Sorry 6

1672 Kata
Reyna menangis tanpa suara. Tidak hanya fisiknya yang terluka tapi hatinya juga. Hari ini keperawanannya direnggut. Memang orang yang dicintainya yang mengambil keperawanannya tapi prinsipnya ia tak mau melakukannya sebelum menikah. Dan sekarang ia melanggar prinsipnya sendiri. Dia datang bermaksud menolong tapi dirinya sendiri tak tertolong. Terdengar dengkuran halus dari arah belakang tubuhnya, yang menandakan Hans sudah terlelap. Diraihnya tas tangan yang tadi dibawanya dan mengambil ponsel yang ia simpan di dalamnya. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, beberapa misscall dan pesan dari Anjas menanyakan keberadaannya. Sorry om, Reyna udah tidur Send Tak lama kemudian notifikasi pesan berlogo hijau muncul, balasan dari Anjas masuk. Ok. Lanjutkan tidurnya, sorry om ganggu Tanpa membalas pesan Anjas dimasukkannya kembali ponselnya ke tas dan bangun dari pembaringannya perlahan. Selain karena rasa sakit yang ia rasakan di bawah sana ia juga tak mau membangunkan Hans yang sedang terlelap. Memunguti pakaian yang dilempar Hans tadi, tapi dressnya yang robek jelas tak mungkin ia gunakan lagi. Diambilnya kemeja kotor Hans yang berada di atas lantai dan memakainya. Untung kemeja itu masih menutupi setengah pahanya. Ia berharap lorong kamar sepi agar tak menjumpai orang-orang yang pasti akan menatapnya aneh karena keluar di jam 2 dini hari dan hanya menggunakan kemeja seorang pria. Ditatapnya sejenak Hans yang terlelap, sedikit gurat keletihan terlihat di wajah tampannya. Reyna menghela nafas sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya mengingat setengah jam lalu mereka bergulat di ranjang yang sekarang terlihat berantakan. Dengan begitu pelan Reyna membuka pintu kamar dan keluar menyusuri lorong mencari kamarnya sendiri dengan memeluk tas dan dressnya yang robek dengan tangan kirinya dan menenteng flat shoes di tangan kanannya. Sesekali ia menoleh kanan kiri memastikan seseorang tak melihatnya, untungnya lorong hotel terlihat sepi. Sesampainya di kamar ia bersandar di balik pintu dan merosot duduk di lantai. Memeluk kedua lutut dan mengubur wajahnya disana. Tangis yang sedari tadi ditahannya pecah dengan isak tangis memilukan. Merasa kotor dan tak ada lagi yang berharga darinya. Flash back 'Mbak, tolong saya ya, please,' wanita itu menghiba,' Saya butuh uang tapi saya tidak bisa melayani pria yang di dalam,' lanjutnya. 'Me.. melayani?' tanya Reyna terkejut tidak menyangka bahwa Hans adalah pria yang suka jajan. Ia tahu Hans hidup bebas tapi tak menyangka ia menggunakan jasa wanita p*******n. 'Iya mbak. Saya sudah bilang sama bos saya bahwa saya tidak bisa, tapi bos memaksa karena tidak ada orang lain yang free, malam ini full booked. Tolong saya mbak, kalau saya tidak mau saya bisa dipecat. Saya lagi butuh biaya banyak karena ibu saya sedang sakit,' wanita itu bercerita sambil menunduk. 'Ke.. kenapa tidak bisa?' ' Karena... karena hasil check up saya tadi pagi menyatakan bahwa saya... saya positif HIV...,' suaranya melemah di akhir kalimat. Reyna terkesiap mendengar penuturan wanita di hadapannya. Kalau wanita ini nekat maka Hans dalam bahaya tapi kalau tidak melaksanakan perintah bosnya maka wanita ini akan dipecat sedangkan dia sekarang sedang membutuhkan uang untuk ibunya yang sakit. Reyna memikirkan cara untuk menyelamatkan keduanya. 'Tolong ya mbak, kalau mbak kenal pria di dalam tentunya mbak tidak akan tega padanya, kan? Saya mohon mbak, demi pria yang di dalam dan demi ibu saya,' mata wanita itu mulai berkaca-kaca. Akhirnya dengan berat hati Reyna menganggukkan kepalanya. Masih memikirkan bagaimana cara menolong Hans nantinya. Wanita itu menangis haru dan mengucapkan terimakasih. Reyna memeluk wanita itu dan menepuk punggungnya. "Semoga lekas sembuh ya mbak," ucapnya lirih. Sebagai sesama wanita Reyna berusaha menguatkan dengan memberi dukungan. Kemudian wanita itu pergi setelah mengucapkan terimakasih berkali-kali sambil terisak dan menyerahkan card yang diberikan resepsionis hotel tadi sewaktu menanyakan kamar calon klien nya yaitu Hans. 