Kami akan memasuki hutan malam ini?
Reflek, aku melirik cemas ke arah hutan. Biasanya Davina selalu berkeliaran di hutan saat malam hari, bagaimana dengan malam ini? Bagaimana jika dia ketahuan para panitia nanti? Aku ingin memperingatkan Davina, tapi bagaimana caranya?
“Tidakkah menurut lo pertemuan kita ini takdir?” bisik seseorang di telingaku.
Aku melirik malas ke sosok yang tengah duduk di sampingku. “Maksud lo?” tanyaku malas.
Devon tersenyum lebar padaku. “Pertama-tama kita bisa bertemu dan berkenalan di tempat ini. Tak lama, kita semakin akrab karena peristiwa bendera. Nggak cukup dengan itu, kita masih juga disatukan dalam sebuah kelompok. Dan sekarang, seolah ingin memberitahu kita kalau kita ini benar-benar berjodoh, kita malah mendapat kesempatan berkencan di acara resmi seperti ini. Takdir itu luar biasa bukan?” bisik Devon lagi.
Aku mendengus tak habis pikir. “Kita nggak akrab. Kita bisa sekelompok karena ada yang namanya teori probabilitas. Dan bentar lagi kita mau jurit malam, bukan kencan,” kataku pelan tanpa mengalihkan pandanganku dari Kak Daniel yang sekarang sedang memberikan penjelasan di depan kami.
“Justru itu, Ta. Berapa persen hayo kemungkinan kita bisa sekelompok setelah rebutan bendera. Yah, memang nggak ada yang bisa ngalahin jodoh sih ya. Walau kemungkinannya 0 koma, tetep aja bisa ketemu bagaimanapun caranya.”
Aku menggeleng perlahan. Mungkin seharusnya dari awal aku tidak menanggapi semua ucapan Devon. Tapi karena terlanjur memulai percakapan dengan Devon, aku terpaksa kembali menanggapi cowok yang tidak bisa diajak serius itu.
“Apa selalu begini sama semua cewek yang lo temui?” sindirku lelah.
“Wah, tuduhan lo itu sangat menyakitkan! Tentu saja gue nggak gitu ke semua cewek. Gue gitu cuma ke cewek spesial aja. Dalam hal ini, elo.”
Sekali lagi aku mendengus. Rasa-rasanya memang agak sia-sia jika ingin bicara serius pada Devon. “Terserah lo lah. Sudah diem dulu, gue mau dengerin Kak Daniel dulu.”
“Nah, kalau gitu gue makin semangat buat ngomong. Gue nggak suka sama cowok itu. Dia tipe-tipe buaya. Percaya deh sama gue, gue paling bisa ngeliat yang gitu-gitu,” sahut Devon lagi.
“Ya, dia buaya. Dan lo, kadal. Mendingan buaya kan ya? Sama-sama jelek sih, tapi paling nggak buaya masih keliatan lebih garang,” tukasku jengkel.
Devon terkekeh sebelum kembali berbisik di telingaku. “Ini sebabnya gue jadi suka sama lo, Ta.”
Reflek aku melirik Devon. Cowok itu tersenyum lebar menatapku sebelum memberiku isyarat untuk kembali mendengarkan sesi Kak Daniel yang hampir berakhir. Sambil menggeleng tak habis pikir, aku kembali menfokuskan pikiranku ke semua perkataan Kak Daniel dan intruksi-intruksinya sebelum kami semua diminta memasuki hutan bersama dengan kelompok kami masing-masing.
*
Seharusnya dari awal aku tidak perlu mencemaskan Davina. Jika sampai sekarang dia tidak berhasil ditemukan oleh siapapun, kenapa aku berpikir dia akan ketahuan malam ini? Sejak mulai memasuki hutan, aku sudah menatap sekelilingku dengan seksama, tapi aku sama sekali tidak melihat sosok Davina. Saat melewati danaupun, Davina tidak ada di sana. aku tersenyum. Entah bagaimana caranya, Davina pasti sudah tahu kalau kami akan melakukan perjalanan mengelilingi hutan sehingga dia tidak berkeliaran di hutan malam ini. Baguslah. Aku bisa melakukan aktivitasku dengan lebih tenang sekarang.
Aku dan kelompokku menjelajahi hutan dipimpin oleh Kak Wulan, salah satu tutorku yang lain selain Kak Tyas. Dari semua tutor di sini, aku paling menganggumi Kak Wulan yang sudah berhasil menjadi wartawan senior dalam usia yang relatif muda. Oleh sebab itulah, aku luar biasa senang saat tahu dia akan menjadi tutor kelompokku.
Setelah yakin Davina tidak terlihat di manapun termasuk di danau, aku melangkahkan kakiku lebih cepat agar aku bisa berjalan di baris depan, tepat di belakang Kak Wulan. Namun belum sempat aku melaksanakan niatku, mendadak saja seseorang menarik tanganku keras.
“Lo mau ke mana? Sebentar lagi kita akan keluar dari hutan dan mulai berkencan melewati rumah-rumah penduduk. Lo mau kabur?” tuduh Devon sambil menyeringai.
Aku melotot kesal pada Devon. b******k! Kalau saja kami tidak sedang bersama puluhan anak lain maupun beberapa pendamping, aku pasti sudah akan memaki Devon.
Belum puas memelototi Devon, mendadak mataku menangkap siluet Davina yang bersembunyi di balik pepohonan. Aku langsung membelalak kaget. Ya Tuhan, ternyata aku salah. Davina tidak tahu tentang perjalanan kelompok ini. Tapi sepertinya dia sempat bersembunyi. Untung saja dia sempat bersembunyi.
Aku masih membelalak menatap Davina ketika cewek itu akhirnya melongok padaku dan memberiku isyarat untuk tutup mulut dan cepat pergi dari tempatku sekarang. Aku tersentak. Buru-buru aku berdehem dan bersiap melanjutkan langkahku yang sudah tertinggal beberapa langkah di belakang teman sekelompokku.
“Lo liat apaan sih? Kayak habis liat hantu aja,” kata Devon sambil bersiap menoleh ke arah tempat Davina bersembunyi.
Panik, aku buru-buru mengulurkan kedua tanganku untuk menahan pipi Devon. Devon tampak kaget, apalagi aku. Saat mata kami bersirobok, rasanya wajahku memerah saking malunya.
“Wah…. Nggak nyangka lo agresif juga, Ta,” goda Devon geli.
Aku buru-buru menurunkan tanganku. Sambil cemberut, aku berbalik dan melangkah besar-besar menyusul anggota kelompokku yang lain. Sialan. Lagi-lagi gara-gara Davina, aku melakukan sesuatu yang memalukan diriku sendiri!
“Hei, Ta, tungguin gue dong,” kata Devon sambil menyusul langkahku. “Lagian lo nggak sabaran amat sih, Ta? Kalau mau mesra-mesraan, mestinya nanti aja dong, waktu kita berduaan. Kalau sekarang kan malu, banyak mata yang ngeliat.”
Aku hanya melirik sadis ke arah Devon dan memilih berhenti bicara padanya hingga tiba saatnya aku harus berjalan berdua dengannya.
*
Semula kupikir berada di perumahan penduduk yang berada di tepi hutan yang akan jauh lebih baik daripada berada di hutan. Tapi ternyata aku salah. Kondisi perumahan di dekat hutan ini nyaris sama menyeramkannya dengan di dalam hutan. Dengan penerangan yang minim dan lantai kayu yang bergantian berdecit dari satu rumah dengan rumah yang lain, aku malah lebih memilih berkeliling di hutan daripada di sini. Bahkan Devon pun mengumpat beberapa kali karena tersandung dan nyaris hampir jatuh beberapa kali.
“Gila. Sebenernya tujuan acara ginian apa sih? Nggak ada faedahnya sama sekali! sialan” umpat Devon ketika hampir tersandung ketiga kalinya malam itu.
“Seorang wartawan itu harus mampu bekerja di medan apapun, seseram atau setidak nyaman apapun medan tersebut. Lagian tadi Kak Daniel kan sudah bilang kalau acara ini juga untuk memperkokoh kerjasama tim,” kataku tak sabar.
“Sori aja, kadal nggak ada urusan sama buaya, jadi nggak mungkin gue dengerin,” sindir Devon mengembalikan kata-kataku tentang kadal dan buaya sebelumnya.
Aku terkekeh geli. Sekalipun lebih banyak menyebalkannya, Devon tidak terlalu buruk untuk dijadikan patner di kala seperti ini. Setidaknya dia bisa mencairkan suasana sehingga suasana di sini tidak seseram sebelumnya.
“Omong-omong, kenapa lo mau jadi wartawan?” tanya Devon tiba-tiba.
Aku meliriknya sekilas sebelum menjawab pertanyaannya sambil mengarahkan senterku mencari tanda untuk menuju ke pos yang disediakan panitia.
“Gue? Hmm, karena menurut gue profesi mereka itu keren? Wartawan itu bisa membuat orang tidak tahu menjadi tahu akan suatu hal. Wartawan juga bisa memberitahu kebenaran akan suatu hal. Yah, semacam itu. Menurut gue, profesi ini adalah yang terkeren di dunia,” jawabku sekenanya. “Lo sendiri? Kenapa lo minat jadi wartawan?” lanjutku basa-basi.
Devon tidak langsung menjawabku. Entah kenapa, dia melirikku sekilas, seolah menimbang akan memberikan jawaban padaku atau menyimpannya sendiri, lalu menghembuskan napas panjang sebelum mulai bicara padaku.
“Lo nggak perlu cerita kalau nggak minat cerita!” tukasku tersinggung. “Lagian gue tanyanya juga basa-basi aja tadi!”
Devon terkekeh mendengar ketidaksabaranku. “Gue baru mau cerita, Ta. Astaga, kenapa sih lo suka banget marah-marah.”
Aku sudah terlalu malas menanggapi Devon. Sambil mencebik, aku melangkah besar-besar untuk memberi jarak padaku dan Devon.
“Gue nggak suka profesi ini. Gue malah paling benci sama profesi ini,” kata Devon pelan.
Aku bergeming. Perlahan aku menoleh ke arah Devon yang masih berdiri di tempatnya tadi.
“Kakak gue yang suka banget sama profesi ini. Demi profesi ini, dia sampai rela ngikutin acara nggak jelas kayak gini dan akhirnya nyawanya terbuang sia-sia di sini,” lanjut Devon lagi.
Aku masih tetap bergeming. Aku belum bertanya apapun pada Devon tentang Davina. Tapi melihat wajah frustasi Devon yang belum pernah kulihat sebelumnya, aku tahu Davina tidak berbohong. Entah bagaimana aku yakin bahwa Devon dan Tim benar-benar ke sini dengan tujuan yang sama dengan Davina.
“Dan lo, Ta,” kata Devon tiba-tiba.
Aku menatap Devon penasaran.
“Lo kenal sama kakak gue kan?”
***