Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang tengkukku membuatku otomatis kehilangan keseimbangan. Saat aku terhuyung dan hampir jatuh ke lantai, seseorang menjambak rambutku dan menyeretku kuat hingga ke tepi danau. Aku merintih pelan. Aku ingin berteriak, namun jambakan di rambutku membuat kepalaku menengadah sehingga aku tercekat dan sama sekali tidak bisa untuk berteriak.
Belum habis keterkejutanku, mendadak penyerangku mendorongku keras dan menceburkanku ke danau. Aku terkejut setengah mati. Terkejut karena serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh penyerangku, sekaligus terkejut karena ternyata danau itu jauh lebih dalam daripada yang kubayangkan.
Keterkejutanku membuatku tenggelam. Air danau langsung memenuhi hidung, mulut dan seluruh rongga tubuhku. Aku meronta, mencoba menyingkirkan air yang berebutan masuk dalam tubuhku, tapi semakin aku meronta, semakin banyak air yang tertelan olehku.
Dalam kepanikan, aku mencoba menenangkan diri. Saat aku lebih tenang, aku mencoba menjejak dasar danau dan berusaha naik ke permukaan danau. Aku tidak bisa berenang, tapi aku ingat dulu ayahku pernah mengajariku untuk terus menggerakkan kakiku agar aku bisa bertahan di permukaan air. Dan itulah yang kulakukan. Sekalipun lelah, aku terus menjejak kakiku sehingga aku bisa naik perlahan ke permukaan danau. Setibanya di permukaan danau, aku mencoba menggapai apapun yang bisa membantuku mengapung, tapi sialnya aku tidak bisa menemukan apapun.
Aku mencoba menggapai tepi danau yang tidak terlalu jauh, tapi entah kenapa sekalipun aku mencoba mendekati tepi danau, posisiku sama sekali tidak berubah. Aku seolah masih terus berada di tempatku.
“To… long… Tolong,” rintihku perlahan.
Aku mencoba berteriak meminta tolong, namun suaraku hanya terdengar oleh telingaku sendiri. Aku mulai putus asa. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku, berharap ada seseorang yang bisa menolongku. Dan saat itulah aku melihat dia.
Saat itulah aku melihat Natasha!
Sekalipun aku tidak bisa bisa melihat jelas wajah sosok yang terduduk di lantai itu, aku bisa memastikan bahwa itu adalah Natasha. Tapi kenapa dia di sana? Kenapa dia tidak menolongku? Atau jangan-jangan, dia yang barusan menyerangku?
Aku belum sempat memikirkan apa-apa saat seseorang memanggil namaku. Aku reflek menoleh ke sumber suara. Dan begitu melihat Devon yang menatapku panik dan tanpa aba-aba mendadak melompat ke dalam air, aku menangis keras, lega karena aku masih bisa hidup, namun juga karena aku ketakutan setengah mati.
*
“Lo nggak pa-pa, Ta?” tanya Devon cemas setelah Devon mengangkatku dari air dan membaringkanku di rerumputan tepat di tepi danau.
Aku terbatuk hebat. Hidungku luar biasa perih. Sebentar-sebentar, air keluar dari mulutku. Devon menatapku cemas. Saat aku beringsut duduk, Devon membantuku dan menepuk pelan punggungku.
“Demi Tuhan, Ta, lo bikin gue jantungan aja,” omel Devon tanpa melepaskan tangannya dari punggungku.
Aku memejamkan mataku sejenak, mencoba menenangkan seluruh anggota tubuhku juga diriku sendiri. Setelah agak tenang, aku baru melirik Devon pelan.
“Thank, Von,” kataku lemah.
Devon menatapku cemas sambil menggeleng pelan. “It’s ok, Ta. Yang penting lo sudah nggak pa-pa sekarang.”
Aku mengangguk pelan. “Gue sudah nggak pa-pa kok.”
Devon tersenyum tipis. “Baguslah kalau begitu,” katanya pelan. “Apa yang sebenernya terjadi, Ta? Kenapa lo bisa tenggelam? Kenapa lo ke sini lagi malam-malam begini?” tanya Devon tak sabar.
“Gue nggak bisa tidur. Gue memikirkan kakak lo dan akhirnya memutuskan untuk nyari dia sekali lagi di sini. Tapi gue nggak nemuin kakak lo. Alih-alih nemuin kakak lo, ada yang mukul tengkuk gue dari belakang gue. Waktu gue kesakitan, orang itu jambak gue, nyeret gue dan akhirnya ceburin gue ke danau,” kataku lemah sambil bergidik ketakutan.
Devon membelalak kaget menatapku. Dia jelas-jelas tak percaya dengan apa yang baru saja kuceritakan padanya.
“Ada yang mukul tengkuk lo, jambak lo dan ceburin lo ke danau, Ta?” ulangnya sangsi.
Aku mengangguk perlahan. “Gue tahu ini sulit dipercaya, tapi Von, gue mulai takut. Kayaknya semua cerita Davina ke gue kapan hari itu memang nyata.”
Devon mematung. Dia jelas-jelas tampak syok. Mungkin sedikit banyak Devon mulai membayangkan kakaknya sendiri mengalami pengalaman sepertiku. Bedanya hanyalah aku selamat dan Davina tidak.
Sekali lagi aku bergidik memikirkan kemungkinan itu. Aku bisa saja tidak selamat seperti Davina kalau saja tidak ada Devon yang menolongku tepat waktu.
“Apa lo sempet ngeliat siapa yang sudah nyerang lo dari belakang tadi?” tanya Devon serius.
Aku menatap Devon lesu lalu menggeleng perlahan. “Sayangnya gue nggak ngeliat, Von. Posisi gue tadi lagi ngeliatin danau waktu tengkuk gue dipukul. Dan begitu dipukul, gue kesakitan dan nggak sempet lagi buat ngeliat penyerang gue. Begitu pula saat gue dijambak dan diceburin ke danau,” kataku pelan. “Gue sempet tenggelem, Von, jadi gue nggak sempet ngeliat siapapun yang ngeceburin gue ke danau. Tapi waktu gue sudah berada di permukaan danau, gue sempet ngeliat satu orang, Von.”
Devon mendelik menatapku. Aku mulai tak yakin apa aku harus menceritakan tentang Natasha. Aku memang melihat Natasha tadi, tapi aku sama sekali tidak yakin bahwa Natasha yang tega melakukan semua hal itu padaku. Maksudku, iya, aku tahu dia membenciku setengah mati. Tapi aku tidak yakin dia sebenci itu padaku sehingga punya niat untuk membunuhku. Salah, bukan hanya niat, tapi sudah ada usaha untuk membunuhku. Rasanya itu tidak mungkin. Atau, mungkinkah aku salah?
“Siapa, Ta? Siapa yang kamu liat tadi?” desak Devon tak sabar.
“Bukan pembunuh Davina, Von. Dan gue nggak yakin kalau dia yang ngelakuin semua ini ke gue.”
Devon kembali menatapku terkejut. “Maksud lo, ada seseorang di sini sebelum gue dan dia nggak berusaha nolongin lo?”
Aku mengangguk pelan.
“Lo yakin bukan dia yang ngelakuin ini ke elo? Kalau bukan dia yang ngelakuin ini ke elo, kenapa dia nggak nolongin lo?”
Aku menggeleng dan mengangkat bahu pelan. “Gue juga nggak tahu, Von. Yang jelas dia bukan pembunuh kakak lo.”
Devon masih menatapku seolah menunggu jawabanku. Terpaksa aku menjawab pertanyaan Devon yang tersirat dari matanya. "Natasha. Gue nggak tahu lo kenal atau enggak sama dia, tapi dia itu temen satu sekolah gue. Kami memang nggak seberapa cocok. Di mata gue, dia selalu cari gara-gara ke gue. Dia benci sama gue, tapi gue nggak yakin dia sebenci itu sama gue sampai-sampai mau melakukan ini ke gue.”
“Lo harus tetep curiga sama dia, Ta. Dia punya motif buat ngelakuin ini ke elo. Dia juga satu-satunya orang yang ada di sini sekarang. Jadi lo harus tetep hati-hati sama dia, Ta,” kata Devon pelan.
Aku mengangguk pelan. “Iya, Von, gue ngerti.”
“Dan mulai sekarang, lo nggak boleh ke hutan sendirian kayak gini, Ta. Kejadian malam ini sudah membuktikan bahwa pelatihan ini nggak beres. Pasti….”
Sebelum Devon sempat melanjutkan kata-katanya, suara-suara keras mulai mengalihkan perhatianku dan Devon. Reflek, kami membeku, menunggu apapun atau siapapun muncul dari salah satu sisi hutan itu.
***