Author POV :
***
Sesuai yang sudah di rencanakan, malam ini adalah malam terjadinya bulan purnama. Malam penentuan bagi Michael.
Ide dari Jensen telah di laksanakan dengan baik. Lampu-lampu di ruangan keluarga menyala seperti biasa, kali ini lebih terang.
Cahayanya sungguh menyilaukan mata semua orang. Saking silaunya, Arthur harus menggunakan kacamata hitam sementara yang lainnya biasa saja.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh, bulan purnama sedang berlangsung. Tetapi tidak terjadi apa-apa, Michael tidak merasakan efek apapun.
Apa ini semua hanya omong kosong belaka, atau ini karena cahaya di ruangan ini yang memblokir cahaya bulan purnama?. Efek negatif dari bulan purnama tak berakibat pada Michael sejauh ini.
Semuanya tampak normal seperti biasa. Semua orang menunggu di ruangan itu dengan sedikit mengantuk, kopi hitam pun tak dapat menahan rasa kantuk mereka.
Akhirnya, Henry menyerah dan tergeletak tidur di sofa. Calum yang sedari tadi mengutak-atik layar handphonenya juga sudah terlihat kelelahan dan mengantuk.
Sementara Jensen, ia malah semakin bersemangat menunggu hasil dari caranya berjalan dengan baik. Ia mengamati semuanya dari awal terjadinya bulan purnama.
Michael, Arthur dan Jensen berhasil menunggu sampai tengah malam tiba, sementara Henry dan Calum sudah memiliki dunianya masing-masing. Mereka berdua sudah tertidur sangat pulas.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Michael sedari tadi terus merasa haus, segelas air mineral yang ada di meja sudah habis ia teguk.
Di tambah lagi, Michael merasakan gatal di bagian dalam tenggorokan. Membuatnya terus berdehem karena terasa menggelitik.
Arthur dan Jensen yang mendengarnya langsung menghampiri Michael, mengkhawatirkannya. Sementara Calum dan Henry masih tertidur.
Kulit Michael mulai terasa panas, Michael terus-menerus meneguk air mineral yang ada di meja. Ia terus merasa kehausan.
Arthur dan Jensen terkejut ketika melihat kulit Michael bertambah merah, begitu juga dengannya. Kulit jari tengahnya yang terdapat cincin mulai terasa gatal.
Gatalnya terus menyebar ke seluruh kulit tangannya. Michael menggaruk gatal itu terus-menerus, gatalnya tak kunjung mereda, semakin lama semakin bertambah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Michael merintih kesakitan dan perih di bagian tangannya. Gatal dan dahaganya menyiksa di bagian tenggorokannya yang terasa kering, berdehem dan batuk sesekali.
Michael POV :
***
"Ahmm"
Aku terus merasakan gatal serak di bagian dalam tenggorokanku, aku ingin sekali mencopot tenggorokanku karena ini sangat membuatku semakin tersiksa. Aku batuk sesekali.
Kali ini seraknya mulai merambat naik ke bagian atas tenggorokanku, aku merasakan gatal yang begitu meningkat dari sebelumnya di bagian atas tenggorokanku. Aku terbatuk lebih sering kali ini.
Batuk, kehausan, gatal dan serak terjadi secara bersamaan di seluruh tenggorokanku. Membuatku semakin tak berdaya.
Gatal, perih, dan kepanasan di bagian kulitku meningkat seiring bertambahnya waktu. Membuat badanku sedikit sempoyongan, tak seimbang.
Benar seperti apa yang di katakan oleh Kak Arthur, bulan purnama telah membuatku menderita sejauh ini. Entah apalagi efeknya terhadapku?.
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan, batuk terus-menerus. Aku melihat kedua telapak tanganku bercipratan darah.
Aku yang sudah panik bertambah ketakutan, menyorot kearah Kak Arthur dan Jensen. Mereka semua yang melihatnya langsung terkejut sejadi-jadinya.
Calum dan Henry yang terbangun karena suara gaduh kami bertiga, bertanya-tanya. Mereka langsung berjalan menghampiriku.
"Kawan-kawan, tubuhku keram!."
Tubuhku tak bisa aku kuasai. Aku tergeletak di lantai, berteriak minta tolong dan merintih kesakitan. Semua orang tak bisa melakukan apapun.
Kak Arthur yang sudah menangis, tak berdaya. Melihatku seperti ini bukanlah hal yang mudah untuknya. Ia menangisi ku di pangkuannya.
Ketiga kawanku khawatir dan kebingungan. Mereka sungguh tak tahu harus berbuat apa selain panik, memijitku pelan.
Badanku seperti di rebus di air panas, darahku mengalir deras di pembuluh darah. Dagingku seperti tersayat dan terpotong bagian demi bagian.
Teriakanku seperti tak terdengar oleh semua orang. Aku tak melihat mereka dengan jelas, suara mereka tak masuk kedalam telingaku sedikitpun.
Aku melihat mulut mereka semua berkomat-kamit. Aku tak tahu, mereka berbicara apa kepadaku?.
Penglihatanku sedikit buram. Semuanya aku rasakan kecuali kulit dari semua orang, bisa di bilang aku mati rasa.
Aku berteriak sekeras mungkin tetapi suaraku tak keluar, bahkan aku tak mendengar suaraku masuk kedalam gendang telingaku. Aku menderita di tempat.
Perlahan mataku mulai meredup. Mataku seperti terhalang oleh sesuatu, bola mataku memutih. Aku tak bisa melihat apapun lagi.
Suara dan objek apapun tak bisa aku rasakan, hampa. Aku bahkan tak merasakan apapun.
Penderitaanku telah usai. Rasa sakit dan ketakutan tidak aku rasakan sama sekali, semuanya hilang.
Aku merasa aku sedang melayang di udara. Aku tak tahu lagi, semuanya hitam. Aku ingin berteriak tapi aku tak bisa merasakan apapun selain melayang dan hitam pekat.
***
Beberapa detik kemudian, aku melihat sepasang cahaya merah kecil yang sepersekian detik menghampiriku. Semakin dekat semakin kentara.
Sepasang cahaya itu ternyata sepasang mata merah menyala. Aku tak tahu mata itu mata siapa, hanya merah menyala.
Sepasang mata itu mengapung di udara, bergerak-gerak. Sepasang mata tersebut mengelilingiku perlahan-lahan.
Mata itu bergerak-gerak seperti sedang mengenaliku. Aku tak bisa bergerak ataupun bersuara, hanya bisa diam.
Tak lama, sepasang mata itu perlahan menjauhiku. Sepasang mata merah menyala tersebut berhenti di beberapa langkah dariku.
Sekarang giliran ku yang bergerak, menghampiri sepasang mata tersebut.
Aku melayang perlahan menghampiri sepasang mata merah menyala itu, sementara mata itu hanya menyorot ke arahku.
Semakin aku mendekat semakin aku mendengar sesuatu, aku mendengar suara seekor kuda. Setelah sekian lama aku berada di keheningan, akhirnya aku mendengar suara juga.
Setelah suara seekor kuda menghilang. Aku mendengar sesuatu lagi, suara manusia memanggilku.
"Pangeran Michael, ikuti aku!."
Suara manusia yang memanggilku berasal dari sepasang mata itu, di susul oleh suara seekor kuda. Sepasang mata tersebut berbalik dan menjauhiku.
Aku masih melayang mengikutinya dari belakang. Suara gemuruh dari sepatu kuda berlari terdengar olehku, sangat jelas.
Aku melihat cahaya merah terpancar ke seluruh penjuru tempat, melesat dengan cepat. Sepasang mata merah menyala itu sudah hilang.
Setelahnya, aku tidak mendengar suara seekor kuda maupun mendengar suara gemuruh dari sepatu kuda yang berlari, suara manusia yang memanggilku juga tidak terdengar lagi.
Sekarang aku bisa melihat tubuhku, kali ini aku sedikit jangkung. Memakai kaos putih dan celana panjang putih.
Aku berdiri di ruang dimensi itu lagi. Yang membuatnya berbeda kali ini adalah setelanku, serba putih.
Biasanya aku berlari di tempat, kali ini tidak. Rasa sakit dan pegal di bagian kakiku tidak terasa sama sekali jika aku berhenti berlari, banyak perbedaan.
Tempatnya lah yang membuatku teringat bahwa aku sedang mengalami episode, efek negatif bulan purnama membuatku seperti ini. Jiwaku sudah terangkat.
Kali ini, aku merasakan tubuhku sendiri, aku bisa menguasai tubuhku. Aku bisa merasakan udara di dimensi ini.
Sumpek dan berbau anyir darah, aku tak melihat ada darah di sekitarku. Aku memutar badanku mencari darah tetapi tidak ada.
Anehnya, aku tak bisa mengeluarkan suara dari mulutku. Mulutku terkunci rapat.
Aku terkejut ketika aku meraba bagian kulit pipiku, berbulu. Aku tak pernah menumbuhkan bulu pipiku.
Jika memang aku memilikinya, aku langsung mencukurnya habis. Tidak mungkin dalam beberapa menit janggut dan bulu pipiku tumbuh dengan cepat.
Aku langsung meraba rambutku, lagi-lagi aku terkejut. Rambutku sedikit ikal dan gondrong.
Tubuhku berubah drastis kali ini. Apa ini efek dari bulan purnama, atau aku sudah mati?.
Aku masih mengingat semua yang berkaitan dengan dunia, Kak Arthur dan Ketiga kawanku. Mereka semua pasti mengkhawatirkan dan menangisi ku.
Aku tak melihat apapun selain diriku dan dimensi putih ini, kosong melompong. Seperti episode biasanya.
Aku terus berjalan walaupun aku jalan di tempat, merambati seluruh sisi walaupun aku tak tahu sisi mana yang aku lihat, daripada diam saja.
Aku di kejutkan kembali dengan suara Ayah dan diriku meminta tolong, dari balik pintu. Aku benar-benar melihat pintu sekarang.
Bibirku terangkat senang, tersenyum girang kearah pintu itu. Aku langsung menghampirinya.
Kali ini, aku bisa melangkah mendekati pintu tersebut. Episode terakhir ini memang sangat berbeda dari sebelumnya.
Aku berjalan dan terus berjalan, menghampiri pintu tersebut dengan terburu-buru. Semakin aku mendekat semakin kentara pintu itu.
Aku sudah berada di depan pintu-pintu itu, ya, ternyata pintu itu ada dua. Pintu tersebut saling membelakangi.
Aku yang sedari tadi mengamati pintu itu, kebingungan. Semuanya hanya sebuah daun pintu dengan gagangnya saja.
Aku memutari kedua pintu itu perlahan, satu putaran. Aku mendengar kembali suara itu, sangat jelas.
Setelah itu, cincin misterius yang masih terpasang di jari tengahku mengeluarkan cahaya, mengeluarkan asap merah mengebul seperti di kamar Kak Arthur. Kali ini lebih banyak.
Aku yang sudah terkejut sontak menghalangi kedua mata, menggunakan lenganku yang satunya. Sementara yang satunya masih mengebul.
Aku tak sanggup melihatnya, aku terus menutup mata. Asap itu membentuk seekor kuda jantan.
"Pangeran tidak usah takut!."
Cetusan itu membuatku membuka mata, suara itu yang memanduku keluar dari dimensi hitam tadi.
Sontak aku menyorotinya. Dan benar saja, asap merah yang berbentuk seperti seekor kuda jantan.
"Aku Lancelot, kuda kesayangmu pangeran Michael."
Aku masih tak bisa mengeluarkan suara, hanya melotot ke arahnya. Aku membelalakkan mata tak percaya.
"Pangeran tak akan mengingatku, kau tak punya banyak waktu di dimensi ini. Aku membutuhkanmu, pangeran Michael. Kau harus segera keluar dari sini."
Ha, kuda kesayanganku?. Aku bahkan tak memiliki kuda, melihatnya langsung saja tidak pernah.
Lancelot si kuda jantan itu menyuruhku untuk memilih salah satu di antara kedua pintu di depanku, jika salah memilih aku akan terjungkal ke dimensi yang lain. Bahkan lebih buruk, mati.
Aku mengamati dengan keras pintu yang akan aku pilih, suaraku atau suara Ayah. Aku memilih suara Ayah, keputusanku kuat terhadap suara itu.
Suara aksen berbeda dari Ayah tak menggoyahkan ku, dia meminta tolong kepadaku dengan kalimat
"Tolong Ayah, Michoulous."
Sebutan waktu aku masih kecil, jika ayah berkata jujur dia akan memanggilku 'Michoulous' di akhir kalimat. Sementara suaraku 'tolong aku, Michael' saja.
Aku berjalan menghampiri suara Ayahku, menyodorkan tanganku dan menggenggam gagang pintu. Aku membuka pintu tersebut dan memasukinya.
Lancelot si kuda jantan telah hilang sebelum aku memilih pintu, meninggalkanku sendiri.