":Masa iya, sih! Ko bisa sih! Tega banget, Sih!" terus saja kata - kata itu memenuhi kepalanya
Gadis yang mendapat tugas langsung dari atasannya untuk mengetahui apa yang terjadi di divisinya, terus saja bekerja diam - diam. Hari pertama dia mendapatkan tugas itu. Dia terus saja mengamati diam - diam seluruh rekan kerja nya tanpa terkecuali..
Pengamatan Gadis tertuju pada Lia. di mata semua rekan kerja, Lia memang.menyukai Andi. Terlihat jelas Lia berusaha mendekati Andi. Tapi sejauh ini tidak ada yang salah pada Lia. Mereka memang seumuran, jadi wajar kalau jatuh cinta. Sampai akhirnya...
Fakta dan bukti - bukti memang menjurus ke Lia.
Seperti...
Suatu pagi Gadis datang terlalu pagi. Karena merasa bosan dia akhirnya pergi ke pantry berniat membuat segelas kopi s**u.
" Pagi Bu Gadis! Ko tumben, Ibu pagi - pagi udah datang, ibu mau apa? Apa mau buat teh manis? Biar saya buatkan Bu?" dengan sopan salah satu
OB wanita itu melayani nya
" Eh iya mbak! Saya kepagian ini. Saya mau buat teh manis, tapi ini ada kopi s**u, jadi saya buat ini aja deh! ujar Gadis sambil mengambil sendok dan gelas
" Lo.jangan, Bu! Maaf itu punya mbak Lia, Bu Gadis! dengan sopan OB itu mengambil kopi s**u di tangan Gadis lalu menyimpannya lagi di laci pantry
" Oh maaf, saya nggak tahu? Tapi sebanyak ini, Lia suka banget kopi, ya?"
" Itu bukan cuma buat mbak Lia, itu juga buat Mas Andi!" dengan polos dia berkata
" Ha..ko bisa, buat Andi?" Gadis mulai penasaran
" Gini lo, Bu? Mbak Lia itu suka banget, cinta mati deh pokoknya sama Mas Andi. Mbaak Lia ngelarang saya bikin minuman buat Mas Andi. Pokoknya sehari tiga kali, Mbak Lia sendiri yang buatin. Pokoknya effort banget deh, Bu!"
" Ha! Masa iya sih, Mbak!" Gadis mulai penasaran
' Iya Bu! Bener! Masa saya bohong!"
" Lah terus, gimana sama Andi nya, di terima nggak kopi s**u buatan Lia setiap hari?" mereka makin terlibat dalam gosip yang panas
" Awalnya nggak terima, Bu! Mas Andi nolak terus, Tapi wong Mbak Lia gigih, ya...lama - lama, Mas Andi capek juga nolaknya. Akhirnya Mas Andi diam saja, Terima - terima aja di buatin kopi s**u terus sama mbak Lia.
" Oh....!" Gadis terus saja berusaha mengorek - ngorek cerita
Setelah mendapat informasi yang lumayan akurat, Gadis keluar dari pantry kemudian menuju ke meja kerjanya.
" Huh..kepagian ini! Hoahhh...!" Gadis terus saja menguap malas
Tiba - tiba dia melihat seorang OB laki -.laki sedang membersihkan ruangan.
OB itu terlihat sedang sibuk membersihkan sampah - sampah dari satu meja ke meja lainnya.
Sampah kertas itu sangat banyak. Si Ob terlihat kepayahan menarik kantong plastik hitam berisi kumpulan sampah kertas itu.
" Memang itu sampah berapa hari, Mas? Ko sebanyak itu?" tanya Gadis penasaran
" Kalau yang Ini tiga hari, bu! karena ini sampah yang harus di sortir dulu. Kalau sampah dari tempat sampah yang plastik biru itu tiap hari saya ambilnya." kata nya sopan
" Oh..iya..iya, Pantas penuh banget! " ujar Gadis menganguk - angguk.
" Permisi Bu, saya mau ambil sampah yang ini..." Gadis lekas keluar dari mejanya ketika OB juga akan mengambil sampah dari mejanya
" Iya silahkan!"
Karena Plastik hitam sudah lumayan penuh, ketika OB memasukan kembali sampah kertas dari tempat sampah di meja Gadis, otomatis sampah - sampah kertas yang lain sedikit berceceran.
Tanpa sengaja Gadis melihat ada sampah kertas yang mencuri perhatian nya, lekas Dia mengambilnya...
Betapa kagetnya Gadis begitu membaca
coret - coretan yang sangat jelas terbaca.
" Ha..! Ini nggak salah! astagfirullah aladzim! " Gadis benar - benar tak percaya membaca coret - coretan kertas, atau yang lebih tepatnya lagi, curhatan hati, Lia
"A_ ada apa, Bu? tanya OB penasaran melihat ekspresi wajah Gadis
" Hem...nggak apa- apa ko, Mas! Sudah? Makasih, Ya!"
Hari itu Gadis mendapat bukti banyak. Dan hari ini dia berjanji akan lebih memperhatikan gerak - gerik Lia.
Hari semakin siang, satu persatu rekan kerjanya mulai datang.
Suasana kantor mulai ramai.
" Pagi Bu!
" Pagi juga!" jawab Gadis tanpa melihat orangnya, dan ternyata Lia Yang menyapapa nya
Seperti biasa Lia terlihat cantik dan fresh, kasian juga Gadis melihat nya. Mengigat bagaimana dia seeffort itu berusaha menarik perhatian Andi, sedangkan Andi tidak menyukainya.
" Pagi Bu Gadis!"
" Pagi Andi! Tumben siang, Biasanya pagi terus!" ujar Gadis sambil matanya terus mengarah ke meja kerja Lia
" Iya Bu! Ada urusan sedikit tadi! " jawab Andi santai
Dan benar saja, mata Lia tak henti - hentinya memperhatikan sosok Andi yang baru saja sampai.
Tak lama kemudian terlihat Lia bangun dari duduknya, dan berjalan ke pantry.
Lima menit kemudian, Lia.kembali lagi dengan dua gelas kopi di tangannya.
Gadis terus saja memperhatikan mereka berdua, memang meja kerja mereka tidak jauh letaknya hanya terhalang dua meja.
" Ini kopi s**u kamu, Andi! Diminum, Biar nggak ngantuk!" ujar Lia dengan senyum manisnya
" Aduh...makasih banyak,Lia! Tapi besok - besok nggak usah repot- repot ya, Biar aku buat sendiri, Atau minta tolong OB aja." ujar Andi santai
Gadis terus saja memperhatikan interaksi dua orang itu. Sambil sesekali tangannya tetap bekerja. Gadis berusaha agar mereka berdua tidak tahu kalau sedang diperhatikan.
Bel jam kerja sudah dimulai sejak tadi, suasana kantor terlihat sepi, sesekali hanya terdengar suara mesin printer yang berderit teratur.
Dan sesekali terdengar langkah sepatu pantofel salah seorang staf.
Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Satu persatu mulai merapihkan meja kerjanya. Mereka mulai berjalan menuju kantin.
Begitu juga dengan Gadis, Perutnya sudah memulai pertunjukan konser.
Menandakan kalau cacing - cacing diperutnya sudah mulai kelaparan. Apalagi tadi pagi dia datang terlalu cepat. Sampai - sampai tidak sempat sarapan. Hanya segelas teh manis dan sepotong roti yang menganjal perutnya.
Bersama rekan- rekan yang lainnya, Gadis berjalan menuju kantin. Belum sampai ke kantin. Langkah kaki Gadis terhenti. Ketika didepannya berdiri dua orang yang sedang berbincang ,- bincang sangat serius.
" Lo itu Lia lagi bicara sama siapa, ya! Kayanya dia Direktur Pemasaran ya? "
tanya Gadis pada rekannya yang lain
" Iya,bItu Pak Iwan! Direktur pemasaran. Itu kan Pamannya Lia! Emang bu Gadis nggak tahu? Lia itu masuk ke
perusahaan ini juga karena rekomendasi Pak Iwan, Pamannya sendiri."
DEG
Gadis terdiam sesaat, sebelum akhirnya bisa menarik benang merah dari semuanya.
" Oh..! Gitu! Saya baru denger! Ya udah ayok kita ke kantin! Perut saya udah laper bener nih!" ujar Gadis mengalihkan pembicaraan