Bab. 7. Amalia bukan gadis normal

1007 Kata
Ceking menjadi ngeri dengan tingkah laku Ara. Dia menggigit bibir bawahnya, penuh dengan kecemasan. “Kamu tidak apa-apa kan, Ara?” “Memangnya apa yang terjadi padaku?” sambil tetap memutar bola mata. “Sceek. Jangan membuatku bingung. Kamu, sedang beripikir apa kerasukan, sih?” Kekehan geli menyembur dari bibir merah, Ara. “Kamu takut, heh?” “Sedikit,” menghimpitkan jari jempol dan telunjuk. Menjulurkan lidah,”Ceking ketakutan? Nggak percaya gue.” “Ya sudah. Terserah elo, deh. Gimana nih, Reynaldy sudah datang belum?” nadanya tidak sabaran. Ara menajamkan telinga. “Kayaknya sudah. Kamu dengar banyak suara di koridor?” “Tapi ini baru jam setengah tujuh kurang, aku yakin dia belum datang.” “Bagaimana kamu bisa begitu yakin? Kamu salah satu pengagum gelapnya, si Rey?” “Rey? Ouh Ara sayang, kalian sudah jadian?” “Jangan bikin gosip, aku tidak mau dimusuhi Rena dan geng-nya.” “Kamu takut dengan mereka? Biar aku kasih pelajaran si Rena itu,“ menyisingkan lengan. “Sudah, nggak usah cari ribut. Reynaldy adalah cowok yang didambakan semua gadis normal disekolah ini.” “Gadis normal? Apa aku tidak normal, Ara? Karena aku tidak mengidolakan dia.” “Hahaha.” “Jika bukan Rena dan geng-nya, masih banyak gadis-gadis normal yang lain, yang akan memusuhiku nantinya.” Menangkup wajah Ara, “kamu takut?” “Nggak, aku hanya ingin sekolah dengan tenang, hingga masa beasiswaku turun.” “Kamu akan meninggalkanku, Ara?” “Ayolah Ceking, dimanapun aku bersekolah nantinya, kita akan tetap menjadi sahabat baik.” “Sungguh?” “Sungguh,“ jawabnya mantap. “Baiklah, aku tunggu saat itu.” Mereka menautkan jemari,“janji seorang sahabat,“ ucap keduanya bersamaan. Bayangan Ara sudah bersekolah di Amerika, sedangkan Ceking membayangkan jika sahabat baiknya akan bersekolah di Surabaya. “Bukankah aku masih bisa mengunjunginya sesering mungkin? Surabaya ke Prigen hanya membutuhkan waktu dua jam setengah, kan?” sudut bibirnya mengulas senyum. “Lagi pula aku nanti bisa bermain-main kesana saat liburan tiba. Kemudian kita berdua bisa jalan-jalan, ngemall, pergi ke museum kapal atau hal-hal yang menggembirakan lainnya. Bukankah itu sangat menyenangkan?” pikir Ceking sambil senyum-senyum sendiri. “Kamu lagi mikirin apa, Ceking?” “Nggak ada,” elaknya sambil menoleh kesamping. “Jangan bohong kamu. Ntar kualat loh.” “Kualat? Memangnya kamu ibuk ku?” “Apa teman tidak bisa membuat seseorang kualat?” “Ya nggak bisalah, Ara. Kalau teman namanya bukan kualat tapi karma, tahu. Pernah mendengar istilah ‘karma is real’, nggak?” “Pernah. Itu judul lagunya Si Jojo, ya?” “Jojo? Siapa?” Menepuk jidat sendiri,”come on girl. Hidup di bumi belahan mana, lo. Hari gini tidak kenal Si Jojo.” “Memangnya siapa dia, King? Cowok lue, ya?” Menguyel pipi gemuk sang sahabat. “Halo. Apakah Ara ada di dalam sana?” “Hehehe.” Menatap intens bola kelam Ara,”Si Jojo adalah penyanyi terkenal yang sedang naik daun sekarang. Dimana-mana pasti ada Si Jojo. Bahkan iklan sabun detergen pun pakai wajah dia. Pokoknya Si Jojo is the best, lah,” jelasnya panjang lebar. “Situ punya HP, kan?” lanjutnya lagi. “Ada.” “Lalu apa fungsi HP?” “Alat komunikasi juga tempat menimba berbagai macam ilmu.” “Uwuh, gadis pintar,” menguyel pipi Cemara. Gen kaukasoid yang menurunkan kulit putihnya, membuat pipi Cemara memerah. Gegara uyelan Ceking yang tidak mau berhenti. “Sudah puas kamu?” mendelik. “Puas. Apaan?” “Nih. Pipiku sampai merah dan terasa panas. Gara-gara tangan nakalmu itu,” menepis tangan Ceking. “Maaf.” “Heems,” mengerucutkan bibir. “Sudah, jangan marah lagi.” “Nggak. Aku sudah nggak marah kok.” “Lalu, mengapa bibirnya manyun kayak gitu?” “Ya, pingin saja. Memangnya nggak boleh?” “Boleh sih. Cuma pingin gue kuncir tuh,” hendak meraih bibir Ara. “Apaan sih elo? Jangan mulai lagi, deh.” “Oke-oke,” menyembunyikan kedua tangan di ketiak. “Katanya mau ke Reynaldy? Jadi nggak?” “Jadilah. Tapi nanti saja.” “Kok jadi bete kayak gitu.” “Lagi PMS, ya?” goda Cemara. “Apaan sih?” “Atau lagi di cuekin sama Si Siswanto?” Ceking menjadi blingsatan. “Hehehe. Si Ceking salah tingkah,” ejek Ara. Mengipasi wajah dengan tangan,”sudah deh. Jangan digoda terus. Lama-lama wajahku kebakar, nih.” Kikikan geli Cemara makin santer terdengar hingga keluar Taman Sekolah. Beberapa siswa laki-laki yang sedang berjalan di dekat taman pun langsung menghentikan langkah. Menajamkan telinga sejenak, sebelum melanjutkan aktifitasnya. “Bagaimana, King?” “Apanya?” “Itu Si Siswanto. Apa kalian sudah jadian?” “Gantian ngeledek, nih.” “Nggak. Cuma aku penasaran saja. Kamu sudah jadian apa belum? Katanya malam minggu kemarin sempat jalan berdua?” “Jalan berdua sih memang betul. Tapi kami kan memang satu tempat latihan, Ara.” “Kalian sama-sama team bola?” “Enggak.” “Lalu?” “Satu team bela diri, Ara. Aku dan Siswanto akan ikut turnamen tingkat Provinsi bulan depan.” “Wow, keren. Kalian mewakili sekolah?” “Bukan. Kami mewakili club kecamatan.” “Oh, begitu.” “Iissssh. Nadanya nggak enak sekali,” menghentakan kaki. “Memangnya mau pakai nada apa? D minor apa C mayor?” Tawa Ceking dan Ara terdengar bersamaan. “Haish. Sudah-sudah. Bisa melebar pipiku ini, dari tadi tertawa terus.” “Ya, nggak apa-apa. Biar pipi Si Ceking selebar milik Ara. Yeay,” sorak Cemara kegirangan. “Haduh. Parah. Kalau pipiku selebar milikmu jadi jelek dong wajahku.” “Siapa bilang? Buktinya aku tetap cantik dengan pipi selebar ini,” mendekatkan wajah. “Itu karena bentuk wajahmu sesuai dengan tubuhmu. Kalau aku, ya lucu nanti. Tubuhku kurus kering tapi pipi melebar kesamping,” menggembung pipi. “Eh, iya juga sih,” jawab Ara dengan wajah bloon. Ceking yang tidak tahan melihat ekspresi Cemara, hendak menguyelnya lagi. Namun tertahan dengan delikan sang sahabat. Lalu dengan sedikit sok salah tingkah, Ceking menggerakan tangan seolah hendak menari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN