"Loe harus bantuin gue lah."
"Bantuin apaan?"
Seketika senyum smirk terukir di bibir Reyna. Perasaan Rayan tidak enak melihat senyum itu. Jelas sekali Reyna punya rencana licik untuknya.
"Perasaan gue gak enak, Rey."
"I love you too, Ray," ucap Reyna full senyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Uhh... gue tahu loe pasti numbalin gue lagi," Rayan cemberut dan kembali menelentangkan tubuhnya kembali sambil memikirkan kata- kata apa yang harus diucapkannya pada orang tua Reyna nanti.
"Udah gak usah banyak mikir, ayo kita ke bawah sekarang," Reyna menyeret tubuh Rayan untuk segera bangkit. Tapi tubuh Rayan yang segede gaban tak beranjak sedikit pun.
"Biarin gue cari wangsit dulu, Rey," Rayan menyentak tubuh Reyna hingga tubuhnya menindih tubuh Rayan yang masih terbaring telentang.
Tepat saat itulah pintu kamarnya dibuka dari luar dan muncul Anjas serta Hans di belakangnya. Empat pasang mata yang saling mengamati itu mempunyai reaksi yang berbeda- beda. Tapi yang pasti mereka kaget dengan alasan berbeda.
Muka Anjas memerah tanda ia murka, Hans menatap dengan smirk khasnya yang Reyna tahu pasti isi otaknya adalah pikiran buruk tentangnya apalagi setelah peristiwa di Bali kemarin. Rayan kaget karena pintu yang tiba- tiba terbuka bahkan wajahnya melongo, sedangkan Reyna kaget sekaligus gugup. Kaget seperti halnya Rayan dan gugup karena Hans ikut menyaksikan adegan absurd mereka yang bisa bikin semua orang salah paham.
Yang pertama kali bereaksi adalah Anjas, dia langsung merangsek maju ke arah Reyna dan Rayan yang masih berbaring di ranjang dengan posisi Reyna menindih tubuh Rayan karena mereka belum sadar dari kekagetan mereka.
"Dasar bocah! Berani- beraninya kamu ambil kesempatan ya!" Anjas murka dan menjewer telinga Rayan hingga Rayan berdiri tegak.
"Aduh om! Sakit om, ampun!" Rayan berteriak kesakitan berusaha menyelamatkan telinganya yang sudah memerah dengan memegangi tangan Anjas.
"Jangan om, lepasin telinga Rayan, kasihan," Reyna berusaha menyelamatkan sahabatnya yang terancam kehilangan sebelah telinganya.
"Kamu mau belain dia, Rey?" tatapan Anjas menajam menatap ke arah Reyna.
"Om salah paham, semua gak seperti yang om lihat, Reyna sama Rayan cuma ngobrol tadi," Reyna berusaha menjelaskan.
"Ngobrol apa sampai tindih- tindihan gitu?" tiba -tiba Hans ikut menimpali.
Mengabaikan Hans, Reyna meraih tangan Anjas dan melepaskannya dari telinga Rayan perlahan. Rayan terus meringis kesakitan sambil menggosok- gosok telinganya yang memerah. Hans yang tidak ditanggapi memilih diam dan mengamati.
"Reyna bakal cerita tapi lepasin dulu ya, Om. Udah sekarang om duduk," Reyna menuntun lengan Anjas ke arah sofa di kamarnya. Tanpa disuruh Hans menyusul Anjas dan duduk di sebelahnya. Sementara Rayan berdiri menyandar di meja riasnya masih sambil menggosok telinganya dan bibir yang cemberut sesekali mendesis kesakitan.
Anjas masih melihat Rayan dengan tatapan permusuhan. Sedangkan Hans menepuk pundak Anjas berusaha menenangkan. Reyna sendiri duduk di ranjang berusaha menyusun kata agar kesalah pahaman ini segera terurai.
"Tadi Reyna ngobrolin masalah Reyna yang mau kuliah ke luar negri om," Reyna memulai ceritanya dan menatap ke arah Anjas. "Reyna bingung gimana bilangnya ke mama, sementara om tahu sendiri gimana mama."
"Kenapa gak minta tolong sama om aja, Rey? Kita kan udah ngomongin ini kemarin," Anjas mulai melunak tapi tatapannya ke Rayan tetap menusuk.
"Iya, tapi kita kan kemarin gak ngomongin gimana ngomongnya ke mama, makanya hari ini aku bahas sama Rayan."
"Terus kenapa harus ada adegan tindih- tindihan begitu?" Anjas masih belum puas karena cerita Reyna belum sampai ke persoalan utama.
"Sabar om, Reyna kan belum selesai cerita tapi udah dipotong sama om," Reyna menimpali.
"Ok teruskan."
"Rayan setuju bantuin Reyna tapi perlu waktu buat mikir caranya ngomong ke mama. Pas Rayan lagi mikir itulah Reyna narik tangannya Rayan biar berdiri, terus turun ngomong sama mama. Karena badan Rayan yang segede gaban bukannya Rayan yang tertarik berdiri eh malah Reyna yang tertarik dan jatuh menimpa tubuh Rayan," Reyna menjelaskan panjang lebar agar masalah salah paham ini selesai.
Mata Anjas menyipit berusaha mengintimidasi Rayan dan Reyna untuk mencari kebenaran. Tapi melihat wajah mereka yang tidak takut atau pun gugup Anjas tahu Reyna tak berbohong. Dia tahu Rayan sudah biasa keluar masuk kamar Reyna tapi sekarang kayaknya semua harus dibatasi karena sekarang mereka bukan anak- anak lagi.
" Ya sudah kalau gitu, tapi jangan diulangi lagi. Dan kamu Rayan...," Anjas menjeda sejenak sambil mengacungkan jarinya membuat Rayan berdiri tergagap," tidak boleh keluar masuk kamar Reyna lagi. Kalau ngobrol sama Reyna gak boleh di kamar harus di luar," tegasnya.
"Iya om," jawab Rayan sambil mengangguk.
"Kamu percaya gitu aja?" Hans yang dari tadi diam berkomentar, tapi membuat Rayan dan Reyna memandang sebal ke arahnya. Pria ini seperti memancing di air keruh. Kompor. Cocok kalau masuk jadi admin perlambean.
"Aku percaya keponakanku pasti gak bohong," timpal Anjas yang membuat Reyna dan Rayan lega luar biasa.
"Ayo kita keluar Ray," ajaknya pada Rayan," dan kamu Hans, sampaikan pada Reyna apa perlumu, pintu jangan ditutup dan cepat keluar setelah selasai," pesannya pada Hans sebelum menghilang dari kamar Reyna.
Sepeninggal Rayan dan Anjas, Hans mengamati Reyna yang masih duduk di ranjangnya. Tujuannya ke sini tadi sebenarnya untuk memenuhi undangan makan siang dari mamanya Reyna sebagai perayaan ulang tahun Reyna. Jadi sebelum ke sini ia mencari hadiah dulu sekaligus sebagai permintaan maaf atas kata- kata tidak pantasnya kemarin. Tapi malah disuguhkan pemandangan yang tidak sepantasnya. Baru kemarin Reyna berada di pelukannya tapi hari ini ia berada di pelukan pria lain. Mengingat itu rahangnya kembali mengeras. Meskipun tadi Reyna sudah menceritakan kronologi kejadiannya tapi isi kepalanya menolak percaya.
"Jadi ternyata kamu udah biasa berada di pelukan pria ya, Rey?" tanyanya dengan suara rendah, tak mau memancing keributan di rumah orang.
Reyna mengerutkan keningnya mendengar kata- kata yang terlontar dari mulut pria di hadapannya ini. Kenapa apapun yang ia lakukan selalu salah di matanya.
"Ada masalah? Memangnya kenapa kalau Reyna dipeluk oleh orang yang menyayangi dan mencintai Reyna?" sahutnya.
Pria- pria yang memeluknya adalah pria yang menyayanginya seperti Anjas, Rayan dan kakeknya sementara orang yang mencintainya tentu saja adalah ayahnya. Apa masalah orang ini sebenarnya.
"Cih... jadi kamu biasa mengobral diri pada pria- pria di sekitarmu?" kata Hans mencemooh.
Wajah Reyna memerah baru memahami maksud dari kata-kata Hans sebelumnya. Marah, sebenarnya apa isi otak pria ini sampai yang keluar dari mulutnya selalu kata- kata sampah.
"Huh... apa om tidak berkaca? Om bisa berkata seperti itu seolah- olah om adalah orang yang suci," Reyna tak mau kalah dan malah memprovokasi Hans.
Hans menggertakkan gigi- giginya kemudian tersenyum miring.
"Tapi kita sama kan, Rey. Kamu pun bukan orang suci lagi. Kamu ibarat barang bekas sekarang," Hans terus mencecar Reyna tak mau kalah. Sekilas Hans melihat tatapan terluka Reyna tapi ia tak peduli lagi. Reyna sendiri yang memanasinya jadi kenapa tak ia bakar sekalian.
Reyna mengepalkan tangannya.
"Sama? Cih... tentu saja berbeda. Aku mendapatkan om yang jelas bukan perjaka lagi. Entah berhubungan bersamaku sudah menjadi yang keberapa puluh kali atau tak terhitung lagi. Bahkan dengan orang yang berbeda- beda dan gak tahu mengenai kesehatan mereka. Sedangkan Om jelas menjadi orang pertama, mendapatkan keperawananku, mengambil kesucianku dengan kata lain om yang menodaiku membuat diriku menjadi kotor dan menjadi barang bekas. Kalau om menyebutku barang bekas, lalu om sendiri apa? Om gak sadar om seperti kotoran?" Reyna semakin menjadi. Tapi masih mengontrol suaranya agar tak terdengar sampai keluar.
Hans kehabisan kata meladeni Reyna, memilih pergi meninggalkan Reyna. Sebelum melangkah keluar suara Reyna kembali menghentikan langkahnya.
"Sebelum om memesan wanita p*******n, sebaiknya om memastikan kesehatan mereka dulu kalau om tak mau menyesal di kemudian hari."
Tanpa memperdulikan perkataan Reyna, Hans berlalu dari kamar Reyna dengan wajah kaku. Kotak kecil yang ia genggam ia masukkan lagi ke saku jaketnya.
Reyna segera mengunci pintu setelah Hans hilang dari pandangannya. Dielusnya dadanya yang sesak. Kembali air matanya mengalir, ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak menangisi pria itu lagi. Tekatnya untuk kuliah di luar negeri semakin bulat.
-
-
-
-
Hari berlalu begitu cepat, berkat Rayan dan Anjas akhirnya Reyna diizinkan untuk kuliah di luar negeri. Mamanya tentu saja yang sulit diluluhkan tapi papa dan kakek membantu memberikan pengertian pada mama.
Reyna terbangun karena dorongan dari perutnya hampir sampai ke tenggorokannya. Rasa mual yang amat sangat di setiap pagi sudah dirasakannya tiga hari ini. Dirinya mulai panik karena jadwal menstruasinya sudah mundur satu minggu dari biasanya.
Reyna tidak berani menceritakan peristiwa di Bali hampir satu bulan lalu kepada siapapun. Termasuk keluhan mual yang dialaminya akhir- akhir ini. Dia berharap apa yang dipikirkannya salah. Dia tidak mau mengecewakan semua orang terlebih lagi ia tak mau terjebak hidup bersama seorang pria bermulut sampah seperti Hans. Kalau apa yang dipikirkannya benar maka ia memilih pergi.
TBC