Michael POV :
***
"Ini bukan salahmu, Pangeran Michael."
Seketika itu, aku tersadar dan mengangkat kepalaku perlahan. Menyorot kearah lucas yang sedang tersenyum tanpa amarah dan tatapan menghakimi.
Sontak, aku juga membalas senyuman itu. Sekilas, ini terasa seperti momen yang memilukan bagiku, sebelum Ayah di nyatakan meninggal.
"Aku tahu kedatangamu kemari, Pangeran Michael."
Sepertinya, Mereka menggunakan aksen dan gaya bicara yang sama di kerajaan Michoulous. Aku mulai terbiasa dengan hal itu.
Aku menceritakan kepada Lucas, aku tidak mengingat dunia duplikat, semuanya sangat membingungkan.
"Apa Lancelot masih bersamamu?."
Tanya Lucas, sedikit terkekeh. Aku hanya mengangguk.
"Kuda itu sungguh loyal, aku sungguh tak percaya dia masih hidup."
Aku menceritakan semuanya kepada Lucas, tentang Dunia Non-Duplikat. Dia terkekeh ketika aku menyebut duniaku dan dunia dengan sebutan itu.
"Heyy, jangan gitu, aku nggak tau cara nyebut dunia dengan sebutan apa."
Gerutuku, sedikit tersenyum malu.
"Terserah pangeran saja!."
Aku bertanya kepadanya dengan tiga pertanyaan. Mengenai orang tuaku, tujuanku, dan perisai raksasa. Ia menjawab semuanya dengan detail.
~ FLASHBACK
***
Aku adalah kebahagian terbesar bagi kedua orang tuaku, terlihat kentara di muka keduanya. Mereka sudah lama mengharapkan untukku lahir.
Raja Robert Benedict dan Seline Joshua adalah orang tuaku. Aku sudah berada di pangkuan mereka, aku sudah terlahir ke dunia dengan sempurna.
Tatapan kemenangan dan kecupan kasih sayang dari kedua orang tuaku terus menjuntai di wajahku, ibuku terus memainkan kedua tangan mungilku.
"Bagaimana kalau Michael, seperti kerajaan Michoulous, kau suka nama itu sayang?."
Tanya Ayah padaku, kecupan setelahnya di pipiku yang tembem.
"Dia akan sangat menyukainya, Baginda Raja."
Sahut Ibuku, mencubit gemas pipiku.
"Dia memiliki matamu dan juga pesonamu."
Imbuhnya, mereka berdua berciuman di depanku.
Tidak lama kemudian, aku menangis histeris karena terkejut dan ketakutan. Istana Michoulous bergetar seperti ada gempa.
Teriakan dan suara gemuruh orang berlarian terdengar jelas. Atap kastil dan gentengnya berhamburan di tanah, benteng kerajaan Michoulous runtuh dan hancur.
Kerajaan Michoulous sedang di serang, beberapa orang mati dan terluka parah karena serangan itu. Ratu Lizzany, sang penyihir kegelapan bersama sekutunya kembali memporak-porandakan wilayah kerajaan.
Sihir gelap Ratu Lizzany menyebabkan kerusakan besar bagi seluruh daratan, terutama kerjaan Michoulous untuk ketiga kalinya. Sang Penyihir kegelapan telah menguasai sebagian kerajaan di daratan.
Kali ini, Ratu Lizzany dan sekutunya kembali dengan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya. Penampilan dan aura dari penyihir itu lebih menyeramkan, Trisula panjang dan surai hitam pekat menjadi ciri khasnya.
"Penyihir j*****m itu lagi."
Amarah Ayahku memuncak, muak dengan perbuatan Ratu Lizzany. Dia meletakkan tubuh mungilku di pangkuan ibuku.
Ayahku berjalan terburu-buru keluar kamar, ia merambati pandangannya diatas teras beranda. Giginya di tekankan dan kedua tangannya mengepal erat.
Sebagian aset kerajaan dan pertahanannya telah hancur lebur, beberapa prajurit dan pendiri kerajaan sedang berusaha melawan Ratu Lizzany dan sekutunya.
Suara sayatan dan gemuruh pedang, sinar dan suara sihir dari penyihir kerajaan menjadi pengiring pertempuran sengit disekitar kerajaan.
Sebagai Raja Michoulous, ia tidak bisa berdiri saja dan diam menonton. Ayahku meloncat dari atas beranda, ia melayang di udara dengan jubah putihnya.
Ayahku tidak ragu sama sekali, ia melompat dari ketinggian kastil begitu ia menggirup udara. Ia tidak merasa takut dan tak seimbang ketika tubuhnya di atas permukaan tanah bermeter-meter tingginya.
Begitu Ratu Lizzany tahu bahwa Ayahku sedang menghampirinya, ia langsung menghunuskan trisulanya kearah Ayahku. Sihir hitamnya keluar dan melesat dengan cepat menyerang Ayahku.
Penyihir kegelapan itu terus melakukannya berulangkali, begitu juga dengan Ayahku yang terus menghindari serangan itu. Ia mengeluarkan sihir di tangannya yang sama sekali tidak mengenai tubuh Ratu Lizzany.
Ratu Lizzany melayang di udara dan terus mengayunkan trisulanya, sementara Ayahku tidak mempunyai kemampuan itu. Ia hanya menggindari serangan dan membalas sebisanya.
Mereka bertarung dan beradu sihir, seperti saat mereka masih di Akademi Michoulous. Keduanya adalah penyihir terbaik di Akademi itu, tetapi itu menurut yang lainnya.
Ayahku lebih unggul dan lebih cekatan daripada Ratu Lizzany, itulah kenapa ia selalu kalah di setiap pertarungan. Mereka berdua pernah menjadi pasangan.
Merasa dirinya di permalukan dan di pojokan oleh penggemar Ayahku, ia melarikan diri dari kerajaan Michoulous membawa amarah dan dendan di pundaknya. Itulah kenapa ia menjadi jahat.
Ratu Lizzany telah belajar dari kesalahannya, sehingga kali ini Ayahku kalah telak. Ia terluka parah karena serangan kuat dari penyihir itu.
Seringaian dingin dan kejam terdengar menggelegar. Darah keluar dari mulut Ayahku, ia merintih kesakitan.
"Arghh!."
Ayahku tergeletak di semen putih, terbatuk-batuk. Mengeluarkan darah itu seperti menbuang ludah.
"Akhirnya, kau terluka juga, Robert!."
Cetus Ratu Lizzany, seringaiannya terdengar kembali.
"Kau sungguh meremehkanku, Tampan. Kau tidak tahu, aku lebih kuat darimu sekarang."
Imbuhnya, sembari menyerang Ayahku dengan sihirnya.
Sontak, Ayahku menggulingkan badannya di tanah guna menghindari sihir yang melesat ke arahnya. Ia tergopoh-gopoh dan merangkak bangun.
"Lizzany, kenapa kau menjadi seperti ini, kenapa kau melakukan semua ini?."
Tanya Ayahku, berusaha untuk menahan dirinya agar tidak terjatuh.
"Huh, Jawabannya sederhana, Tampan. Aku ingin kau mati di tanganku."
Jawab Ratu Lizzany, melayang-layang di udara.
"Oh, begitu. Baiklah!."
Walaupun Ayahku terluka parah dan tubuhnya berdarah-darah, ia tidak akan pernah berhenti dan menyerah begitu saja. Lantas, ia merampal seseuatu di mulutnya yang berdarah dengan cepat.
Tangan kiri Ayahku mengepal, kepalan tangannya bersinar keemasan. Semakin lama, cahayanya semakin membuat mata kelilipan.
Ayahku memalingkan pandangannya kearah orang-orang yang sibuk bertarung, ia berteriak sekeras mungkin agar mereka mundur dan berkumpul di depan istana dan kastil. Mereka semua tidak mendengar perintah darinya.
Ia tidak bisa menahan beban di tangannya, terpaksa ia harus melanjutkan mantra itu. Kalau tidak, ia dan seisi istana akan hancur.
Kepalan tangannya yang bersinar itu ia pukulkan pada kulit semen dengan keras. Alhasil, rambatan cahaya melaju mendekati Sang penyihir. Ratu Lizzany terlempar jauh keluar benteng pertahanan.
Rambatan cahaya itu, berubah menjadi perisai balon raksasa yang sepersekian detik mengelilingi kerajaan Michoulous. Semua mata tertuju pada bentuk tersebut.
"Arghh. Sialan kau, Robert!. Rasakan ini."
Para penyihir kerajaan yang berada didalam selamat dari serangan Ratu Lizzany tetapi tidak dengan yang berada di luar. Mereka semua tewas, sihir dan nyawa mereka di hisap oleh penyihir kegelapan.
Hanya beberapa orang saja yang berhasil masuk dengan cepat, penyihir dan pendiri yang menjadi aset kerajaan Michoulous langsung merampal mantra penguat dan penyegel balon raksasa itu.
Sehingga, Sekutu dari Ratu Lizzany yang masih di dalam meledak dan hancur terbakar menjadi abu. Sihir gelap apapun, tidak dapat memasuki garis perisai balon raksasa.
Ratu Lizzany terus-menerus menyerang dengan membabibuta untuk menghancurkan Perisai, sia-sia saja. Sihirnya malah terpental balik dan mengenainya.
"Arghh, Sial!."
Gumpat Ratu Lizzany, ia terkapar di tanah dan merintih kesakitan.
"Tunggulah pembalasku, Robert. Aku akan membunuhmu!."
Teriaknya, marah dan penuh dendam.
Ratu Lizzany merangkak berdiri seraya mengatakan ancamannya. Tatapan dan seringaian kejam penyihir itu menjadi tontonan semua orang, sementara sekutunya yang tersisa berkumpul di belakangnya.
Sekali lagi, Ratu Lizzany menyeringai kearah Ayahku. Lalu Ia menyuruh sekutunya untuk kembali ke Istana miliknya, Istana Countless.
Ratu Lizzany dan sekutunya terbang berhamburan di udara meninggalkan wilayah Istana. Sementara semua penghuni yang tersisa, merasa sedikit tenang dan aman.
Begitu juga dengan Ayahku, ia sudah kehilangan banyak darah dan terluka sangat parah. Sehingga, ia tergeletak tak sadarkan diri ditempat.
Para penyihir dan pendiri lainnya yang melihat Ayah pingsan, berlarian dan berteriak menyebut namanya. Mereka semua langsung merangkul dan membawa Ayah masuk kedalam Istana.