Michael POV :
***
Mulutku berkomat-kamit menceritakan tentang dunia Non-Duplikat kepadanya, dunia yang berbeda. Di mana sihir dan keanehan di dunia Duplikat hanyalah sebuah cerita belaka.
Lancelot mendengarkanku dengan serius, tak menyela. Dia mengagumi tempatku berasal.
Aku ceritakan hari-hariku kepadanya, dari kecil sampai remaja. Aku menceritakannya sedetail mungkin.
Sekolah, taman kanak-kanak, tempat bermain dan lain sebagainya. Emosional seketika menguasai pikiranku.
Aku menceritakan ketiga kawan konyolku, Kak Arthur dan Ayah, Marcus Harrison. Mataku sedikit mengembun ketika menceritakan kelima Pria tersebut.
"Apa, Marcus Harrison?.
Tanya Lancelot padaku, sedikit terkejut.
"Dia bisa melintasi antar dimensi. Bagaimana mungkin?."
Imbuhnya.
Cerita tentang Ayahku membuat Lancelot terkejut dan kebingungan, dia menghentikan langkahnya. Aku pun terheran-heran kenapa dia sebegitu terkejutnya.
"Ngapain berhenti, Lancelot. Kerajaan Michoulous masih jauh loh, ayo jalan."
Gerutuku, membuat Lancelot berjalan kembali.
"Aku masih tidak mengerti, Pangeran Michael."
Kata Lancelot, masih terkejut.
"Setelah apa yang dia lakukan, bagaimana dia bisa jadi Ayahmu?.
Tanya Lancelot.
"Ngelakuin apa, Lancelot."
Author POV :
***
Dengan keganjalan yang di rasakan oleh Lancelot, ia membuka mulut. Menceritakan siapa itu Marcus Harrison.
Dia adalah seorang panglima perang, tidak hanya di Michoulous tetapi di kekaisaran langit. Dia adalah penunggang Lancelot ketika melakukan tugasnya sebagai kuda perang.
Michael terkejut dengan pernyataan dari Lancelot, membelalakkan matanya tak percaya. Ia ingin menyela tetapi semua pertanyaan yang ada di benaknya telah terjawab.
Pangeran Michael dan Marcus pernah bertarung memperebutkan posisi mereka di punggung Lancelot, menjadikan dirinya sebagai bahan kompetisi. Siapa yang menang dialah yang layak.
Marcus datang ke daratan bumi karena mencari Lancelot, dia berkelana mencari keberadaan Kuda perangnya yang sedang di hukum.
Marcus berniat ingin memiliki Kuda itu, tanpa syarat apapun. Ia tidak perduli jika Lancelot bukan lagi Kuda perang ataupun cacat karena hukuman itu.
Itu karena Lancelot pernah menyelamatkannya dari maut, di pertempuran. Sementara Kuda perang lain dan para rekannya kabur karena kalah jumlah di medan perang.
Lancelot dan Marcus bertarung habis-habisan, berlari dan bertahan di zona itu. Menyergap mereka satu-persatu.
Bertahan adalah pilihan yang sangat tepat untuk mereka berdua. Marcus tak bisa menerima kekalahan, ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Michael dan Marcus tidak pernah akur, setiap hari. Lancelot menjadi saksi pertarungan antara keduanya.
Michael dua langkah lebih sigap daripada Marcus, sehingga panglima perang itu selalu kalah di setiap pertarungan. Lancelot tak menghiraukan mereka.
Michael lebih senang menyerang daripada bertahan dan mengawasi kalau tidak, lawan akan melakukan keduanya.
Michael selalu berpikir cepat daripada Marcus, itulah kenapa ia selalu menang melawan panglima tersebut.
***
"Maksudmu, Ayah terus berdarah di tanganku?."
Tanya Michael, menggaruk kepalanya.
"Yang bener dong jelasinnya, nggak ngerti nih."
Imbuhnya.
"Iya, kau benar, Pangeran Michael."
Jawab Lancelot.
"Terus kalo gitu, kenapa Ayah masih di sini dan malah jadi panglima perang di kerajaan ku, aneh."
Cetus Michael, menggelengkan kepalanya.
"Dunia Non-Duplikat dan Duplikat memanglah berbeda, Pangeran Michael. Sudut pandang kami juga berbeda-beda."
Kata Lancelot.
"Aku telah mengamati bahwa kau tak mengerti dengan perkataanku, Pangeran Michael."
Imbuhnya.
"Ha, ngerti? Mana aku ngerti soal hunus-menghunus pedang. Megang pedang aja baru kemarin sore, berat lagi."
Kataku, sedikit muak.
"Mereka bertarung bukan karena dendam melainkan berdasarkan respect, di akhir pertarungan mereka bisa melihat siapa yang harus berbicara terlebih dahulu."
Decak Lancelot.
"Itulah kenapa mereka menyukai satu sama lain, bukan berarti mereka juga berteman karena rasa suka itu."
Marcus menjadi panglima perang kerajaan Michoulous bukan karena dia pernah, tetapi Pangeran Michael melihat Jasa didalam dirinya.
Walaupun, Marcus tidak pernah menghargai semua keputusan Pangeran Michael. Bertindak dengan keputusan sendiri.
Pangeran Michael tidak pernah menghiraukan kelancangan Marcus, ia malah lebih menghargai usaha panglima itu. Ia tahu panglima tersebut tidak akan mengecewakannya.
"Memangnya keahlian Ayah cuman di alat tajam aja, nggak punya sihir atau apapun yang berkaitan dengan magis?."
Tanya Michael, mendongak.
"Di kerajaan Michoulous, hanya kaulah yang memiliki semua itu. Kau hanya harus belajar cara mengendalikannya."
Jawab Lancelot.
"Kau harus bertanya kepadanya, segalanya. Aku masih tak percaya, dia bisa melintasi antar dimensi. Patut di curigai."
Imbuhnya.
"Mau nanya apa. 'Hey, Ayah kenal aku nggak? Aku putramu dari dunia lain', begitu?."
Cetus Michael, dengan nada bercanda.
"Mungkin. Aku tak tahu hubungan kalian seperti apa, yang jelas kau harus berhati-hati dengannya."
Kata Lancelot, sedikit waspada.
"Kalo benar dia kembali ke sini, berarti dia mengingat semuanya sepertiku."
Kata Michael, sedikit mendongak.
Lancelot menceritakan kepada Michael orang-orang yang harus di waspadai olehnya, mereka bisa membahayakan keselamatannya selain Marcus Harrison.
Edward Benedict dan Diana Ryain, Raja dan Ratu yang sedang menduduki singgasana istana Michoulous.
Michael mengerjap, bertanya-tanya mengenai singgasana. Bukannya dia adalah pewaris dan Raja di istana Michoulous.
Edward adalah sepupu Michael, ia telah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada sepupunya itu. Untuk sementara waktu.
Setelah Michael kembali dari perkelanaan, tahta kerajaan Michoulous akan kembali dalam genggamannya, menduduki singgasana.
Hal itu membuat Michael kebingungan, membelalakkan matanya tak percaya. Bahaya kerajaan membuat hatinya tak tenang.
Lancelot berpesan agar tidak terlalu luput dalam suasana didalam istana besar itu, hanya diri sendirilah yang dapat menolong.
"Kenapa hidupku seperti ini, aku bisa mati duluan di sana kalo gitu caranya."
Cetus Michael sia-sia.
"Bertahap, Pangeran Michael. Aku akan selalu ada untukmu, jangan khawatir."
***
Mulut hutan terlihat sangat kentara di depan mata. Visualisasi dari istana Michoulous yang megah dan cantik, rumah-rumah warga merambati sekitar luar benteng besar istana.
Pemukiman warga di luar benteng istana, ramai dan berisik. Pakaian yang di pakai oleh Michael berbeda dengan mereka.
Michael menyeringai takjub, membelalakkan matanya melihat keanggunan istana Michoulous. Ia tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
Michael tak bisa memalingkan pandangannya selain istana yang menakjubkan itu, ia tak menyangka ia bisa melihat istana sedekat ini.
Michael dan Lancelot keluar dari hutan, mendekati jembatan besar penghubung jalan hutan dan pemukiman warga. Akhirnya, ia tersadar bahwa perisai transparan itu terlihat jelas ketika berada diatas jembatan.
Perisai itu seperti balon besar yang berisikan sebuah istana, tak memiliki celah. Bahkan sorotan sinar matahari yang masuk kedalam perisai sedikit redup.
Michael ingin bertanya kepada Lancelot mengenai perisai raksasa itu, mengingat kembali perjalanan yang membutuhkan bermenit-menit. Ia langsung menutup mulutnya kembali.
"Kita membutuhkan tanda pengenal, Pangeran Michael."
Cetus Lancelot dengan nada tinggi, membuat Michael sedikit terkejut.
"Aish, ngagetin aja. Bisa gak di kecilin dikit suaranya."
Gerutu Michael.
"Maafkan aku, Pangeran Michael. Tapi, ini sangat penting."
Kata Lancelot, berbisik-bisik.
"Nggak berbisik juga lah, tenang aja, Lancelot. Aku tau, kau pasti bahagia bisa kembali pada akhirnya."
Kata Michael, mengolok-olok Lancelot.
"Tanda pengenal, maksud kau Bros bulan emas ini?."
Tanya Michael, menunjukkan Bros bulan yang ada di tangannya.
"Benar, Pangeran Michael."
Sahut Lancelot.
"Jika kau menghilangkannya, kita tidak bisa masuk kedalam kawasan istana, kita akan ditahan di gerbang masuk."
Imbuhnya, membuat Michael sedikit takut.
"Memangnya kenapa sih, kan aku Pangeran mereka, sang pewaris tahta yang asli. Kenapa mereka menangkap kita?."
Pertanyaan dari Michael membuat Lancelot menghempaskan nafasnya, tak percaya. Ia masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Semua orang tak harus tahu bahwa sang legenda dan pewaris tahta sudah kembali, itu akan membahayakan keselamatannya. Rencana yang telah di buat oleh Michael versi lama akan sia-sia.
Jika warga mengetahui Michael telah kembali, maka sang penyihir juga akan tahu. Penyihir tersebut akan berusaha untuk mencelakainya.
Michael terkejut mendengarnya, hatinya berdetak kencang setelah mendengar kata 'bahaya' dari mulut Lancelot. Semuanya tampak normal-normal saja sejak kemarin, tidak ada sihir apapun.
"Sebelum kita memasuki kawasan istana, kita harus berbaur terlebih dahulu dengan warga desa."
Kata Lancelot.
"Ikuti saja arahanku, Pangeran Michael. Kau bisa dalam bahaya, jikalau mereka tau bahwa kau bukan Pangeran Michael versi lama."
Imbuhnya.
"Baiklah, ayo kita lakukan!."
Penjagaan ketat didepan gerbang, bersenjata dan berbadan kekar. Michael berhenti didepan mereka.
Michael turun dari punggung Lancelot perlahan, menunjukkan Bros itu kepada salah satu penjaga di sana. Tanpa menunggu, mereka semua mengizinkannya masuk.
Kernyitan pintu terdengar sangat keras, angin menghembus dari dalam. Visualisasi dari pemukiman warga didepan mereka, ramai dan berisik.
Michael langsung menarik tali, berjalan perlahan mendekati kerumunan warga yang sedang sibuk melakukan tugasnya. Warga sekitar tak menghiraukannya.
Michael tak bisa berkata-kata lagi selain mengagumi keunikan dan keindahan di balik gerbang, ia benar-benar didalam sebuah kerajaan. Ia ingin berteriak girang tetapi tidak ia lakukan.
Semua warga yang Michael lihat, mengenakan baju yang berbeda dengan yang di kenakan olehnya. Mereka seperti bangsawan dan orang kaya.
Para Pria dari kerajaan Michoulous mengenakan baju yang sama, baju basah yang di masukkan kedalam karung, topi hitam dan jubah panjang berwarna putih.
Sementara para Perempuan, mereka mengenakan gaun yang sangat cantik dan warna yang berbeda-beda. Besar dan menutupi kaki mereka bahkan sepatu mereka tak terlihat oleh Michael.
Hanya Michael yang begitu menonjol dan berbeda, kusam dan kucel. Dia seperti seorang pedagang di sekitar jalan tetapi mereka tidak sekucel dia.
Michael merasa ini seperti sebuah festival dan pameran saja. Ini lebih besar dan lebih hidup, semuanya sangat unik dan kuno.
Mereka berdua terua berjalan lurus sembari merambati sekitaran jalan, Michael seperti sedang berlibur dan melancong di sana. Ia tidak pernah melihat langsung bangunan-bangunan seperti ini selain di internet.
Michael POV :
"Kau sudah selesai, Pangeran Michael?."
Tanya Lancelot, Aku langsung menyorotinya.
"Selesai, maksud kau apaan, Lancelot?."
Tanyaku balik, membuat dahiku mengkerut.
"Kita harus menemui seseorang di sekitar sini, Pangeran Michael."
Jawab Lancelot.
"Gimana sih, kau bilang setelah kita masuk gerbang jangan percaya siapapun begitu saja bahkan Ayahku."
Gerutuku, sedikit menghakimi.
"Benar, Pangeran Michael."
Sahut Lancelot.
"Bukan berarti kita tidak mengobrol dengan mereka, kau membutuhkan orang itu untuk bertahan sementara. Kita akan memikirkan caranya masuk istana tanpa ketahuan oleh sang Raja."
Decaknya, aku mengangguk mafhum.
"Memangnya, orang itu siapa, laki-laki atau perempuan?."
Tanyaku, sedikit memelankan suaraku.
"Dia adalah Aaron Hullen, penjual pakaian."
Jawab Lancelot.
"Kenapa harus dia, apa hubungannya denganku?."
Tanyaku, ujung jari telunjukku menempel di d**a.
"Dia adalah anak dari Lucas Hullen, dialah yang mengetahui tentang gua berbicara itu. Mungkin, dia sudah meninggal atau sudah tua saat ini."
Jawab Lancelot.
"Dia mengetahui kalau kau adalah sang pemburu legenda, Aaron Hullen pernah melihat wajahmu ketika ia masih kecil."
Imbuhnya.
Aku menggelengkan kepalaku. Aku tak percaya jika mereka harus mengendap-endap masuk kedalam istana milik sendiri, kalau masuk istana saja seperti ini apalagi menjadi seorang pemburu legenda.
Aku berjalan kedalam sebuah gang, banyak orang yang melintas gang itu. Kebingungan dan bertanya karena aku sendiri yang membawa seekor kuda di sana.
Aku tidak menghiraukan tatapan mereka, aku hanya melihat kedepan dan terus berjalan menyusuri gang itu.
Tak lama aku keluar dari gang itu. Aku berbelok ke kanan sesuai arahan Lancelot, Aku hanya bisa menuruti perkataannya saja.
Sejak memasuki gang itu, pikiranku sedikit teralihkan. Lancelot yang hanya bisa berbicara kepadaku saja.
"Ngomong-ngomong soal bicara, kenapa hanya aku yang bisa dengar?."
Tanyaku, sedikit mengangkat alisku.
"Setelah ini, tidak ada lagi pertanyaan tentangku. Kau sudah terlihat kebingungan dan terkejut sejak kemarin, aku benar-benar membutuhkanmu dalam keadaan sadar, Pangeran Michael."
Decaknya.
"Okelah, satu ini aja."
Kataku, sedikit memohon.
Cincin yang aku pakai di jari tengahku sekarang bukanlah cincin biasa, bahkan aku tak menyadari bahwa cincin ini masih menempel di jariku.
Batu kecil yang menempel di atasnya bukanlah batu melainkan darah, milik Lancelot. Darah yang di bekukan menjadi sebuah batu merah delima.
Aku hanya diam dan mengangguk sesekali. Keaneh dan kegilaan dunia Duplikat tidak dapat di hindari dan di sangkal lagi, aku tidak punya pilihan kedua selain menerimanya.
Versi diriku yang lama mengambil darah Lancelot, membekukan darahnya dengan sihir. Setelah itu, aku menempelkannya di sebuah cincin yang sudah di mantrai oleh sihir.
Maka dari itulah, hanya aku yang bisa memakai cincin ini selamanya. Aku dan Lancelot akan terikat satu sama lain.
"Kalo semisal aku copot cincin ini, suaramu nggak bakalan kedenger gitu?."
Tanyaku, sembari merintih kesakitan.
Aku berusaha mencopot cincin di jariku tengahku dengan paksa, sia-sia saja hasilnya. Cincin itu tidak mau lepas ataupun bergeser sedikit saja.
"Gimana caraku gunain sihir, mantra dan lainnya, pedang aja aku sempoyongan?."
Tanyaku, sedikit terkekeh malu.
"Kau sudah berjanji kepadaku tadi, kau tidak akan bertanya lagi, Pangeran Michael."
Kata Lancelot, sedikit menghakimi.
"Kapan coba aku ngomong janji?."
Tanyaku, mengangkat kedua bahuku.
"Kau bilang, hanya tentang kau saja, gimana sih."
Imbuhku, sedikit kesal.
"Pangeran Michael versi lama dan baru sama saja, keduanya keras kepala."
Hardiknya, sedikit terkekeh.
"Hei, ingatanku mungkin hilang dan berbeda tetapi sifatku masih sama, Lancelot."
Gerutuku.
"Aku bahkan mulai sedikit terbiasa dengan situasi ini, aku tidak punya pilihan lain. Aku harus mengetahui apa rencana awalku melakukan semua ini."
Decakku, sedikit kesal.
"Aku benar-benar tidak tahu caranya, kau sendiri yang bisa mengakses sihir dan kekuatanmu itu, Pangeran Michael."
Sela Lancelot, terdengar menyesal.
"Aku tidak bisa berbuat banyak, aku sungguh minta maaf, Pangeran Michael."
Imbuhnya.
"Hei, tenanglah, aku nggak nuntut kau untuk tau dan bisa semuanya. Aku yakin, ingatanku mungkin kembali atau tidak."
Kataku, sembari mengusap kepala Lancelot dan menenangkannya.
"Yang penting kau di sini, Lancelot."
Imbuhku.
"Mungkin The Hullens tau lebih dalam tentangmu, Pangeran Michael."
Cetus Lancelot.
"Kau benar!. Kita harus bergegas, Lancelot."
Aku dan Lancelot berjalan sedikit terburu-buru, keluar dari gang sempit. Kami sudah sampai di depan sebuah toko.
Aku berdiri di seberang jalannya dan menyorot kearah toko tersebut, membelalakkan mataku tak percaya. Toko itu sangat ramai pembeli.
Aku sedikit kebingungan dan ragu untuk menyebrang, membuatku teringat pesan Lancelot. Warga setempat tidak boleh tahu.
"Gimana caraku masuk, aku bahkan tidak tau wajah Tuan Hullen dan anaknya seperti apa?."
Tanyaku, mengacak-acak kepalaku.
Aku sedikit prustasi dan pusing, seperti orang yang tak tahu arah. Lancelot yang melihatku, menghembuskan nafasnya kasar.
"Menyebranglah, Pangeran Michael. Aku tahu, kau pasti bisa."
Cetus Lancelot, membuatku menarik nafas panjang.
Walaupun aku adalah seorang legenda dan sang pewaris, tetapi aku tetap manusia biasa untuk sekarang. Satu tindakan ceroboh, bahaya akan menjemputku.
"Baiklah, kau pasti bisa, Michael."
Aku menarik nafas perlahan-lahan. Aku melirik kearah Lancelot untuk memastikan, aku juga masih memegang tali.
Lalu, aku melangkah turun dari trotoar, kakiku menginjak jalanan yang terbuat dari semen putih. Aku terus berjalan sembari melirik kearah kereta kuda dan kusirnya sesekali.
Semua penumpang kereta kuda itu terus menatapku heran, membuatku sedikit menundukkan kepala. Aku sungguh ketakutan di tengah Jalan itu.
Aku hanya bisa berjalan lurus mendekati toko pakain di depanku. Walaupun di jalan itu banyak orang yang melintas tetapi tatapan mereka tertuju padaku.
Lancelot tidak bersuara dan fokus menyebrang bersamaku. Aku butuh pengalih perhatian sekarang, dia malah diam.
Setelah beberapa detik, aku sampai di depan toko tersebut. Lancelot menyuruhku untuk mengikatnya di pohon kecil di sisi toko, aku hanya bisa menurut saja.
Setelah itu, aku berjalan memasuki mulut pintu yang sudah terbuka lebar. Aku melirik keluar sesekali.
Aku menarik nafas perlahan-lahan, meyakinkan diriku. Aku pasti bisa walaupun tanpa bimbingan dari Lancelot.