Chapter 18 - Talitha

1865 Kata
“Karena kalau cerita lo itu bener, Ta, yang lo temuin selama ini itu Davina, kakak gue.” Kata-kata Dylan terus terngiang di kepalaku dan membuatku luar biasa syok. Jadi yang kutemui selama ini adalah Davina kakak Devon, bukan Davina sahabat dari kakak Devon? Jadi yang kutemui selama ini bukanlah manusia melainkan arwah penasaran? Kenyataan itu membuatku syok setengah mati. Otakku rasanya menolak untuk berpikir. Seluruh tubuhku terasa lunglai, bahkan kakiku pun kesulitan untuk menopang berat badanku. Aku pasti sudah terduduk di tanah jika saja Devon tak sigap menangkap kedua tanganku dan mencegahku bersimpuh di lantai. “Ta, lo nggak pa-pa kan?” tanya Devon cemas. Aku melirik Devon sekilas. Mana mungkin aku baik-baik saja setelah aku menyadari bahwa yang kutemui selama ini bukanlah manusia? Masih syok, aku mencoba mengingat sosok Davina yang selama ini kukenal. Perlahan semua memoriku mulai terputar kembali di otakku. Dan mendadak, aku merasa bodoh. Sangat bodoh. Kenapa aku tidak bisa menebak tentang jati diri Davina yang sebenarnya? Kenapa aku percaya mentah-mentah dengan semua yang dikatakan Davina? Pantas saja Davina tampak begitu terkejut saat menyadari bahwa aku sedang menyapanya saat pertemuan pertama kali kami. Pantas saja aku tidak pernah berhasil menemukannya di acara-acara yang kami ikuti. Pantas saja tidak ada yang melihat atau mengenalnya. Tunggu, apa ini berarti hanya aku yang bisa melihatnya? Tapi ini tidak masuk akal. Selama ini aku hidup dengan normal, tidak ada kehadiran makhluk tak kasat mata jenis apapun. Jadi kenapa aku malah bisa melihat Davina? “Ta, gue tahu ini pasti bikin lo syok banget, tapi bisakah lo bantuin gue sekarang? Gue harus ketemu sama Davina, Ta. Banyak yang ingin gue tanyain ke dia. Gue harus mastiin apa dia bener-bener dibunuh. Gue harus mastiin alasan dia nggak pernah balik dari pelatihan sialan ini, Ta!” kata Devon mulai kehilangan ketenangannya. Aku tersentak kaget mendengar suara Devon. Namun begitu, aku masih merasa belum berhasil mengumpulkan semuanya otak maupun nyawaku. Aku masih setengah linglung saat menatap Devon. “Ta, tolong jangan begini. Sadarlah, Ta!” kata Devon sambil mengguncang tubuhku. Guncangan Devon pada tubuhku perlahan berhasil membantuku mengumpulkan akal sehatku. Sekalipun mungkin belum 100%, aku mulai menyadari situasiku dan mulai menerima hal tidak masuk akal yang baru saja terjadi padaku. “Ta, bisakah kita mencari Davina sekarang, Ta?” pinta Devon memelas. “Gue sudah keluar masuk hutan berulang kali, tapi gue nggak bisa menemukan apapun tentang Davina. Gue bahkan nggak tahu apa yang gue cari, Ta, tapi gue nggak bisa berhenti. Gue merasa harus mencari tahu tentang Davina. Dan entah kenapa gue selalu merasa bahwa gue harus ke hutan untuk itu, Ta. Gue frustasi. Tidak bisakah lo nolong gue?” Aku bergeming, sejenak merasa bingung dengan semua ucapan Devon. Kurasa dia salah paham padaku. Aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya menemukan Davina. Biasanya Davina yang menghampiriku. Memang aku pernah berhasil menemukan Davina di dekat sungai, tapi aku bahkan tidak bisa memastikan Davina akan ada di sana lagi sekarang. “Gue dan kakak lo nggak sedeket itu, Von. Gue juga nggak tahu harus nyari kakak lo di mana. Biasanya dia yang nemuin gue dan bukan sebaliknya. Gue cuma pernah sekali nyariin dia dan nggak sengaja ketemu di depan danau. Tapi gue juga nggak bisa pastiin kakak lo akan ada di sana terus, Von. Tadi kita ngelewati danau pun, nggak ada kakak lo di sana.” Devon menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Namun permintaannya setelah menatapku penuh arti itu jauh lebih sulit kupenuhi. “Kalau begitu ayo kita coba, Ta. Kita coba menemukan Davina di depan danau. Kita bisa mencobanya sekarang juga, Ta,” kata Devon keras kepala. Aku membelalak kaget mendengar usul Devon. Devon sudah sinting kalau berpikir aku akan menemui Davina lagi setelah aku sadar bahwa Davina bukanlah seorang manusia seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Reflek aku menggeleng tegas. Dan Devon langsung menatapku kecewa. Pundaknya yang lunglai semakin memperlihatkan betapa besarnya rasa kecewanya padaku. “Kalau begitu biar gue pergi sendiri,” kata Devon sebelum tanpa aba-aba berbalik membelakangiku. Sepertinya Devon benar-benar serius dengan ucapannya. Dia bahkan tidak menunggu atau membujukku agar aku berubah pikiran. Aku bergeming. Tidak, tidak, aku tidak boleh mengikuti Devon. Bagaimanapun juga tujuanku kemari adalah untuk menjadi seorang wartawan, bukan untuk berurusan dengan arwah! Lagipula apa yang bisa ditemukan dalam hutan sekarang. Andaipun kami bertemu dengan Davina, hanya aku yang akan melihat Davina, berarti aku yang akan berkomunikasi dengan Davina, bukannya Devon! Jika Devon bisa melihat Davina, dari awal aku pasti tidak perlu berurusan dengan semua ini. Jadi kenapa aku harus terlibat? Aku bahkan masih belum berhasil meredakan syokku sekarang! Devon semakin berjalan menjauh. Aku tetap bergeming. Tapi saat melihat Devon mulai lenyap di dalam hutan, aku reflek mengumpat dan berlari mengejarnya. Sial. “Hei, Von, tungguin gue!” desisku dengan sepelan mungkin agar tidak menarik perhatian satu panitiapun. Bagaimanapun juga, semua panitia sedang tersebar di bagian hutan maupun dekat pos, jadi kalau aku tidak ingin mencari masalah dan langsung diblacklist, aku harus berhati-hati memasuki hutan diam-diam agar tidak ketahuan. Aku mempercepat langkahku mengejar Devon, tapi sial, cowok itu sepertinya terlalu emosional sehingga dia melangkah luar biasa cepat. Aku sama sekali tidak bisa menemukan jejak pria itu di mana pun! Tahu bahwa tujuan Devon adalah danau, aku langsung mempercepat langkahku ke tengah hutan, menuju ke danau. Bulu kudukku meremang, namun sebisa mungkin aku tidak mengacuhkan hal itu. Setelah berlari nyaris sepuluh menit, akhirnya aku berhasil tiba di tengah hutan. Sambil terengah-engah, aku melihat Devon menatap berkeliling sambil memanggil nama Davina. Saat telah melakukan itu selama beberapa menit namun tidak ada suara apapun yang membalas, Devon tiba-tiba berlutut di lantai. Bahunya naik turun. Tak lama, suara sesegukan terdengar di keheningan malam. Aku terdiam di tempatku. Aku mungkin tidak terlalu mengenal Davina dan Devon, namun melihat kesedihan Devon maupun cerita Davina membuatku tak kuasa ikut mengalirkan air mata. Mendadak saja, aku tak lagi takut pada Davina sekalipun dia bukan manusia. Alih-alih takut, aku malah iba padanya. Reflek, aku melirik ke sekelilingku, berharap bisa melihat Davina. Tapi sekalipun aku sudah memincingkan mataku dan berusaha melihat di berbagai