Sorry 7

1538 Kata
"Menikmati harimu, Rey?" Suara itu membuat Reyna menegang dan mengangkat pandangannya dari ponsel yang sedari tadi berada di tangan kirinya. Matanya bersiborok dengan mata hitam legam yang menatap tajam ke arahnya dan smirk yang tersungging di bibir seksi pria di depannya. Seketika tubuhnya meremang. Reyna masih membisu dan berusaha fakus pada makanannya yang tiba-tiba terasa hambar padahal sebelumnya terasa nikmat. "Beresi barang- barangmu aku sudah pesan tiket untuk kita berdua," kata Hans sedikit kesal karena sejak tadi diabaikan oleh Reyna. Reyna berhenti menyuap dan mengangkat wajah berusaha terlihat tenang. Dia tidak mengatakan apapun tapi keningnya yang berkerut menjelaskan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Hans. "Anjas tak memberitahumu?" sekarang giliran Hans yang heran karena Reyna tetap bergeming. "Apa?" satu kata meluncur dari bibir Reyna. "Hhhh... Anjas tak memberitahumu ternyata. Dia ada kerjaan mendadak di Jakarta, karena terburu- buru dia memintaku untuk pulang bersamamu lusa. Tapi aku pun ingin segera kembali ke Jakarta jadi aku sudah pesan tiket untuk hari ini juga," baru kali ini Reyna mendengar kalimat terpanjang Hans yang diucapkan padanya. "Tidak perlu repot- repot, Reyna bisa pulang sendiri," sahut Reyna cuek membuat Hans kembali mengeraskan rahangnya. "Aku sudah berjanji pada ommu, maka aku akan menepati janjiku," balas Hans berusaha menahan diri agar tidak lepas kendali. Entah kenapa setiap kali berhadapan dengan Reyna ia sering lepas kontrol padahal sebenarnya ia adalah orang yang pandai mengatur emosi. Gadis ini selalu membantah, gak mau nurut tipe gadis pembangkang dan susah diatur "Om tidak perlu merasa terbebani. Nanti biar Reyna yang bilang sama om Anjas," jawaban tenang Reyna semakin menyulut emosi Hans tanpa disadarinya. "Kenapa? Kamu masih berencana tidur dengan pria mana lagi?" senyum smirk terbit di bibir Hans. Mendengar tuduhan Hans membuat wajah Reyna merah padam. Teganya pria itu menuduhnya seperti itu sementara pria itu sendiri yang telah merenggut keperawanannya. "Reyna tahu, om sangat membenci Reyna. Tapi Om jangan menuduh Reyna sembarangan ya!" Reyna berkata dengan tubuh gemetar dan mata yang berkaca- kaca karena berusaha menahan emosi. "Kenapa kamu marah? Bukannya benar dugaanku? Tadi malam kamu bahkan mengusir wanita p*******n itu dan rela menggantikannya demi bisa tidur denganku," Hans diam sejenak mengamati ekspresi marah Reyna kemudian melanjutkan," Kamu puas bisa tidur denganku semalam? Atau pertanyaannya ku ganti, apa aku bisa memuaskanmu? Mau..." "Cukup!" Reyna memotong perkataan Hans yang semakin mencabik hatinya. Lukanya yang masih basah serasa disiram air garam. Pedih. Matanya bahkan tak mampu lagi menahan luapan air mata yang terus berdesakan di ujung matanya. Hans yang melihat air mata Reyna menetes merasakan sedikit nyeri di dadanya tapi diabaikannya. "Sebenarnya salah Reyna apa sih sama om? Sampai om begitu membenci Reyna, om begitu merendahkan Reyna." Hans terdiam mendengar pertanyaan Reyna. 'Apa yang membuatnya tidak menyukai Reyna?' Reyna cantik, sangat cantik malah. Yang ia tahu hanya ia tak menyukai tatapan memuja Reyna pada dirinya di malam pertama kali mereka bertemu di pesta itu. Sikap manjanya membuat Hans semakin tak menyukainya dan ia jelas tahu bahwa Reyna tertarik padanya saat ia sudah punya kekasih, meskipun sekarang hubungannya sudah berakhir. Tapi menyukai pria yang sudah punya kekasih adalah sikap yang tidak tahu malu menurutnya. Hans adalah pria setia meskipun akhirnya ia kecewa. Dan puncaknya adalah kemarin malam, penilaiannya tentang wanita yang tak tahu malu terbukti dengan Reyna yang masuk ke kamar hotelnya. Dan berakhir mereka yang melewatkan malam panas meskipun dengan sedikit paksaan tapi pada akhirnya wanita itu mendesah pasrah di bawah kendalinya. Mengingat hal itu membuat Hans semakin mengeraskan rahangnya. "Wanita baik- baik tidak akan masuk ke kamar pria malam- malam," kata Hans kemudian. Reyna melongo mendengar jawaban Hans. 'Apa pedulinya dirinya wanita baik atau bukan, bukankah yang terpenting hasratnya sudah tersalurkan? Harusnya Reyna yang merasa dirugikan, kan?' "Apa om rugi?" "Tentu saja saya rugi!" Hans tak mau kalah. "Di sini Reyna yang dirugikan om!" Reyna tak habis pikir dengan jalan pikiran Hans. "Kalau kamu rugi, apa itu salahku? Kamu sendiri yang masuk ke kamarku bukan? Kamu sendiri yang menyodorkan tubuhmu padaku!" "Reyna hanya ingin membantu om," suara Reyna terdengar frustasi menghadapi Hans yang terus menyalahkannya. Bahkan ia tak bertanya pada Reyna apa yang terjadi sampai Reyna nekat masuk ke kamar Hans. Menghadapi kekeraskepalaan Hans bisa membuatnya gila. "Membantu? Atau mengambil kesempatan? Aku pikir definisi membantu telah berubah akhir- akhir ini," Hans berdecih meremehkan. "Apa sebegitu buruknya Reyna di mata om dibanding wanita p*******n itu?" "Ya. Wanita itu lebih baik karena setidaknya dia melakukan itu karena pekerjaan. Bukan sepertimu yang dengan suka rela menyodorkan tubuh pada pria. Dan itu membuatku muak dan jijik!" tanpa pikir panjang Hans menjawab pertanyaan Reyna dan jelas itu semakin melukai Reyna. Hati Reyna mencelos mendengar pernyataan Hans barusan. Ternyata dirinya begitu hina di mata Hans. Reyna menghapus air mata yang mengalir semakin deras dengan punggung tangannya. "Fine. Reyna minta maaf karena telah membuat om rugi. Sorry. Maaf juga kalau kehadiran Reyna mengganggu om, i'm sorry for disturbing you, om," ucap Reyna lirih tapi masih bisa didengar jelas oleh Hans. Setelah mengucapkan itu Reyna bangkit pergi meninggalkan Hans yang termenung, membawa hatinya yang terluka. Sementara Hans masih termenung beberapa saat setelah kepergian Reyna. "s**t!" ia memaki, lebih kepada dirinya sendiri karena mulutnya lepas kendali. Mengatakan bahwa wanita p*******n lebih baik daripada Reyna, jelas melukai perasaan wanita itu. Hans mengacak rambutnya frustasi. Reyna sampai di Jakarta keesokan harinya mengambil penerbangan pertama dari Bali ke Jakarta. Sebelumnya ia sudah mengabarkan pada Anjas untuk tak mengkhawatirkannya. Sementara Hans, Reyna tak mau tahu lagi. Yang jelas setelah obrolan menyakitkannya dengan Hans di cafe kemarin dia sudah tak menjumpai pria itu. Mungkin pria itu sudah kembali ke Jakarta seperti rencananya kemarin. Sampai di rumah Reyna dikejutkan oleh Rayan dan keluarganya yang menyambutnya dengan pesta kecil- kecilan. Pesta ulang tahunnya yang ke-18. Sederhana saja karena ia tak suka merayakan ulang tahun yang berlebihan. Menurutnya saat ulang tahun berarti jatah hidupnya di dunia berkurang jadi tak ada yang perlu dirayakan. Senyum menghiasi bibirnya sepanjang acara makan- makan bersama keluarganya tanpa ada yang tahu bahwa dibalik senyum itu ia menyembunyikan luka yang menganga. "Rey," panggil Anjas saat dirinya sedang membantu merapikan meja makan. Reyna menoleh ke asal suara dan tersenyum," Ada apa om?" "Sorry ya, kemarin om tinggal, dipaksa mamamu, biar surprise katanya," om Anjas semakin mendekat. Reyna hanya tersenyum menanggapi sudah terlalu hafal dengan sikap heboh mamanya. "Iya, Reyna ngerti." "Hans bersikap baik padamu kan, selama om gak ada?" Pertanyaan om Anjas membuatnya sedikit tegang. Reyna hanya menjawab dengan senyum dan anggukan. "Dia bilang tadi kalian gak dapat kursi yang bersebelahan. Kukira dia yang bakal antar kamu pulang sekalian memenuhi undangan mama di acara ulang tahunmu ini," Anjas terus berkata tanpa melihat perubahan raut wajah lawan bicaranya. 'Om Hans satu pesawat denganku? Tapi aku tak melihatnya sejak kemarin pulang dari cafe?' batin Reyna dengan kening mengkerut. "Om Hans sedang sibuk mungkin," jawabnya singkat. "Hmm... bisa jadi karena kemarin aku memintanya tetap di Bali untuk menjagamu dan pasti kerjaan yang menggunung sudah menantinya," Om Anjas mengangguk- anggukkan kepalanya. "Ya udah om, Reyna mau istirahat dulu ya, capek banget ini," pamit Reyna berusaha menghindari topik pembicaraan mengenai Hans. "Ya udah sana naik." Reyna mengangguk kemudian mencium pipi Anjas," Bye om." Reyna merebahkan tubuh di ranjangnya melihat langit- langit kamar yang ia pasang glow in the dark yang akan terlihat terang di malam hari. Mulai hari ini semua berubah. Beberapa hari lalu sebelum berangkat ke Bali ia adalah Reyna yang masih seorang gadis sedangkan hari ini saat ia pulang dari bali ia sudah menjadi seorang wanita. Betapa semua bisa berubah dalam waktu sekejap. Mulai hari ini nama Hans harus ia hapus dari otak dan hatinya. Hans sudah menyakitinya terlalu dalam. Kata -katanya sudah keterlaluan. Hans muak dan jijik padanya. Tanpa terasa air mata mulai menetes di sudut matanya. Biarlah ia menangis hari ini, hari ini saja. Besok ia akan segera melupakan semuanya. Tak mau berlarut dalam kesakitan Reyna bergegas bangkit membuka travel bag yang ia bawa dan mengeluarkan baju- bajunya dan menata di lemari. Bag yang berisi oleh- oleh sudah ia tinggalkan di bawah tadi. Satu kemeja pria berwarna putih tengah berada di tangannya. Dia ingat betul kemeja siapa ini. Tanpa pikir panjang ia susun diantara baju- baju miliknya. Biarlah Hans kehilangan satu kemejanya karena ia takkan repot- repot mengembalikan kemeja itu. Hal itu hanya akan memberi kesempatan Hans untuk menghinanya kembali. "Hallo bestie!" Rayan berteriak mengejutkannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Reyna berjengit kaget sambil memegang dadanya," Bisa ketuk pintu dulu gak?" katanya jutek. "Dih ngegas, santuy dong," dengan santainya Rayan masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang king size Reyna. "Loe udah yakin ke Monash kan, Rey?" tanya Rayan setelah diam beberapa saat. Reyna terdiam dan ikut berbaring di ranjang. "Menurut loe, sebaiknya gue pergi gak?" Rayan mengerutkan keningnya heran. Dia mengubah posisi berbaringnya miring ke arah Reyna dengan satu tangan menyangga kepalanya. "Kok nanya gue? Tanya diri loe sendiri lah." "Gue belum bilang mama papa, Ray. Baru om Anjas yang tahu." "Ya udah tinggal kasih tahu aja, beres kan?" dengan entengnya Rayan menimpali. Reyna menyentil jidat Rayan. "Aduh! Sakit, Rey!" Rayan mengelus jidatnya yang memerah. " Gak semudah itu. Loe tahu sendiri mama gue dramanya kayak apa." "Trus?" "Loe harus bantuin gue lah." "Bantuin apaan?" Seketika senyum smirk terukir di bibir Reyna. Perasaan Rayan tidak enak melihat senyum itu. Jelas sekali Reyna punya rencana licik untuknya. "Perasaan gue gak enak, Rey." TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN