BAB-3

1136 Kata
Author POV : *** Michael dan ketiga kawannya sudah berada di kediaman Harrison, numpang mandi. Mereka duduk di sofa dengan menatap Handphone masing-masing, di ruang keluarga. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, tiga puluh menit lalu mereka sampai di kediaman Harrison. Untung saja Arthur belum pulang. Beberapa menit kemudian, Arthur datang menghampiri Michael dan kawannya di ruang itu. Dia bergabung bersama mereka, tak bersemangat. Hari yang sangat berat baginya, masalah kantor yang membuatnya stress. Di tambah lagi, ia harus mengurus Michael yang sedang sakit. Semua orang merasa kasihan kepadanya. Michael POV : *** "Bisa kita ngomong berdua, Mike?." Ajak kak Arthur, ia terlihat sedang menahan diri. "Kenapa harus berdua, langsung aja katakan. Ribet amat!." "Astaga, Mike!." Gerutu Calum padaku, ketiga temanku langsung melongo ke arahku. "Ya sudah, kami pamit pulang, Kak Arthur." Imbuhnya, berdiri dan berjalan meninggalkanku. "Lah kok gitu. Kalian bukannya mau menginap malam ini?." Tanyaku dengan nada tinggi. "Tidak jadi." Mereka meninggalkanku begitu saja. Mungkin karena aku berkata kasar kepada Kak Arthur, itu sudah biasa bahkan mereka tidak harus merasa tersindir karena perkataanku. Aku menatap kearah kak Arthur sedikit kesal, mengacaukan suasana saja. Ada apa kali ini?. "Seharusnya, kakak melepaskanmu seperti Ayah." Cetus Arthur kearahku, matanya sedikit berkaca-kaca. Aku yang mendengarnya langsung membelalakkan mata tak percaya, loading. Aku tak tahu maksud dari perkataan kak Arthur, bawa-bawa mendiang Ayah segala. Di wajah dan matanya menyiratkan bahwa kak Arthur sedang menahan diri, ingin menangis. Ia terlihat ingin memelukku, kedua tangan yang mengepal erat. Aku yang tak tahu harus berbuat apa, hanya diam saja. Membuatku seperti menjadi patung hidup, aku menyorot kearah kak Arthur begitu juga dengannya. Entah kenapa, ini seperti candaan bagiku, candaan yang mungkin membuat semua orang sangat terhibur. Dari cerita yang Arthur berikan padaku, aku adalah seorang pemburu dari dunia duplikat. Tentu saja, hal itu membuatku terkekeh geli yang begitu meningkat di bagian perutku. Aku menertawakan kak Arthur. Aku masih tak percaya dia terus melanjutkan ceritanya itu, menggelikan. Tetapi, ia tak menghiraukanku. Aku adalah sang legenda yang sedang tertidur pulas, itulah yang di ceritakan oleh kak Arthur padaku. Di bulan purnama besok malam jiwa pemburuku akan bangun, menjalankan tugasku. Aku terdiam mematung. Kak Arthur secara sengaja mencetuskan bahwa jiwa pemburuku terperangkap di dimensi buatan diriku sendiri, aku harus segera bangun dari tidurku jika ingin bebas atau abadi di dimensi itu. Dia mengetahui alam bawah sadarku. Bahkan dia tahu lebih banyak tentang dimensi putih dan suara-suara didalamnya. Aku melihat kak Arthur mengucurkan air mata untuk pertama kalinya, membuatku semakin percaya dengan perkataannya. Aku menatapnya dalam diam. *** Aku bukanlah adik kandungnya, dia bukanlah kakak kandungku. Aku terkejut dan langsung memeluk kak Arthur yang sedang menangis. Sebenarnya, Arthur adalah anak angkat dari keluarga Harrison. Marcus Harrison, Ayah kami. Ayah mengadopsinya ketika ia masih berumur 8 tahun, untuk melanjutkan misi dari ayahku kelak. Begitu juga denganku. Ayahku bukanlah seorang Ayah melainkan seorang penyihir dari dunia duplikat, ia menyamar dan mengaku sebagai sesosok Ayah untuk melindungi inang majikannya. Yaitu sang pewaris tahta kerajaan sekaligus sang pemburu legenda. Dia sebegitu yakin dengan perkataannya, sangat memukul batinku. Aku tak bisa berbuat banyak selain memeluknya erat untuk pertama kalinya. Melihat kak Arthur menagis adalah hal yang sangat menyakitkan. Aku tak pernah merasakan sesakit dan semenyesal ini, menangisi mendiang Ayahku saja tidak pernah. Pertama kalinya aku mengucurkan air mata. Aku meminta agar kak Arthur menghentikan perkataannya tetapi ia tidak mendengarkanku, dia bilang aku tak memiliki banyak waktu di dunia ini. Aku merasa takut tentang hal itu, maksudnya mati. Yang benar saja? Aku tak mau mati sekarang. "Bagaimanapun, kau tetap adikku Michael. Aku tak peduli jika kau adalah seorang karakter dongeng." Cetus kak Arthur. "Tentu saja, Kak Arthur." Sahutku, mengusap air mata. "Aku akan selalu menjadi adikmu, maafin aku kak." Imbuhku, mendongak. "Untuk apa minta maaf? Seharusnya kakak yang minta maaf, aku tak bisa menjadi kakak yang sempurna untukmu." Decak kak Arthur. "Tidak, kak. Kau lebih baik dari itu." Potongku, aku menggelengkan kepala. "Kau harus segera bersiap-siap. Kau mungkin akan terkejut dengan datangnya bulan purnama dan efeknya." Jelas Arthur, mengusap bersih air matanya. "Apa yang harus aku lakukan, kak?." Tanyaku, sedikit serak. "Kau harus berpamitan dengan ketiga kawanmu, mereka mungkin akan mengerti dan tak akan menghawatirkanmu ketika kau mengalami episode terakhir." Aku mengangguk mafhum. Mendengarkannya saja membuatku merinding, apalagi kalau nyata. Bulan purnama yang di katakan oleh kakakku terjadi besok malam, aku tak tahu apa efeknya terhadapku jika itu benar. Author POV : *** Terlihat Michael sedang berdiri di depan pintu kamar kakaknya. Ia mengetuk pintu, terus-menerus. Arthur belum juga menyahut panggilan darinya. Michael tak bisa tidur semalam. Ia tak bisa melupakan cerita dari Arthur begitu saja, pikirannya tak bisa berpaling dari itu. Membuatnya merenung semalaman. Tak lama, Arthur membuka pintu kamarnya. Ia menguap dan masih terlihat mengantuk, bangun karena panggilan adiknya. Ia menggaruk kepalanya heran. Pantas saja masih mengantuk, ini baru jam setengah lima pagi. Pagi-pagi buta seperti ini, tidak biasanya Michael mengganggu kakaknya. "Ada apa, Michael. Tumben?." Tanya Arthur, masih tak percaya. "Kau belum bersiap?." Tanya Michael, menggelengkan kepalanya. "Bersiap untuk apa? Aku masih mengantuk. Panggilanmu seperti alarm, tau tidak." Gerutu Arthur, menguap sesekali. "Kenapa kau malas? Biasanya kakak bangun lebih awal. Kau tahu, menyiapkan makanan untukku." Kata Michael, menggaruk-garuk kepalanya karena malu. "Kau gila, ini baru setengah lima, Mike. Kembalilah tidur." Gerutu Arthur, tangannya mengipas di udara. Dia mengusir adiknya. "Aku tak bisa tidur, kak." Michael POV : *** Kak Arthur yang hendak menutup pintu langsung berhenti. Ia melihat dan mendengar suaraku melemas seketika menghentikan niatnya, ia menghela nafas kasar, ia mulai terlihat khawatir. Aku yang sedikit mendongak kearah sendal Kak Arthur, diam saja. Tangan besar dari kak Arthur mendarat di pundakku yang hanya menggunakan piyama biru, mengusapku. Kak Arthur perlahan menarikku masuk kedalam. Dia menyuruhku untuk masuk dan duduk di sofa, menenangkan diri. Sementara itu, ia berjalan menghampiri meja yang tergeletak handphonenya, memanggil pelayan agar membawakan kudapan dan kopi. Secangkir teh untukku. Setelahnya, ia duduk di sebelahku, menatapku sejenak. Ia bertanya apa aku baik-baik saja?. Aku tahu, Kak Arthur menanyakan pertanyaan itu karena ia juga tak tahu harus berbuat apa. Aku juga tidak butuh apapun saat ini, tidak ada yang bisa di ajak bicara maupun menemaniku melewati saat-saat seperti ini. Hanya Kak Arthur yang akan mengerti kegelisahanku. "Maafin aku, Kak!." Kak Arthur yang mendengarkan penyesalanku langsung menggelengkan kepalanya, menampik. Aku mulai mengangkat kepalaku perlahan, menyorot kearah Kak Arthur. Dia sudah menatapku sebegitu khawatir. "Aku takut, Kak Arthur. Jika ceritamu benar tentang diriku, maka aku akan meninggalkan kakak sendiri di sini." Kataku, mengambil telapak tangan Kak Arthur yang besar. "Tidak ada yang harus kau takuti Michael, aku tidak akan sendiri di sini. Tubuhmu akan ada di sini bersamaku dalam keadaan vegetatif, untuk waktu yang lama." Decak Kak Arthur, matanya mulai berkaca-kaca membuatku menambah kegelisahanku. "Aku di sana sendirian, Kak." Sebelum Kak Arthur menanggapiku. Pelayan dari luar mengetuk dan akan masuk, dengan barang bawaan mereka. Kak Arthur langsung menenangkan dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN