Ceking berjalan kegirangan, kala mendengar suara Reynaldy dari kejauhan. Dia langsung muncul ke koridor gegas mengahampiri sang ketua OSIS.
Dari balik pintu taman, dia melihat The Most Wanted Boy yang berjalan sendirian. Tanpa berpikir panjang Ceking langsung melangkah ke koridor dengan kepala tertunduk.
Tepat dalam jarak lima puluh meter, dia mendongak. Guratan kecewa langsung terukir di wajah Ceking. Kala melihat orang yang ditujunya, sedang berbincang gembira dengan Rena dan the gengs.
Apalagi dia melihat, gadis Centil itu tengah bergelayut manja dilengan Reynaldy. Membuka mulut hendak bertanya namun sontak langsung terdiam sambil mencebik.
Dia pun menggeloyor pergi. Melewati kerumunan sambil sedikit menyenggol bahu Rena.
“Heh, b******k! Kalau jalan lihat-lihat dong!” bentak salah satu geng Rena.
“Sudah, nggak usah dihiraukan,“ jawab Rena dengan lemah lembut.
“Munafik!” gumam Ceking sambil berlalu menuju kelas.
Reynaldy mengangkat sebelah alis sambil tersenyum ke Ceking.
“Ceritain dong Rey, gimana keseruan lombanya kemarin?”
“Nanti saja pas istirahat. Kita harus masuk kelas, kan? Lihat Bu Dena sudah mau naik ke kelas kita.”
“Yaaaah,“ gumaman kecewa keluar dari mulut anggota geng.
“Hei…hei guys. Hormati keputusan Rey.”
“Baiklah,“ jawab mereka kompak.
“Ayo Rey, kita ke kelas,“ menggandeng lengan dengan manja.
“Heem.”
Sambil mengikuti langkah temannya, pikiran Rey melayang ke Ara.
“Bukankah gadis tadi teman baiknya Si Ara? Kemana gadis itu? Apa dia tidak masuk sekolah hari ini?”
“Baiklah. Aku akan mencari tahu sendiri nanti,“ pikirnya kembali.
Di koridor sekolah hanya menyisakan beberapa anak. Ara keluar dari Taman dan langsung menuju kelas tanpa menoleh kemanapun.
Bahkan dia tidak menghiraukan pandangan dari beberapa anak yang masih tertinggal disana. Mereka menatap dengan ekspresi sedikit aneh.
“Huft! Untung gurunya belum datang,“ menghela napas.
Lalu melirik Ceking di kursi sebelah masih dengan ekspresi cemberut.
“Kenapa tuh muka, ditekuk melulu sedari tadi?” menyenggol lengan sang sahabat dengan pelan.
“Sebel aku sama geng-nya Rena.”
“Sebel sama Rena apa Reynaldy?”
“Dua-duanya.”
“Kok bisa? Apa yang mereka lakukan, hingga membuat besti-ku ini marah-marah nggak jelas?”
“Huh! Ingin kubejek-bejek jadi sambel tuh anak!”
“Jangan terlalu ektrem. Mereka kakak kelas kita, ingat?”
“Aku nggak perduli. Lagi pula aku bisa mengalahkan mereka kurang dari lima menit. Aku yakin si Rena dan kelompoknya itu hanya bermulut cabe. Tidak punya kemampuan apapun,“ mengepalkan tangan.
“Kamu yakin, King? Dia gadis yang paling berpengaruh di sekolah?”
“Aku nggak perduli. Bila perlu aku tantangin semua gadis disekolah ini.”
“Sudah, nggak perlu segitunya kali. Kalau sama Rey, kenapa kamu juga jutek?”
Kembali memasang muka cemberut,“Dia membiarkan gadis sok itu, bergelayut manja di lengannya. Kayak gini, nih,“ memperagakan aksi Rena.
“Hehehe. Kamu cemburu?”
“Aku? Cemburu? Yang benar saja Ara. Ganteng sih ganteng, tapi dia bukan tipeku.”
“Memangnya tipe si Ceking kayak apa sih?”
Mencari foto dalam layar HP, lalu menyodorkan ke Cemara.
“Ini lihat. Dia idolaku, aku mau punya cowok kayak dia nantinya.”
“Hah? Dia Iko Uwais, kan?”
“Ya. Bagaimana ganteng, kan? Body dan cara bertarungnya hebat,” mengacungkan jempol.
“Boleh juga.”
Menggulir layar HP-nya kembali,“sama yang ini juga. Jadi kalau tidak dapat yang seperti Iko Uwais aku bisa cari yang seperti Om Dede Yusuf.”
“Bukankah dia actor laga tahun sembilan puluhan?”
“Tentu saja. Apa masalahnya dengan itu?”
“Nggak ada sih, itu kan suka-suka kamu saja.”
“Baguslah,“ moodnya sudah membaik.
“Kalau kamu suka cowok yang seperti siapa Ara?”
Tersipu malu, kala melintas bayangan wajah seseorang dikepala.
Menggigit bibir sejenak,“eeem, seperti siapa ya? Malu aku.”
“Halah, nggak apa-apa. Ngomong saja, aku jamin akan tetap menjadi rahasia. Hanya kita berdua yang tahu. Bahkan jika kamu hanya menjadi pengagum gelapnya saja.”
“Aku….,“ pipinya merona.
“Ish, mukamu itu bikin gemes Ara. Andai aku laki-laki, aku pasti menjadikanmu seorang kekasih.”
Mendelik,“kamu penyuka sesama jenis?”
“Nggak sih.”
Terkikik geli,“jadi seperti siapa cowok idamanmu itu?”
“Bisa kita bahas hal yang lainnya?”
“Jangan mengalihkan pembicaraan, Ara.”
“Aku malu kalau harus mengungkapkan isi hatiku kepadamu. Sedangkan aku sendiri tidak yakin, apa dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku?”
“Oh ayolah, Ara. Mengagumi tidak harus menjadikan kekasih, kan?”
“Aku tahu, tapi aku sudah biasa menyembunyikan rasa cintaku sendiri, tanpa perlu mengungkapkan pada orang lain.”
“Bahkan pada bundamu?”
“Ya, bahkan pada bunda.”
“Sceeek, nggak seru.”
“Sssssst, Pak Hamid datang.”
Ceking langsung merubah posisi duduknya, menghadap kedepan. Kelas pun menjadi tenang, saat pelajaran berlangsung. Begitu juga saat pergantian guru.
Hingga istirahat menjelang, Ara dan Ceking menuju tempat favoritnya, Taman sekolah.
Gerakan kedua gadis itu, tak luput dari pengamatan Reynaldy yang berada di lantai dua. Dia langsung mengambil sesuatu dari dalam tas, kemudian menuruni anak tangga menuju lantai satu.
Berjalan lurus menuju Taman sekolah, dimana Cemara dan Ceking tengah memakan bekal makan siang.
Sang ketua OSIS menunjukan bekal yang dibawa,“boleh aku ikut makan siang dengan kalian?”
“Tidak boleh!” jawab Ceking ketus.
Reynaldy melihat ke Ara dengan penuh permohonan.
“Duduklah,“ perintah Ara.
“Tapi Ara?” protes Ceking.
“Sudahlah, apa ruginya menambah teman disaat makan siang. Siapa tahu dia mau berbagi bekalnya?”
“Iya, aku bawa banyak dan lezat. Aku yakin kalian pasti suka,“ duduk di samping Ara.
Membuka tutup wadah, yang berisikan makanan favorit Ara.
Dia tersipu,“kamu tahu makanan kesukaanku, Rey?”
“Tentu saja. Bukankah aku pernah bilang, jika aku tahu semuanya tentangmu?”
“Bagaimana bisa? Kita tidak pernah menjadi teman sebelumnya?”
“Kamu melupakan semuanya, Ara? Tidak kah ada yang tersimpan dalam ingatanmu? Masa kecilmu, mungkin?”
“Entahlah, aku bingung. Mungkin aku harus berbicara dengan Bunda, tentangmu.”
“Baiklah, tanyakan pada beliau tentang kota Surabaya, dua belas tahun yang lalu. Saat kamu masih berusia, empat tahun.”
“Oke, aku akan tanyakan pada Bunda saat dirumah nanti.”
“Makanlah, aku menyiapkan khusus buatmu.”
“Terima kasih, Rey.”
“Aku nggak ditawari, nih?” kata Ceking cemberut.
“Kamu nggak malu, tidak suka sama orangnya tapi mau makan bekalnya?”
“Selama makanannya enak, untuk apa aku harus malu. Lagipula porsinya banyak, bisa untuk berlima, kan?”
“Dasar kamu, King.”
Reynaldy tersenyum, walau Ceking menunjukan wajah tak sukanya.
Saat mereka selesai makan siang,“Ceking itu nama aslimu?” tanya Reynaldy.
“Bukan itu julukanku. Tapi aku suka dengan nama itu, terutama jika yang memanggil Araku tersayang,” mengedip-ngedipkan mata.
“Hadeh, jangan mulai. Nanti si Rey, mencurigai kita.”
“Tidak mungkin. Kamu orangnya open mind-kan Rey?”
“Tentu saja. Aku bisa membedakan rasa sayang sahabat dan seorang kekasih. Aku yakin kamu yang pertama, Ceking.”
“Betul apa yang kamu bilang. Cintaku pada Ara sebagai seorang sahabat.”
“Baiklah, apa yang membuatmu memasang muka jelek padaku?”
Ceking terhenyak dengan pertanyaan Reynaldy. Lalu gadis itu mencebik.
Sedangkan Ara yang melihat ekspresi sahabatnya, langsung menyenggol pelan lengan Ceking.