Rena memicingkan mata, saat melihat kertas putih yang ditempelkan di tas. Dengan jijik dia hendak membuang benda itu ke tong sampah. Namun saat melihat pesan yang tertulis disana, dia menjadi jengkel. “Sialan, nie anak. Punya nyali juga dia rupanya?” “Ada apa? Mengapa mukamu masam? Apa Rey tidak memberimu senyuman hari ini?” “Nih, baca sendiri!” “Heh, ini si Ceking?” “Ya, kamu lihat sendiri nama yang tertera disana.” “Punya nyali juga tuh anak. Mana anak masih bau kencur, berani-beraninya nantangin gengs yang paling terkenal di sekolah kita.” “Itulah yang membuatku tak habis pikir. Belum tahu dia siapa Rena.” “Kamu mau melawannya sendiri?” “Pakai apa? Aku dengar anak itu bisa karate. Kalah dong nanti.” “Pakai cara biasanya saja, Ren. Nyewa anak dari geng walet merah.” Mengerucu

