Bab : 4 Saling Mengagumi

1011 Kata
" Pagi Bu Gadis! Pagi Bu Ratna !" dengan langkah percaya diri Andi berjalan menyusuri lorong kantor divisi keuangan tempatnya bekerja " Pagi Andi, wiw semangat bener nih, sarapan apa hari ini , Andi?" candaan mereka di pagi hari adalah suplemen positif untuk bekal mereka menjalani aktivitas seharian nanti " Iya bener ya, Bu Gadis. Aura nya berbeda, Aura orang bahagia, Kaya aura orang jatuh cinta, Auranya tuh nyetrum, ikut mengalir ke sekitar nya!" lagi - lagi Bu Ratna menimpali " Haduh Bu Gadis, sama Bu Ratna itu bisa aja, ya. Memang saya listrik, atau wifi gitu, yang mengalir energinya, ha..ha.ha!" mereka tertawa bersama dalam batasan normal Sudah tiga bulan lebih Andi bekerja dan bergabung bersama mereka. Dan tiga bulan itu juga keberadaan Andi. membuat support sistem mereka semakin kuat sebagai teman satu divisi Dari lantai satu berjalan elegant seorang wanita cantik dengan kemeja putih berbahan satin yang simple, di padu rok abu - abu panjang yang membuat badannya terbungkus rapih tapi sopan. Di tangan kanannya bergantung blazer abu - abu senada dengan warna roknya. Jilbab instan yang simple melengkapi penampilanya. Siapapun yang melihatnya pasti akan mengaguminya " Pagi Bu Rini!" ucap satpam dan karyawan resepsionis di loby kantor bersamaan. " Pagi !" jawabnya dengan senyum tipis sambil terus berlalu " Eh Bu Rini tuh cantik banget, ya. Sempurna banget pokoknya. tapi kenapa belum.menikah juga,ya?" terdengar kasak - kusuk karyawan wanita yang sedang ada di loby kantor Rini terus melangkah, badannya tegap dan proporsional. Tidak ada sedikitpun celah kekurangan yang terlihat dari luar. Pagi itu suasana belum terlalu ramai, Rini memang terbiasa datang kekantor lebih awal. Lift belum terlalu ramai , ini salah satu yang membuat Rini senang datang lebih awal. Layar di lift menunjukan lantai dua, dimana divisi keuangan tempat mereka bekerja ting tong Lift terbuka, Rini keluar dan berada di lantai dua. kemudian dia berjalan menyusuri divisi- divisi lainnya. Sampai dari jauh Rini mendengar sayup - sayup orang tertawa dan bercanda. Sampai - sampai tak ada yang menyadari keberadaan bos mereka. " Pagi !" ucap Rini. Bibirnya tak sangup untuk di tutup kembali saat melihat seseorang dengan penampilan yang sangat rapih. Dan wangi Sesaat Rini bergumam dalam hati, " masya Allah rapih sekali, wangi, ganteng banget. " puji Rini dalam hati " Pagi Bu...!!!" ucap mereka bertiga bersamaan "Wah seru, yah cerita nya, sampai - sampai saya datang nggak kelihatan!" ujar Rini sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan mereka Sementara mereka bertiga diam tidak bicara, mereka binggung dengan perbedaan derastis dari Bos besarnya, yang selama ini mereka juluki perawan tua " Ko bisa gitu, ya?" Gadis menyengol pelan bahu Ratna binggung " Tau...!" Ratna hanya bisa mengangkat bahunya kebingungan Sementara Andi hanya tersenyum penuh arti Jam kerja sudah di mulai, suasana kantor sudah mulai berjalan seperti biasa. Hanya terdengar suara mesin print dan sesekali langkah sepatu orang berjalan pelan. ( " Iya bu, sebentar." ) ujar Gadis pelan dan hati - hati " Hey Andi kamu di panggil sama Bu Bos! Hayo loh bikin salah apa kamu, ini masih pagi lo. kebayang hancur nya mood kamu sampai sore nanti." ujar Gadis menerka - nerka " Ha..! Ada apa? " Andi mengkerut kan dahinya sambil bertanya pelan. Lalu berjalan hati - hati ke depan ruangan Rini Sampai di depan ruangan Rini, Andi berhenti. Seperti nya dia berdoa, kemudian pandangannya mengarah kepada kedua senior nya, sambil gerak geriknya memohon pertolongan dari para senior nya. Tingkah Andi yang seperti ini membuat para seniornya tertawa lucu. tapi berusaha sebisa mungkin tidak bersuara. Selama ada Andi bergabung di perusahaan itu, khususnya divisi keuangan semuanya jadi berbeda. Pembawaan Andi yang santai, sopan tapi energik dan pintar. Membuat hari - hari mereka selama melewati waktu kerja tidak lagi jenuh. Waktu berlalu dengan cepat. Suasana kerja jadi lebih menyenangkan. " Silahkan duduk!" perintak Rini " Iya, Bu terima kasih " Bisa ganggu waktu kamu sebentar?" Rini berkata dengan penuh ketegasan " Iya, Bu! Silahkan. Apa pekerjaan saya ada yang salah?" Andi bertanya dengan mimik yang membuat Rini tak bisa menahan tertawa Sementara melihat itu semua, membuat Andi semakin binggung. " Hem..!" Rini menarik nafas, menyudahi pikiran konyol dalam kepalanya, untuk kembali pada mode serius Sementara Andi tetap menunggu dengan wajah polosnya. " Begini, saya mau adakan acara di luar kota khususnya divisi kita. Acara ini bertujuan mempererat tali silaturahmi antara karyawan dan keluarganya. "Dan saya ingin kamu yang mengurus acarra ini. Buat acara ini sesuai keinginan kamu. Karena saya tahu di kepalla kamu penuh dengan ide brilian terutama untuk moment seperti ini. " " Tapi saya belum pernah, Bu. Membuat event besar begini." dengan wajah binggung Andi masih tak percaya " Kamu pasti bisa, saya yakin semuanya pasti akan berjalan lancar. Diskusi dengan saya kalau ada yang ingin kamu diskusikan. Bagaimana?" tanya Rini yakin " Baik Bu, saya akan coba, nanti saya buat dulu semua nya dalam proposal. Biar ibu bisa periksa dulu sebelum nya. " Tidak terasa mereka berbincang - bincang hampir setengah hari penuh. Waktu sudah menunjukan jam dua belas siang. Jam makan siang sudah tiba. " Apa kamu mau istirahat makan siang? Atau kamu mau menemani saya untuk makan siang disini. Sambil membahas semuanya?" tawar Rini malu -.malu " Apa tidak menganggu?" tanya Andi penuh makna Rini hanya bisa mengangguk, Dihatinya diam - diam mulai mengagumi Andi. Dari Andi Rini bisa belajar bagaimana menyelesaikan pekerjaan tetapi dengan pikiran segar dan kreatif. Sementara Andi juga diam - diam mulai mengagumi Rini. Dari Rini dia mulai bisa belajar menjadi seorang pemimpin yang baik, dan bagaiman cara menyelesaikan tantangan juga mengambil keputusan disaat terdesak. Perbedaan umur yang sangat jauh dan mencolok tidak mengubah rasa kagum mereka . Bahkan itu semua menjadi sesuatu yang berbeda bila semua disatukan menjadi satu Mereka makan siang bersama dengan bekal yang sudah disiapkan asisten rumah tangga Rini dirumah. Sesekali terlihat mereka tertawa kecil , Sesekali mereka juga tetap berdiskusi tentang jurnal acara yang akan mereka buat nanti. Sementara diluar Gadis, Ratna dan karyawan lainnya berbisik - bisik pelan, mereka binggung dengan perubahan Bos mereka yang drastis. Mereka mulai menduga - duga. Tapi mereka tidak berani bicara keras, Mereka takut didengar oleh Rini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN