Chapter 19 - Natasha

1091 Kata
Ada yang aneh dengan Talitha. Selama kurang lebih setengah tahun aku mengenalnya, aku belum pernah melihat kondisi Talitha yang seaneh ini. Tidak, tidak, aku bukan merujuk pada wajahnya yang pucat atau matanya yang seolah bingung, tapi aku merujuk pada sikap Talitha yang berubah padaku. Benar-benar berubah. Belum lagi ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya barusan. Alih-alih penasaran, aku malah agak ketakutan melihat Talitha. Apa mungkin sesuatu merasukinya saat dia berada di hutan? Ah, sialan. Apa yang harus kulakukan? Apalagi sekarang aku hanya berdua dengan Talitha! Bagaimana kalau dia benar-benar kerasukan lalu mencelakakanku? Belum sempat berpikir tentang apa yang harus kulakukan, suara Talitha sudah kembali terdengar di telingaku. “Lalu bagaimana saat lo mergokin gue di deket danau? Gue lagi ngobrol sama seseorang. Lo sempet ngeliat orang yang ngobrol sama gue? Atau mungkin lo sempet denger suara patner gue waktu itu?” Suara Talitha otomatis menarikku kembali ke dari lamunanku. Aku buru-buru menatap Talitha, makin yakin aku harus menjauhi Talitha secepat yang aku bisa. “Gue nggak ngeliat siapapun selain lo dan gue nggak denger suara siapapun selain suara lo. Puas?” sahutku cepat. Kali ini, tanpa menunggu jawaban Talitha, aku melangkah cepat meninggalkan Talitha yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali aku menoleh ke belakang, mencoba mencari tahu apa yang dilakukan Talitha, tapi apa yang kulihat malah membuatku semakin ingin cepat melarikan diri dari Talitha. Sekalipun aku sudah pergi meninggalkannya sendiri, Talitha masih terdiam dan tampak syok di tempatnya. Aku bergidik. Sumpah, ada yang aneh dengan Talitha malam ini dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak berniat untuk mencari tahu tentang itu.   *   Aku buru-buru kembali ke pendopo untuk menghindari Talitha. Karena aku melangkah sambil sesekali menoleh ke belakang, aku tidak terlalu memperhatikan jalan di hadapanku. Dan saat itulah aku mendadak menabrak seseorang. Aku reflek mengumpat kesal saat aku terhuyung. Saat kulihat sosok yang menabrakku, aku semakin kesal. Ternyata Tim. “Lo kenapa sih, Nat?” omel Tim kesal. Aku menyipit menatap Tim. Aku tidak ingin menceritakan apa-apa pada cowok itu, tapi aku tidak tahan untuk tidak menceritakan keanehan Talitha. “Talitha bersikap aneh, Tim. Gue jadi takut. Mungkin nggak sih kalau Talitha kerasukan? Sumpah dia aneh banget tadi,” kataku cepat. Tim yang semula marah dan enggan bicara denganku, kali ini malah sepertinya melupakan kekesalannya padaku. “Aneh gimana, Nat?” tanyanya penasaran. “Sikapnya aneh banget. Biasanya dia nggak pernah nyapa gue duluan. Kalaupun dia ngomong sama gue, ngomongnya pasti nggak pernah halus. Tapi tadi dia beda banget. Dia nyapa gue lembut banget. Pokok nggak kayak dia biasanya. Belum lagi pertanyaannya aneh-aneh. Dia tanya, gue lihat nggak temennya dia yang jalan sama-sama dia ke hutan pas dini hari. Padahal jelas-jelas dia itu sendirian, nggak ada lagi yang nemenin dia waktu itu. Trus dia juga tanya, gue lihat nggak orang yang ngomong sama dia di danau. Atau paling nggak, gue denger nggak suaranya temennya dia itu. Pokoknya aneh banget. Trus ya, Tim, pas gue tinggal, masa Talitha cuma berdiri bengong gitu aja. Lumayan lama lagi. Gue beneran curiga dia kerasukan deh. Mana kita kan memang dari hutan.” “Jangan ngomong sembarangan ah. Kesambet apa. Ayo kita lihat. Siapa tahu dia butuh bantuan,” putus Tim tegas. “Di mana lo ketemu Talitha tadi?” Aku menunjuk tempatku bertemu dengan Talitha. “Di deket WC sana. Tapi gue nggak mau ke sana, Tim. Kalau lo mau, lo aja.” “Lo bener-bener nggak peduli sama temen lo? Biarpun lo bilang dia musuh lo, tapi kalau ada apa-apa sama Talitha, lo tega?” kata Tim tak sabar. Sebenarnya, aku tidak peduli. Tapi karena Tim tampaknya sudah menganggapku luar biasa buruk, aku mencoba untuk menahan jawaban yang sudah hampir terucapkan olehku. Lagipula, aku juga penasaran pada Talitha. Hanya saja aku terlalu takut untuk menyelidikinya sendiri. “Ok, ayo kita ke sana,” kataku sambil memimpin jalan.   *   Ketika akhirnya aku tiba di tempat terakhir aku bertemu dengan Talitha, aku menemukan tempat itu telah kosong. Talitha sudah tidak tampak di mana-mana. “Gue rasa dia sudah pergi,” kataku pelan. Tim melirik ke kanan dan kirinya, memastikan Talitha memang tidak ada lagi di sini. Ketika yakin Talitha tidak ada di manapun di sini, Tim memanggilku untuk kembali ke pendopo. “Kita coba cari di pendopo dulu, Nat. Kalau nggak ketemu, kita cari di tendanya. Kalau masih nggak ketemu juga baru kita lapor ke panitia,” tegas Tim sambil memberiku isyarat untuk mengikutinya ke pendopo. Aku hanya mengangguk mengikuti Tim. Saat kami berdua tiba di pendopo, ternyata Talitha memang benar-benar sudah ada di sana. Namun tidak seperti biasanya, Talitha yang biasa selalu berbaur dengan teman-temannya yang lain, malah tampak duduk sendiri dan melamun sendiri di sudut pendopo. Aku menatap Talitha heran. Aku tersentak saat tiba-tiba Tim menyenggol bahuku pelan. “Lo nggak ke sana dan coba tanya ke dia tentang keadaan dia?” tanya Tim pelan. Aku mendengus. Pertanyaan Tim adalah pertanyaan terbodoh yang pernah kudengar di sepanjang umurku. Untuk apa aku menanyakan keadaan musuhku? “Tidak. Terima kasih. Tapi gue rasa itu bukan ide yang baik. Percaya sama gue, dia juga nggak suka gue ganggu,” kataku cepat. “Lagipula, yang penting dia baik-baik saja. Selesai masalah.” Tim hanya melirikku sebagai respon. Tak bisa memaksaku atau menasehatiku, Tim hanya mengangkat bahu sambil kembali ke tempat duduk bersama kelompok kami. Aku menyusul sambil terus memperhatikan Talitha. Tidak seperti biasanya, Talitha tampak tidak peduli saat para tutor mulai mengumpulkan lima amplop yang telah kami lakukan. Aku merasa semakin heran pada Talitha saat dia tidak mengumpulkan satu amplop pun dan menjadi satu-satunya kelompok kecil yang tidak berhasil mengumpulkan nilai. Aku mengernyit tajam pada Talitha. Kini aku yakin pasti ada yang tidak beres dengan Talitha. Talitha terlalu mencintai acara ini sehingga tidak mungkin Talitha sesembrono ini. Tapi apa yang tidak beres?                                                                                                                                                          *   Aku merasa seperti mengalami dejavu. Sekalipun tidak benar-benar mengulang situasi yang mirip, situasi ini seolah pernah kualami. Aku baru saja kembali dari kamar mandi ketika aku tidak sengaja melihat Talitha keluar dari tendanya. Dari awal aku sudah curiga dengan Talitha. Sejak keluar tenda, Talitha terlihat mengawasi sekelilingnya terlebih dahulu sebelum mendadak berlari kecil memasuki hutan. Aku mencelos. Apa sih yang dilakukan cewek rese satu itu? Di saat semua orang terlelap, kenapa dia malah berani-beraninya masuk ke hutan sendirian! Masih kurangkah dia berjalan-jalan di hutan malam ini? Aku menggertakkan gigiku, bingung. Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus mengikuti cewek gila itu? Atau sebaiknya aku kembali ke tendaku yang hangat dan melanjutkan tidurku? Ah sial, punggung Talitha mulai menghilang ditelan malam. Aku harus segera menyusulnya jika tidak ingin kehilangan jejaknya. “Damn it!” umpatku kesal. Aku sungguh tidak tahu kenapa aku justru melangkahkan kakiku besar-besar menyusul Talitha. Mungkin karena dia bersikap luar biasa aneh hari ini? Atau mungkin juga karena aku sudah terlalu terobsesi pada Talitha sehingga aku merasa tak punya pilihan lain selain mengikuti Talitha. Toh aku yakin aku tidak akan bisa tidur karena penasaran dengan apa yang dilakukan Talitha. Sambil berdoa semoga keputusanku tepat malam ini, aku mempercepat langkahku memasuki hutan penuh rahasia itu.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN