Author POV :
***
Tubuh Michael sudah terbaring di atas lebatan batu, sebuah batu besar. Batu itu berbentuk seperti kasur.
Michael tak bergerak sama sekali, matanya terpejam. Mukanya terlihat sedikit pucat.
Michael berada didalam sebuah hutan yang begitu seram, pepohonan yang menjulang tinggi dan daun-daunnya yang lebat.
Semuanya terpenuhi oleh semak belukar. Tubuh Michael hampir terselimuti oleh semak belukar tersebut, lumut dan akar hijau memenuhi sisi batu besar itu.
Seekor kuda jantan sudah berada di sisi Michael, mengunyah rumput dan semak belukar yang ada di sana. Dia adalah Lancelot si kuda jantan.
Lancelot sangat gagah dan tampan, berwarna putih s**u. Dia memakai baju emas di badannya yang bersinar.
Di badan Lancelot sudah tergantung sebuah pedang, dan sebuah jubah sutra putih yang juga tergantung di punggungnya. Ia hanya diam saja sembari mengunyah makanannya ditempat.
Akhirnya Michael siuman. Dia menggerakkan perlahan-lahan tubuhnya, matanya masih terpejam.
Michael merintih kesakitan, menggelengkan kepalanya perlahan. Matanya belum juga terbuka.
Tak lama, Michael membuka matanya terkejut, ia langsung terbangun dari ketidaksadarannya. Seketika ia sesak nafas.
Michael mendudukkan dirinya di atas lebatan batu, menghela nafas panjang. Panas dan haus seketika memburunya.
Sontak ia mencari air di sekitar, nihil. Yang ia lihat hanyalah serba hijau. Ia sangat terkejut ketika melihat Lancelot yang sedang menyeringai dan mengunyah.
Michael POV :
***
"aaaaaaa~"
Gedebrukk
Aku jatuh terkapar di tanah yang penuh rumput, kuda jantan putih di depan muka membuatku terkejut. Aku merintih kesakitan karena lebatan batu besar itu sedikit tinggi.
Aku perlahan berdiri, tergopoh-gopoh. Aku menggeliat meregangkan tubuhku.
Aku merambati seluruh tempat, hijau semua. Aku telah memakai baju biru yang belum pernah aku lihat, celana putih ketat dan sepatu boot coklat.
Aku merasa tak cocok memakai setelan seperti ini, membuatku gatal. Aku semakin merasa gerah dan kepanasan, sepatu boot yang sedikit berat.
"Pangeran Michael, tidak apa?."
Aku seketika terkejut, mendengar suara seseorang bertanya. Aku merambati seluruh hutan tetapi tidak ada sesosok makhluk pun yang terlihat selain kuda putih jantan.
"Pangeran sedang mencari siapa?."
Aku terkejut lagi, lebih parah. Aku melangkah mundur perlahan, menyorot kearah kuda jantan di hapanku. Dia bisa berbicara?.
"Tidak usah takut, pangeran Michael. Aku tidak akan melukai majikanku."
Kata Lancelot, membuatku menghentikan langkah.
"Kau sudah lupa, akulah asap merah itu, Pangeran Michael."
Aku masih berdiri di tempat, tak percaya. Aku tak bisa berkata-kata lagi selain kebingungan. Seekor kuda bisa berbicara?.
"Kka-kau barusan ngo-ngomong, kan?."
Tanyaku, telunjukku terhunus pada Lancelot.
"Iya, Pangeran Michael. Sebenarnya kita bukanlah didalam sebuah hutan, melainkan sebuah gua yang dinamakan gua berbicara."
Aku mengangkat mulutku terkejut, membelalakkan mataku tak percaya. Aku merambati kembali sekitar, aku tak melihat dinding batu gua selain sebuah hutan.
"Setelah kita keluar dari gua ini, kau akan menyadarinya, Pangeran Michael."
Aku sedikit geli dengan gaya bicara dan aksen yang di gunakan oleh Lancelot, nada bicaranya membuatku tenang. Entah kenapa dia terus memanggilku Pangeran, bukankah aku seorang Raja?.
"Aku nggak ngerti, berhentilah ngomong, La-lancelot kan?."
Menggaruk kepalaku karena kebingungan, tak percaya. Aku menggelengkan kepalaku sesekali, sementara telunjukku terhunus kepada Lancelot.
"Baiklah. Aku akan berhenti berbicara, Pangeran Michael."
Jawab Lancelot.
"Lah, kok gitu. Jangan dong. Aku kan butuh semua jawaban."
Gerutuku, menyipitkan mataku kearah Lancelot.
"Berhentilah memanggilku Pangeran, Michael saja."
Imbuhku, sembari membenarkan celana yang begitu ketat di bagian pantatku.
"Maafkan aku, Pangeran Michael. Aku tak bisa."
Jelas Lancelot, sedikit menyesal.
"Ya sudah, terserah kau, Lancelot."
Lancelot mengeluarkan suara kudanya, ketika aku mengipaskan tanganku. Aku hanya melihatnya sedikit muak.
"Buruan ceritakan bagaimana cara bertahan di dunia ini, semuanya."
Suruhku, sedikit malas.
"Tidak sekarang, Pangeran Michael. Kita harus segera keluar dari gua ini, roh-roh gua ini akan membuatmu gila."
Jelas Lancelot.
"Apa, roh, maksudmu hantu?."
Tanyaku, sedikit terkekeh geli.
"Ssstt, jangan sampai kau membangunkan dan membuat marah mereka, Pangeran Michael."
Bisik Lancelot.
"Pakailah Jubahmu dan naiklah keatas punggungku. Aku akan membawamu keluar dari sini, Pangeran Michael."
Lanjut Lancelot.
"Ha, memakai jubah berat ini, terus bagaimana caraku naik."
Aku mengotak-atik jubah itu di punggungku, berat sekali. Aku tak tahu kegunaan jubah ini karena Lancelot yang menyuruhku memakainya.
Aku berusaha menaiki punggung Lancelot yang tinggi dan lebar, melebarkan kakiku. Aku hampir saja terjatuh.
Aku tak tahu cara menunggangi seekor kuda, apalagi kuda yang bisa berbicara. Aku hanya diam diatas punggung Lancelot.
Setelah posisiku benar, tanganku memegang tali. Lancelot berjalan perlahan kearah rerumputan.
Aku memejamkan mata, Lancelot membawaku kedalam semak-semak yang tak bisa di sebut sebagai jalan. Aku takut jika mataku tertusuk.
Ternyata tidak sama sekali, aku tak percaya. Itu adalah sebuah portal masuk hutan yang ada di dalam gua berbicara.
Lancelot membawaku keluar gua. Aku semakin percaya kepada dirinya, hatiku mulai merasa sedikit tenang.
"Hei, pelan-pelan, Bodoh!. Nanti aku bisa jatuh."
Gerutuku, sedikit mendongakkan badanku.
"Baiklah, Pangeran Michael."
Author POV :
***
Michael masih berada diatas punggung Lancelot, Kuda jantan itu membawanya keliling hutan. Meninggalkan gua berbicara.
Michael terus saja merengek meminta turun, Lancelot tak mendengarkannya dan terus berjalan. Ia merasa muak dengan kuda jantan tersebut.
Kuda jantan itu tak akan berhenti dan tidak akan menurunkannya sebelum sampai di air terjun, mereka akan beristirahat di sana. Membuat Michael semakin kesal dan menggerutu sepanjang jalan.
Michael dan Lancelot menaiki bukit dan menelusuri lembah, mereka masih belum sampai di air terjun. Mereka semua sudah lama menahan rasa haus di tenggorokan.
Michael dan Lancelot sudah berada diatas bukit, di depan mereka jurang. Mereka melintasi jurang itu perlahan-lahan dan penuh kehati-hatian.
Mereka berdua sampai di suatu titik, di mana semuanya bisa terlihat dengan jelas diatas sana, dunia duplikat seperti berada di bawah mereka.
Mereka berdua berhenti sejenak, menikmati pemandangan indah diatas bukit. Michael masih berada diatas punggung Lancelot.
"Istana besar itu milik siapa, Lot?."
Tanya Michael, telunjuknya mengarah ke istana besar dan megah.
"Kok, aku lihat ada perisai transparanya?."
Imbuhnya, mengamati.
"Itu kerajaan Michoulous, Istanamu, Pangeran Michael."
Michael yang mendengarnya langsung terkekeh geli, sedikit terkejut. Mendengar panggilan dari mendiang Marcus membuatnya seperti itu.
"Ngelawak!."
Cetus Michael, mengolok-olok.
"Kalau benar begitu, kenapa aku di luar sini, tertidur pulas didalam gua yang banyak hantunya?."
Tanya Michael, mengangkat salah satu alisnya.
"Setelah kita sampai di air terjun, aku akan menceritakan semuanya, Pangeran Michael."
Jawab Lancelot, ia melanjutkan langkahnya.
Akhirnya, Michael dan Lancelot sampai di air terjun, anginnya sangat dingin. Mereka berdua berhenti dan minum bersama di sana.
Sebelumnya, Michael sangat antusias dan kegirangan melihat air terjun yang bergitu indah. Ia berniat akan menceburkan dirinya di bawah air terjun.
Michael mengurungkan niatnya, airnya begitu dingin. Anginnya saja membuatnya kedinginan.
Michael dan Lancelot berhenti di bawah pohon besar, cukup menghalangi keduanya. Mereka semua beristirahat dan akan bermalam di dekat air terjun.
"Mirisnya, kita harus bermalam tanpa api, maafkan aku, Lancelot. Aku tak tahu cara bikin api tanpa pemantik."
Cetus Michael, mendongak menyesal.
"Tidak apa, Pangeran Michael. Kau tak usah khawatir, roh-roh air terjun akan menerangi dan menghangatkan kita."
Sahut Lancelot, yang sedang mengunyah rumput.
"Apa, kau becanda, hantu lagi. Kenapa kita harus bermalam di sini?."
Tanya Michael, dia sangat terkejut dan ketakutan. Michael berdiri setelah mendengarnya.
"Kau tidak usah takut, pangeran Michael. Mereka semua roh-roh baik penjaga hutan dan air terjun."
Jelas Lancelot.
"Tapi, tetap saja mereka semua adalah hantu, Lancelot."
Gerutu Michael, kembali duduk dan bersandar di pohon besar.
"Pedang ini bukanlah sebuah pedang biasa, Pangeran Michael. Aku tahu kau tak ingat, tetapi versi dirimu yang dulu lebih mengenal pedang ini bahkan lebih baik dariku."
Decak Lancelot.
"Kau akan tahu semuanya, seiring berjalannya waktu."
Imbuhnya.
"Terus, apa hubunganmu dengan versi diriku yang dulu?."
Tanyaku, sedikit menghakimi.
"Aku dulu memiliki tanduk tajam di kepalaku, memiliki sayap dan bisa terbang. Aku pernah menjadi kuda perang di kekaisaran langit, di kerajaan Arkhmush."
Jawab Lancelot, dengan nada hancur.
"Aku membuat kesalahan dan dosa besar, membuatku di hukum karenanya."