“Lo kenal sama kakak gue kan?”
Aku tertegun mendengar pertanyaan Devon. Aku sungguh tidak mengerti kenapa dia bisa mengira aku mengenal kakaknya. Apa mungkin Devon sudah bertemu dengan Davina dan Davina sudah menceritakan tentang aku pada Devon? Tapi sepertinya tidak mungkin. Davina jelas-jelas memberiku isyarat untuk tutup mulut saat bersama Devon tadi. Tapi kalau bukan dari Davina, kenapa Devon bisa berpikir seperti itu? Dan tunggu…. Apa mungkin itu sebabnya Devon getol mendekatiku? Karena dia mengira aku mengenal kakaknya?
“Lo ngedeketin gue selama ini, karena lo pikir gue kenal sama kakak lo ya?” todongku tanpa basa-basi.
Kini giliran Devon yang terkejut dengan pertanyaanku. “Yah, bisa dibilang begitu,” kata Devon agak ragu.
Sial! Aku tidak menyukai Devon. Aku juga tidak berharap dia menyukai aku. Tapi entah kenapa jawaban jujurnya barusan bisa membuatku kesal. Sial!
“Jadi, lo kenal kakak gue atau enggak?” tanya Devon tak sabar.
Sekalipun masih kecewa dengan jawaban jujur Devon, aku buru-buru menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaannya barusan.
“Enggak, Von. Gue nggak kenal sama kakak lo.”
Wajah Devon tampak luar biasa kecewa. Dan sialnya, wajahnya yang sangat kecewa itu juga ikut membuatku kecewa. Jelas dia memang mendekatiku hanya karena berpikir aku tahu sesuatu tentang kakaknya.
“Lalu kenapa lo sering ke danau dan pernah menyebut nama kakak gue kalau lo nggak kenal sama kakak gue?” tanya Devon tak percaya.
“Panjang ceritanya. Tapi bisakah lo jawab pertanyaan gue dulu? Setelahnya, gue janji gue bakal cerita juga ke elo soal dari mana gue tahu soal kakak lo.”
Devon menatapku penasaran, jelas-jelas tidak setuju dengan permintaanku, tapi pada akhirnya tidak banyak memprotes dan malah mempersilahkanku untuk bertanya.
“Setahu lo, kakak lo tenggelam atau malah kabur dari sini?” tanyaku lirih.
Devon mendengus keras. “Nggak dua-duanya. Dua-duanya terlalu nggak masuk akal buat kakak gue,” kata Devon mendadak jengkel. “Kakak gue itu jago renang. Kecuali tangan kakinya terikat atau dia tidak sadarkan diri, jangan pernah berpikir kalau dia tidak bisa berenang. Dan soal kabur dari sini. Ini adalah impian dia yang terbesar, jadi mana mungkin dia mau kabur dari tempat terkutuk ini?”
“Jadi menurut lo, kakak lo ke mana?”
Kali ini Devon terdiam. Wajahnya tampak keruh. Saat kupikir dia tidak mungkin akan menjawab pertanyaanku, Devon akhirnya buka suara. “Ada yang disembunyikan panitia tentang kematian kakak gue,” kata Devon lirih. “Tidak ada satu artikelpun yang membahas tentang kematian kakak gue dan menurut gue itu sangat aneh. Apalagi mengingat skala acara ini. Acara ini besar, Ta. Aneh kan kalau kematian kakak gue nggak terpublish sama sekali. Kalau panitia mau menutupi, kenapa harus menutupi kalau mereka tidak salah apa-apa. Kalau memang kakak gue meninggal karena salahnya sendiri, nggak ada alasan untuk menyembunyikan kematiannya bukan?” beber Devon berapi-api.
Aku terdiam. Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa tentang ini. “Lo tahu, Ta, rasanya ini menyakitkan. Gue luar biasa sakit hati saat ada artikel tentang siapa-siapa saja narasumber tamu yang hadir di acara ini, tapi tidak ada satupun berita tentang kematian kakak gue. Kematian kakak gue yang terkesan ditutupi-tutupi ini membuat pikiran gue jelek tentang kematian kakak gue,” kata Devon lirih. “Gue tahu mungkin lo akan mikir gue berlebihan setelah ini, tapi kalau lo tanya gue, menurut gue kematian kakak gue itu nggak wajar. Bahkan jasadnya aja nggak balik ke keluarga. Dan semua ini bikin gue mikir kalau kakak gue bukan bunuh diri atau kecelakaan, melainkan dibunuh. Entah karena apa.”
Aku menahan napasku. Jika Devon dan Davina sama-sama berpikir bahwa kematian kakak Devon adalah karena dibunuh, apa mungkin kakak Devon benar-benar dibunuh?
Devon melirikku ingin tahu. Mungkin karena tidak menemukan wajah yang sangat terkejut, yang sudah kuperlihatkan pada Davina saat aku mendengar teori mengerikan ini, Devon jadi menatapku ingin tahu.
“Lo nggak percaya sama gue?” tanya Devon penasaran.
Aku tersentak dan buru-buru menggeleng pada Devon. “Enggak, bukan gitu. Gue percaya sama lo. Gue cuma nggak nyangka aja kalau lo juga mikir kalau kakak lo dibunuh,” kataku jujur.
Mata Devon membelalak kaget saat mendengar perkataanku. Untuk sesaat, dia hanya bisa menatapku tak percaya dengan mulut ternganga.
“Lo nggak nyangka kalau gue juga mikir kakak gue dibunuh? Bukannya lo bilang lo nggak kenal sama kakak gue?” ulang Devon bingung.
Aku mengangguk tak sabar. “Iya, gue memang nggak kenal sama kakak lo, Von. Gue tahu soal ini dari sahabatnya kakak lo yang nyusup ke sini juga demi nyari sesuatu tentang kakak lo. Intinya, dia juga mikir kalau kakak lo dibunuh.”
Devon melongo mendengar perkataanku. “Sahabat kakak gue?” ulang Devon tak percaya.
Lagi-lagi aku mengangguk. “Iya, sahabat kakak lo. Gue nggak sengaja ketemu dia di hari pertama gue di sini. Tepat sebelum gue ketemu lo dan rebutan bendera sama lo.”
Devon masih melongo menatapku. Lama-lama, wajahnya yang terlihat bingung bercampur sangsi itu benar-benar membuatku kesal.
“Lo kenapa sih, Von?” sahutku kesal. “Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?”
Devon tersentak lalu menatapku ragu. “Lo lagi ngomongin siapa sih, Ta? Setahu gue, kakak gue nggak punya temen apalagi sahabat,” kata Devon serius. “Tanpa berniat menjelek-jelekkan kakak gue sendiri sih, tapi kakak gue sama sekali nggak pinter dalam hal bergaul. Sifatnya juga kurang bagus sih. Dia rada berambisi dan rada cenderung menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Dan dengan perpaduan sifat seperti itu, setahu gue sih dia nggak punya temen.”
Kini giliran aku yang menatap sangsi pada Devon. Sepertinya dia tidak terlalu mengenal kakaknya. Padahal kakak Devon jelas-jelas punya Davina yang rela berkorban demi mencari tahu apa yang terjadi pada kakak Devon.
“Mungkin lo salah paham sama kakak lo, Von. Jelas-jelas Davina ke sini cuma demi cari tahu tentang kematian kakak lo kok. Dia juga yang ngasik tahu gue kalau lo sama Tim ke sini juga demi nyari info tentang kakak lo,” kataku cepat.
Mata Devon kembali membelalak tak percaya. Di mataku, dia malah seperti habis melihat hantu. Mendadak aku merinding. Aku reflek menoleh ke sekelilingku untuk mencari tahu apa yang sebenarnya dilihat Devon. Tapi nihil. Sama sekali tidak ada hal mencurigakan yang ada di sekelilingku. Sama sekali tidak ada hal yang bisa menjadi alasan kenapa Devon menatapku dengan tatapan kaget, ngeri maupun tak percaya itu.
“Lo kenapa sih, Von? Jangan bersikap yang aneh-aneh bisa nggak? Gue merinding nih!” omelku kesal.
Devon butuh waktu agak lama sebelum tersentak kaget dan mulai memandangiku dengan raut wajah normal. “Lo tadi bilang apa, Ta? Davina?” tanya Devon memastikan.
Aku mengangguk pelan. “Iya, Davina. Lo nggak kenal sama dia?” tanyaku penasaran.
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Devon malah mengajukan pertanyaan lain padaku. “Davina? Lo yakin itu Davina, Ta?” tanya Devon sangsi.
“Ya mana gue tahu, Von. Pokoknya orangnya tinggi, cantik, putih, rambutnya dua puluh cm di bawah bahu. Kata dia sih namanya Davina. Dia juga kenal lo sama Tim, jadi ya asumsi gue, kalian saling kenal,” kataku cepat. “Memangnya kenapa sih? Lo nggak kenal sama Davina?”
Devon masih menatapku tak percaya. Tapi sekali lagi, alih-alih menjawab pertanyaanku, Devon malah kembali memberiku pertanyaan lain.
“Apa saja yang dikatakan Davina ke elo? Dia cerita apa, Ta?” desak Devon tiba-tiba.
Aku agak kaget dengan Devon yang mendadak terlihat begitu emosional. Namun begitu, tetap kukatakan semua yang diceritakan Davina padaku.
“Davina bilang kalau kakak lo dibunuh. Davina bilang, kakak lo nemuin rahasia yang akan menggemparkan dunia politik kalau sampai tersebar. Kemungkinan besar dia dibunuh karena itu. Davina sendiri bisa tahu semua itu karena kakak lo sempet kontak sama dia sebelum kakak lo menghilang. Dan yang pasti, Davina bilang kalau pembunuh kakak lo ada di pelatihan ini. Salah satu tutor yang ikut dalam pelatihan tahun lalu adalah pembunuh kakak lo. Berhubung semua tutor tahun lalu ikut lagi di pelatihan tahun ini, berarti kemungkinan besar pembunuh kakak lo juga ada di antara semua tutor kita sekarang.”
Devon langsung terhuyung bahkan terduduk di tanah begitu selesai mendengar perkataanku. Aku luar biasa kaget saat melihat Devon yang tiba-tiba terjatuh. Namun baru akan menolongnya, aku kembali kaget melihat wajah Devon yang tampak luar bias pias. Aku tahu Devon pasti syok saat tahu kakaknya benar-benar dibunuh, tapi aku sama sekali tidak menyangka Devon akan sesyok ini.
“Lo nggak papa, Von?” tanyaku cemas.
Perlahan Devon menatapku lekat. “Lo beneran ketemu Davina, Ta?” tanyanya lirih. “Kakak gue beneran dibunuh?”
“Gue beneran ketemu Davina, Von. Bahkan tadi pas kita jalan bareng yang lain, gue sempet liat dia sembunyi di belakang pohon,” kataku sabar. “Dan iya juga untuk pertanyaan lo yang lain. Gue sih nggak tahu jelas soal kakak lo, tapi menurut Davina sih begitu. Menurut Davina, kakak lo dibunuh,” sambungku lirih.
Devon mendadak terisak tanpa suara. Aku bahkan tahu dia terisak hanya karena gerakan naik turun di pundaknya.
“Von, tenanglah dulu,” kataku mencoba menenangkan.
Devon tidak mengacuhkanku. Dia terus terisak tanpa suara. Ketika akhirnya Devon berhenti terisak, Devon menatapku tajam dan dalam.
“Lo bisa ngajak gue ketemu Davina?” tanyanya serius.
Aku menggeleng pelan. “Gue juga nggak pasti bisa ketemu sama Davina, Von. Tapi kalau lo mau ketemu sama Davina, kemungkinan besar kita bakal bisa nemuin Davina di dekat danau,” kataku pelan.
“Kalau begitu ayo kita ke sana,” kata Devon tegas.
Aku membelalak kaget. Yang benar saja!
“Lo gila ya, Von? Kita ini masih acara. Lagian Davina pasti sembunyi, Von. Dia juga takut ketahuan panitia kalau berkeliaran sekarang,” tolakku cepat.
Devon menggeleng tegas. “Kalau semua yang lo bilang tadi itu bener, kita pasti bisa nemuin Davina di deket danau seperti yang lo bilang. Davina nggak mungkin sembunyi.”
Aku mengernyit bingung pada Devon. Davina tidak mungkin bersembunyi? Kenapa?
“Gue nggak ngerti, Von. Kenapa Davina nggak sembunyi?” tanyaku bingung.
Devon menatapku lekat sebelum menjawab pertanyaanku. “Karena kalau cerita lo itu bener, Ta, yang lo temuin selama ini itu Davina, kakak gue,” kata Devon lirih. “Gue bisa pastiin kakak gue nggak punya temen, apalagi sahabat yang rela ke sini cuma buat mastiin kematiannnya. Gue juga bisa pastiin kalau semua ciri-ciri yang lo bilang tadi itu kakak gue. Jadi kemungkinan besar selama ini berhubungan sama lo itu bener-bener kakak gue yang sudah meninggal. Davina.”
Giliran aku yang pias. Aku bertemu dengan arwah? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah membayangkan akan bisa bertemu arwah seperti itu.
Kini giliran aku yang terhuyung. Saat aku hampir terduduk di lantai seperti Devon sebelumnya, Devon sudah memegang kedua tanganku dan memegangiku sehingga aku tidak sampai duduk di tanah malam itu.
***