Terdengar ketukan pintu dari luar. Ara yang tengah melamun memandang pepohonan yang ada diluar jendela kamar, menghembuskan napas sejenak sebelum menjawab, “masuk, “jawabnya sedikit malas tanpa mengalihkan pandangan.
Tak lama kemudian elusan terasa di rambut panjang Ara.
“Ada apa, anak mama kok kehilangan semangat. Ada masalah disekolah kamu, heum?”
“Gak ada ma, semua baik-baik saja, “elaknya.
“Coba lihat mama sayang, “ditangkupnya wajah chubby Ara.
Memandang intens ke bola mata coklat kesayangan.
“Dengar ya cantik. Apa pun yang terjadi ditempat kamu menempuh pendidikan, hadapilah dengan lapang d**a. Mama yakin gadis yang ada dihadapanku ini mentalnya sekuat baja”.
“Aku tahu ma, “memutar bola matanya malas.
“Makan yok. Aku sudah masak makanan kesukaanmu”.
“Sungguh?” semangatnya timbul kembali.
“Hem…ya…ya. Bihun jagung sosis dengan banyak sayur berwarna didalamnya”.
“Mama is the best, “bergelayut manja dilengan sang mama dan mengajaknya menuju ruang makan.
Dentingan peralatan makan terdengar dalam ruangan yang berukuran tiga kali empat meter. Ibu dan anak yang saling menyayangi menikmati makan malam masing-masing dalam diam.
Tak tampak raut gundah di wajah chubby gadis yang sempat bersedih beberapa saat yang lalu, kala teringat dengan sikap teman-teman di sekolah.
Perlakuan sama, yang dia terima selama tiga tahun di Sekolah Menengah Pertama. Dia berpikir tak ada bedanya lingkungan pertemanan, tempat dia berkecimpung dulu dan sekarang.
Meskipun rasa pesimis menggelayuti benak Ara, dia tak ingin mengecewakan mamanya dengan berkeluh kesah. Permasalahan yang seharusnya ditanggungnya sendiri.
Dia tak ingin lagi membebani pikiran ibunda tersayang dengan sandungan batu kecil yang akan mewarnai kesehariannya nanti. “Bukankah masalah beliau lebih rumit dari padaku?” pikirnya.
“Emm, mungkin aku akan melakukan kegiatan pengalihan seperti dulu. Dan aku bertekad untuk membentengi diriku dengan muka tembok. He…he…he, “pikirnya kembali.
Gadis berkaca mata tebal itu pun melanjutkan kegiatan, seolah tak terjadi sesuatu. Hingga tepat setengah delapan malam, keduanya selesai membersihkan ruang makan dan pekerjaan di dapur. Saling mengecup pipi serta mengucapkan, “selamat malam, “keduanya pun menuju kamar masing-masing.
Tuk merangkai mimpi indah sehingga bisa melanjutkan kehidupan ke esokan hari dengan semangat yang baru.
Tepat pukul dua malam, Ara terjaga dari tidur nyenyaknya. Napasnya memburu. Keringat mengucur deras dari dahi. Baju tidur yang dia kenakan basah di bagian punggung.
Bergegas, dia menuju kamar mandi yang berada disebelah ruang dapur sambil menenteng baju ganti. Membasuh wajah dengan air dingin dan mengganti baju yang basah. Bunyi debaman pintu lembab pun terdengar.
Selang beberapa menit kemudian kembali pintu kamar mandi terbuka. Gadis itu muncul dengan rona segar di wajah.
Setelah itu terdengar suara air dari galon dispenser yang terbuka. Gemericik air yang mengalir kedalam gelas, nyaring terdengar. Dengan tergesa, Ara menandaskan isi didalamnya tanpa jeda.
Mengusap sisa lelehan air disudut bibir, dia pun menghembuskan napas keras-keras. Menetralkan derunya napas yang tertinggal.
Merasa normal, dia duduk di kursi makan sambil memejamkan mata.
“Mengapa mimpi itu selalu menghantuiku?” keluhnya.
Menangkup wajahnya dengan kesal, gadis berpipi chubby pun membuka pintu dapur yang mengarah ke taman belakang.
Duduk di bangku yang terbuat dari kayu cemara. Dia mulai melamun sembari menikmati hembusan angin malam.
Sedikit mengigil, Ara merapatkan jaket dari kain parasut yang dia kenakan. Menyelipkan rambut yang memenuhi muka, dia melangkahkan kaki pelan menuju pusat halaman belakang.
Berkacak pinggang sembari mendongakan kepala. Menatap bulan dan kerlip bintang di atas langit. Mengerjapkan mata dengan jenaka. Gadis itu mulai bergumam, “Papa apakah kamu merindukan anak gadis gemukmu ini?”
Tak ada jawaban, hanya hembusan angin semakin kencang menerpa tubuh. Dia menoleh ke belakang ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
“Araaa~kamu bermimpi sambil berjalan lagi!”
“Mama?”
“Apa?”
“Mama memata-mataiku?”
“Untuk apa kulakukan itu?” jawabnya sambil bersedekap d**a.
“Kirain”.
“Haiish, ayo masuk sebelum udara dingin merusak kesehatanmu!”
“Baiklaaah”.
Merekapun memasuki rumah dengan menutup pintu penghubung taman rapat-rapat. Jenifer meraih saklar lampu di dekat dapur, tak lama kemudian gelap menyelimuti disana.
Kembali ibu dan anak saling mengucapkan salam perpisahan sebelum kembali ke peraduan masing-masing.
Ara berdoa demi kesehatan sang mama dan dirinya sendiri. Setelahnya dia mendoakan sang papa semoga tenang di alam baka.
Dia pun mulai merebahkan tubuh di atas kasur berukuran seratus lima puluh kali dua ratus meter. Menarik selimut sampai d**a dan terlelap tanpa melepas jaket.
Suasana pegunungan yang dingin dimalam hari, tak bisa menganggu gadis yang terlelap dalam mimpi dengan kehangatan selimut tebal dan balutan jaket parasut.
Derikan jangkrik dan ocehan kodok kembali santer terdengar di penjuru perbukitan. Dimana sang siswa baru tinggal. Dia yang mencoba beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk cuaca dingin.
Tempat yang tak pernah terlintas dikepala. Dimana sebuah keterpaksaan mendera.
***
Sudah dua bulan Ara menikmati masa sekolah di PRIVOS, sebuah lembaga pendidikan Negeri dibawah gunung.
Suasana daerah yang dingin dan sejuk membuat tekanan hidup yang selama ini dia rasakan menjadi lebih ringan.
Apalagi sang mama mulai bangkit dari keterpurukan. Bisnis design interiornya banyak yang meminati. Dengan berprinsip ibu rumah tangga yang side job-nya desainer, Jenifer masih bisa memperhatikan anak semata wayangnya.
Itulah yang membuat gadis gemuk itu tetap bisa bertahan dengan tekanan lingkungan sosial yang tak bersahabat.
Seperti saat ini, Ara yang tengah menjawab soal kimia ke papan tulis. Dan menjelaskan jawaban kepada sang guru, kembali mendapat ejekan meremehkan dari idola kelas sepuluh IPA.
Entah apa yang menjadi penyebab, gadis cantik itu terus menerus mengeluarkan kata-kata pedas kepadanya, serta cenderung meremehkan.
Sedangkan yang diejek hanya tersenyum kecut, seolah tingkah laku gadis cantik itu tak berpengaruh padanya.
Bagi Ara, apapun yang mereka lakukan selama tidak menyakiti secara fisik, dia tidak akan memperdulikan.
“Life is hard, right?” membatin dalam hati.
“But I must go on achieving my idea without concerning others jealousy,”lanjutnya.
“Ya, asal bunda tidak tahu saja. Aku akan baik-baik saja. Bukankah pendapat mereka sudah tidak penting lagi sekarang? Yang penting hanya Cemara harus berprestasi. Berjuang dengan sekuat tenaga dan pada akhirnya, Amerika aku datang,”soraknya dalam batin.
Dia senyum-senyum sendiri kala pikiran dan perasaan mempermainkannya. Hingga tanpa disadari, seseorang tengah memperhatikan dari balik jendela kelas.