BAB-4

1636 Kata
Michael POV : *** Kudapan dan secangkir kopi hitam, secangkir teh hangat sudah ada di atas meja. Para Pelayan sudah pergi beberapa detik lalu. Aku yang tak menghiraukan barang bawaan pelayan terus menatap Kak Arthur. Jika memang benar aku adalah apa yang di ceritakan olehnya maka ini adalah salahku, ulahku lah yang membuatnya harus melalui proses ini. Bukannya marah kepadaku, ia malah bersyukur mempunyai adik sepertiku. Aku sungguh menyesal tak mengenalnya lebih dekat. "Kau takkan sendirian di sana, kau akan segera melihat Ayah di dunia duplikat." Setelah mendengar cetusan dari Kak Arthur, aku terkejut dan melongo tak percaya. Hatiku berdegup kencang, mungkin karena aku mendengar orang yang aku sayangi di bawa-bawa. Aku mengerjap kearah Kak Arthur. Aku masih tak percaya dia mengatakan itu tanpa ragu, terlihat di matanya yang serius. "Kau gila, mana bisa. Ayah kan sudah meninggal, Kak." Kataku, sedikit kesal. "Kau sungguh polos, Mike. Sekali saja, percaya dengan perkataan kakakmu ini." Gerutu Kak Arthur, ia menekan giginya dan menatap tajam ke arahku. "Baiklah. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?." Tanyaku. "Mana aku tahu, mungkin kau juga tak akan tahu, kalau dia Ayah kita di dunia ini. Sementara kau adalah sang pemburu." Jelas kak Arthur. Aku terkejut lagi. Mengerjapkan mataku lagi. Lagi-lagi, setiap perkataan yang diucapkan oleh kak Arthur membuatku merinding. Mendengarkan cerita darinya melebihi dari menonton film bergenre horor, menakutkan. Kak Arthur mengambil secangkir kopi di meja. Ia meniup panas dari kopi yang mengebul di tangannya, menyeruputnya dengan nikmat. "Malah bengong!. Tuh liat, tehmu semakin dingin." Gerutuan Kak Arthur membuatku tersadar dari lamunan, bola matanya menggeliat kearah meja. Sontak, aku mengambil secangkir teh untukku di meja, bergetar pelan. Aku menyeruput teh itu. "Ha, panas. Sialan!." Kak Arthur yang mendengarkan gumpatanku langsung terkekeh puas. Di tambah lagi, aku bertingkah konyol karena lidahku terasa sedikit perih. "Kau seharusnya melihat ekspresi konyol dari wajahmu, Mike. Biarkan aku mengabadikan momen ini." Kata Kak Arthur, dia memotretku yang sedang terlihat konyol. "Hmm, aku akan sangat merindukan momen seperti ini, Michael." Aku yang mendengarnya langsung menghela nafas kasar. Aku sebenarnya sedikit kesal kepadanya, setelah melihat dan ekspresi wajah kak Arthur membuatku goyah. "Untuk hari ini, aku tak akan pergi kekantor." Lanjut Kak Arthur, membuatku mendapatkan sebuah rencana. "Temani saja aku, Kak. Menjelaskan semuanya kepada kawan-kawan konyolku membutuhkan kesabaran yang ekstra." Ajakku. "Tentu saja, Mike." Sahut Kak Arthur, mengangguk perlahan. "Jika kau masih mengingat semuanya, dan kau ingat siapa kau di dunia ini. Jangan lupakan kakakmu ini, Mike." Imbuhnya, memegang kedua tanganku. "Apa yang kau bicarakan, kau menginginkan aku melupakan semuanya? Tentu saja tidak. Kau akan tetap menjadi Kakakku untuk selamanya." Decakku, sedikit kesal. "Jika kau bertemu dengannya di sana, jaga dia untukku. Katakan kepada Ayah aku mencintainya, aku sangat berterimakasih kepada dirinya, mengenal kalian berdua adalah karunia untukku." Decaknya, sedikit berkaca-kaca. "Tentu saja, Kak." Membahas tentang Ayah membuatku teringat sesuatu, mayatnya. Bagaimana dia bisa ada di dunia duplikat sementara tubuhnya sudah terkubur, jika Ayah melakukan hal yang sama sepertiku maka tubuhku akan di kubur juga?. Aku kebingungan sesaat. Aku ingin menanyakan hal mengganjal ini, melihat kembali wajah Kak Arthur yang melemas menahanku untuk tetap diam, tetapi ini juga membuatku semakin penasaran. "Bagaimana kau tahu Ayah berada di sana sementara dia ada didalam tanah saat ini. Jujurlah, apa yang telah kau sembunyikan dariku, kak?." Tanyaku, sedikit menghakimi. Seketika Kak Arthur diam membisu. Matanya menggeliat tak tenang ketika aku menanyakan pasal kematian mendiang Ayah, aku yang menyorot kearah Kakak masih menunggu jawaban. "Eum, Ayah belum meninggal, Mike." Mendengar jawaban dari Kak Arthur membuatku membelalakkan mata marah. Aku ingin memarahinya tapi aku tak bisa, ini juga bukan kesalahannya. Aku mencoba menenangkan diri dan mencuatkan amarahku perlahan, aku menarik nafas dalam-dalam sebelum aku menyorotinya kembali. Tega sekali dia berbohong kepadaku. "Ayah menjadi muda lagi, dia seperti seumuran denganku, 28 tahunan." Aku yang mendengarnya hanya diam. Mulutku tak aku buka bahkan aku tak terkejut lagi dengan keanehan keluargaku, gigiku beradu. Rahasia apa lagi yang Kakakku kubur bersama mendiang Ayah?. "Kuburan Ayah kosong!." Cetus Kak Arthur, mendongak. "Aku dulu seperti kau, Mike. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku memendam rasa penasaran dan segalanya sendiri. Tak ada yang bisa aku salahkan selain diri sendiri." Decaknya hancur. Aku yang mendengarkan bagian itu langsung melemas. Semua amarahku hilang seketika, aku mendekatkan diriku dan memeluknya erat. Aku tahu ini bukanlah salahnya. Aku menepuk punggung Kakakku perlahan. Aku mengusap-usap punggungnya agar berhenti menangis, menangkannya. Aku tahu ini berat untuknya karena kami semua akan meninggalkan Kakak. "Aku tak tahu harus berkata apalagi, kak. Aku sangat menyayangi Ayah sehingga aku tak bisa membencinya." Cetusku, melepaskan rengkuhanku perlahan. "Jangan benci Ayah. Tujuan dia sangat mulia dan murni, membesarkan dan menjagamu dengan baik bahkan aku menjadi putra kepercayaannya." Sela Kak Arthur, menggelengkan kepalanya sesekali. "Iya, kak." Kak Arthur mengusap bersih air matanya. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Setelahnya, ia menyorot kearahku dengan sedikit terkejut. "Kenapa, Kak. Malah menatapku seperti itu, aku takut nih Kak, ada apa?." Tanyaku, sedikit ketakutan. "Bulan purnama akan membuatmu menderita, Mike." Aku yang mendengarnya hanya diam mematung. Menderita, maksudnya aku akan merasakan banyak efek negatif dari bulan purnama malam ini, atau aku akan merasakan rasa sakit yang begitu hebat terpancar kepadaku?. "Aku hampir lupa dengan yang satu ini, tetapi untuk menetralisir rasa sakit itu, Ayah menitipkan sesuatu untukmu. Dia bilang itu adalah titipan darimu." Aku melihat Kak Arthur berjalan memasuki ruang ganti. Aku hanya menunggu dia kembali dengan perasaan bercampur aduk, semuanya jelas tak dapat dibatalkan. *** Beberapa menit kemudian, aku melihat Arthur keluar dari ruangan tersebut, membawa sebuah kotak kecil. Ia berjalan menghampiriku. Kak Arthur menyodorkan kotak kecil itu kepadaku. Aku yang masih diam tak bergerak, hanya menatap heran kearah kotak kecil di depanku. Kak Arthur menggoyang-goyangkan kotak kecil itu di depanku. Kak Arthur melihatku sedikit kesal karena aku tak mengambil kotak di tangannya, mau tak mau aku harus mengambilnya. "Apa yang harus aku lakukan dengan kotak kecil ini, Kak. Apa isinya?." Aku membuka kotak kecil itu perlahan. Bola mataku menyorot kearah isi dari kotak tersebut, sebuah cincin. Cincin misterius itu memiliki batu merah delima. Cincin tersebut terlalu besar untukku pakai, kakak bilang ini untukku, lebih tepatnya untuk jari-jemari Kakak yang gemuk. Aku menatap kearah Kak Arthur yang sedang berdiri di depanku. Kenapa barang sakral seperti ini selalu meliliki tambahan batu-batuan di tengahnya?. Aku coba satu persatu di jari-jemariku. Hanya jari tengah yang agak sedikit pas untuk cincin misterius itu, aku menatapnya heran dan memutar-balikan telapak tanganku. Tidak terjadi apa-apa menurutku, ini hanya cincin random biasa yang aku lihat. Aku ternyata salah telah berpikir seperti itu, sepersekian detik cincinnya terasa seperti memanas. Di tambah lagi, cincin misterius itu bergerak mengecil di tanganku. Panasnya seperti membakar kulit jari tengahku. Lantas aku mencoba untuk melepasnya dengan paksa. Tak bisa, cincin misterius itu menempel permanen di jari tengahku yang seperti terbakar api. Aku menjerit-jerit minta tolong kepada Kak Arthur. Kak Arthur yang melihatku merintih kesakitan, panik dan kebingungan. Ia berlutut di hadapanku dengan mencoba melepaskan paksa cincin misterius itu, tetapi ia tidak merasakan efek panas dari cincin misterius tersebut. Aku benar-benar merasakan dengan jelas panasnya cincin misterius itu membakar kulitku, bahkan aku melihat kulitku memerah. Lantas, aku berlari memasuki kamar mandi Kak Arthur. Air keran mengucur deras ke telapak tanganku yang terasa perih dan panas. Panas dari cincin misterius itu mulai mereda karena air keran. Anehnya lagi, asap merah mengebul keluar dari batu merah delima itu. Aku sangat terkejut dan kebingungan, nafasku memburu. Kak Arthur yang juga melihat asap itu keluar, membelalakkan matanya tak percaya. Bersamaan dengan keluarnya asap merah, rasa perih dan panasnya seketika hilang. Aku tak tahu kenapa, yang jelas semuanya menjadi normal kembali. "Cincinnya pas di jari tengahku, Kak." Cetusku, sedikit terkejut. "Masa sih?." Tanya Kak Arthur, menyorot kearah cincin merah delima di jariku. Aku memaksa cincin itu untuk lepas dari jari tengahku, tak bisa. Itu seperti menempel permanen di kulitku walaupun sudah menggunakan sabun. Aku semakin bertambah pucat karena cincin gila itu, begitu juga dengan Kak Arthur. Di ekspresi wajahnya menjelaskan semuanya, dia tak tahu efeknya akan seperti ini padaku. Kak Arthur hanya mengetahui satu hal tentang kegunaan cincin ini, menetralisir rasa sakit dari kedatangan bulan purnama terhadapku. Jika cincin misterius di tanganku hanya dapat menetralisir sebagian efeknya bulan purnama malam ini, lantas sebegitu besar kah rasa sakitnya untukku?. "Mungkin ini karena tangan pemiliknya terlalu kecil." Cetus Kak Arthur, membuatku membelalakkan mata sinis kearahnya. "Kau meledekku, Kak. Aku tak pernah merasa memiliki barang seperti ini, sebuah cincin emas pun apalagi." Gerutuku, mencoba kembali untuk melepaskannya. "Sudahlah, mungkin cincin itu ingin tetap di jarimu, Mike. Lagian gak sakit lagi, kan?." Aku yang mendengarnya langsung menggelengkan kepalaku. Menghela nafas panjang, pasrah. Apa maunya cincin ini, kenapa tak bisa lepas? Cincin aneh. Aku melihat kak Arthur berjalan keluar, aku pun begitu. Aku menyusul Kak Arthur duduk di sofa, melihatku keluar dari kamar mandi Kak Arthur langsung berteriak keras. "Michael, Matamu memerah." Aku yang mendengarnya langsung terkejut. Aku menyorot kearah Kakakku yang sudah berdiri, dengan tatapan yang sama. Kak Arthur berjalan menghampiriku, tergesa-gesa. Sementara itu, aku langsung berbalik kearah kamar mandi. Aku berlari masuk kedalam. Sontak, aku melihat pantulan diriku sendiri di cermin kamar mandi. Benar saja, mataku terdapat merah merambat di sisi-sisi netra. Semenit yang lalu biasa saja tetapi setelah keluar dari kamar mandi, rambatan aneh ini muncul. Aneh sekali, netra abu-abuku seketika di kelilingi rambatan merah. "Nggak sakit, kan?." Kakakku datang dari belakang. Ekspresi dan wajahnya sama denganku, kebingungan dan terkejut. Ada apa kali ini?. Aku yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Aku sodorkan kepalaku lebih dekat dengan cermin, aku geleng-gelengkan mataku tetapi tak terjadi apa-apa. Rambatan merahnya tak memenuhi bola mataku. "Kenapa rambatan merahnya hanya di sisi-sisi kedua netraku saja, aneh kan?." Gerutuku, dengan melirik kearah Kak Arthur. "Gegara cincin sialan ini pasti." Imbuhku, geram. "Sudahlah, Mike!." Kata Kak Arthur, menepuk pundakku. "Kau harus bersiap-siap, panggil kawan-kawanmu untuk datang." Aku yang mendengarnya hanya menghela nafas kasar. Kak Arthur meninggalkanku di kamar mandi, dengan beribu-ribu pertanyaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN