Bab.9. Stalker

1004 Kata
“Sudah ngomong saja, daripada nanti jadi bisulan yang merusak wajah mulusmu itu. Bayangkan Si Ceking dengan benjolan besar di pipi? Pasti kelihatan jelek, kan?” Mengerucutkan bibir,“idih, nakut-nakutin saja deh ih.” “Aku nggak nakutin kamu, Ceking. Ingat kemarin lusa, apa yang terjadi sama wajahnya si Tanti, tuh? Benjolan merah di pipi kanannya yang biasanya mulus nan cantik? Menganggu penampilannya, kan?” “Tanti. Ketua kelas kita?” “Iya, ingat nggak sekarang?” Ceking manggut-manggut kayak beo. Berpikir sejenak, “tapi itu kan, dia memang lagi jerawatan, dodol.” “Hahaha,“ perut berlemak Ara sampai bergerak naik turun seirama dengan tawanya. Reynaldy menjadi tak enak hati, melihat dua gadis yang sedang berbisik di sebelahnya. “Ngomongin apa sih, sampai segitunya tertawa? Mana aku nggak diajak lagi?” Ara mencebik,“memangnya kamu pikir, kita akan kemana Rey? Pakai minta diajak segala.” “Itu tertawanya, masa dihabiskan sendiri. Bagi-bagi dong,“ dengan wajah memelas. Ceking langsung mengambil wadah bekal yang telah kosong. “Nih, kukasihkan kamu. Baik kan aku-nya?” “Yaelah, ini kan wadah punyaku sendiri Ceking. Nggak ngaruh, tahu nggak.” Ketiganya tertawa geli bersamaan. Suara yang ramai berasal dari Taman, memancing Rena yang sedari tadi mencari keberadaan Sang Ketua OSIS. Dia bersembunyi dibalik semak pembatas taman, kala mendengar Reynaldy tidak sendirian. Sambil berjongkok menyembunyikan diri. “Oke. Jadi apa nih yang membuatmu sewot?” “Aku tadi mau bertanya tentang status hubungan kalian sama Ara. Tapi dia nggak ngasih jawaban yang memuaskan. Malah disuruh menanyakan ke kamu.” “Pagi tadi semangatku penuh, Rey. Tapi jadi kendur gegara lihat si ulat bulu didekatmu. Mana mesra banget posisinya.” “Sungguh?” netranya membola. “Tentu saja. Jangan sok lupa deh lue, mentang-mentang menggandeng cewek cantik.” Rena yang mendengarkan pujian tak langsung dari Ceking, tersenyum-senyum sendiri di persembunyiannya. “Maksudmu Si Rena?” “Iya. Kalian pasangan kekasih, kan?” “Siapa bilang, hoax itu mah?” Sang bahan pembicaraan mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. “Buktinya ada tuh,“ mencebik. “Jangan lihat buku dari sampulnya doang, King. Belum tentu yang kamu lihat seperti yang kamu pikirkan.” “Tapi bener, kan? Hayo ngaku.” “Enggak lah. Rena itu temanku mulai kecil, semenjak aku pindah ke sini, saat kelas empat SD. Rumah dia juga tetanggaan. Jadi bisa dibilang dia kayak adik kandungku.” “Adik kandung apaan? Adik ketemu gede maksudnya?” “Walah. Susah ngomong sama kamu, King.” “Masak adik kandung tingkahnya mesra kayak tadi pagi? Coba aku Ara pasti kubejek-bejek tuh, anak. Ya nggak, Ara?” “Kok aku jadi di ikut-ikutin perdebatan kalian?” pipinya merona. Reynaldy melihat tingkah Ara yang menggemaskan, “beneran, nih? Kamu cemburu Ara?” “Nggak,“ menoleh kearah lain. “Eh siapa tuh yang ngintipin kita?” kata Ara spontan saat melihat rambut yang menyembul dari balik semak. Sontak Reynaldy berlari keluar Taman. Melihat tempat yang disebutkan Ara, telah kosong. Hanya menyisakan tumbuhan yang sedikit bergoyang. Reynaldy mengedikan bahu dan berjalan kembali memasuki Taman, duduk ditempat semula. Ara menatap sang ketua OSIS penuh harap. Disentilnya hidung Ara pelan,“apa?” Pipi Ara kembali merona dengan perlakuan manis Reynaldy. “Siapa tadi yang ngintipin kita?” “Nggak ada. Orangnya kabur kali.” “Sceeeeekkkk.” “Sudah nggak usah kesal kayak gitu. Toh kita nggak nglakuin yang aneh-aneh. Jadi tidak usah kuatir, gosip menyebar di sekolah ini, kan?” “Iya, tapi kalau itu si Rena. Tetap saja jadi bahan pembicaraan, Rey.” “Kalau iya apa salahnya, Ara. Lagipula kan bisa menghemat tenaga kita.” “Maksudnya?” “Kita tidak perlu mengeluarkan energy buat menyebarkan hubungan kita, kan?” menaik turunkan alis. “Hadeeeh, maksudmu? Jangan bikin gosip terbaru deh. Nanti kamu yang rugi, kalau semua siswa disekolah ini menganggapnya beneran.” “Siapa takut, ya nggak King?” “Cie…cie yang sudah jadian. Dunia serasa berdua, Ceking nggak ada nih. Terkubur di tanah.” “Bleh, ngomong apa sih kamu King? Ara jadi gimana gitu?” memegang dadanya. “Tapi bahagia, kan?” Pipi Chubby Ara menjadi semakin memerah, membuat Sang Ketua OSIS semakin berkilauan sinar matanya. “Beneran nih, kamu menerimaku menjadi kekasihmu?” “Apaan sih Rey? Malu ada si Ceking tahu.” “Kalau tidak ada Ceking, kamu mau menerimaku Ara?” Ara semakin malu dengan ucapan frontal Reynaldy, wajahnya memerah hingga ke pangkal leher. Dia melihat kearah lain sambil menyembunyikan wajah. Menggeplak lengan Reynaldy,“kamu kira gue angin?” kata Ceking. “Ya nggak lah.” “Dari kalimatmu itu jelas sekali. Kalau mau merayu anak gadis nggak begitu caranya. Basi tahu!” “Memangnya kamu bisa ngajarin aku?” “Beh, katanya playboy cap kadal. Punya penggemar di seantero sekolah, merayu anak gadis saja nggak bisa, “ejeknya. “Dia beda dengan gadis yang lainnya, King.” “Oh, jadi kamu sudah sering merayu anak gadis ya?” “Nggak…nggak begitu konsepnya.” “Terus apa dong?” “Ara gadis yang istimewa. Dia nggak bakalan mempan dirayu dengan kata-kata.” “Pakai bunga kek, atau apa gitu. Biar lumer hatinya.” Reynaldy melihat kearah Ara yang masih betah melihat kearah lain, seolah tidak perduli dengan perdebatan keduanya. “Tuh, dia saja nggak perduli dengan apa yang kita bicarakan.” “Hahaha, dasar dodol. Kalau mau ngomong serius jangan pas ada orang lain. Ya musti saja Si Ara nggak nanggepin. Nanti pas berdua saja, bego.” “Iya deh iya,“ menghela napas. “Ara, “panggil Reynaldy. Menunduk malu,“apa,“ sambil mengayunkan kaki kedepan belakang. “Kalau diajak ngomong, lihat dong.” “Ngomong saja, aku dengerin kok.” Si Ceking tertawa cekikikan melihat Sang Boy most wanted di sekolahnya, mati kutu. Apalagi saat sudut netranya melihat Reynaldy yang berulangkali meremas jemari, gelisah. Salah tingkah dengan apa yang ingin diungkapkan. Sifat Cemara yang cenderung acuh, membuat Reynaldy kebingungan. Walau di sudut hati yang paling dalam, Cemara sangat-sangat menyukai Reynaldy. Namun dia suka sekali bersikap Jaim alias Jaga Image.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN