalam ruangan. Barulah ketika sang gadis duduk disebelahnya, dia mendongak melihat tepat ke wajah sang gadis. Bibirnya pun mulai cemberut. “Kamu habis menangis?” “Nggak, siapa bilang aku menangis.” Menatap intens,“jangan bohong Ara.” “Untuk apa aku membohongimu,“sibuk melihat peralatan yang ada di meja. “Ara, lihat aku.” Masih tetap menyibukan diri. “Sceeek, Ara. Kalau ngomong dilihat dong lawan bicaranya,“ meraih dagu sang gadis. Ara memejamkan mata saat bertatap muka dengan Renaldy. “Cemara, please deh!” Membuka mata,“apa sih Rey?” “Apa yang terjadi dengan pipimu?” mengelus wajah sang gadis. “Kamu habis ditampar orang?” cecarnya lagi. “Nggak, Rey. Aku

