b******k!
Aku kehilangan Talitha!
Aku sudah mencoba berlari secepat mungkin untuk menyusul Talitha, tapi begitu aku meginjakkan kakiku di hutan, sosok Talitha sudah tidak terlihat di mana-mana. Sekalipun aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku, tidak ada tanda-tanda Talitha baru melewati hutan ini. Sial, jadi ke mana aku harus pergi sekarang.
Sekali lagi aku memandangi sekelilingku, namun semuanya sama seperti sebelumnya. Semua hening. Semua gelap. Semua mengerikan. Dan tanpa tanda-tanda Talitha sedikitpun.
Aku mendadak bergidik. Saat memperhatikan pohon-pohon di kanan dan kiriku, bulu kudukku rasanya semakin meremang. Sial. Apa sebaiknya aku kembali ke tenda saja?
Otakku terus menerus menyuruhku kembali ke tenda. Toh aku tidak tahu ke mana Talitha pergi sehingga kemungkinanku untuk berhasil menemukan Talitha adalah nyaris nihil. Pilihan terpintar yang bisa kulakukan seharusnya adalah kembali ke tenda secepatnya, sebelum apapun dalam hutan ini menyerangku atau bahkan ada para penitia yang memergokiku.
Tapi, sekalipun otakku memerintahkan kakiku untuk berbalik dan kembali ke tenda, kakiku bergeming, sepertinya kakiku lebih menuruti kata hatiku. Entah kenapa, hatiku berkeras untuk menyusul Talitha sekalipun jalanan di hadapanku saat ini terlihat lebih mengerikan daripada yang kubayangkan semula.
Ah, sial. Pergulatan batinku malah membuatku semakin terlambat menyusul Talitha. Tanpa ingin banyak berpikir lagi, aku melangkahkan kakiku lebih dalam memasuki hutan. Kuputuskan untuk mengikuti hatiku kali ini. Toh aku cukup yakin aku tidak akan bisa tidur dan bahkan mungkin aku akan menyesal kalau aku kembali ke tenda tanpa tahu rahasia Talitha sama sekali.
Aku menguatkan hatiku. Kuabaiakan suara-suara hewan malam yang mulai memenuhi gendang telingaku. Tidak kuacuhkan semilir angin dingin yang terus meneruskan menerpa wajahku. Satu-satunya yang kupedulikan sekarang hanyalah mencari Talitha.
Sambil melangkah menginjak dedaunan kering yang tersebar di lantai, aku mulai memikirkan alternatif ke mana Talitha pergi. Dan begitu aku berpikir tentang itu, otakku langsung menyebut satu jawaban pasti.
Danau.
Aku tersenyum tipis saat jawaban itu muncul tiba-tiba di otakku. Benar. Talitha pasti ada di dekat danau. Di mana lagi dia akan berada kalau bukan di tempat itu. Dengan rasa penasaran yang semakin membuncah, aku mulai mempercepat langkahku menuju danau.
*
Brengsek, b******k, b******k!
Aku tidak menyangka aku akan tersesat di hutan ini! b******k! Aku tidak membawa arloji ataupun ponsel, jadi aku tidak tahu berapa lama aku telah berjalan dan berputar-putar di hutan ini, tapi aku cukup yakin ini mungkin sudah lebih dari setengah jam!
Sial. Harusnya aku ingat kalau aku pernah tersesat di hutan. Saat itu langit malah belum gelap seperti sekarang. Apa coba yang ada di pikiranku hingga aku nekad mengulangi kembali kesalahanku hari ini?
Ah, b******k, sebenarnya ini bukan salah otakku. Dari tadi dia sudah memintaku untuk kembali ke tenda walaupun sama sekali tidak memperingatkanku tentang kondisiku yang pernah tersesat sebelum aku ini. Sial, sial, sial.
Aku berusaha menahan air mata yang mendadak mulai menumpuk di kelopak mataku. Aku juga mulai merapatkan jaketku saat suara-suara binatang malam mulai terasa mengerikan di telingaku. Bahkan saat seekor tupai mendadak melompat dari pohon ke tanah yang berada tepat di depanku, aku terlonjak kaget dan berteriak panik. Kali itu, air mataku benar-benar mulai mengalir deras.
Sial. Harusnya aku tidak mengikuti Talitha tadi. Harusnya aku mengikuti otakku yang berulang kali menyuruhku kembali ke tenda. Sial!
Aku masih sesegukan ketika mendadak aku mendengar rintihan kesakitan seseorang. Jantungku langsung terasa berhenti sejenak. Mataku membelalak kaget. Nyalang, aku mulai mengamati sekitarku sambil mencoba mengenali suara rintihan yang semakin lama semakin menghilang itu.
Hening. Sekarang mendadak semuanya hening. Saat aku menajamkan telingaku dan mulai meningkatkan keawasanku, suara rintihan itu mulai hilang sepenuhnya. Jantungku semakin menderu. Apakah barusan adalah rintihan seseorang? Tapi rintihan siapa?
Aku mencoba mengingat-ingat bunyi rintihan itu. Dari suaranya, itu jelas suara wanita. Dan entah kenapa, aku merasa agak familiar dengan suara itu. Aku kembali berkonsentrasi untuk mengingat-ingat di mana aku pernah mendengar suara seperti itu. Begitu aku mendapatkan jawaban atas rasa penasaranku, aku membelalak kaget.
Talitha.
Itu suara Talitha!
Sekalipun hanya dalam bentuk rintihan, aku tidak mungkin salah mengenali orang yang bisa dibilang paling kuperhatikan sepanjang setengah tahun terakhir.
Bulu kudukku kembali meremang. Ketakutan mulai menderaku. Apa yang terjadi pada Talitha?
Belum sempat aku berpikir tentang apa yang harus kulakukan sekarang, suara ceburan keras terdengar di telingaku.
Apa itu tadi? Seseorang tercebur di danau? Benarkah?
Sekali lagi jantungku seolah berhenti berdetak sebelum menderu secepat kereta api. Reflek, aku berdiri dan berlari ke arah suara yang sepertinya tidak terlalu jauh dari posisiku sekarang.
Rasanya aku tidak pernah berlari secepat ini dalam hidupku. Aku melupakan air mataku. Aku melupakan ketakutanku. Satu-satunya yang aku tahu hanyalah aku harus berlari cepat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Aku berhenti berlari saat aku hampir tiba di dekat danau. Sambil mengatur napasku, aku mulai melirik sisi danau. Tidak ada siapapun di sana. Jadi suara apa yang tadi kudengar? Tadi jelas-jelas ada suara ceburan air dan danau merupakan satu-satunya sumber air di sini.
Penasaran, aku memberanikan diri untuk melangkah mendekati danau. Belum benar-benar tiba di depan denau, mendadak sesuatu muncul dari dalam danau.
Aku membelalak kaget. Aku memekik. Aku bahkan jatuh terduduk di tanah saking terkejut dan takutnya.
Aku masih menatap tak percaya tangan yang menggapai dari dalam air. Hanya selang beberapa detik kemudian, kepala Talitha menyembul dari dalam air sambil terbatuk-batuk.
Aku menganga melihat Talitha. Talitha pun menatapku dengan tatapan yang seolah ingin meminta tolong. Tapi aku tidak bisa bergerak sama sekali. Aku terlalu terkejut dan luar biasa takut dengan apa yang baru saja kulihat.
Saat aku mulai bisa menggerakkan tubuhku, alih-alih bergerak maju untuk menolong Talitha, aku malah merasa aku mulai bergerak mundur menjauhi Talitha. Dan saat tiba-tiba ada seseorang yang berlari lalu menyebur ke danau untuk menyelamatkan Talitha, aku perlahan bangkit berdiri dan lari secepatnya keluar dari hutan.
Aku tidak tahu kenapa air mataku terus menerus mengalir dari mataku saat aku berlari menjauh dari Talitha. Apa aku merasa bersalah karena aku hanya diam tadi? Tapi aku sungguh syok. Aku sungguh tidak bisa bergerak. Dan bahkan sama seperti Talitha, aku tidak bisa berenang. intinya, tidak ada satu hal pun yang bisa kulakukan sekalipun aku sangat berniat membantu Talitha. Tapi, kenapa aku tetap merasa bersalah?
Aku terus berlari, berusaha keluar dari hutan. Dan ajaibnya, saat sedang terdesak seperti ini, aku malah tidak tersesat sedikitpun. Rasanya tidak sampai lima belas menit, aku sudah kembali ke tendaku, meringkuk sendirian sambil menangis sesegukan tanpa suara, dengan intensitas tangisan yang jauh lebih parah daripada saat aku berada di hutan tadi.
***
***