BAB-10

1121 Kata
Author POV : *** Terlihat Michael, Lancelot dan Claudia berjalan perlahan di atas sebuah jembatan. Penghubung antara desa Claudia dan jalan hutan menuju Istana. Mereka berjalan menjauhi rumah keluarga Howard dengan suasana hening, hanya suara gemuruh air sungai yang mengiringi perjalanan mereka. Mereka tak tahu apa yang harus di bahas di sana, sementara mereka akan berpisah. "Maafkan kelancanganku ini, Tuan Michael. Aku telah mendengarkan percakapanmu dengan kudamu itu." Cetus Claudia, melirik ke arah Michael yang berada di sebelah. "Aku ngobrol sama kudaku, namanya Lancelot." Sahut Michael, yang sedang menggusur Lancelot. "Demi kuda liar, Pangeran Michael. Jangan katakan kalau aku bisa berbicara." Sela Lancelot, suaranya terdengar bergetar. "Dia bisa ngomong ternyata, kau dengar, dia barusan ngomong." Kata Michael, tak mendengarkan perkataan dari Lancelot. "Hadeeh, Pangeran Michael. Nona Claudia mana bisa mendengarku bicara, hanya kaulah yang bisa. ya ampun." Gerutu Lancelot. "Oh, begitu." Sahut Claudia. "Aku becanda kok, gak usah di pikirin." Michael langsung terkekeh malu, canggung menguasainya. Sementara Lancelot, menertawakannya puas. "Berani sekali si bodoh ini menertawakanku, dua kali lagi." Gerutu Michael dalam hati, ia serasa ingin menjungkalkan Lancelot di jembatan itu. "Tidak apa-apa, Tuan Michael. Christopher juga tidak jauh berbeda denganmu, dia selalu berbicara dengan kuda kesayangannya. Dia bilang, dia mengerti bahasa mereka." Decak Claudia. Perkataan Claudia seketika menusuk hatinya Michael, ia seketika tersipu malu, itulah yang di rasakannya saat ini. Perempuan cantik itu tak menghakimi dan menganggapnya gila. "Iya, Pangeran Michael. Apa yang di katakan Nona Claudia memang ada benarnya." Cetus Lancelot. "Christopher seperti mengerti dengan perilaku kami, anak muda itu sangat berbakat Pangeran." Michael melotot muak kearah Lancelot, seakan-akan dia sedang menganggapnya bodoh. Dia tahu apa yang di lakukan oleh kuda jantan itu. "Itu berarti, kalian sangat menyayangi kuda-kuda kalian." Michael, Lancelot dan Claudia berhasil berjalan sampai ujung jembatan. Mereka berhenti sejenak. "Eum, maafin aku yah, aku nggak bisa bantu dan ngebalas kebaikan keluargamu. Aku malah bikin kacau suasana tadi." Cetus Michael, mendongakkan kepalanya. "Tidak apa, Tuan Michael. Kami senang bisa membantumu, aku hanya bisa mengantarkanmu sampai sini. Kau ikuti saja jalan setapak ini, kau akan sampai di Istana Michoulous." Decaknya, sembari memberikan Michael hormat. "Eum, makasih loh, Claudia." Cetus Michael, tersenyum canggung kearah Claudia. "Aku nggak tau kapan kita akan saling bertemu lagi, mungkin tidak akan pernah lagi." Sementara Lancelot terus menyemangati Michael, agar dia bisa mengatakan isi hatinya kepada Claudia. Mereka tidak akan bertemu lagi, itulah kenapa ia harus mengatakannya. "Aku nggak tau caranya ngerangkai kata, Claudia. Tapi, aku harap kau ngerti dengan maksudnya." Michael sedikit bergetar, sedikit berkeringat. Ia juga merasa muak dengan Lancelot yang sedari tadi memprovokasi dirinya. "Kau cantik, baik, dan wanita terhangat yang pernah aku kenal. Aku rasa aku menyukaimu." Michael tersipu malu, menyengir setelahnya. Sementara itu, Lancelot bahagia dan berteriak kemenangan. Claudia yang mendengarnya langsung membelalakkan matanya tak percaya, memalingkan pandangannya dan melirik kearah Michael dengan malu-malu. Setelah beberapa detik, Claudia menyuruh Michael untuk segera menutup kedua matanya. Michael menurut saja dengan perasaan bertanya-tanya. Claudia berjalan perlahan mendekati Michael yang sedang terpejam. Menatap Pria tampan itu sekejap, ia langsung mangangkat kedua tumit kakinya. Tidak di sangka, Claudia mengecup pipi Michael perlahan. Membuatnya membuka matanya tak percaya. Merasakan kecupan pertama kalinya dari seorang, selain Ayahnya. Michael tak bisa bergerak ataupun menoleh kearah Claudia yang masih sisi mukanya. "Malam ini." Setelah membisikkan kalimat itu, Claudia berlari menjauhi Michael yang berdiri mematung. Sementara Lancelot masih belum berhenti membuat gaduh. Michael melirik kearah Claudia yang sedang berlari, perempuan cantik itu juga menoleh sesekali padanya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi selain membelalakkan mata bahagia dan kemenangan. Kebahagiaan, kebingungan dan keterkejutan membanting batinnya secara bersamaan. Ia tidak pernah merasakan momen seperti di dunia Non-Duplikat. Claudia terus berlari ke ujung jembatan. Ia melambaikan tangannya sembari tersenyum manis, sementara Michael masih berdiri menyorotinya. "Kkau lihat kan tadi, dia menyukaiku juga." Cetus Michael, masih tak percaya. "Yahuy, Kau benar sekali, Pangeran Michael. Aku tak menyangka kau akan mengatakannya, kau sungguh hebat Pangeran." Sahut Lancelot, yang juga masih tak percaya. "Aku nggak nyangka, dia mengecupku tanpa ragu lagi, aduhh, jadi salah fokus kan." Kata Michael, menempelkan salah satu telapak tangannya di dahi. Michael melirik kearah seberang jembatan tetapi Claudia sudah tidak ada di sana, dia sudah kembali. Lantas ia menoleh kearah Lancelot seraya berkata. "Kita balik lagi aja yuk!." Cetus Michael. "Tidak bisa, Pangeran Michael. Tugasmu lebih besar daripada sekedar jatuh cinta kepada seseorang. Kita akan terlambat jika kita masih mengulur waktu." Jelas Lancelot, sedikit marah. "Aku juga ngerti, Bodoh. Aku hanya becanda doang, serius amat sih." Gerutu Michael. "Maafkan aku, Pangeran Michael. Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung." Kata Lancelot, sedikit menyesal. "Ya sudah ayo, kita lanjutin lagi perjalanan. Capek aku debat mulu dari tadi." Michael menaiki punggung Lancelot perlahan. Setelah posisinya selesai, mereka melanjutkan perjalanan. Lancelot berjalan menyusuri jalanan setapak menuju hutan, sedikit lebih cepat. Sementara Michael terus memikirkan momen langka tadi. Author POV : *** Terlihat Michael masih berada diatas punggung Lancelot. Sementara kuda jantan itu, ia terus berjalan menyusuri jalan setapak. Mereka berdua sudah berada di tengah hutan. Lancelot tidak pernah sekalipun melewati jalan itu bersama Michael versi lama, mereka menggunakan jalan lain menuju gua berbicara. Matahari sudah berada diatas kepala mereka, cahayanya sedikit menyorot samar-samar karena kabut putih menyelimuti isi hutan. Setengah jam mereka melewati jalan setapak itu. Bersamaan dengan itu, Michael masih memikirkan momen langka tadi. Membuatnya terus bertanya-tanya dan kebingungan dalam hati. Lancelot sedikit bingung dengan sikap Pangerannya itu. Sejak tadi, Michael hanya diam tak bersuara diatas punggungnya. Hal itu membuat Lancelot khawatir dan bimbang, menerima semuanya pasti membutuhkan waktu yang lama. Selama apapun, toh Michael harus menerima takdirnya ini. Dan seharusnya Michael bertanya lebih lanjut mengenai kerajaan Michoulous, dia menjadi pendiam setelah memasuki hutan itu. Michael POV : *** "Maafkan kelancanganku tadi pagi, Pangeran Michael. Aku mengerti, itu membuatmu marah dan tak pantas di lakukan olehku." Suara penyesalan dari Lancelot membuatku tersadar dari lamunanku. Aku terkejut dan kebingungan dengan apa yang baru saja kuda itu katakan, lemas sekali. "Ngomong apaan sih, Lancelot. Gak usah di pikirin, emang aku marah? Nggak kok." Sahutku, sedikit bertanya-tanya. "Lantas?." Tanya Lancelot. "Aku cuman nggak nyangka aja. Claudia, dia?. Ahh, aku tak tahu harus ngomong apa lagi. Yang jelas itu memang karena kau, Lancelot." Decakku. "Maafkan aku, Pangeran Michael. Aku pantas di hukum karena kesalahanku." Mendengar ucapan Lancelot membuat mataku menggeliat tak percaya, dia masih tak mengerti maksud dari kata-kataku. Aku menghela nafas kasar. Apa ini karena aksen dan gaya bicaraku yang terlalu native, sementara dirinya formal. Apa karena dia terlalu tua?. "Dasar, Kuda Tua!." Gumpatku, gigiku beradu dan di tekankan. "Masih nggak ngerti ya? Maksudku Ini berkat kau, aku bisa bertemu dengan Claudia plus aku dapat kecupan dari dia." Jelas ku, sedikit tersipu malu. "Oh begitu!." Tanggap Lancelot. "Apa sih, itu tuh kecupan pertamaku, tau. Maksudku selain dari Ayah." Gerutuku. "Ayah, kau memiliki keluarga di dunia Non-Duplikat?." Tanya Lancelot.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN