Chapter 16 - Natasha

1001 Kata
 “Hei, Tim, lo kenapa sih? Sebentar ramah sebentar baik? Trus kenapa lo tiba-tiba ninggalin gue gitu? Di sini mungkin bukan hutan, tapi kalau kita nggak sama-sama dan tersesat, panjang urusannya tahu,” omelku jengkel ketika aku berhasil menyamakan langkahku dengan Tim. Tim hanya melirikku sekilas tanpa berniat membalas ucapanku. Alih-alih menanggapiku, Tim lebih berniat mencari tanda yang ditinggalkan panitia untuk menunjukkan arah menuju lima pos yang telah disiapkan oleh mereka. “Itu tandanya. Kita disuruh jalan ke arah situ,” kataku cepat saat tidak sengaja melihat tanda panah dari pantulan sinar senter Tim. Tim melirikku sekilas sebelum kembali berjalan mengikuti anak panah. Dia bahkan tidak berniat berterima kasih atas jasaku barusan. “Ok, kalau memang kita mau perang dingin, ayo. Lo pikir lo doang yang bisa marah-marah nggak jelas,” putusku kesal. Tanpa berniat menunggu respon Tim, aku melangkah besar-besar agar bisa melewati Tim dan sengaja menyenggol Tim hingga cowok itu terhuyung. Tim hanya menatapku sekilas tanpa berniat merespon atau sekadar memakiku. Sial. Aku masih berjalan memimpin Tim saat tulisan pos 1 terpasang besar di sebuah pintu rumah penduduk, aku berhenti mendadak. Mau tak mau kini aku perlu bicara pada Tim. “Tim, memangnya pos-posnya ada di rumah penduduk ya? Nggak masalah gitu kalau kita datang semaunya begini?” tanyaku dengan suara sepelan mungkin. “Kalau sudah diatur panitia, ya nggak papa lah,” jawab Tim dingin. Aku melirik jengkel pada Tim yang mulai melangkah mendahuluiku dan mengetuk rumah penduduk yang bernomor itu. Seorang pria separuh baya segera membuka pintu rumahnya begitu Tim mengetuk pintunya pelan. Dengan ramah, pria itu berbasa-basi sejenak sebelum menyodorkan sepuluh amplop dan menyuruh kami untuk memilih salah satunya. Tanpa ragu, Tim memilih salah satunya sebelum berpamitan pada pria ramah itu untuk melanjutkan perjalanan kami k epos kedua. Aku dan Tim melirik amplop yang kini berada di tangan Tim. “Kita harus membukanya sini atau sama-sama yang lain di pendopo nanti?” tanyaku basa-basi. Lagi-lagi Tim melirikku sinis sebelum memberiku jawaban ketus. “Di pendopo. Buka sama-sama. Bukannya tadi sudah dijelasin?” kata Tim tak sabar. Aku menggeram kesal. Tak tahan lagi, aku menginjak keras kaki Tim hingga cowok itu mengerang kesakitan. “Lo itu sebenernya kenapa sih? Gue nanya baik-baik, lo jawabnya cari masalah banget!” kataku murka. Tim balas menatapku kesal. “Lo sama sekali bukan teman yang setia kawan. Bisa-bisanya lo laporin temen lo sendiri ke panitia.” Aku membelalak kaget. Jadi Tim marah karena aku melaporkan Talitha? Bukannya tadi dia bilang dia tidak ada perasaan apa-apa pada Talitha? “Lo marah ke gue gara-gara gue ngelaporin Talitha?” tanyaku dingin. “Gue marah ke elo karena lo nggak setia kawan. Nggak seharusnya lo begitu.” “Talitha bahkan bukan temen gue, kenapa gue harus peduli? Dia itu musuh gue. Lagian apa salahnya kalau gue jujur?” Tim menggeleng kesal. “Lo nggak tahu betapa beratnya usaha gue sama Devon buat muncul di sini. Dan sekarang lo bikin usaha kami itu sia-sia!” Aku menatap bingung pada Tim. “Maksud lo apaan sih?” Tim menghela napas lelah. “Devon sudah berulang kali ingin masuk ke sini untuk mencari tahu tentang kematian kakaknya, tapi dia selalu gagal. Nggak tahu kenapa, kalau mau masuk ke sini, kami harus mengantongi izin dari kepala desa dan lainnya. Singkatnya, nggak ada jalan lain untuk ke sini selain lewat pelatihan yang diadakan satu tahun sekali ini,” buka Tim lelah. “Karena itu, selama beberapa bulan terakhir gue sama Devon harus pontang panting minta bantuan A B C buat bikin artikel dan lainnya yang kira-kira bisa bikin kami lolos ke pelatihan ini, tahu. Dan ketika akhirnya kami bisa masuk ke pelatihan ini, lo malah ngacauin semua dengan terpergok sampai ngelaporin Talitha yang kemungkinan besar bisa bantuin si Devon. Gimana gue nggak kesel coba.” Aku merasa tidak bersalah karena telah melaporkan Talitha, tapi tak bisa dipungkiri, aku sedikit merasa tidak enak setelah mendengar cerita Tim. “Satu, gue nggak tahu masalah kalian. Dua, asal lo tahu ya, gue sama Talitha itu bukan temen, tapi musuh. Jadi wajar aja kalau gue ngelaporin dia,” kataku dingin. “Terserah lo lah mau mikir apa tentang gue. Terserah lo juga mau diem-dieman sampai kita balik atau enggak. Bahkan kalau lo mau ganti pasangan, gue nggak masalah juga. Terserah elo!” lanjutku jengkel. Aku berjalan mendahului Tim. Kalau dipikir-pikir, tidak seharusnya dia marah padaku. Memang benar, mungkin panitia menjadi lebih aware karena memergokiku keluar dari hutan, tapi memangnya itu salahku 100%? Aku hanya mengikuti Talitha! Lagipula, selain Devon, Tim dan Talitha, semua anak pasti akan berterima kasih padaku karena keamanan mereka jauh lebih terjamin sekarang. Tim sepertinya tidak berniat minta maaf atau berbaikan denganku. Kami berdua berjalan dalam diam dan berusaha menyelesaikan perjalanan kami secepat yang kami bisa. Setelah kami mengumpulkan lima amplop dari lima pos yang berbeda, aku dan Tim segera kembali ke pendopo. Aku dan Tim termasuk salah satu dari sepuluh pasangan yang berhasil kembali dengan cepat. Tak ingin lebih lama berduaan dengan Tim, aku memilih meninggalkan Tim ke kamar mandi dan sengaja berlama-lama di sana. Saat aku keluar dari kamar mandi dan baru akan kembali ke pendopo, tidak sengaja aku melihat Talitha. Aku sempat terdiam sejenak ketika melihat Talitha yang tampak pucat dan syok, mulai berjalan ke arahku. Melihat wajahnya yang tampak syok, aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi padanya selama di hutan tadi. Namun tidak ada yang lebih membuatku syok daripada sikap Talitha yang mendadak berubah padaku. Jika biasanya dia selalu berpura-pura tidak melihatku saat berpapasan denganku, kali ini matanya langsung membulat begitu melihatku. Saat aku sengaja berjalan menghindarinya, di luar kebiasaan, Talitha malah langsung mengejarku dan memegang pergelangan tanganku bahkan sebelum aku menyadarinya. “Hai, Nat,” panggil Talitha pelan. Aku tertegun menatap Talitha. Aku berani bersumpah ada yang aneh dengan Talitha hari ini. Sial, mendadak aku menjadi merinding sendiri. Sikap Talitha terlalu aneh untuk diabaikan. Seumur-umur, belum pernah dia menyapaku. Apalagi menyapaku dengan nada pelan dan lembut seperti barusan. Setengah kaget, setengah takut, aku menepis tangan Talitha dari pergelangan tanganku. “Apa?” sahutku tak ramah. “Gue butuh ngomong sama lo. Bisa?” tanya Talitha lirih. Aku penasaran setengah mati, tapi aku juga tidak sudi mengabulkan permintaan Talitha, Jika dia ingin bicara padaku, tentu saja aku harus menolaknya. Sebaliknya, jika dia tidak berniat bicara denganku, aku baru akan bicara dengannya dengan sukarela. Aku mendengus keras sebagai jawabanku untuk Talitha. “Sori, gue sibuk,” “Please,” sahutnya lagi. Dan aku semakin membelalak mendengar kata-kata yang tak mungkin diucapkan Talitha sebelum hari ini.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN