Sial. Gara-gara Davina, aku sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan semua yang pernah diceritakannya padaku. Sekalipun aku sudah berkonsetrasi mendengarkan materi saat sesi berlangsung, tidak ada satu katapun yang berhasil tertangkap sempurna di otakku. Aku bahkan tidak merasa menyesal, malu atau perasaan apapun saat aku dan Devon menjadi satu-satunya tim yang gagal mengumpulkan amplop.
Bukan hanya itu. Setelah lelah fisik dan mental karena padatnya acara yang harus kulalui hari ini plus dengan kejutan tentang identitas Davina yang sebenarnya, aku bahkan masih belum bisa memincingkan mataku sedikitpun malam ini!
Sial, sial, sial….
Sosok Davina benar-benar menawan otakku. Saat Davina kupikir adalah manusia, ada setitik ragu yang kupunya tentang semua ceritanya. Maksudku, iya, aku percaya padanya begitu tahu Devon dan Tim terlibat bersamanya tapi tetap saja ceritanya sangat tidak masuk akal dan aku lebih memilih percaya bahwa semua panitia yang ada di sini merupakan orang yang baik, bukan seorang pembunuh.
Namun dengan adanya fakta baru tentang Davina, otomatis membuat semuanya berubah. Aku mungkin tidak terlalu mengenal Davina, tapi paling tidak aku tahu Davina tidak mungkin berbohong. Dan jika semua yang dikatakan Davina itu benar berarti pelatihan ini memang menyimpan seorang pembunuh. Tapi siapa?
Merasa percuma jika aku memaksakan untuk tidur, aku memutuskan untuk mencari udara segar di luar tendaku. Tapi baru semenit berada di luar tenda, mendadak aku punya keinginan liar untuk kembali ke hutan dan mencari Davina. Aku memang tidak berhasil menemukan Davina tadi, tapi entah kenapa aku yakin aku bisa menemukan Davina jika aku ke danau, sama seperti saat terakhir aku menemuinya.
Aku menimbang keinginanku. Benarkah aku akan nekad pergi ke hutan? Saat aku melangkahkan kakiku ke hutan, aku bukan saja mempertaruhkan pelatihanku, tapi juga mungkin hidupku. Jika aku ketahuan oleh salah satu panitia, aku percaya aku pasti akan langsung didiskualifikasi. Bukan hanya tidak menyelesaikan pekerjaan yang harusnya kulakukan, tapi aku juga sengaja melanggar peraturan. Aku justru akan heran jika aku bisa lolos begitu saja. Dan yang lebih mengerikan, jika memang ada pembunuh di antara salah satu panitia di sini, berarti nyawaku juga akan terancam. Sedikit banyak pembunuh itu pasti akan mencurigai aku. Jika pembunuh itu tak segan menghabisi nyawa Davina, aku percaya dia juga tidak akan segan menghabisiku.
Sial, apa yang harus kulakukan?
Demi keamanan diriku sendiri, seharusnya aku tetap di sini. Seharusnya aku tidak perlu mengambil risiko ke hutan. Toh aku juga belum tentu bisa menemukan Davina di hutan.
Aku menghela napas panjang. Ya, begitu saja. Lebih baik aku mencari aman. Lebih baik aku mengistirahatkan diriku terlebih dahulu dan baru membicarakan semua hal ini dengan Devon besok. Bahkan Devon yang lebih berkepentingan saja masih syok dan beristirahat di tendanya.
Aku berbalik masuk ke dalam tenda dan mulai beringsut masuk ke kantong tidurku. Aku mencoba memejamkan mataku kembali, tapi begitu memejamkan mata, berbagai pertanyaan mulai memenuhi otakku dan otomatis membuatku nyalang.
Siapa yang membunuh Davina? Kenapa Davina harus dibunuh? Kenapa aku bisa melihat Davina padahal aku sama sekali tidak punya kemampuan supranatural? Kenapa Davina tidak membalas langsung siapa pembunuhnya? Apa Davina bahkan tidak tahu siapa yang membunuhnya? Apa yang diinginkan Davina dariku? Bantuan apa yang ingin diminta Davina padaku sebelum pembicaraan kami terputus gara-gara kedatangan Natasha tempo hari.
Sial!
Aku kembali beringsut keluar dari kantong tidurku. Tidak, tidak bisa. Aku tidak mungkin bisa tidur dengan rasa penasaran sebesar ini.
Tanpa ragu, aku meraih jaket dan senterku, lalu mulai melangkah perlahan keluar dari tenda. Begitu tiba di luar tenda, aku melirik ke kanan dan kiriku, memastikan tidak ada panitia yang memergokiku. Sekalipun aku mengambil risiko, aku tetap tidak ingin ketahuan. Sebisa mungkin aku harus membantu Davina tanpa mengorbankan posisiku di pelatihan ini.
Aman. Tidak ada siapapun yang tampak sedang berada di luar tenda sekarang. Aku tahu para panitia masih mengawasi hutan, jadi aku harus berhati-hati saat mendekati hutan. Setelah aku yakin tidak ada siapapun di sekitarku maupun di dekat tepi hutan, aku buru-buru berlari kecil memasuki hutan.
*
“Davina! Davina!”
