Sorry 5

1498 Kata
Wanita itu mengangguk dan terus terisak sambil menggumamkan terimakasih. Beberapa saat kemudian wanita itu pergi meninggalkan Reyna yang menatap kepergiannya dengan tatapan kosong. 'Mbak harus cepet masuk, ya. Mas yang di dalem butuh bantuan banget,' pesan wanita yang barusan pergi dan meletakkan card akses masuk ke kamar Hans. Tak mau membiarkan Hans menunggu terlalu lama Reyna bergegas membuka pintu dengan card yang diberikan wanita tadi. Dengan tangan gemetar dan perasaan gamang Reyna masuk ke kamar hotel. Saat masuk pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah pakaian yang berserakan di lantai tapi Hans tak terlihat. Suara gemericik air terdengar dari balik pintu di sisi kanan ranjang yang ia yakini adalah kamar mandi. Saat masih bingung memikirkan apa yang harus dilakukannya tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan muncul Hans hanya dengan menggunakan handuk yang menggantung di pinggul dan rambut basah yang masih meneteskan air. Tanpa sadar Reyna terpaku melihat pemandangan tubuh kekar Hans, perut kotak-kotak dan bahu yang kokoh. Rahangnya terlihat mengeras saat mata mereka bersiborok. Reyna menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah. Hans POV Aku datang ke bar bersama Anjas setelah dari cafe. Saat kami baru masuk para wanita penghibur langsung mendekat dan menempel seperti lintah mencoba peruntungan untuk bisa menarik salah satu dari kami. Tapi tidak malam ini aku benar-benar sedang muak dengan wanita apalagi Anjas yang hidupnya terlalu lurus kalau masalah wanita. Melihat moodku yang sedang tidak bagus Anjas mengusir mereka secara halus tapi satu wanita yang sedang menempeliku malah berusaha menggodaku dengan mengecup rahangku dan itu membuatku murka. "s**t! J****g sialan!" makiku padanya dengan wajah yang kuyakini merah padam karena aku memang sangat marah. "Calm down, baby," dia mengusap dadaku dan berbisik," Aku tahu kamu butuh pelepasan, kutunggu," dia meninggalkanku sambil mengedipkan sebelah matanya dan senyum menggoda. Tatapan tajamku tak membuatnya takut. "Tenangkan dirimu Hans, jangan sampai lepas kendali dan menambah masalah. Ayo kita duduk dan pesan minum," Anjas menepuk pundakku dan berjalan ke meja yang berada di pojok ruangan yang masih terlihat kosong. Aku mengikutinya dan seorang waitress datang menanyakan pesanan kami. Anjas masih diam membiarkanku meredakan emosiku yang beberapa saat lalu tersulut. Saat merasa sedikit tenang aku mulai menceritakan masalahku. Mulai dari aku mempersiapkan lamaran kejutan untuk Jessica sampai aku yang memergoki dia bergulat dengan pria lain di ranjang kami di apartemen yang kubelikan untuknya. Anjas bukan teman yang akan menjudge diriku, aku tahu itu makanya aku bisa terbuka padanya. Seperti saat ini dia hanya mendengarkan dan tidak berkomentar apapun saat aku bercerita. "Tidak apa. Wanita tidak hanya satu, barusan bahkan kamu sudah dapat satu," celetuknya sambil mengedipkan sebelah matanya menggodaku. "Sialan!" makiku padanya sambil menonjok bahunya pelan. Aku tahu dia mengatakan itu untuk mencairkan emosiku yang kembali meluap karena mengingat kelakuan mantan kekasihku. Ya, mantan kekasih karena jelas aku tak ingin lagi bersama wanita yang telah mengkhianati kepercayaanku. Tubuhku terasa panas beberapa saat setelah aku minum wine yang aku pesan di bar. Aku tahu seseorang memasukkan obat perangsang di minumanku. Saat aku melihat wanita j****g yang tersenyum menggoda ke arahku, aku tahu dia yang memasukkan obat itu. Anjas tak menyadari perubahanku, tak mau membuatnya cemas aku pamit pulang dengan alasan lelah. Sebelumnya aku menemui manager bar untuk memintanya mencarikan seseorang untuk memuaskanku malam ini, aku butuh itu karena obat sialan ini. Dan kupastikan bahwa bukan j****g sialan yang memasukkan obat ke minumanku tadi yang akan menemaniku. Sesampainya di kamar hotel yang ku pesan sesampainya aku di Bali tadi sore, aku segera melucuti pakaian yang kukenakan karena sudah basah oleh keringat dan bergegas masuk kamar mandi untuk sedikit meredakan junior yang sudah menggeliat minta dipuaskan. Aku menengadah di bawah shower. Air dingin menerpa wajahku, kupejamkan mata, kilasan-kilasan kejadian hari ini muncul, hanya dalam waktu sehari kehidupan pribadiku porak - poranda. Kudengar suara pintu terbuka, sepertinya seseorang yang kupesan itu sudah datang. Terdengar b******k memang, tapi apa boleh buat, obat sialan itu yang memaksaku melakukan ini. Lagipun aku meminta seseorang yang profesional jadi tidak ada yang dirugikan, aku membutuhkan mereka dan mereka membutuhkan uang. Aku meraih handuk dan melingkarkannya di pinggulku tanpa mengeringkan rambut. Bergegas kubuka pintu kamar mandi, kulihat seorang wanita berdiri mematung di belakang pintu masuk, melihatku terpaku. Reyna! Sontak rahangku mengeras dan tatapanku menajam. Demi Tuhan apa yang dilakukannya di sini. Aku tidak yakin bisa menahan diri nanti. Aku tidak ingin menyakitinya atau pun merusak masa depannya karena dia keponakan kesayangan temanku. Saat mata kami bersiborok dia menundukkan wajahnya dengan muka merah padam. Aku yakin wajahku pun tak kalah merah dengan wanita itu. Ya, mukaku memerah karena marah dan dia memerah kuyakini karena... malu? Cih, apakah wanita seperti dia masih punya malu... bukan wanita lebih tepatnya gadis... atau memang wanita? Aku akan memastikannya sendiri nanti. Setan dalam diriku sepertinya lebih dominan daripada akal sehatku. "Apa yang kamu lakukan di kamarku, Rey?" desisku masih mencoba menahan emosiku. Aku berjalan pelan ke arahnya dan dia mundur terlihat ketakutan tapi aku tidak peduli. "A..a.. aku tadi ber.. bertemu se.. seseorang di.. di depan pintu kamar om," jawabnya terbata sambil melangkah mundur. Tapi badannya terhenti karena sudah membentur pintu. "Oh ya?" tanyaku lirih, kami masih berjarak selangkah," Lalu di mana orang itu sekarang?" aku bicara tanpa melepas pandanganku darinya. Dia jelas tahu bahwa aku sedang menahan kemarahan. " Di.. dia sudah pergi," dia semakin menundukkan wajahnya. "Kamu menyuruhnya pergi?" tanyaku datar, lebih ke pernyataan sebenarnya daripada pertanyaan karena aku tahu pasti itu yang terjadi. "Ti.. tidak om. Di.. dia ada perlu yang mendesak," Reyna terlihat gugup seperti menyembunyikan sesuatu. "Terus gimana kamu bisa masuk ke kamarku, Rey?" tanganku kuulurkan ke depan bertumpu ke pintu memenjarakannya di antara kedua tanganku dan sedikit kutundukkan kepalaku sehingga wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal. Bahkan aku bisa mencium aroma cherry yang menguar dari rambut dan tubuhnya membuatku memejamkan mata sejenak menikmati aromanya. "Di.. dia minta tolong padaku dan me.. memberikan card ini padaku," dia menunjukkan card yang sedari tadi digenggamnya. "Kamu tahu untuk apa dia kemari, kan?" bisikku di telinganya. Kulihat tubuhnya menegang," I..iya om," jawabnya disertai anggukan. "Lalu kenapa kamu membiarkannya pergi?" "Di.. dia harus pergi." "Kenapa harus? Kamu menawarkan diri untuk menggantikannya?" tuduhku berusaha memojokkannya agar dia mengaku. Badanku semakin merangsek ke arahnya. "Bu.. bukan begitu. Ta.. tapi om tidak boleh menidurinya, karena... hmmmbb." Aku tidak peduli apa yang akan dia katakan. Aku memotong ucapannya dengan ciuman yang menuntut. Aku sudah terlalu lama menahan hasrat akibat obat sialan itu. Jangan salahkan aku, Reyna sendiri yang mendatangiku, menyodorkan tubuhnya padaku. Reyna memukul-mukul dadaku, tapi aku tidak peduli, kukumpulkan kedua tangannya di atas kepala dan kupegang dengan tangan kiriku. Kulepas ciuman kami karena dia hampir kehabisan napas. "Jangan om, tolong hentikan!" Reyna memohon dengan mata memerah menahan tangis dan badan gemetar. Kulumat kembali bibirnya yang membengkak karena ciumanku sebelumnya, tangan kananku berada di belakang kepalanya menahan agar kepalanya tidak terantuk pintu. Dia keras kepala tetap merapatkan bibirnya, kugoda dengan lidahku dan kugigit bibir bawahnya agar terbuka. Setelah terbuka lidahku menyelusup ke dalam mulutnya mengabsen gigi- giginya. Lama kelamaan Reyna mulai membalas ciumanku. Kulepaskan kedua tangan Reyna yang kutahan diatas kepalanya dan kukalungkan ke leherku. Aku tahu ini ciuman pertama Reyna karena dia membalas dengan kaku. Bibirnya semanis cherry, aku tidak mau berhenti sampai Reyna memukul dadaku untuk menghentikanku karena dia hampir kehabisan napas. Dahi kami bertemu masih dengan nafas ngos-ngosan karena ciuman panjang yang kami lakukan barusan. "Aku tidak peduli apapun alasan kamu menyuruh wanita itu pergi, Rey. Yang jelas, karena kamu yang membuatnya pergi maka kamu yang harus bertanggung jawab menggantikan tugasnya karena aku tidak bisa menahan lebih lama lagi." "Ta.. tapi om... hmmmbb..." Kembali kubungkam mulutnya dengan mulutku. Kuraih badannya kubawa ke ranjang hotel yang belum tersentuh sejak sore tadi karena aku memang belum sempat istirahat. Tak kupedulikan Reyna yang terus meronta menghiba agar aku berhenti. Tapi memang akal sehatku sudah hilang yang kipikirkan sekarang adalah hasratku harus segera dituntaskan. Kurobek dress yang dikenakannya, saat melihat tubuhnya yang tinggal terbalut dalaman membuat libidoku semakin naik. Tanpa kupedulikan jeritan kesakitan dan air mata di ujung matanya aku terus bergerak tak terkendali, mendaki puncak kenikmatan yang semakin lama semakin dekat. Reyna yang awalnya terus memberontak pada akhirnya pasrah, kedua tangannya mencengkram bantal di sisi kanan dan kiri kepalanya. Tatapan matanya berkabut dengan mulut setengah terbuka. " Ah... om, Reyna.. reyna mau..." "Yah... lepaskan Rey, lepaskan. Ini kan yang kamu inginkan. Ah...," aku terus bergerak. Sudah kubuktikan Reyna masih gadis, tidak sekarang, sekarang dia adalah wanita. Reyna semakin menjepitku di bawah sana. "Ah.. om..." teriak Reyna tertahan. "Reyna.. Reyna..." kami mencapai puncak bersama. Kudiamkan sejenak di dalam sana, kami sama-sama menikmati o*****e yang luar biasa. "Tidurlah," aku menyelimuti tubuh t*******gnya setelah melepas penyatuan kami kemudian berbaring disebelahnya. Dia meraih selimut memegangnya erat dan berbalik memunggungiku. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, mungkin dia menyesal atau sebaliknya, aku tidak peduli. Kupejamkan mataku, pikiran dan hatiku terlalu lelah hari ini. Hans POV end Reyna menangis tanpa suara. Tidak hanya fisiknya yang terluka tapi hatinya juga. Hari ini keperawanannya direnggut. Memang orang yang dicintainya yang mengambil keperawanannya tapi ia tak mau melakukannya sebelum menikah. Dia datang bermaksud menolong tapi dirinya sendiri tak tertolong. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN