BAB-1
Author POV :
***
Terlihat seorang pria muda yang sedang tidur tengkurap. Kasur yang berantakan, menandakan bahwa dirinya telah bergelut dengan mimpinya semalam.
Sekarang sudah setengah tujuh, sinar matahari terpancar dan menyinari sela-sela ruangan. Ia masih belum juga bangun dari tidurnya.
Dia adalah Michael, Michael Harrison. Anak bungsu dari keluarga Harrison.
Michael POV :
***
"Hwuah."
Aku terbangun dengan mata sayup dan menguap malas, aku mendapati jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Aku menggaruk kepalaku yang gatal. Aku tidak peduli jika aku bangun tengah hari maupun malam hari, aku tak bisa melakukan apapun.
Karena penyakit sialan yang ku miliki, aktivitasku menjadi terbatas. Tidak bisa keluar rumah. Aku seperti di penjara saja, di rumah besar ini.
Aku sungguh merindukan kehidupan normalku setiap hari, pergi sekolah dan segalanya. Bertemu dengan kawan dekatku saja harus di waktu yang tepat, kalau tidak penyakit sialan ini tak bisa di ajak damai.
Ya, Aku Michael, dengan penyakit aneh. Penyakit yang tak tergolong dalam salah satunya, semua ilmuwan dan ahli di bidangnya tak dapat menjelaskan kenapa aku memiliki penyakit seperti ini. Yang jelas, semua orang menyerah.
Aku menjadi pasien koma vegetatif di rumah sakit. Tidak hanya sekali, dua kali dalam sebulan, episode itu terus berulang sejak aku menginjak usia 17 tahun. 8 bulan aku sudah menderita karenanya.
Apa yang harus aku lakukan, bertahan walaupun semua orang sudah menyerah, mati karena aku melakukan hal yang sama?
Author POV :
***
Setiap pagi, pria muda tampan itu terus merengek dan mengadu kepada batinnya yang tak bisa melakukan apapun, masa bodo dan tak bersemangat.
Michael duduk bersandar. Menghadap kearah TV besar di kamar besar itu, melamun. TV tersebut tak menyala, ia hanya melihat pantulan dirinya saja di layar hitam tersebut.
Tidak lama, Michael memalingkan pandangannya, tersadar sepenuhnya. Suara daun pintu terbuka. Seseorang membuka pintu kamar, berjalan menghampiri.
Pria dewasa dengan pakaian formal. Ia menghampiri Michael perlahan, tersenyum kearahnya.
Dia adalah Arthur, Arthur Harrison. Kakak Michael sekaligus tuan rumah besar ini.
Michael POV :
***
"Apa lagi sih?."
Tanyaku dalam hati, menatapnya malas.
Setiap pagi dan setiap aku bangun dari ketidaksadaranku, kak Arthur yang pertama kali aku dapati. Hal itu membuatku muak dan bosan melihatnya, seolah-olah ia lebih mengkhawatirkanku.
Aku seperti kebalikan dari dirinya yang sempurna. Hal itu membuatku menjadi lebih tak bisa melakukan apapun, menjadi pria yang lemah.
Meskipun demikian, Kak Arthur tak pernah mengatakan bahwa dirinya sudah menyerah, dia bertarung untukku. Sekarang pun begitu.
"Kamu sudah bangun, Mike. Butuh sesuatu?."
Cetus Arthur, ia duduk di kasur menghadap ke arahku.
Setiap kali Kak Arthur datang, pertanyaannya sama, tidak jauh dari dua pertanyaan itu. Membuatku ingin mengusirnya dan kembali tidur.
Di tambah lagi, tatapan dan raut mukanya, mengingatkanku pada seseorang. Mendiang Ayahku.
"Kenapa kakak bertanya? Suruh saja mereka masuk."
Sahutku agak kesal.
Aku tahu, di balik pertanyaan yang di cetuskan kak Arthur barusan adalah sebuah aba-aba, untuk memastikan.
Di balik kedatangannya, ia pasti sudah merencanakan sesuatu seperti biasanya. Rencana yang akan aku tolak mentah-mentah.
Author POV :
***
"Kalian bisa masuk sekarang!."
Panggil Arthur keras, kepalanya melirik kearah pintu keluar.
Sontak, panggilannya terdengar oleh semua pelayan perempuan di balik pintu, mereka berjalan masuk secara beruntun. Masing-masing membawa dan mendorong troli penuh makanan dan minuman di atasnya, berbau lezat.
Di sisi lain, Michael hanya diam tak berkomentar dan sedikit malas, ia tahu hal ini akan di lakukan lagi oleh kakaknya seperti biasa.
Ketiga pelayan itu berdiri di samping masing-masing troli yang mereka bawa, menundukkan kepala dengan sopan.
"Kamu mau aku menghabiskan semuanya, Kak?."
Tanya Michael sinis, tak suka dengan tatapan bahagia Arthur.
"Ini semua untukmu, Mike. Terserah mau kamu apakan."
Jawab Arthur, telunjuknya merambati seluruh troli.
"Bawa saja semuanya, Kak. Aku tak merasa lapar sama sekali, aku akan pergi ke ruang makan jika aku merasa begitu."
Tampik Michael, mengesot dari kasurnya dan menggapai sandal.
"Hei, kakak hanya ingin kamu tenang dan nyaman!."
Kata Arthur, ia berdiri ketika melihat Michael berjalan menghampiri pintu kamar mandi.
Mendengar perkataan kakaknya barusan, Michael berhenti. Ia berbalik perlahan, menatapnya tak percaya.
"Dengan CCTV bodoh itu? berhentilah memonitoring kamarku."
Sahut Michael geram, ia terlihat menahan amarah.
"Keluarlah! aku mau mandi."
Imbuhnya, ia berjalan memasuki kamar mandi.
Sementara itu, Arthur menyuruh semua pelayan untuk segera pergi dan membawa kembali troli-troli. Semua pelayan mematuhinya.
Michael POV :
***
Aku sudah membersihkan badanku. Melihat pantulan ku di kaca kamar mandi, otot-otot perut dan lenganku mulai sedikit terisi oleh lemak, membuatku ingin pergi berolahraga dan berkeringat.
Itu semua hanyalah lamunanku di kamar mandi, seperti biasanya. Aku pernah memaksa pergi, berbaring di ranjang rumah sakit adalah hasilnya.
Aku genggam gulungan handuk kecil. Ku lebarkan handuk itu, menggosokkannya pada rambutku yang basah, aku melakukannya sembari berjalan keluar dari kamar mandi.
Aku melangkah keluar dengan telanjang d**a. Handuk putih sebagai penghalang bagian bawahku, aku masih mengeringkan rambutku dengan secuil handuk.
Aku berhenti sejenak. Menatap tajam dan tak suka kearah CCTV yang menyala, aku tahu mereka sedang menonton. Kalau terus seperti ini, aku seperti bintang porno mereka saja.
Lalu, dengan sedikit kesal dan muak, aku masuk kedalam ruang ganti. Memang, di ruangan itu tidak di pasang CCTV tetapi tetap, semua menjengkelkan.
Aku sudah menyetelankan tubuhku dengan pakaian sehari-hari. Selama 15 menit itu, aku bergelut dengan tangan dan pikirinku mencari pakaian yang akan di kenakan, inilah hasilnya.
Celana jeans biru pudar, baju putih polos dan Sweater Hoodie hitam. Rambutku juga sudah rapi, tersisir kebelakang tetapi rambut yang lainnya terus memberontak, tak dapat di atur.
Aku keluar dari ruang ganti. Berjalan menghampiri meja, handphone milikku di atasnya. Setelahnya, aku tak melakukan apapun selain berjalan keluar dari kamar. Aku terus berjalan, melewati koridor dan menuruni tangga, berniat bersantai di taman belakang.
Aku menginjakkan kaki ku di jalan setapak, semen putih. Berjalan perlahan, menikmati keindahan taman yang mungkin terasa bosan dengan suasananya.
Aku dan Ayah sangat dekat. Kami seperti sahabat, menghabiskan waktu di titik ini. Dulu, ini bukanlah sebuah taman bunga melainkan lapangan sepak bola kecil.
Kak Arthur menambahkan bunga-bunga ini untuk mengenang dirinya. Ayah memiliki cancer ganas, itulah yang kakakku katakan. Aku tidak melihat wajahnya dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya, Kakak Arthur melarangku untuk melihatnya.
Kenapa ini terjadi kepada keluargaku, semua orang menyerah begitu saja, haruskah aku melakukannya juga?.
***
Aku menggelengkan kepalaku kencang, menampik keputusasaan yang sedang menguasai pikiranku. Walaupun semua orang menyerah denganku, masa bodo. Ini adalah hidupku.
Akan aku nikmati selagi aku bisa, bersama kakakku. Tetapi, aku juga merasa bersalah karena selalu membuatnya kecewa dan membentaknya setiap hari, ia tetap saja baik kepadaku.
Aku mulai merasa goyah. Batinku berkata lain, ingin mengucapkan kata 'maaf'. Tetapi, aku tak tahu caranya meminta maaf, sementara kami tak begitu dekat.
Aku tidak tumbuh dewasa bersama kakak Arthur, dia tidak pernah masuk dalam kehidupanku kalau bisa dibilang begitu, lebih buruk lagi ibuku.
Aku tak tahu harus menggambarkan perempuan itu seperti apa, yang jelas ia tidak pernah menemui kami, menikah lagi dengan selingkuhannya.
Sejak kecil, Kak Arthur tinggal bersama Paman Jack. Aku hanya bisa menyebutnya Paman Jack saja, meskipun aku tidak tahu wajahnya. Ayah tak pernah mengenalkannya.
Setelah Ayah meninggal dua tahun yang lalu, Arthur berada di sisiku dan menggantikannya. Tetapi, Ayahku tak pernah tergantikan walaupun dia sudah tidak ada di dunia ini.