Aku mendesis kecil memanggil nama Davina begitu aku tiba di tepi danau. Sambil merapatkan jaketku dan berusaha menyingkirkan rasa takutku, aku melangkah hati-hati sambil terus mendesiskan nama Davina.
Sial, Davina tidak tampak di mana-mana dan hutan ini terasa jauh lebih menyeramkan begitu aku tahu bahwa Davina sebenarnya bukan manusia.
Aku berusaha tidak mengacuhkan bulu kudukku yang meremang. Sambil mengumpulkan semua stok keberanianku, aku mulai berjalan ke sekeliling danau dan tak henti-hentinya mendesiskan nama Davina. Tapi sepertinya usahaku sia-sia. Sekalipun aku sudah mencari di sekeliling danau dua kali, sekalipun aku sudah mendesiskan nama Davina entah berapa puluh kali, Davina tetap tidak tampak di manapun. Aku bahkan memberanikan diriku untuk masuk lebih dalam ke dalam hutan untuk mencari di tempat terakhir aku bertemu dengan Davina. Tapi hasilnya nihil. Yang kutemukan hanyalah pohon-pohon yang menjulang tinggi, yang semakin menambah ketakutanku dari detik ke detik.
Aku kembali merapatkan jaketku dan melangkah perlahan kembali ke tepi danau. Suara jangkrik dan hewan-hewan malam samar-samar memenuhi area hutan. Selain itu, sama sekali tidak ada suara lain. Bahkan injakan sepatuku pada ranting yang tergeletak di tanah maupun dedaunan kering, terdengar jelas di telingaku.
Sial. Kenapa Davina mendadak seolah menghilang seperti ini? Bagaimana caraku bisa menemui Davina dan mendapat informasi tambahan dari Davina? Dan kenapa Davina mendadak menghilang begini di saat harusnya dia bisa menjelaskan segala hal padaku?
Saat aku tiba di tepi danau, aku kembali mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Sayangnya, tetap tidak ada tanda-tanda Davina di sana. Perlahan, ingatan tentang Davina mulai memenuhi benakku. Saat pertama kali aku melihatnya, Davina sedang berdiri di bawah pohon sambil menatap kosong ke arah danau. Aku melangkahkan kakiku ke pohon tempat Davina dulu berdiri. Kuarahkan pula pandanganku ke arah danau.
Jujur saja, aku bisa dibilang tidak mengenal Davina sama sekali. Namun ketika aku tengah berdiri di tempat Davina dulu, mendadak aku bisa membayangkan jika aku berada di posisinya. Mendadak aku juga mengerti kenapa Davina mulai mendekatiku hingga mengarang cerita soal sahabatnya yang hilang.
Selama satu tahun terakhir Davina pasti sangat frustasi. Dia tidak bisa meminta tolong pada siapapun karena tidak ada yang bisa melihat kehadirannya. Kemungkinan besar dia pun tidak bisa melakukan apa-apa pada pembunuhnya. Karena itulah dia membutuhkan aku. Karena itulah dia menceritakan kisahnya padaku, walaupun dengan cara berbohong padaku.
Tentu saja aku kesal karena Davina membohongiku. Tapi setelah aku tenang dan memikirkan semuanya, aku mulai mengerti kenapa Davina berbohong padaku. Davina pasti tahu aku akan ketakutan dan menjauhinya kalau aku tahu dia bukan manusia. Mungkin karena itulah dia sengaja mengarang cerita untuk menjelaskan situasinya padaku.
Aku menghela napas panjang. Andai saja dari awal aku tidak tahu apa-apa soal ini. Andai saja aku tidak bisa melihat Davina. Andai saja dari awal aku bisa tegas menolak Davina untuk membantu menyelesaikan masalahnya. Tapi sekarang semua terlanjur terjadi. Aku terlanjur tahu tentang masalah Davina. Aku tahu aku tidak akan mungkin tenang jika tidak membantu Davina dan Devon dalam menyelesaikan masalah ini. Yah, sekalipun aku juga tidak tahu aku harus mulai dari mana untuk membantu kasus ini.
“Dav! Lo di mana sih? Kemarilah dan ceritakan padaku tentang pembunuh kamu! Kemari dan katakan bagaimana caranya aku bisa membantu kamu!” kataku mulai tak sabar.
Hening. Hutan itu tetap hening. Bahkan semilir angin pun tak terdengar.
Aku kembali menghela napas panjang. Kalau tahu akan gagal bertemu dengan Davina, mungkin seharusnya aku tidak nekad masuk ke hutan ini.
Agak kecewa, aku memutuskan untuk kembali ke tendaku. Mungkin sebaiknya aku menunggu Davina yang menemui aku. Entah Davina sadar aku telah tahu identitasnya atau tidak, aku cukup yakin dia akan menemui aku kembali.
Aku baru akan berbalik kembali ke tenda saat suara gemerisik tertangkap indera pendengaranku. Namun sebelum aku sempat berbalik dan melihat siapa atau apa yang telah membuat suara gemerisik itu, mendadak ada sebuah benda tumpul kasar yang menghantam tengkukku. Belum sempat beradaptasi dengan rasa sakit yang membuat kepalaku berdenging, seseorang menarik kasar lenganku dan tanpa belas kasihan, menyeretku melewati dedaunan kering dan melemparkanku tanpa ragu ke dalam danau.
***