BAB-2

1329 Kata
Author POV : *** Terlihat Michael duduk di kursi taman, melamun. Kenangan mereka berdua masih terbilang cukup hangat di taman itu, semua menjadi suram dan hitam walaupun bunga-bunga mewarnai kenangan abadi mereka. Tanpa di sadari oleh Michael, tiga pria yang seumuran dengannya sedari tadi berada di belakang, meratapinya tak berdaya. Mereka bertiga adalah sahabat kecil sekaligus teman sekolah. Jensen, Henry dan Calum. Michael POV *** "Ahmm." Calum berdehem kepadaku. Aku terkejut mendengar deheman Calum, membuatku membelalakkan mata. Aku berbalik dan mendapati ketiga sahabatku berjalan menghampiri. "Jensen, Henry, Calum. Kalian di sini?." Tanyaku yang masih tak percaya. Aku pikir aku sedang berhalusinasi. Mereka seharusnya tak di sini, berada di sekolah. Aku senang mereka bertiga mengunjungi ku, aku tidak melihat mereka selama seminggu. Lagi-lagi kak Arthur. "Tunggu, kalian bolos sekolah lagi?." Tanyaku. "Enak aja kalo ngomong, bener-bener ini orang." Gerutu Jensen, mukanya sedikit marah kearahku. "Kamu terlalu banyak melamun, otakmu terhalang jadinya." Imbuhnya. "Lah, kok gitu. Memangnya kenapa?." Tanyaku yang juga sedikit kesal. Memang, Jensen agak dingin orangnya tetapi kebaikannya tak tertandingi, apapun yang ku minta dia bisa mengabulkannya. Asalkan sekitar materi. Di umurnya yang ke lima belas tahun saja, bisa mengelola bisnis keluarganya. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Itulah kawanku. "Sudah-sudah. Kalian kenapa sih? satu kali aja kalo ketemu kagak bikin ribut." Gerutu Henry, muak dengan kebiasaanku dengan Jensen. "Hari ini sekolah libur. Jadi, ya, kita bisa Have fun." Jelas Calum, dia duduk di sebelahku. "Kau sudah sedikit pulih?." Tanyanya. Setiap kali kami berdua bercekcok tentang hal sepele, Henry lah sebagai wasit dan juga pemisah. Mereka seperti babu-babuku. Sementara Calum, tak pernah berkomentar dan tak menghiraukan pertengkaran antara kami, malah dia menambah-nambah. Tetapi, di antara mereka bertiga, dialah yang lebih baik. Kalian tau pasti. Lebih baik adalah kata yang besar, ya, dia seorang playboy. Kemarin saja, dia baru ganti cewek. Di unggah di IG pribadinya lagi, berani sekali. Sesungguhnya, aku tak peduli jika dia normal ataupun oleng. Yang jelas, aku mencintai mereka sebagai kawan, memiliki mereka adalah hal yang membuatku terus bertahan. "Boro-boro, aku muak dengan tingkah laku kak Arthur yang berlebihan. Menjengkelkan." Jawabku kasar. "Jadi, kamu tak membaca pesan dariku?." Tanyanya, ia melirikku sedikit kecewa. "Pesan apa?." Aku langsung membuka kotak pesan. Aku tersipu malu, menyengir. Ku rambati wajah kawan-kawanku, mereka tak percaya bahwa aku melewatkan pesan singkat dari masing-masing. "Kamu memang benar, Jensen. Dia kebanyakan melamun." Cetus Calum, ia melirik kearah Jensen yang terkekeh puas. "Ya, Maaf!." Aku masih menyeringai malu. Sementara Jensen dan Henry, masih menertawakan. Aku melihat Calum sangat kecewa dengan sikapku. "Sudah cukup!. Sekarang kita harus segera pergi dari tempat untuk bertapa ini." Sela Jensen, dengan nada konyol. "Tempat untuk bertapa? Enak saja. Memangnya kita mau pergi ke mana?." Tanyaku, sedikit kesal. "Ke pantai." Cetus Jensen, langsung to the point. "Ha, ke pantai, kau mau menenggelamkanku di lautan?." Tanyaku, masih tak percaya Jensen mengatakannya. "Anak yang satu ini bener-bener." Gerutu Calum. "Tentu saja tidak!. Kemarin Paman Ed membeli sebuah kapal pesiar, aku sudah meminjamnya. Kita akan bersenang-senang dengan kapal itu lebih dulu." Jelas Jensen, tenang. "Meskipun begitu, aku tak bisa keluar dari rumah besar ini, kak Arthur melarangku." Kataku, sia-sia. "Justru itu, dia menghubungi kami bertiga semalam. Suasana baru mungkin akan memulihkanmu." Kata Henry, telapak tangannya menempel di pundakku. "Benarkah?." Tanyaku, mengerjap tak percaya. "Payah!." Calum berdiri setelah ia mengatakan kata itu padaku. Ia berjalan meninggalkanku, Jensen dan Henry mengikutinya. Akhirnya aku pun juga berjalan mengikuti mereka masuk. Author POV : *** Setalah beberapa jam mereka berkendara, mereka sampai di pelabuhan, tempat berlabuhnya kapal mahal Pamannya Jensen. Mereka sudah menaiki kapal besar itu. Jensen, Henry dan Calum sudah telanjang d**a. Otot-otot perut dan lengan mereka menonjol sangat kentara, membuat mereka bertiga semakin seksi. Hanya Michael yang tak membuka bajunya. Celana pendek dan kaus putih, topi dan kacamata hitam yang di kenakan olehnya. Ia duduk di atas balkon. "Kapan kita berangkat, Jen?." Teriak Calum, ia mendongak ke arah Jensen yang sedari tadi berada didalam ruang kendali. "Oke, kita berangkat sekarang." Akhirnya mereka mengapung di atas kulit air laut. Semua orang merasa bahagia dan puas, terutama Michael. Setelah sekian lama di kurung di kediaman Harrison, menikmati keindahan lautan juga. Mereka terus mengarungi lautan, berputar-putar. Mereka tidak sendiri, perahu pesiar orang lain juga banyak melintasi zona itu. Angin laut begitu sejuk menghempas kulit mereka yang sedari tadi di gigit teriknya matahari, cuacanya cerah tetapi mereka tidak menghiraukannya. Mereka pokus memandang betapa menakjubkannya lautan. "Kita berhenti di sini saja, Jen." Teriak Henry. Sementara Jensen, ia langsung menghentikan dan mematikan mesin perahu, menurunkan jangkar kapal. Setelahnya, ia keluar dari ruang kendali. Bergabung bersama kawan-kawannya. Henry dan Calum meloncat dari atas kapal. Mereka berdua mengambang di permukaan air laut, di susul oleh Jensen. Cipratan air mengguyur sisi-sisi kapal. Sementara itu, Michael sedikit mengerucutkan bibirnya, tak berdaya. Ia ingin sekali menjungkalkan dirinya di dinginnya air laut, sia-sia saja memikirkannya karena berbahaya. Ketiga pria yang basah kuyup itu sudah memaksanya berulang kali tetapi tetap, Michael tak ingin menambah kepanikan. Ia diam saja melihat kawan-kawannya mengjungkal-jungkalkan badan mereka dengan gaya, berulang kali. Michael masih duduk di sana. Jensen tengkurap, Henry menatap kearah birunya langit dan Calum sedang mengolesi dirinya dengan krim. Mereka semua sedang berjemur di bawah terik matahari. Michael POV : *** "Aku tak tahu harus memulainya darimana? aku masih penasaran dengan episode yang kamu alami." Cetus Calum kearahku, membuat Jensen dan Henry membelalakkan matanya tak percaya. "Yang benar saja, Cal?." Tanya Henry masih tak percaya, ia melirikku sesekali. "Tidak apa, Henry. Bagaimanapun kalian harus bertanya dan mengetahui sebaik diriku." Mulutku berkomat-kamit menceritakan tentang episode-episode yang aku alami. Mereka terkesiap mendengar cerita dariku, tatapan dan ekspresi mereka berubah seiring berjalannya penceritaan. Setiap aku mengalami episode itu, berbaring di atas ranjang rumah sakit dan tak bergerak sama sekali tetapi pikiranku tidak. Aku merasa terjebak di dalam sebuah ruang dimensi, warna putih polos didalamnya. Hanya dari warna bajuku saja yang berbeda. Aku tak bisa melihat apapun, putih semua. Aku berjalan dan terus berjalan, berteriak sesekali tetapi pantulan suaraku saja tak terdengar, semuanya hening. Ruangan itu tak berujung dan tak memiliki dinding, aku bahkan tak merasakan kakiku menginjak lantai. Sejauh manapun aku berlari, aku tak melihat ujung ataupun awal, aku hanya berlari di tempat. Membuatku ingin menyerah tetapi tidak bisa, aku merasakan pegal dan keram yang sangat hebat di bagian kakiku jika aku berhenti berlari. Aku tak tahu seberapa lama aku berlari, aku bahkan tak melihat dan tak merasakan keringat karena kelelahan. Semuanya tampak tak terjelaskan. Sebelum aku terbangun dari koma, setiap kali. Aku mendengar suaraku dan suara mendiang Ayahku, dalam aksen yang berbeda. Mereka semua meminta pertolongan dariku, dan berharap agar aku cepat kembali ke kerajaan. Tawa seram dari seorang perempuan tua menghantuiku selama beberapa detik, menghardikku dengan kasar dan mengancamku. Suara dan tawa dari perempuan tua itu membuatku bergidik. Aku sangat bodoh dan lemah, itulah kalimat pertama yang terus di ulanginya, aku tak bisa keluar dari dimensi ini sampai sang pewaris tahta kembali ke kerajaan. Aku tak mengerti sama sekali, aku bisa bebas jika pewaris tahta kerajaan kembali, atau terjebak didalam dimensi itu selamanya. Aku bahkan bisa merasakan angin lautan di luar sini. Aku tak tahu kerajaan mana yang mereka maksud, pertolongan apa yang mereka inginkan dariku?. Sementara aku tak melihat apapun, hanya putih polos. Aku juga terjebak didalamnya. Aku tak pernah mengatakan kata 'kerajaan' dalam kehidupanku sehari-hari, apalagi memasuki sebuah kerajaan. Aku pewaris tahta kerajaan? Mereka salah sasaran jika memilihku sebagai pemimpin. Seharusnya kakakku Arthur. *** Kawan-kawanku diam tak bersuara. Mendengarkan suaraku yang sedikit serak dengan seksama, menyorot kearahku. Aku bahkan tak tahu, mereka diam karena tidak mengerti atau tak mengikuti penjelasan dariku. "Aku sudah mencari tahu di semua jejaring bahwa hal itu normal bagi orang yang sedang koma, pikirannya akan tetap aktif walaupun tubuhnya tak bergerak." "Serem banget!. Bisa di bikin Film tuh alam bawah sadarmu." Cetus Henry kepadaku, Jensen dan Calum langsung menyorotinya aneh. "Ngawur!." Cetus Jensen, ia berdiri dan memasuki ruang kendali. Jensen menghidupkan kembali mesin. Aku dan ketiga kawan konyolku akan segera pergi dari zona ini ke zona yang lain, jangkar di angkat. Perahu pesiar melaju meninggalkan tempat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN