“Dasar cemeng!” cibir Amalia. Lalu Ceking berjalan menuju kelas Reynaldy. Dia melihat hanya satu anak laki-laki yang dikenalnya sedang duduk sambil mengunyah bekal. “Hei, Siswanto, my brow,“ sapa Ceking. Mencebik,“sejak kapan, aku jadi sahabatmu?” “Hehehe, maaf.” “Pasti ada maunya, katakan!” “Boleh minta selembar kertas sama pinjam pulpen, nggak?” “Buat apa lagi?” “Ngasih surat buat seseorang.” “Jangan bilang surat itu buatku. Kamu tahu kan, kalau kamu bukan tipeku.” Memutar bola mata,“Apa? Jangan geer kamu. Aku sudah cukup tahu diri saat penolakanmu dulu.” “Kamu masih mengingatnya?” “Dengan sangat, hingga disetiap mimpiku.” “Lalu mengapa kamu ikut mendaftar di ekstrakurikuler bela diri yang sama denganku?” “Karena aku suka beladiri. Aku akan menggunakannya untuk melindungi A