'Suatu hari nanti, seandainya saya masih ada kesempatan saya pasti membalas budi baik mbak,' ucap wanita itu sambil tersenyum dan berlalu pergi. Flashback end Cinta. Dia memang mencintai Hans tapi tak pernah terpikirkan olehnya menyerahkan keperawanannya pada Hans sebelum ada ikatan pernikahan. Bahkan menikah dengan Hans saja belum pernah terpikirkan oleh otak kecilnya. Dia mencintai tapi tak pernah terpikirkan untuk memiliki karena ia sadar perasaannya tak berbalas. Dia masuk kamar Hans bermaksud untuk membantu tapi tidak dengan cara tidur dengannya. Pemikiran polosnya ternyata disalah artikan oleh Hans yang merupakan seorang pria dewasa dan mempunyai pemikiran yang jelas berbeda dengannya. Pelepasan adalah suatu kebutuhan apalagi saat dia dalam pengaruh obat. Sedangkan bagi Reyna hal ini adalah hal yang baru, sama sekali belum pernah dilakukannya bahkan ciuman sekalipun. Dia mendapat penjagaan yang amat posesif dari keluarganya terutama Anjas dan papanya. Teman pria yang dekat dengannya hanyalah Rayan, temannya sedari kecil, anak dari teman papanya. Reyna tidak menyalahkan Hans sama sekali tapi dia menyesali sikapnya sendiri. Harusnya dia tadi menghubungi Anjas terlebih dahulu dan meminta tolong padanya yang jelas lebih tahu apa yang harus dilakukannya untuk menolong Hans. Tapi penjelasan wanita itu yang mengatakan bahwa mungkin saja saat itu Hans tengah kesakitan membuatnya khawatir dan tak berpikir jauh. Kembali lagi mengingat bahwa dia hanyalah gadis polos. Bukan polos, dia melabeli dirinya sendiri gadis bodoh, bagaimana mungkin dia memikirkan bahwa efek obat perangsang itu adalah kesakitan biasa yang bisa disembuhkan dengan obat atau sejenisnya. Dijambaknya rambutnya sendiri dengan kedua tangannya dan isak tangis yang semakin keras saat mengingat betapa j****g dirinya tadi. Mulutnya terus meneriakkan kata jangan dan tangannya terus memukuli d**a Hans tapi saat Hans menyentuhnya di titik- titik sensitifnya, mulutnya justru mengeluarkan desahan yang terdengar menjijikkan sedangkan tangannya malah meremas rambut coklat gelap milik Hans. Desahan demi desahan terus keluar dari mulutnya seiring dengan puncak kenikmatan yang semakin dekat. Dia benci tubuhnya yang ingkar, saat hatinya merasakan sakit yang amat sangat karena dianggap pemuas nafsu seperti p*****r tapi tubuhnya justru menikmati perlakuan Hans kepadanya. Hans sendiri terus menggeram dan melolong nikmat. Bahkan namanya keluar dari mulut pria itu saat ia sampai. Hiks... hiks... hiks Reyna berusaha berdiri menyeret langkahnya ke arah ranjang dan bergelung dengan selimut hotel yang tebal. Berusaha memejamkan mata karena kepalanya mulai pusing karena kebanyakan menangis. - - - - Dering ponsel membangunkan Reyna. Dengan mata yang masih berat Reyna berusaha meraba-raba mencari ponselnya. Ternyata panggilan dari Anjas. "Pagi om," sapa Reyna dengan suara sengau. "Pagi Rey, kok suaranya sengau gitu, kamu sakit?" tanya Anjas terdengar khawatir. " Enggak om, Reyna baik-baik aja kok. Biasalah baru banget bangun tidurnya. Kalau om gak nelpon mungkin Reyna gak bangun," Reyna mencoba mencari alasan dan mengatur suara setenang mungkin. "Syukurlah kalau gak papa. Om di cafetaria hotel sama Hans lagi sarapan, kamu mau nyusul?" Badan Reyna menegang mendengar nama Hans disebut. Dia tidak siap bertemu Hans sepagi ini setelah kejadian semalam. Apalagi dengan keadaannya sekarang yang bisa dipastikan matanya merah dan bengkak, apa yang harus dikatakannya pada Anjas nanti. "Reyna nanti minta antar ke kamar aja deh om sarapannya, ini aja Reyna belum mandi." "Ok kalau gitu. Cepetan mandi, anak gadis jangan malas." "Siap om!" Hans POV Pagi ini aku sarapan di cafetaria hotel bersama Hans. Tapi tak kulihat kemunculan Reyna sampai kami selesai sarapan. Aku harus bersyukur karena itu, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana setelah kejadian tadi malam. Yang jelas aku tidak akan bisa menyembunyikan kemarahan dan kekecewaan saat melihatnya sepagi ini. Ya, aku marah karena dia dengan lancangnya menyuruh wanita yang aku pesan tadi malam pergi. Dan aku juga kecewa karena dia menjadi wanita yang tidak tahu malu dengan datang ke kamarku dan menggantikan wanita itu. Kukira dia adalah wanita baik-baik karena keluarganya adalah keluarga terhormat. Tapi ternyata dia sama saja dengan wanita kaya kebanyakan yang manja dan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Pagi tadi saat aku bangun aku tak menemukan ia di kamarku lagi. Aku sadar aku telah mengambil kegadisannya tadi malam, aku merasakannya saat menembus selaput itu. Dan aku akui, tadi malam aku bersikap b******k padanya karena aku tidak melakukannya dengan lembut. Ah s**t membayangkannya membuatku kembali menegang. Kulihat Anjas mengambil ponsel di saku dan menghubungi seseorang mungkin Reyna. Beberapa saat ia menunggu panggilan tersambung. "Pagi Rey, kok suaranya sengau gitu, kamu sakit?" Anjas menyapa Reyna dengan nada khawatir. Seperti dugaanku ia menghubungi Reyna. "Syukurlah kalau gak papa. Om di cafetaria hotel sama Hans lagi sarapan, kamu mau nyusul?" Aku melihat kasih sayang yang begitu besar di mata Anjas untuk Reyna. Entah apa yang akan dilakukannya padaku kalau dia tahu apa yang aku lakukan pada Reyna. "Ok kalau gitu. Cepetan mandi, anak gadis jangan malas." Salah. Dia tidak gadis lagi. Mengingat itu ada rasa bersalah yang mulai mengusik ketenangan hatiku. "Hhhh," dia mendesah. "Punya keponakan cewek tuh gampang-gampang susah Hans. Gampangnya dia lebih nurut daripada cowok kalau dibilangin tapi susahnya harus dijagain ekstra," lanjutnya sambil tersenyum. "Gitu ya? Selama ini aku tinggal jauh dari kaluarga jadi gak tahu rasanya," timpalku. Aku merasa tidak nyaman dengan topik ini. Dia mengangguk kamudian melanjutkan," Kamu akan merasakannya saat punya anak nanti Hans." Aku menegang, anak, yah tadi malam aku tidak memakai pengaman. Tapi aku yakin tidak papa, selama ini aku dan Jessica juga tak pernah memakai pengaman tapi masih aman kok. Aku hanya menanggapi perkataan Anjas dengan tersenyum simpul. Hans POV end Sementara di kamar hotel Reyna bergegas ke kamar mandi, membuka pakaiannya dan masuk ke bathup. Dia terdiam di dalam bathup sambil menunggu air penuh. Dia berencana keluar kamar setelah penampilannya sedikit membaik. Sekilas ia melihat cermin tadi matanya benar-benar bengkak tak tertolong. Dia berendam sampai jarinya keriput karena kedinginan. Tapi berendam benar-benar membuat badannya rileks apalagi di bawah sana yang masih terasa sedikit nyeri terasa lebih baik setelah berendam. Dia tidak memesan sarapan seperti yang dikatakannya pada Anjas ditelpon tadi. Tapi dia berencana brunch sebentar lagi setelahnya ia akan berjalan-jalan di sekitar pantai. Dia tahu hari ini om Anjas ada sedikit urusan dengan kliennya yang ada di Bali. Keluar dari hotel Reyna menuju cafe di seberang hotel dan memesan jus alpukat kesukaannya dan wafle toping buah-buahan. Menikmati makanan sendirian sambil bertukar pesan dengan Rayan cukup menghiburnya sampai tak menyadari seseorang telah duduk di hadapannya, mengamatinya dengan mata tajam dan rahang mengeras. "Menikmati harimu, Rey?" Suara itu membuat Reyna menegang dan mengangkat pandangannya dari ponsel yang sedari tadi berada di tangan kirinya. Matanya bersiborok dengan mata hitam legam yang menatap tajam ke arahnya dan smirk yang tersungging di bibir seksi pria di depannya. Seketika tubuhnya meremang. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN