Ara mengangsurkan uang Lima ribu rupiah kepada ojek langganan, seraya mengucapkan terima kasih. Dengan kesulitan, dia berusaha turun dari boncengan, dibelakang punggung sang driver.
Dengan sedikit melompat, kaki gemuknya mulai menapaki lantai yang terbuat dari polesan semen kasar. Menjaga keseimbangan tubuh yang hampir oleng, dia menghembuskan napas besar sejenak.
Sedikit menoleh ke pelanggan setianya, sang sopir mengeluarkan suara, “Aman Non?”
Ara hanya mengacungkan jempol jari kanannya seraya mengangguk.
“Nanti dijemput jam berapa, Non?”
“Tidak tahu Pak. Nanti ku WA deh, jika waktunya pulang”.
“Belum ada jadwal, Non?”
“Belumlah kan hari pertama masuk. Kalau di group sekolah sih, hari ini masih masa orientasi”.
“Oke Non, semangat ya, “kata tukang ojek itu seraya mengacungkan jempol.
Kembali sang gadis gemuk, mengangguk. Kemudian mata bulatnya menatap pintu gerbang berwarna hitam, yang sedikit terbuka. Melihat jam berbentuk hello kitty yang melingkari pergelangan tangan, dia menekuk dahi sejenak.
“Fiuh, baru pukul setengah tujuh kurang lima menit ternyata. Pantas saja masih sepi, “membatin.
Merapikan rok birunya sejenak, Ara melangkah memasuki gerbang yang tak terjaga.
“Pagi, Non!”
Sapaan yang membuat sang gadis berkaca mata tebal sedikit berjengkit. Menetralkan degup jantung sejenak sebelum menjawab, “Eh~pa…pagi”.
Dia mengangguk ke arah laki-laki paruh baya, yang tengah duduk dalam ruang satpam.
“Ada yang bisa dibantu, Non?” kata pria itu kembali tatkala melihat gadis di depannya yang sedikit kebingungan.
Dia tersenyum lebar, “Anu Pak, kelas untuk murid baru dimana ya?”
“Oh siswa baru ya?”
Mengangguk antusias, “Ya Pak”.
“Dari sini kamu lurus saja sampai di depan perpustakaan yang diujung sana. Setelah itu belok kanan, tunggu disana sampai nanti ada guru yang memberikan informasi”.
“Terima kasih paaak?’ kalimatnya menggantung.
“Nama saya Sugatot. Panggil saja Pak Gatot”.
“Saya, Ara Pak. Sekali lagi terima kasih, “angguknya sopan.
“Sama-sama non Ara”.
Dia pun berlalu menuju arahan sang penjaga malam. Sesampai di depan ruang restoran, Ara menghempaskan bokongnya pelan di atas bangku pembatas tembok yang lebar.
Ara mulai mengeluarkan gadgetnya, men-scroll search engine dan netranya kembali fokus terhadap artikel yang tertera disana.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Gadis itu mulai melihat keriuhan dari siswa-siswa yang berdatangan. Ada yang memakai seragam putih biru seperti dirinya dan ada pula yang berseragam abu putih khas anak SMK. Dia menduga bahwa mereka adalah kakak kelasnya.
Tawa canda celotehan remaja di setiap sudut terdengar dimana-mana. Seolah menumpahkan segala kerinduan dengan suasana sekolah, setelah lama menikmati libur panjang. Yang kemungkinan berkesan atau membosankan bagi setiap individu didepannya.
Si gadis tambun membetulkan letak kacamata yang sedikit miring. Lantas menghembuskan napas besar ke udara. Kembali dia dihadapkan suasana yang tak menyenangkan.
Dikala teman-teman yang lainnya sudah bergerombol dengan gossip murahan yang terlontar. Ara hanya mampu menikmati kesendirian, terabaikan. Atau memang begitu adanya.
Dia adalah pendatang di kota ini. Tak ada teman semasa SMP nya yang bersekolah disini. Dengan bentuk tubuhnya yang kelewat gemuk. Kaca mata minus tebal. Rambut kepang dua dan pipi chubbynya, tak menarik siapa pun untuk sekedar say ‘Hai’ kepadanya. Atau sekedar tersenyum sebagai bentuk sapaan.
Ara mengerti itu semua. Dan menerimanya dengan lapang d**a. “Ah siapalah diriku ini?” batinnya. Dia pun kembali meneruskan membaca artikel di HP.
Hingga, “Ting tong. Saatnya jam pertama dimulai”.
Suara bel terdengar nyaring di seantero gedung.
“Toeeeeeet. Waong…waong. Teeeettt!”
“Perhatian bagi seluruh siswa baru harap berkumpul di lapangan!”
Perintah tersebut keluar dari seorang remaja laki-laki tinggi, berkulit putih dan berwajah tampan. Kehebohan pun terjadi disebelah Ara, memuji ketampanannya.
Sambil melangkah gadis-gadis yang masih mengenakan seragam biru putih mulai saling berbisik, berbagai pujian terlontarkan, akan penampilan kakak kelas mereka yang tengah menunggunya di tengah lapangan.
“Saya hitung sampai lima! Segera membentuk formasi barisan enam berbanjar! Satu…dua…tiga!” kembali dia menginstruksikan.
Belum genap remaja yang memegang TOA selesai menghitung. Siswa baru yang tadinya ramai menjadi sunyi senyap. Berdiri tegak dengan tatapan lurus ke depan.
Tak lama kemudian berdiri dihadapan para murid baru, beberapa siswa perempuan dan laki-laki yang mengenakan kaos yang bertanda OSIS PRIVOS. Satu persatu memperkenalkan diri dan jabatannya.
Dan kehebohan kembali terjadi kala siswa yang mengumpulkan mereka memperkenalkan diri sebagai ketua OSIS. Dan namanya ‘Renaldy’.
Dia memaparkan semua yang harus dipenuhi oleh siswa baru selama hampir satu jam setengah. Dan mengarahkan mereka untuk memasuki ruang kelas, setelah dibagi menjadi beberapa kelompok dengan nama-nama hewan sebagai pengenal.
Ara masuk dalam kategori ‘White Tiger’. Name tag-nya pun berlambang macan putih yang tengah mengaum.
“Huuuh, aku bangeeet, “pikirnya sambil menilik lambang yang tersemat di d**a kanan.
Kembali dia menatap kedepan kelas. Dua anggota OSIS selaku koordinator mengajari ‘yel-yel’ kelas mereka. Dia sedikit tertawa kala penyemangat itu diakhiri dengan kata ‘Rooooaaar’.
Hardikan kembali terdengar dari mulut kakak tingkat dihadapan, kala dia terkikik geli.
“Tidak pakai tertawa! Kalian harus serius, yel-yel ini nanti dilombakan. Kalian harus menang, paham!”
“Paham kak!” serentak kelas White Tiger menjawab.
Ara menekan rasa gelinya, hingga wajahnya memerah. “Yaah, dia memang gadis gemuk dengan pipi tembem tapi memiliki kulit yang sangat putih, seperti gadis blasteran”.
Tapi daya pikat itu tertutupi oleh wajah culun dan penampilan fisiknya yang tak menarik siapa pun. “Sangat mengenaskan, kan?”
Tak memperdulikan pikiran negative yang selalu menguasai, gadis gemuk itu mengikuti semua kegiatan hingga istirahat menjelang.
Dia pun duduk disudut kelas dan mulai membuka kotak bekalnya. Melahap nasi dengan lauk ayam goreng bumbu laos kegemaran. Dengan lalapan irisan timun serta potongan kobis.
Dirasa kotak makanan telah tandas. Ara membuka botol minumnya, dan menenggak semua isinya tanpa jeda.
Kembali membuka artikel yang sempat terjeda, gadis itu tenggelam ke dalam istilah-istilah ilmiah yang tertera disana. Hingga waktu istirahat usai, mereka pun melanjutkan masa orientasi hingga pukul tiga sore.
Salam pun terdengar dari setiap kelas, pertanda sekolah telah selesai. Dan semua orang yang ada disana berhamburan menuju tempat parkir yang ada di luar sekolah. Sebuah lahan yang dikelola oleh pemuda karang taruna desa sebelah. Bunyi sepeda motor memenuhi udara, kala sang pemilik mulai mengendarainya menuju tujuan masing-masing.
Sedangkan Ara masih menunggu ojek langganannya didepan gerbang hitam sambil memeluk semua perlengkapan kegiatannya hari ini.
Sedikit terkesiap kala matanya bersirobok dengan seseorang yang tiba-tiba menghentikan sepeda motor di depannya.
Merasa malu, Ara pun menundukan kepala berpura-pura mencari sesuatu dari dalam tasnya. Merasa diabaikan orang tersebut melajukan motornya kembali.
Mendongak dengan sedikit lega, kala gadis itu mendengar sapaan dari ojek langganan. Dia memposisikan diri di boncengan, sepeda pun melaju membawa sang gadis tambun ke arah utara.