Bab. 1. Penyesalan Reynaldy
“Braaakkk!” bunyi barang-barang yang ditendang dengan keras.
“Praaanng!” suara pecahan barang yang terbuat dari kaca. Tak lama kemudian umpatan kasar terdengar. Disusul dengan tangisan penuh penyesalan.
Ya, Reynaldy marah dan menyesal atas pengkhianatan yang dilakukan dengan Cantika. Bagaimana dia dengan begitu bodohnya, bangun dalam keadaan polos di dalam kamar dengan wanita ambisius itu.
Bahkan kamar yang mereka gunakan untuk bercinta adalah milik Ara. Dia begitu ketakutan saat itu, dengan berbagai pertanyaan negative yang selalu berputar di benaknya. “Apakah Ara tahu perselingkuhanku? Bagaimana aku dengan begitu bodohnya menuruti semua kemauan Cantika? Apakah aku tidak pernah belajar dengan jebakan yang sama, yang pernah dilakukan Rena?” Memukul kepalanya berulangkali. “Bodoh! Bodoh!” rutuknya pada diri sendiri.
“Maafkan aku Cemara. Apa aku masih pantas bersanding denganmu? Hiks…hiks.”
Kembali bantingan barang-barang terdengar. Hingga membuat semua penghuni mansion Subowo tak ada yang berani bergerak. Mereka hanya mematung dengan mulut menganga, tak percaya. “Bagaimana bisa anak semata wayang Sang Majikan yang biasanya penuh dengan pengendalian diri, menjadi begitu menakutkan?”
Semua pelayan berada di anak tangga lantai dua. Mereka berdiri sambil menunduk. Menunggu sang majikan memberikan perintah. Namun harapan itu tidak pernah terpenuhi. Subowo dan Dewi bagaikan sepasang patung raja dan ratu yang duduk diatas singasana, di ruang keluarga.
Bukannya tidak mau bertindak. Tapi cenderung tak berdaya. Bahkan Dewi sang ibunda kandung tidak mampu membujuk Reynaldy untuk meredakan amarah. Dia betul-betul tidak punya kuasa atas anak semata wayangnya.
Amukan Rey yang sampai di ruang keluarga, membuat wanita itu berulangkali tersentak dan menebah d**a. Keringat dingin pun bercucuran dari dahi. Tak ada yang berani memberikan sapu tangan sekedar menyeka wajahnya yang mulai berpeluh.
Bahkan sang ayah, hanya duduk sambil menatap nanar kearah kamar anaknya di lantai dua.
Saat suara bantingan barang sudah tidak lagi terdengar, Subowo melirik istrinya yang hanya mengedikan bahu.
“Mami tidak mau melihatnya?” bisik Subowo.
“Tidak. Aku tidak mau kalau nanti anakmu itu marah-marah lagi dan menghancurkan seisi rumah.”
“Kamu kan ibunya. Apa tidak bisa menjinakan anak semata wayang kita?”
“Menjinakan?” membola. “Papi kira dia binatang yang harus dijinakan?” Menghela napas. “Papi juga yang salah. Mengapa harus menyuruh Rey menikahi Cantika. Sudah tahu kalau anak kita itu sangat mencintai tunangannya.”
“Kok jadi menyalahkan Papi, sih?” Mengerucutkan bibir. “Mami, kan tahu kalau kakak sepupuku ikut berbicara. Walau kami jarang berinteraksi tetapi sebagai saudara yang paling tua, semua omongan dia wajib dipatuhi. Dan itu peraturan keluarga besar Subowo yang tidak bisa di ganggu gugat.”
Menepuk jidat. “Kenapa tidak menyuruh anak laki-lakinya untuk menikahi Cantika? Aku lihat mereka sangat dekat.”
“Dengan bukti rekaman video anakmu yang telanjang dan sedang berhubungan badan dengan gadis itu?” Mengetuk dahi dengan jari telunjuk. “Mikir dong Mami. Mikir. Siapa yang akan percaya kalau anak yang ada dalam perut Cantika itu bukan anaknya Rey?”
Memberengut. “Lagian Si Rey juga kenapa jadi mata keranjang begitu sih? Kalau mau melakukan hubungan suami istri seharusnya kan sama tunangannya. Mengapa juga pakai acara selingkuh-selingkuh segala. Pasti Papi tuh yang ngajarin.”
“Kok, jadi Papi yang disalahin. Aku tidak pernah ngajarin Rey untuk berselingkuh. Yang aku ajarkan sama dia tentang cara menjalankan bisnis perusahaan. Bukan bermain-main dengan sembarang gadis. Apalagi mempermainkan perasaan anak gadis orang. Mami, kan tahu betapa setianya aku ini sama pasangan.”
“Haish, sudahlah. Cari solusi meredakan amarah anakmu sana. Kok malah jadi kita yang bertengkar.” Mengipasi tubuh. “Seharusnya kita tadi tidak langsung menerima usulan Mas Subandi, biar tidak menjadi runyam urusan.”
“Sudahlah, Mami. Semua sudah terjadi. Yang harus kita pikirkan sekarang adalah membujuk Rey, agar tidak ngamuk seharian. Mami punya solusi, nggak?”
“Aku juga bingung. Kalau Rey ngambek kayak gini biasanya yang membujuk itu ibumu Mas. Tapi beliau kan sudah meninggal sekarang.” Terhenyak. “Dengar! Dia sedang menangis sekarang.” Tunjuknya pada lantai dua. Di iringi dengan tatapan resah ke semua pelayan yang sedang berjajar dengan kepala tertunduk. “Kalian apa tidak bisa membujuk Reynaldy?” Dijawab dengan gelengan semua orang. Dewi pun menggesah.
Sebagai seorang ibu, dia semakin sakit hati saat mendengar tangisan pilu dari sang anak. Sejak kecil Reynaldy jarang menunjukan sisi lemahnya. Anak itu akan selalu terlihat tegar di mata Dewi dan sang ayah. Bahkan ketika dia mengalami hari-hari yang sangat berat saat Susmita tidak bisa membantu menjaga Rey. Karena harus pindah ke daerah Prigen dengan Cemara.
“Apa kita harus menelepon Susmita sekarang?” bagaikan tercerahkan.
“Jangan ngawur kamu. Ide konyol apa yang ada di otakmu itu. Rey menyakiti anaknya. Apa kamu kira dia begitu saja mau membantu kita?”
“Papi benar juga.” Menghela napas. Mengetuk-ngetukan jemari ke pegangan kursi. “Apa yang harus kita lakukan sekarang, Pi?”
Keduanya kembali terdiam sambil memasang telinga. Tangisan Reynaldy masih terdengar nyaring. Membawa detakan jantung kedua orang tuanya yang semakin bertalu-talu. Kembali dilihatnya sang istri yang menebah d**a.
“Aku yang melahirkan anak itu, tapi mengapa aku tidak bisa menghiburnya? Sekedar meredakan kegelisahan dalam jiwanya. Maafkan Mami, Rey.” Ucapnya dalam hati.
Subowo berdiri dan berjalan mondar mandir di hadapan istrinya. Mengepalkan tangan di balik punggung. Kemudian mengganti posisinya ke depan, dengan saling menumbukan tangan. “Aku akan menghubungi Mas Bandi?”
Mengambil gawai dari saku celana, Subowo mulai melakukan panggilan.
“Ada apa, Wo?” jawaban dari dalam telepon terdengar.
“Mas dengar suara tangisan Reynaldy, nggak?”
“Iyo, aku dengar. Memangnya kenapa?”
“Apa Mas, tidak kasihan sama anak-ku itu?”
“Kasihan, piye toh. Dia kan anak laki-laki. Penerus keluargamu yang harus bertanggung jawab atas kelangsungan hidup Subowo nantinya. Apa kamu mau punya anak yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya? Apalagi ini menyangkut anak gadis orang, lagi hamil lagi? Kamu mau dipermalukan seumur hidupmu?” Mendengus. “Si Cantika itu juga bintang film terkenal. Bagaimana kalau dia berbicara dengan wartawan tentang Reynaldy yang tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya?” Menggeleng pelan. “Ingat, Wo. Bukti-buktinya sudah sangat jelas. Dan itu bukan rekayasa kamera. Apa kamu masih bisa melindungi anakmu jika masalah ini sampai ke ranah hukum?”
“Tapi Mas.”
“Sudah, nggak ada tapi-tapian! Siapkan saja anakmu itu agar mau menikahi Cantika. Kamu kan Ayahnya, masa tidak bisa memaksa dia untuk bertanggung jawab. Dimana wibawamu sebagai Ayah!”
Menghela napas besar. “Baiklah aku akan membujuknya.”
“Nah, gitu dong. Itu baru namanya seorang Ayah. Lagipula kamu nanti langsung punya cucu. Apa tidak senang kamu? Aku saja menjadi iri denganmu yang akan menjadi seorang kakek.”
“Suruh saja anak-mu menikah, Mas. Biar kita sama-sama punya cucu.”
“Susah. Anak-ku itu sangat keras kepala. Bahkan melebihi Reynaldy.”
“Nasib kita Mas. Jadi orang tua jaman sekarang yang tidak bisa mendikte lagi pada anak keturunan kita.”
Helaan napas. “Kamu benar, Wo.”