Saat menginjakan kaki di halaman rumah Cemara. Ceking melihat sahabatnya yang sedang sibuk menyirami tanaman. Dia bernyanyi-nyanyi sambil tangannya sibuk mengucurkan air dari ember kecil. Sesekali mengarahkan hidung ke dekat tanaman mawar juga melati. Ara tampak memejamkan mata dengan bahagia. Melihat hal itu, Ceking mencelos hatinya. Dengan berlari kencang dia menghampiri Cemara. Lalu memeluk dari belakang dengan erat. Ara merasakan emosi sang sahabat yang tersalur dari lingkaran tangan yang berada di atas perut. Dia membalikan tubuh dan melihat wajah Ceking. “Hei. Ada apa?” tanyanya sambil melipat dahi. “Aku kangen,” menggoyangkan tubuh tambun sang sahabat. “Weleh. Aku kira ada apa,” matanya jelalatan mencari keberadaan sang kekasih. “Reynaldy mana?” lanjut Ara. “Rey…..Reynaldy?

