BAB-12

1092 Kata
Author POV : *** Saat ini, Michael sudah berada didalam sebuah toko pakaian, Toko Tuan Hullen. Ia Menyibukkan dirinya dengan melihat-lihat pakaian baru di rak. Tangannya yang sedikit berkeringat menyentuh pakaian tersebut, ia melirik kearah pemilik toko yang sedang sibuk melayani pembeli di bagian rak yang lain. Sementara dirinya belum di layani sejak ia datang. Semakin lama Michael di sana, pembeli terus berdatangan begitu juga sebaliknya. Ia hanya bisa berdiri di sana sembari mengamati. "Aishh, Sialan!. Kenapa makin sini makin banyak pembeli sih, meresahkan saja." Gumpat Michael dalam hati, giginya di tekankan dan menyorot tak suka kearah para pelanggan. Tidak lama kemudian, pria yang sebaya dengan Michael berjalan menghampiri perlahan-lahan. Menyorot dan menghamburkan langkah kearahnya dengan sedikit menyipitkan kedua mata. Michael langsung memalingkan pandangannya ketika pria itu berhenti di rak yang lain, membelalakkan matanya tak percaya. Michael bertingkah seperti sedang mencari sesuatu di rak pakaian di depannya. Lantas, Pria itu memanggil seseorang yang bernama Julius. Menyuruhnya untuk segera memberitahu pelanggan bahwa toko akan segera tutup. Kemudian, tatapan dan wajah kecewa dari para pelanggan yang merasa terusir terhunus kepada pemilik toko. Yaitu yang sedang berdiri menatap, Aaron Hullen. Semua orang berjalan keluar dengan kekecewaan mereka, terkecuali Michael. Aaron menyuruh julius untuk tidak mengusirnya. Aaron menyuruh Julius untuk pulang lebih awal hari ini, ia langsung mematuhi tuannya dengan senang hati. Sebelum ia pergi, ia menutup semua tirai yang ada didekat kaca. Michael POV : *** Aku menyorot kearah Pemilik toko itu dengan ekspresi percaya diri, meskipun hatiku berdetak kencang tak tahu harus berbuat apa. Sementara dirinya berjalan perlahan dan menyorot tak percaya ke arahku. Aku hanya melihatnya seorang didalam toko, hanya cahaya lilin saja yang memperjelas penglihatanku. Jalan masuk cahaya matahari telah tertutupi oleh tirai merah. Aku kira, dia adalah pelanggan random yang hanya menyorotinya seperti orang-orang di jalanan tadi, baju yang di pakainya sama dengan para Pelanggan. Ternyata dia pemilik tempat ini. Kalau memang dia pemiliknya, lantas siapa dia. Aaron atau Lucas Hullen?. Aku sedikit terkejut, bertanya-tanya. Pria itu berlutut dan mendongakkan kepalanya di depanku. Aku mulai terbiasa dengan hal ini, walaupun aku sedikit resah dengan suasananya. Suasana seperti ini sama saja dengan di dunia Non-Duplikat. "Selamat datang kembali, Pangeran Michael!." Sahut Pria itu, masih di posisinya. "Kami sudah lama menunggu, Pangeran Michael." Imbuhnya, ia menyorot dengan tersenyum sopan. "Kau kenal siapa aku, Tuan?." Tanyaku, alisku terangkat dan menyorot kearahnya. Setelah mendengar pertanyaanku, pria itu berdiri perlahan. Ia mengangguk ke arahku seraya berkata. "Tentu saja, Pangeran Michael!." Jawabnya, yang terus tersenyum ke arahku. Seketika, aku mengingat seseorang yang memiliki senyuman seperti itu, Kak Arthur. Aku sangat merindukannya. Akhirnya, dia memberitahuku bahwa dia adalah Aaron Hullen, putra dari Lucas Hullen. Mereka menungguku kembali selama ini. "Aku tahu, kau tidak mengingat semua ini sama sekali, Pangeran. Ayahku telah memberitahu semuanya." Kata Aaron, membuat hatiku sedikit tenang. "Ayah sudah lama sakit berat. Kau mau menemuinya, Pangeran Michael?." Imbuhnya, mengajakku untuk masuk ke ruang belakang. "Aku mau, Aaron!." Sahutku, menganggukkan kepalaku dengan cepat. "Tapi, bagaimana dengan kudaku? Dia di luar sana." Aku menoleh kearah pintu yang tertutup, jari telunjukku mengarah keluar. Aku sedikit khawatir dengan keadaan Lancelot yang sudah lama menungguku. "Apa, kuda perang milikmu. The Lancelot?." Aku sedikit terkejut, ternyata perkataan Aaron benar, dia tahu tentangku. Bahkan mendengar Lancelot saja dia sesembringah itu. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Pria itu menutup mulutnya, melotot kearah pintu keluar. "Aku masih tidak percaya, kalian berdua masih bersama dan begitu awet muda. Aku sendiri semakin tua." Kata Aaron, sedikit menggodaku. "Baiklah, aku akan mengantarkanmu menemui Ayah terlebih dahulu. Biarkan aku yang menemani Lancelot." Aaron berbalik dan berjalan perlahan mendekati pintu, aku menoleh kearah pintu sekali. Setelahnya, aku berjalan perlahan mengikuti dia dari belakang. Aaron membuka pintu yang ada di sebelah kanan meja kasir, pintu yang terbuat dari besi. Aku pun mengikutinya masuk kedalam tanpa ragu. Aku tidak menyangka sama sekali, Ruang belakang begitu besar kalau di bandingkan dengan ruang depan. Banyak lilin yang sudah menyala di sisi-sisi tempat. Aku mencium aroma parfum yang begitu menyengat, telapak tanganku menempel di bagian mulut dan hidung. Membuatku ingin muntah di tempat. "Maaf atas ketidaknyamanannya, Pangeran Michael. Wangi ini, kau pasti tahu." Cetus Aaron yang terus berjalan, dengan nada sia-sia. "Aku tau kok, Aaron. Aku turut menyesal." Sahutku, memaklumi keadaan dan suasana di belakang Toko. Aku berjalan memasuki koridor penghubung antara ruang belakang dan sebuah kamar, milik Lucas Hullen. Aku terus berjalan mengikuti Aaron dari belakang. Aku merambati pandangan ke segala arah, miniatur kepala rusa kutub tertempel di salah satu tembok koridor. Beberapa menit kemudian, aku sampai didepan pintu kamar peristirahatan Lucas. Aku berhenti didepan pintu tersebut. Aaron berbalik ke arahku, pandanganku merambati pintu kamar Ayahnya. Sontak, aku menatap ke arahnya. "Silahkan masuk, Pangeran Michael. Jangan hiraukan wewangian ini, Ayah sudah menunggu di dalam. Cetus Aaron, menyuruhku masuk kedalam. "Oke, Aaron. Makasih, Aku bisa sendiri dari sini." Sahutku, berjalan perlahan dan memegang gagang pintu. Aaron menundukkan kepalanya sopan. Sementara itu, aku membuka dan mendorong daun pintu tersebut dengan perlahan. Suara pintu mengernyit saat aku membuka dan mendorong pintu lebar-lebar. Aaron masih di belakang menungguku untuk masuk, masih dengan posisinya. Aku merambati seisi kamar yang terlihat biasa saja, hanya saja wewangiannya sedikit lebih tajam. Kemudian, aku berjalan masuk dan menutup kembali pintu. Author POV : *** Michael sudah berada didalam sebuah kamar. Jam dinding besar dan kuno, lukisan kerajaan-kerajaan dan namanya. Lukisan Keluarga The Hullens tertempel didinding kamar besar itu. Michael merambati semua lukisan yang telah tertempel itu, ia merasa seperti sedang berada didalam sebuah galeri pameran. Seketika, Michael terkejut dan langsung tersadar. Ia mendengar suara seseorang batuk dari atas kasur. Michael tidak melihat apapun, selain lukisan yang tertempel didinding. Cahaya yang minim membuat pandangannya sedikit keliru. Seorang Pria tua yang sedang terbaring lemah, batuk terus menerus. Wajahnya terlihat sangat pucat. Kain basah di dahinya, selimut yang menutupi setengah badan Pria tua tersebut. Dia terlihat sangat menderita karena sakitnya. Michael menyorot ke arahnya, merasa iba dan tak berdaya. Tidak lama, ia melangkahkan kakinya menghampiri Pria tua tersebut. "Syukurlah, kau sudah kembali dengan selamat, Pangeran Michael. Aku sudah merindukanmu." Cetus Lucas, terbata-bata dan sedikit serak. Lucas berusaha untuk bangun, alhasil ia merintih kesakitan. Sontak, Michael menahan tubuhnya dan menyuruhnya untuk kembali berbaring. Michael perlahan mendekatkan diri dan mendudukkan pantatnya di kasur, menyoroti Lucas tak berdaya. Sementara Pria itu tersenyum bahagia. "Heyyy, Eum, Tuan Hullen!." Sapa Michael dengan nada rendah. Michael seketika menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Kedua tangannya mengepal erat. Sontak, Lucas menyadari dan memahami perasaan Michael saat ini. Perlahan-lahan, ia menggirup udara dan membuangnya. Pelipis matanya yang pucat, bola matanya yang sedikit memerah, menyoroti wajah bersalah Michael. Kemudian, Lucas menempelkan kedua tangannya diatas tangan Pria muda itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN