" Huh sial! Pakai mogok lagi! Apa - apaan sih! Hey kamu itu sudah janji mau bertahan sampai saya menerima gaji bulan ini. Sekarang,Apa - apaan ini! " Andi terus saja menendangi ban motor nya, sambil terus berjalan mendorong nya cepat, keringat membasahi
keningnya, pada hal hari ini mendung, dan akan turun hujan
" Bang mogok, Bang! Perlu bantuan nggak, Bang?" beberapa pemuda yang sedang menunggu ojek dan taksi online menegur menawarkan bantuan
" Nggak! Makasih, Bang!" jawab Andi sambil mengangkat tangannya
" Ayok bisa jalan sedikit lagi, jangan manja!" Andi penampar body motornya sambil mengerutu
Tin
Tin
Tin
Suara klakson mobil terus saja mengusik Andi. Dia yang merasa tidak menganggu penguna jalan lainnya diam saja. Hingga akhirnya...
" Andi!"
Suara panggilan itu sontak membuat Andi menengok ke belakang.
"B_ Bu Rini! "
" Kenapa motor kamu, Andi! Mogok ya, yaudah buruan dorong ke bengkel depan sana, tuh! udah mau hujan. Ayok saya tunggu di bengkel." bukan sikap Rini yang biasanya, mau menegur bawahannya, dan bicara banyak
"I_iya,Bu!" tanpa bicara lagi Andi mendorong motornya menuju bengkel di ujung jalan raya
Tiba - tiba mobil yang di kemudikan Rini berhenti dan mensesajarkan dengan motor yang di dorong Andi. Tentu saja membuat Andi binggung dan menghentikan aktivitas nya.
" Andi! panggil Rini kencang
" Iya,Bu!" jawab Andi binggung
" Semangat, Ya! ha..ha..ha!" tawa Rini meledek lalu kembali menjalankan mobil nya
" Hey! Awas ya,! " tanpa sengaja Andi membalas ledekan Rini.
Andi lupa siapa Rini. Mungkin karena mereka sudah sering berinteraksi di kantor
" Ha..ha..ha! Capek ya! Nih minum!" Rini memberikan satu botol air mineral yang selalu tersedia cukup banyak di kulkas kecil didalam mobilnya
" Maksih,Bu!" tanpa berpikir panjang, Andi mengambil sebotol air minuman dari tangan Rini, jenudian meneguk isinya sampai habis
" Kenapa sih, motor kamu? Udah biarin di bengkel aja, Memang kamu mau nunggu sampai selesai di betulin. Udah gelap lo, Udah mau hujan!" ragu - ragu Rini menawarkan kebaikannya
" Nggak tau, Sih! Habis gimana?"
Andi terlihat sangat binggung. Kemudian dia bertanya pada Abang bengkel nya." Pak kira - kira lama nggak, Ya? Bisa di tunggu nggak?"
" Wah lumayan,Mas! Apalagi masih satu motor lagi ini belum selesai." tukang bengkel terus saja konsetrasi membetulkan motor yang rusak
" Sudah tinggal aja, besok pagi baru di ambil, ayok sekarang kamu saya antar." lagi - lagi menawarkan bantuan
" Emang nggak ngerepotin, Bu?" Andi agak ragu menerima bantuan Rini
" Nggak,ayok naik ke buru hujan! "
Akhirnya setelah menitipkan motornya pada yang punya bengkel, Andi menerima tawaran Rini. Kemudian Andi masuk ke dalam mobil Rini.
" Kamu bisa bawa, kan? Kamu yang nyetir ya!" Lagi - lagi Rini membuat kejutan.
Andi tidak menjawab, tapi dengan cepat dia memutar ke posisi kemudi.
" Sudah! Kita berangkat ya. Eh tapi kita mau kemana,Bu?" dengan wajah polos sambil mengaruk - garuk kepala binggung
" Kamu udah makan belum?"
" Belum sih! "
" Ya udah kita makan dulu ke cafe langganan aku, ya!"
" Oke ,Siap Bu! Nanti arahin aja,Ya!",
Rini diam sebentar sebelum akhirnya berkata, " Ini kan diluar kantor bisa nggak nggak usah panggil , Ibu!"
" Hem .. gimana maksudnya? terus saya harus panggil apa, Bu?"
" Panggil aja nama saya,Rini.'
" Ha ...Rini! Nggak apa - apa emang?"
Rini tidak menjawab lagi, dia hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya mereka parkir di cafe pilihan Rini. Cafe yang bagus, dengan suasana yang nyaman , tenang.
Semua karyawan cafe kelihatan begitu akrab dan sopan pada Rini.
" Kamu mau pesan apa, ayok silahkan saja." Rini memberikan daftar menu beserta harganya, tentu saja itu membuat Andi menelan Saliva nya.
" Jangan suruh saya bayar sekarang ya, kalau mau potong saja gaji saya nanti!" Andi bicara dengan mimik yang polos dan lucu, tentu saja itu membuat Rini tertawa
" Temang saya yang bayar, kan saya yang ajak kamu kesini." sesekali Rini mencuri pandang pada lelaki yang duduk di depannya. Tidak bisa dipungkiri Rini mulai merasakan ada hal aneh yang mengalir di hati dan seluruh tubuhnya, dan hal aneh itu membuatnya bahagia dan ingin terus tersenyum.
" Kalau begitu samain aja pesanan saya dengan pesanan Bu Rini!" lagi - lagi ekspresi muka Andi datar tapi membuat orang yang dihadapannya klepak - kleepek tidak karuan
" Bisa nggak kalau nggak usah paanggil Ibu, apalagi kita kan ada di luar jam kantor." wajah Rini bersemu merah kala bibirnya dengan susah payah berusaha mengucap kan hal itu
" Saya harus panggil apa? " saya takut nanti salah. Terserah saja mau dipanggil apa, saya nurut saja. "
" Panggil saya Rini saja." ucap wanita itu pelan hampir tidak terdengar
' Ha! Saya nggak enak kalau begitu, bagaimana, Mbak Rini saja." sambil
tersenyum Andi menawarkan beberapa pilihan
Tapi apa yang terjadi wajah Rini menunduk, mengambarkan mimik yang kecewa sambil berkata, " apa saya sudah setua itu?"
" Hei maaff, bukan begitu maksud saya. Kamu sangat cantik. Bahkan kecantikan kamu mengalahkan wanita seumuran aku. Kamu punya aura sendiri. Yang sanggup mengalahkan wanita lainnya." entah kekuatan dari mana yang membuat Andi sanggup mengeluarkan kata - kata pujian yang sedasyat itu
Sontak saja pujian Andi mampu membuat Rini semakin terbang jauh ke awang - awang.
" Jadi aku panggil Rini aja, Nih! oke! Tapi kalau nanti di kantor atau dengan teman - teman yang lain, aku akan tetap panggik kamu, Bu Rini Cantik oke!" lagi - lagi gurauan Andi mampu merubuhkan benteng pertahanan wanita yang sudah cukup umur itu
Mereka tertawa, bercanda, sambil menikmati hidangan di cafe itu.
Andi tidak menyadari kalau cafe itu adalah milik Rini. Dan hampir setiap hari Rini akan mampir kesana untuk sekedar mengecheck laporan semua pegawai nya d sana.
" Sudah yuk kita pulang! " ajak Rini. Sambil melambaikan tangan kepada pegawai cafe itu
Pegawai cafe datang dan menghampiri Rini.Dan sekilas mereka terlihat saling bertatapan, dan dibalas anggukan kecil oleh Rini.
" Ini kartunya sikahkan! " Rini memberikan karu ajaibnya untuk menyelesaikan pembayaran nya
" Yuk! " ajak Rini
Mereka berjalan beriringan keluar dari cafe.
" Biar saya yang nyetir, dimana tempat tinggal kamu, ayok saya antar." Rini mengambil alih kemudi
Mobil berjalan pelan, menerobos rintik nya hujan. akhirnya mereka sampai di sebuah komplek kontrakan yang panjang.
" Itu kontrakan saya, yunggu sebentar, jangan oergi dulu!" Andi keluar dari mobil berlari kecil. Langkah Andi menuju tukang roti bakar di sebrang komplek. Entah apa yang Andi lakukan. Rini hanya menuruti untuk menunggu nya sebentar.
Tidak lama kemudian, " Roti bakar ini sangat enak. Apalagi kalau di makan hujan - hujan begini. Ini satu untukku. Satu untuk kamu."
Rini tidak menyangka Andi akan melakukan hal itu. Semua yang dilakukan Andi selalu membuatnya kaget dan senang.
" Heh...makasih banyak, ya. Udah sana kamu masuk. Kehujanan itu kepala kamu. Nanti sakit. Ingat masih banyak pekerjaan yang harus kita lakukan!" Rini berusaha menutupi perasaannya
" Iya, makasih, ya! Hati - hati dijalan. Khabari saya kalau sudah sampai."