celah, Davina tidak tampak di mana-mana. Aku mencoba mencari Davina di tempat terakhir aku melihatnya tadi, tapi seperti yang kuduga, Davina tidak lagi berada di sana. Tak punya pilihan, aku kembali ke depan danau. Devon tidak lagi berlutut dan menangis, tapi dia masih tampak sangat memprihatinkan. Sambil duduk, tatapan kosong Devon mengarah ke danau. Perlahan, aku mendekati Devon. Kuletakkan tanganku di pundaknya, mencoba memberitahunya bahwa dia tidak sendirian. Devon tersentak lalu melirikku sekilas. Tatapannya bersinar saat melihatku, tapi saat aku memandangnya sendu, tatapannya berubah lesu. Dia tahu aku pun tidak berhasil menemukan Davina. “Sori, Von, kakak lo nggak ada di sini ataupun di tempat terakhir gue ngeliat dia tadi,” kataku sungguh-sungguh. Devon terdiam sejenak sebelum akhirnya berdiri. “Sori gue jadi ngelibatin lo dalam urusan gue. Dan sori tadi gue emosional banget sama lo,” kata Devon pelan. Aku tersenyum tipis pada Devon. “Gue nggak pa-pa, Von. Gue ngerti banget bagaimana perasaan lo,” kataku menenangkan Devon. “Ayo kita balik ke tenda. Kayaknya lo butuh istirahat.” Devon menoleh kaget padaku. “Lo nggak mau balik pos? Lo nggak masalah dapat nilai kurang gara-gara ini?” Damn it. Untuk sesaat aku benar-benar melupakan pos-pos itu. Sial. Apa yang harus kulakukan? Tentu saja aku harus menyelesaikan tugasku. Namun ketika mengingat kondisi Devon yang masih tampak syok dan kecewa, aku memutuskan untuk merelakan poinku malam ini. “Nggak masalah, Von. Gue akan bilang gue jatuh lalu tersesat. Nggak masalah,” kataku cepat. Devon menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak bisa kujelaskan. Tak lama, Devon tersenyum tipis. “Thank, Ta,” katanya pelan. “Gue dan Davina beruntung bisa kenal sama lo,” lanjutnya lebih pelan. Aku merasa pipiku merona mendengar perkataan Devon, namun aku buru-buru menyembunyikannya dengan pura-pura tidak mendengar perkataan cowok itu. “Er… Ayo jalan,” kataku canggung. Devon mengangguk pelan sebelum menyusulku yang berjalan terlebih dahulu di depannya.   *   Begitu kami keluar dari hutan, Devon langsung kembali ke tendanya untuk beristirahat. Aku sendiri melapor pada Kak Wulan tentang kegagalan kami mengumpulkan tugas di pos-pos. Karena Devon tidak berniat kembali ke pendopo, kami sepakat membuat alasan bahwa Devon sakit sehingga kami tersesat dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke tenda. Untungnya, Kak Wulan sepertinya percaya pada ucapanku. Entah bagaimana dengan penilaianku, tapi yang paling penting sekarang, tidak ada yang mencurigai apa yang aku dan Devon lakukan sementara yang lain berhasil mengumpulkan amplop. Setelah selesai bicara dengan Kak Wulan, aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi, mencoba menyegarkan wajahku juga otakku sejenak dari apa yang kualami hari ini. Saat aku hampir mencapai kamar mandi, aku tertegun melihat Natasha. Ya…. Natasha…. Seketika aku berbinar melihat musuh bebuyutanku itu. Benar. Natasha sudah memergokiku dua kali saat aku bersama Davina. Sekalipun aku tahu Davina arwah, paling tidak aku harus memastikan sekali lagi sebelum mempercayai semua ini. Dan Natasha, dia satu-satunya yang bisa membantuku untuk memastikan semua itu. Natasha seharusnya melihat Davina saat Davina bersamaku. Paling tidak saat dia memergokiku untuk yang pertama kalinya, saat aku memasuki hutan di tengah malam bersama Davina. Buru-buru aku mempercepat langkahku mendekati Natasha. “Hai, Nat,” panggilku pelan. Natalia tampak luar biasa terkejut saat aku menyapanya. Dan sebenarnya itu wajar mengingat aku memang nyaris tidak pernah memanggilnya, terlebih dengan nada suara selembut yang kugunakan sekarang. “Apa?” sahutnya tak ramah. Aku berusaha menekan rasa tidak sukaku pada Natasha. Terutama karena nada suaranya yang tetap tak ramah sekalipun aku sudah memulainya dengan selembut yang bisa kulakukan. “Gue butuh ngomong sama lo. Bisa?” tanyaku lirih. Natasha mendengus keras sebagai jawaban untukku. “Sori, gue sibuk,” sahut Natasha cepat. Sial! Dalam situasi normal, aku pasti akan murka dengan jawaban ketus Natasha. Tapi sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus kuketahui. Dan sayangnya jawaban akan penasaranku hanya bisa diperoleh dari Natasha! Aku buru-buru menahan rasa kesalku. Dengan usaha terkeras yang kubisa, aku memasang wajah memelas di depan Natasha. “Please,” sahutku lagi. Natasha semakin membelalak melihat wajah memelasku dan mendengar kata-kata yang tak mungkin kuucapkan sebelum hari ini. Tapi melihat reaksinya yang seperti itu, entah kenapa aku tahu dia akan meloloskan keinginanku. Tak ingin membuang waktu, aku mulai mencecarnya dengan pertanyaan bahkan sebelum dia benar-benar pulih dari keterkejutannya. “Waktu lo mergokin gue ke hutan malam itu, apa lo ngeliat seseorang yang jalan ke hutan sama gue? Waktu itu gue nggak jalan sendirian kan? Di samping gue, ada cewek yang tingginya nyaris sama kayak gue, rambutnya panjang, dan pakai jaket coklat muda sama jeans biru kan?” tanyaku tak sabar. Natasha menatapku bingung. “Lo ngomong apaan sih, Ta? Gue nggak ngerti!” “Waktu lo bilang lo ngeliat gue masuk ke hutan subuh-subuh itu, Nat. Lo ngeliat temen gue yang ikut masuk hutan bareng sama gue kan?” jelasku mendesak. Natasha menyipit menatapku. “Lo gila ya, Ta? Lo jelas-jelas sendirian waktu itu. Lo mau nyari temen biar nggak sama-sama hancur gitu di sini?” tuduh Natasha heran. Aku mencelos. Benarkah yang dikatakan Natasha? Dia benar-benar melihatku sendirian padahal jelas-jelas aku sedang berjalan berdampingan dengan Davina saat itu? “Lo yakin gue sendirian, Nat?” tanyaku memastikan. Natasha memandangku makin heran. “Lo pikir gue buta sampai nggak bisa ngeliat lo lagi sendirian atau enggak?” omel Natasha kesal. “Ah, sudahlah. Gue juga yang sinting karena mau dengerin lo.” Natasha sudah bersiap untuk pergi. Aku buru-buru menahan lengannya. Dan tentunya langsung ditepis kasar olehnya. “Lalu bagaimana saat lo mergokin gue di deket danau? Gue lagi ngobrol sama seseorang. Lo sempet ngeliat orang yang ngobrol sama gue? Atau mungkin lo sempet denger suara patner gue waktu itu?” desakku lagi. Natasha tampaknya mulai tak sabar padaku. Untung saja dia masih mau meladeni pertanyaanku.  “Gue nggak ngeliat siapapun selain lo dan gue nggak denger suara siapapun selain suara lo. Puas?” sahut Natasha kesal. Kali ini, tanpa menunggu responku, Natasha melangkah besar-besar meninggalkanku sementara aku hanya bisa membeku. Jelas sudah sekarang. Tidak ada keraguan lagi tentang ini. Natasha tidak melihat atau mendengar Davina. Davina benar-benar bukan manusia. Demi Tuhan.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN