" Tin ...Tin..Tin "
Mobil yang dikemudikan Rini sampai di depan sebuah rumah yang sangat mewah. Pagar hitam yang tinggi membatasi penghuni rumah dengan lingkungan sekitar
" Malam Non! " pintu pagar di buka, mobil meluncur masuk kedalam. Rini turun dengan santai, tak lupa dia membawa tas hitam miliknya dan satu bungkus plastik putih yang berisi roti tawar tadi.
" Tolong parkir kan ya, Pak! " wanita cantik itu berjalan melengang masuk kedalam rumah.
" Nona mau makan dulu, atau mau istirahat dulu? " tanya wanita paruh baya yang setia bekerja dengannya entah sudah berapa tahun.
" Nggak usah Mbok, saya mau mandi terus istirahat saja." dengan sopan Rini masih tetap menyapa sebelum masuk kedalam kamarnya
Cepat Rini membersihkaan dirinya kemudian, bergegas berpakaian dan menyisir rambutnya. Bibir nya tak henti - hentinya tersenyum. Ada rasa berbeda yang sekarang dia rasakan.
" Andi!" di jatuhkan badannya diatas kasur ukuran besar yang sangat empuk.
Tidak sengaja bibirnya terus saja menyebut nama itu.
Tiba - tiba Rini teringat pada bungkusan plastik putih yang ditaruh di pojok meja kamarnya.
Pelan - pelan dia membuka karet gelang berwarna merah yang mengikat bungkusan kertas di dalamya.
" Hem..harum!" diambil nya satu potong roti, kemudian di masukan kedalam mulut. Pelan tapi pasti sepotong roti itu masuk ke dalam mulutnya.
" Hem..enak!" awal nya ragu - ragu mengigit roti bakar itu, lama kelamaan tidak berasa Rini sudah menghabiskan setengah dari roti bakar nya
Lekas dia mengambil ponselnya kemudian mulai mengechat satu nama yang sekarang ada di dalam kontak diponselnya.
(' Assalamualaikum Andi, kamu sudah tidur, ya.
Aku sudah sampai setengah jam yang lalu. Benar kata kamu, roti bakarnya emang benar - benar enak!" )
Cling ! pesan pun terkirin
Tidak butuh waktu lama, pesan balasan pun masuk
Cling!
( " Wa,alaikum salam...Hey sudah sampai, Alhamdulillah!" )
( " Benarkan kata aku, enak kan rotinya, kapan - kapan kamu cobain ya, versi hangatnya, pasti kamu lebih suka de! Oh ya, makasih banyak ya traktirannya tadi." )
Pelan tapi pasti mulai terjalin komunikasi antara Rini dan Andi.
Rini yang tegas, ambisius, dan dingin. Sekarang mulai merasakan perasaan cinta. Dan itu adalah sisi lain dari nya. Yang tidak semua orang ketahui.
*****
" Pagi, Bu Rini!" hampir setiap orang yang bertemu dengannya menyapa nya dengan hormat. Wangi parfumnya menyeruak keseluruh koridor kantor. Bahkan sebelum orangnya terlihat.
Sesekali Rini tersenyum dan mengangguk kecil untuk membalas sapaan orang yang ditemuinya.
Berangkat lebih awal adalah kebiasaan nya. Kebiasaan yang jarang di dapati seorang CEO seperti nya.
" Pagi, Bu ! " Gadis salah satu stafnya yang juga selalu berangkat pagi
" Pagi ! Loh kamu juga sudah sampai, ya! Apa yang lainnya juga sudah sampai? " bukan yang lain maksud Rini, tetapi Andi. Sosok yang membuatnya tidak bisa tidur memikirkan nya semalaman.
" Belum, Bu! Biasanya sebentar lagi juga mereka sampai, lalu sarapan deh bareng - bareng disini!" ujar Gadis yang tidak lagi takut - takut pada Rini seperti dulu
Menurut pandangan mereka, Bos wanitanya ini tidak lagi menakutkan seperti dulu. Beliau lebih ramah, dan terlihat penuh dengan senyuman di wajahnya
Benar saja, tak lama kemudian
" Pagi, Bu!" Rini sempat diam terkesima beberapa detik. Sosok didepannya benar - benar membuat hatinya tidak karuan seperti abg yang salah tingkah karena melihat crush nya.
" Eh iya, Pagi! berusaha mengendalikan perasaan nya, dan bersikap normal
" Masyaallah, ganteng banget." puji Rini dalam hati, begitu melihat Andi datang dengan baju kemeja warna abu - abu. tangan panjang dan di gulung sampai selengan.
" Bu maaf, ini Rowndown acaranya sudah saya buat, ibu mau periksa? " begitu juga dengan Andi terlihat sedikit gugup, walaupun berusaha sebisa mungkin menutupi perasaannya
" Heh iya bawa ke ruangan saya biar nanti kita Koreksi sama - sama.
Rini bicara sambil melengang masuk kedalam ruangannya
Wangi parfum vanila masih meninggalkan bekas. Meskipun si pemakai nya sudah berlalu masuk kedalam ruangan nya.
Sementara Ratna dan Gadis hanya bisa diam dan saling menatap, mereka diam bukan berarti mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Walaupun mereka hanya sekedar menebak - nebak, tetap saja mereka tidak ada yang berani angkat bicara, ataupun membuat gosip di sana.
" Gimana, coba saya lihat!" Andi dan Rini sedang sibuk mendiskusikan acara yang akan mereka buat, dua bulan kedepan nanti.
" Bagaimana budget nya, Bu. Apa menurut Ibu, ini bisa masuk?" tanya andi agak kikuk
**
Mereka berdua terlihat sering berdiskusi bersama, tentu saja ditengah kesibukan pekerjaan mereka.
Ide - ide Andi yang kreatif, segar dan menarik, apalagi di tambah cara penyampaian pendapatnya yang lugas, membuat Rini semakin terpesona.
Begitu juga dengan.Andi, walaupun dia tahu kalau Rini adalah atasannya, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya. Rasa kagumnya pada Rini semakin besar.
Baik dari sifat kecerdasan nya mau pun sisi kelembutan nya, Yang terlihat setiap mereka berdua berinteraksi dan idak semua orang tahu akan hal itu
" Kamu lelah, sebentar saya suruh OB antar minuman buat kamu, Ya." ini salah satu bentuk perhatian kecil Rini yang membekas dihati Andi
" He..iya, terima kasih, Bu!" Andi berusaha sekuat tenaga untuk melawan perasaannya, karena dia sadar betul, kalau Rini adalah atasannya.
Tapi dasar cinta, selalu bisa mencari jalannya sendiri.
Karena acara yang akan diselenggarakan oleh divisi yang Rini pimpin semakin dekat, otomatis pertemuan mereka juga semakin sering
Tentu saja itu semua membuat cinta mereka semakin tumbuh dan bersemi.
Sampai pada suatu kesempatan, Rini tidak dapat lagi menyimpan dan membendung perasaan nya.
" Andi, maaf! Aku tahu ini sulit dan sedikit ruwet, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri...." mengantung tidak jelas, sebelum akhirnya Rini berkata...
" Saya tidak bisa terus berpura- pura tidak ada apa - apa, Saya menyukai mu, Andi!" katanya pelan
Andi diam dan binggung, sesaat dia tidak bisa mengendalikan dirinya, Tapi akhirnya Andi memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan nya.
" Aku juga menyukai mu, aku mencintaimu, Rini!"
" Tapi aku takut semua membuat kamu, sulit, dan menjadi beban pikiran untukmu." baru kali ini Andi bicara dengan mode serius dan sungguh - sungguh
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bersama. Tapi mereka sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka untuk sementara waktu.
karena mereka tahu hubungan ini tidak mudah, bahkan cenderung rumit.