Author POV :
***
Michael terbangun dari tidurnya, membuka perlahan matanya. Ia masih merasa ngantuk.
Sontak, Michael membelalakkan mata tak percaya. Mengagumi kecantikan seseorang. Pikirnya, ia sedang bermimpi.
Seorang perempuan cantik, berambut cokelat panjang dan terikat, netra biru berada tepat di depan Michael. Ia sedang bersandar di pohon besar di pinggir sungai.
Perempuan itu, berusaha untuk membangunkan Michael. Tubuhnya tergenangi oleh air sungai.
Perempuan cantik itu adalah Claudia Howard. Dia adalah putri pedagang roti, warga sekitar air terjun.
Michael POV :
***
"Hei, Tuan, sadarlah. Kau harus segera bangun, tubuhmu tergenangi oleh air sungai."
Seketika aku terkejut dan tersadar sepenuhnya. Aku langsung berdiri, mengangkat tubuhku yang basah kuyup terutama cenalaku.
"Waduh, kenapa bisa begini?. uhh, dingin sekali."
Aku kedinginan, tubuhku seketika bergidik hebat.
"Tuan tidak apa, apa kau terluka?."
Tanya Claudia, merambati bola matanya ke seluruh tubuhku.
Aku mendengar suara perempuan cantik itu sangat lembut terdengar olehku, jantungku berdetak kencang. Entah aku sedang kedinginan, atau aku sedang merasa malu?.
Aksen dan gaya bicaranya sama dengan yang di gunakan oleh Lancelot, aku melirik kearahnya sesekali. Tega sekali dia tidak cepat membangunkanku.
"Liat aja, akan aku balas dia, tunggu pembalasan dariku, Lancelot!."
Teriakku dalam hati, aku sangat marah dan muak kepada kuda bodoh itu.
"Tidak apa-apa, Nona!."
Sahutku sembari tersenyum, masih bergidik kedinginan.
"Panggil Aku Claudia."
Cetus Claudia, mengulurkan tangannya ke arahku.
"Aku Michael."
Sahutku, membalas tangannya yang hangat.
"Kau pasti kedinginan, mari ikut aku, aku akan memberimu baju kering."
Mendengar ajakan dari Claudia, aku sedikit terkejut. Mengajakku kerumahnya, di mana. Maksud dari baju kering adalah baju perempuan?.
Aku langsung mengangguk perlahan. Setelah Claudia berbalik dan berjalan, aku melirik kearah Lancelot.
Aku berjalan menghampiri Lancelot perlahan, meraih tali. Aku mendekatkan kepalaku dengannya seraya berbisik.
"Kau mau aku mati, Bodoh. Kok aku nggak di bangunin?."
Tanyaku kesal, berbisik-bisik.
"Maafkan aku, Pangeran Michael. Aku sudah membangunkanmu sebisaku, aku bahkan menampar pipi pangeran dengan ekorku tetapi pangeran seperti bangkai hidup."
Jelas Lancelot, sedikit mengolok-olok.
"Berani ya sekarang. Malah menampar dan mengataiku bangkai hidup segala."
Gerutuku, berjalan sedikit terburu-buru mengejar Claudia.
Claudia tak mendengar pertengkaran kami, berjalan lurus menuntun kami ke rumahnya. Aku mengikutinya dari beberapa langkah.
Baju basah kuyup dan sepatu boot yang terisi air membuat jalanku sedikit berat. Suara kernyitan sepatu dan kakiku mengisi perjalanan kami yang sunyi, kami masuk kedalam sebuah hutan.
Hutan yang sangat di jaga bersih, sebuah desa di dalamnya. Banyak pemukiman warga di sekitar yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari mereka.
Berjualan, membeli, makan, dan banyak lagi. Kami berjalan di tengah-tengahnya, seperti pasar lokal.
Seketika semua orang menyoroti ke arahku, sedikit mendongak dan kebingungan. Semua warga menghentikan aktivitas mereka dan sibuk menggelengkan kepala, melihatku berjalan menyusul Claudia.
Aku dan Claudia berhasil keluar dari keramaian itu, membuatku takut. Aku mengejar perempuan cantik itu seraya berkata.
"Maaf nih, Claudia. Kok semua orang ngeliat aku kayak gitu, mereka tuh kenapa ya?."
Tanyaku sedikit pelan, karena warga lainnya juga masih ada di sana.
"Mereka semua tahu siapa kau, Tuan Michael. Kau pasti pengawal dari kerajaan, di lihat dari lambang bulan di dadamu.
Jawab Claudia.
"Penduduk di sini jarang sekali kedatangan tamu dari kerajaan sekaligus pengawalnya, makanya mereka seperti itu."
Imbuhnya sembari terus berjalan melewati semua rumah warga.
Aku hanya diam mengangguk mafhum, melihat kearah warga sesekali. Kami terus berjalan kedalam pemukiman warga.
Kami berhenti di sebuah rumah sederhana, sedikit mengebul. Berbau panggangan roti.
Rumah itu seperti toko roti. Itu adalah kediaman Howard, tempat Claudia tinggal bersama kedua orang tuanya dan adik lelakinya yang berumur 14 tahun.
Aku merasa kakiku mati rasa, sangat kedinginan. Perutku berperang karena kelaparan.
Di setiap rumah warga desa, memiliki kuda masing-masing. Begitupun dengan keluarga Howard.
"Chris, kemarilah!."
Panggil Claudia, adiknya langsung berlari menghampiri kami. Dia sedang memberi makan kuda-kuda.
Adiknya Claudia datang dan langsung membungkuk seperti memberi hormat kepadaku. Aku yang tak tahu harus membalas apa, mendongakkan kepalaku saja.
"Bantu jaga kuda tuan ini, aku akan membawanya masuk kedalam."
Cetus Claudia, membuat adiknya menganggukkan kepalanya.
"Dia adalah adikku, Christopher!."
Aku menyapanya dengan senyuman dan menyebutkan namaku padanya, dia hanya tersenyum malu. Aku tak tahu harus berkata apa selain menyapa dan memberikan namaku kepada Christopher.
"Tolong jagain kudaku ya, Chris. Awasi dia, kebiasaan dia ngilang gitu aja."
Aku berbisik kearah Christopher. Lancelot menghempaskan udara di hidungnya, sementara adiknya Claudia hanya mengangguk sedikit terkekeh.
Aku berjalan mengikuti Claudia masuk kedalam. Aku sedikit terkejut dan kebingungan, orang tua mereka ada di dalam.
Ibunya Claudia menyorot kearahku, menghentikan aktivitasnya yang sedang membuat roti. Sedangkan Ayahnya, tak menyadari kehadiranku dan sibuk memanggang roti.
Ibunya Claudia berdiri dan menyorotiku kebingungan, sementara Ayahnya langsung berbalik dan sedikit membelalakkan mata tak percaya. Mereka semua berjalan perlahan menghampiriku.
Mereka membungkuk ke arahku seperti yang di lakukan oleh Christopher, aku pun sama. Mereka semua mendongakkan kepala dan tak bersuara.
"Tenang aja, Tuan, Nyonya. Aku bukan pengawal dari kerajaan Michoulous kok. Aku hanya datang untuk meminta baju kering dan sedikit makanan saja."
Cetusku, merambati celanaku yang basah.
"Tunggu sebentar, Tuan."
Lalu, Ibunya Claudia berbalik kearah meja yang sudah tersedia roti panggang. Sementara itu, Ayahnya membawaku kedalam sebuah kamar.
Setelah Ayah Claudia memberikan bajunya kepadaku, dia pergi keluar meninggalkanku sendiri. Lantas aku memakainya.
Saat selesai memakainya, tubuhku sedikit lebih hangat. Bajunya pas dan cocok di pakai olehku walaupun sedikit gatal.
Ketika aku hendak melangkah keluar dari kamar, aku langsung menghentikan langkahku. Aku mendengar sedikit percakapan dari keluarga Howard.
"Bagaimana kau bisa bertemu dengan Pria itu, kau lihat baju yang di pakai olehnya?. Dia seorang bangsawan, Claudia."
Bisik Ayahnya Claudia, telunjuknya mengarah padaku.
"Aku tak tahu soal itu, aku kira Pria tersebut adalah salah satu dari pengawal kerajaan. Aku hanya sekedar membantunya, dia seperti tak sadarkan diri di dekat air terjun."
Jawab Claudia, terus terang.
"Sudahlah, yang penting kita sudah memperlakukan Pria itu dengan baik. Keluarga kita akan baik-baik saja."
Potong Ibunya Claudia, tangannya mengusap kedua punggung suami dan putrinya.
Setelah mereka semua berhenti berbicara, aku langsung berjalan keluar kamar. Aku bertingkah tak tahu apa-apa.
Aku melihat mereka masih berdiri didekat meja, menungguku. Aku langsung menghampiri mereka.
"Makasih, Tuan, Nyonya, Claudia. Bajunya pas di badanku."
Cetusku, membenarkan baju yang sedikit lebar di bagian leherku.
"Ini Ibuku, Lilith. Dan Ayahku, Samuel Howard."
Aku berniat mengulurkan tanganku tetapi tidak jadi, mereka semua hanya tersenyum sopan padaku. Mereka sepertinya merasa malu dan canggung kepadaku.
"Duduklah, Tuan Michael. Segelas s**u dan Roti gandum panggang yang bisa kami berikan."
Ajak Claudia, sedikit menyesal.
"Nggak apa-apa kok, Claudia. Ini sudah cukup untukku."
Kataku, mendudukkan pantatku di kursi perlahan.
"Aku mengamati gaya bicara dan aksenmu, Tuan Michael. Apakah kau bukan dari wilayah kerajaan Michoulous."
Cetus Samuel.
Aku yang keasyikan mengunyah langsung berhenti, berhenti sejenak. Aku harus berkata apa kepada Samuel?.
"Eum, Iyah. Aku datang dari jauh Tuan Samuel, aku cuman mampir doang. Aku berencana menemui Ayah, eh, malah tersesat."
Jawabku, sedikit kecewa.
"Memangnya, dia tinggal di mana?."
Tanya Lilith, memijit adonan tepung di meja.
"Aku tak tahu di sebelah mana, dia bilang di sekitar wilayah kerajaan. Nama dia adalah Marcus Harrison."
Claudia seketika tersedak setelah mendengar nama Ayahku, ia buru-buru meminum s**u di gelas miliknya. Ia langsung meminta maaf.
Sementara itu, Samuel dan Lilith menertawakan perkataanku. Claudia juga menyusul mereka.
"Kau bercanda, Tuan Michael. Tuan Marcus Harrison, bagaimana bisa dia menjadi Ayahmu?."
Tanya Samuel, sedikit menahan tawanya.
"Kenapa?."
Tanyaku, kebingungan.
"Kenapa? dia adalah panglima perang kerajaan Michoulous. Mempunyai anak? menikah saja dia belum. Dia masih muda, 28 tahunan."
Jelas Samuel, masih menahan tawa.
"Waduh, salah ngomong lagi. Aku lupa Kak Arthur pernah nyetusin kalo Ayah jadi muda lagi."
Kataku, dalam hati.
"Jika memang ia memiliki seorang anak, tidak mungkin sebesar ini. Seharusnya kau menjadi adiknya saja."
Imbuh Samuel.
"Gimana ya jelasinnya?. Aku tuh memang adiknya. Aku memanggilnya bukan Kakak tapi Ayah, aku tak tahu siapa Ayahku, hanya dia lah yang mempunyai sosok itu."
Decakku berbohong, aku menggumpat diri sendiri karena berbohong.
Kalau saja semuanya tak berhubungan dengan siapa diriku, aku tak akan berbohong kepada keluarga yang baik ini. Aku pasti sudah terus terang.
Setelah mendengar perkataanku, mereka semua menghentikan tawanya. Mereka langsung menghampiriku dan berlutut di dekat kursi yang aku duduki.
Mereka semua merengek meminta pengampunan karena telah menertawakanku, membuatku malu. Mereka sangat menyesal begitu juga dengan Claudia.
Mereka merengek agar aku tidak melaporkan tindakan dan perlakuan mereka kepada Ayahku, aku terkekeh terbahak-bahak di dalam hati. Aku hanya bisa tersenyum untuk menutupinya.
Sontak aku berdiri, merangkul mereka agar bangkit kembali. Aku memasang muka terkejut, padahal di dalam hatiku tertawa terbahak-bahak seraya berkata.
"Kena kalian, Emang enak!. Pake acara ngetawain segala."
Mereka semua telah bangkit, masih memohon pengampunan kepadaku. Mereka semua terlihat ingin menangis.
"Nggak usah kuatir, Aku tak akan melaporkannya kepada Ayah. Lagian, dia tidak ada di sini kan."
Cetusku, duduk kembali.
"Aku tak tahu kalau dia sesukses ini."
Imbuhku, tak percaya.
Mereka semua mendongakkan kepala mereka dan diam tak bergerak. Aku merasa bersalah telah membuat mereka seperti itu, aku tidak punya pilihan.
"Sudahlah, nggak usah di pikirin. Aku jamin deh, ini rahasia antara kita aja. Aku malah ngerasa nggak enak pada kalian semua, aku nggak tau caranya ngebalas kebaikan kalian."
Decakku, sedikit menyesal.
"Eum, tunggu."
Aku mengambil baju basahku di dalam karung, dan mencopot Bros bulan yang terbuat dari emas asli. Bros itu sedikit berat dan besar.
"Mungkin dengan Bros bulan ini bisa mengganti baju yang aku pakai, dan membeli beberapa roti untuk di perjalan. Ambilah."
Kataku, menyodorkan Bros itu kearah Samuel.
"Tidak usah, Tuan Michael. Kedatanganmu adalah suatu kehormatan bagi keluarga kami."
Tampik Samuel, menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak bisa menerimanya, Tuan Michael. Kami warga desa tidak di perbolehkan untuk memiliki atau menjual Bros bulan itu. Hanya Bangsawan dan tamu kerajaan saja yang boleh memakainya."
Decaknya.
"Oh, begitu. Ya sudah, tapi aku harus memberikan apa sebagai gantinya?."
Tanyaku, sembari memasukan kembali kedalam karung.
"Tidak usah khawatir, Tuan Michael. Kami memberikannya dengan senang hati, kami juga akan membungkuskan makanan untukmu di perjalanan."
Jawab Samuel, Lilith yang mendengarnya langsung melakukan tugasnya.
Setelah itu, aku melanjutkan sarapanku yang tertunda. Menghabiskan roti di piring dan segelas s**u.
Di sekelilingku yang aku lihat hanyalah roti, roti panggang yang sangat banyak. Bahkan keluarga Howard masih sibuk membuatnya.
"Roti sebanyak ini, siapa yang akan membeli. Warga desa?."
Cetusku, Lilith langsung menatapku.
"Kami adalah supplier roti panggang, untuk di kirim ke wilayah Istana dengan harga yang murah. Itu cukup untuk mengembalikan modal kami dan pendapatannya juga sepadan walaupun tidak banyak."
Jelas Lilith, membuat Samuel menghentikan aktivitasnya dan menyoroti kearah istrinya, begitu juga dengan Claudia.
"Nggak apa-apa kok, katakan aja."
Sahutku.
"Terkadang, roti kami juga tak laku terjual, persaingan antara supplier roti sangat besar. Sehingga kami memaklumi kondisi itu. Roti yang tak terjual, kami berikan kepada warga desa ini dengan percuma."
Decaknya, yang masih mengadoni roti.
"Aku tidak pernah memakan roti seperti ini di duniaku, eh, maksudnya di tempat asalku. Roti ini enak sekali."
Kataku, mengunyah roti di tanganku.
"Sebenarnya aku tak suka mengemil tetapi setelah merasakan rasa dari roti panggang kalian, membuat lidahku ingin terus bergoyang."
Imbuhku, bertingkah konyol.
Semua orang yang mendengarnya langsung terkekeh, mencuatkan suasana. Semua orang menertawakan kekonyolanku, itulah tujuanku.
"Tuan Michael bisa saja."
Cetus Claudia.
Seketika itu, aku mengingat kembali, Lancelot pasti sudah menungguku. Perjalananku menuju Istana Michoulous masih jauh.
"Aku lupa lagih, aku harus melanjutkan perjalanan. Aku lupa jalan menuju Istana. Kalian bisa ngasih tau gak, jalan cepat jalan yang mana?."