Tim tampak luar biasa terpaksa ketika cowok satu itu melangkah ke arahku. Aku menatapnya sinis. Dia pikir hanya dia yang bisa marah? Lagipula harusnya aku yang marah padanya. Tim yang tiba-tiba datang padaku dan menuduhku melapor yang tidak-tidak pada Kak Tyas. Padahal aku tidak melakukannya tadi. Yah, walaupun akhirnya aku memang melaporkan Talitha, tapi paling tidak aku belum melakukannya saat Tim menuduhku tadi.
Pura-pura tidak melihat Tim, aku melengos dan mulai meraih tasku. Hampir semua anak sudah berjalan ke tepi hutan tempat dimulainya acara. Di timku saja, tinggal aku dan Tim yang tersisa di pendopo.
“Lo sudah bawa senter, buku dan alat tulis?” tanya Tim datar begitu dia tiba di depanku.
Tanpa memandang Tim, aku mengangguk pelan. “Sudah lengkap,” jawabku sama datarnya.
“Ya sudah, kita gabung sama yang lain. Jangan lupa catetin jumlah tanda yang ada dari sejak kita masuk hutan sampai kita balik. Tim yang berhasil menebak jumlah yang benar akan mendapat keuntungan untuk proyek-proyek berikutnya,” sahut Tim lagi.
Aku memilih tidak menanggapi Tim. Tidak berniat berbasa-basi dengan Tim, aku melangkah terlebih dahulu menuju ke tepi hutan di mana teman-teman sekelompokku sudah menungguku dan Tim.
Setelah mendapatkan penjelasan singkat tentang hutan yang akan kami kelilingi, kelompok kami, dengan dibarengi seorang tutor, mulai memasuki area hutan. Sekalipun kami berjalan beriringan dan termasuk berjalan dengan grup besar, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa merinding yang langsung kurasakan begitu aku menginjakkan kakiku ke dalam hutan. Dan sialnya, kengerian yang kurasakan semakin bertambah berkali-kali lipat ketika aku akhirnya hanya berjalan berdua dengan Tim. Kami memang sudah tidak lagi berada di dalam hutan melainkan di desa yang terletak persis di ujung hutan. Tapi tetap saja, dengan minimnya cahaya dan suara yang terdengar di sana, kengerian yang kurasakan tidak jauh berbeda dengan saat aku berada di dalam hutan tadi.
Aku merapatkan jaketku erat-erat untuk menghalau dingin sekaligus ngeri yang mulai membuat bulu kudukku berdiri.
“Kalau lo setakut ini, ngapain lo nekad masuk ke hutan tadi sore?” bisik Tim tiba-tiba.
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara Tim. Bukan saja karena dia tiba-tiba dia mendekatiku dan menyapaku saat aku setengah melamun, tapi juga karena ternyata dia tahu tentang apa yang kulakukan tadi sore.
“Eh, lo lihat gue tadi sore?” tanyaku reflek.
Tim mendengus kesal. “Bukan cuma gue yang lihat. Beberapa panitia juga ngeliat elo. Lo pikir gara-gara siapa para panitia sekarang meningkatkan penjagaan mereka? Itu semua gara-gara elo tahu.”
Aku menatap Tim dengan tidak percaya. Benarkah para panitia meningkatkan penjagaan mereka gara-gara aku? Bukan karena Talitha yang sudah beberapa kali masuk ke dalam hutan? b******k. Rasanya ini tidak adil. Talitha ibarat penjahat yang sesungguhnya, tapi kenapa aku yang dituduh dan ditangkap? Lagipula, kenapa sih Tim tampak begitu kesal tentang masalah penjagaan ini. Padahal harusnya ini lebih bagus untuk para peserta. Dengan begini, keamanan peserta jelas lebih terjamin bukan?
“Memangnya lo ada urusan di dalam hutan ini? Kenapa sih lo sewot amat kalau panitia mulai memperketat akses peserta buat keluar masuk hutan? Menurut gue itu malah wajar kali. Justru bahaya kalau orang-orang nekad kayak Talitha bebas kluar masuk hutan,” omelku kesal.
Tim terdiam sejenak sebelum menatapku penasaran. “Memangnya ada urusan apa si Talitha ke hutan segala?” tanyanya dalam.
“Ya mana gue tahu. Yang jelas gara-gara ngikutin dia, gue jadi ketahuan sama Kak Tyas tadi sore,” omelku lagi. “Eh, tunggu. Gue baru inget kalau lo sama temen juga masuk hutan kan? Atau jangan-jangan, elo sama temen lo ya yang tadi sore ngomong-ngomong sama Talitha di hutan?”
Wajah Tim yang tampak kebingungan membuatku yakin bukan Tim yang diajak Talitha bicara tadi sore. “Ah sudahlah, sepertinya lo nggak tahu apa-apa soal tadi sore,” kataku yakin.
“Bisa tolong lo ceritain lebih dalam ke gue tentang Talitha?” tanya Tim tiba-tiba.
Aku langsung menyipit tak suka memandang Tim. Yang benar saja. Bahkan Tim juga menyukai Talitha? Eh, tunggu, bukannya teman Tim yang satunya juga menyukai Talitha? Jangan bilangBrengsek, apa sih bagusnya Talitha sehingga semua cowok kelihatannya tidak kebal pada pesonanya?
“Lo nggak ada kans buat dapetin Talitha. Mendingan nyerah aja. Lagian dia nggak ada bagus-bagusnya buat disukai,” reflekku dingin.
Wajah Tim terlihat tersinggung mendengar perkataanku. “Memangnya kenapa gue nggak punya kans buat dapetin Talitha?” kata Tim tak kalah dingin.
Mendengar dinginnya nada suara Tim, aku merasa sedikit tak enak hati. Apa aku terlalu jujur padanya? Tapi perkataanku memang benar. Sampai sekarang, Talitha tidak pernah tampak menyukai seseorang. Bahkan Aaron yang terus terang lebih tampan dan menarik daripada Tim. Tapi mungkin
Bukannya aku menghina Tim. Tim juga tidak jelek. Malah dia bisa dibilang cukup tampan dan manis. Tapi aku tahu dia bukan selera Talitha. Yah, walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu persis bagaimana selera Talitha. Tapi setelah enam bulanan mengenal Talitha, aku tahu Talitha tidak terlalu tertarik mengurusi lawan jenis. Sekalipun banyak yang menyukainya, tidak ada yang kudengar benar-benar diterima Talitha sebagai kekasihnya.
“Dia itu dinginnya ngelebihin es. Kalau nolak cowok juga nggak kira-kira. Lagian kayaknya dia sama sekali nggak minat pacaran sekarang. Nggak perlu buang-buang waktu buat cewek nggak penting kayak dia,” kataku cepat.
Wajah Tim melembut, tidak lagi tampak setersinggung sebelumnya. “Gue juga nggak suka sama Talitha. Kenal aja enggak. Tapi gue penasaran sama tujuan Talitha masuk ke dalam hutan,” kata Tim pelan. “Maksud gue tadi, bisa nggak lo tolong ceritakan ke gue tentang apa yang Talitha lakuin di hutan tadi? Lo bilang lo ngikutin Talitha kan? Jadi lo pasti tahu dong apa yang dilakukan Talitha di hutan?” lanjut Tim cepat.
Aku menyipit penasaran pada Tim. Kenapa sepertinya dia begitu tertarik pada apa yang dilakukan Talitha di hutan. Apa ini ada hubungannya dengan pembicaraannya yang tidak sengaja kudengar itu?
“Kalau gue kasik tahu, lo mau kasik tahu gue juga kenapa lo sama temen lo juga suka main ke hutan kayak Talitha?” todongku penasaran.
Tim terdiam sejenak sebelum memandangku lekat. “Tergantung sama jawaban lo,” jawab Tim sungguh-sungguh.
“Nggak bisa. Kita sama-sama jujur aja. Gue jujur ke elo, elo jujur ke gue, gimana?” tawarku keras kepala.
Tim terlihat menimbang sejenak sebelum mengangguk setuju. “Tapi lo juga harus janji ya, pembicaraan ini hanya untuk konsumsi kita berdua,” kata Tim tajam.
Aku menatap mata Tim saat menjawab permintaannya. “Deal,” kataku pelan.
“Ok, kalau gitu lo cerita dulu tentang Talitha, baru gue yang cerita soal gue dan temen gue.”
Aku mendesah pelan. Terlalu penasaran dengan cerita Tim, aku memutuskan untuk tidak terlalu banyak memprotes.
“Gue nggak tahu persis apa yang sebenarnya Talitha lakukan di hutan. Yang jelas, semalam gue ngeliat Talitha masuk diam-diam ke dalam hutan. Tengah malam pula. Dan menurut gue itu sangat aneh. Talitha sangat terobsesi dengan pelatihan ini, jadi gue agak kaget melihat dia jelas-jelas melanggar peraturan dengan memasuki hutan seperti itu. Feeling gue bilang, pasti ada sesuatu yang sangat penting dalam hutan sehingga Talitha sampai mengambil risiko sebesar itu untuk kehilangan kesempatannya untuk terpilih sebagai salah satu peserta teladan di sini,” beberku jujur. “Yang nggak gue sangka, tadi Talitha kembali memasuki hutan padahal hari masih terang benderang dan risiko untuk terlihat jauh lebih besar daripada kemarin. Karena luar biasa penasaran, gue mutusin buat ngikutin Talitha. Tapi gue telat. Gue sempat tersesat di hutan sebelum gue akhirnya nemuin Talitha di dekat danau di tengah hutan. Nah pas gue nemuin Talitha, gue nggak sempet ngeliat siapapun selain Talitha sih, tapi sebelum gue ngeliat Talitha, terlebih dulu gue sempat ngedenger Talitha seperti sedang ngomong sama seseorang. Dan orang itu yang gue pikir lo sama temen lo,” lanjutku cepat.
Tim mendengarkan ceritaku dengan seksama. Setelah aku selesai berbicara, Tim menatapku serius. “Talitha ngomong-ngomong dengan seseorang di dekat danau? Lo yakin?” tanya Tim penasaran.
“Gue nggak ngeliat siapapun sih, tapi gue yakin Talitha sedang ngobrol sama seseorang tadi.”
“Cewek atau cowok?”
“Apanya?”
“Temen ngobrolnya Talitha lah.”
“Oh… Entahlah. Gue cuma denger suaranya Talitha sih. Tapi dia nggak mungkin monolog. Dia juga kelihatan sangat kesal waktu dia akhirnya ngeliat gue. Seakan gue sudah ngeganggu apapun yang dilakukan Talitha saat itu.”
Tim kembali terdiam. Dari wajahnya, aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu.
“Gue sudah nyeritain semua yang gue tahu ke elo. Sekarang giliran lo yang cerita.”
Tim tampak kaget saat mendengar suaraku. Tampak jelas bahwa dia sempat melamun tadi. Dan yang menjengkelkan, sekarang setelah aku menceritakan semua yang kutahu tentang Talitha, Tim malah tampaknya enggan untuk menceritakan alasannya berada di hutan.
“Jangan bilang lo berniat mangkir ya, Tim,” ancamku kesal.
Tim menatapku dengan wajah tersinggung. “Gue bukan orang yang nggak nepatin janji. Gue cuma bingung aja harus cerita dari mana.”
“Terserah elo mau dari mana. Yang penting lo cerita dulu karena gue sudah penasaran setengah mati!”
Tim menghembuskan napas panjang sebelum membuka mulutnya kembali. “Gue beneran serius waktu bilang jangan katakan ini ke siapapun yang ada di sini. Ini rahasia gue dan Devon, temen gue.”
Aku mendelik tak sabar. “Iya! Dan gue sudah bilang kan kalau gue bilang setuju. Tenang aja, rahasia lo dan temen lo aman di gue.”
Tim lagi-lagi terdiam. Namun kali ini diamnya Tim hanya sebentar. Tak lama kemudian, Tim mulai membuka mulutnya kembali.
“Gue ke hutan karena Devon,” buka Tim pelan. “Setahun yang lalu, kakak Devon pernah mengikuti pelatihan ini dan mendadak menghilang. Kakak Devon tidak pernah ditemukan. Polisi bilang kakak Devon itu tenggelam di danau, namun sekalipun polisi telah menyisir danau, jasad kakak Devon tidak pernah kembali ke Devon dan kedua orangtuanya.”
Aku membelalak mendengar cerita Tim. Danau? Danau di tengah hutan? Pantas saja aku merasa luar biasa merinding ketika di hutan dan terutama di daerah danau. b******k, kenapa Talitha sama sekali tak merinding sehingga bisa pergi sendirian ke tengah hutan di tengah malam seperti semalam.
“Kalau lo tanya gue apa yang sebenernya dicari Devon di hutan, gue nggak tahu. Gue bahkan yakin dia pun nggak tahu apa yang mau dia cari di sini. Tapi dia selalu merasa terpanggil untuk ke hutan ini, tempat kakak satu-satunya menyabung nyawa. Dan gue sebagai sahabatnya Devon, gue ngerasa nggak punya pilihan lain selain mendukung Devon apapun yang ingin dia lakukan.”
Aku menatap Tim dengan tatapan tak percaya. Terus terang, cerita ini terlalu tidak masuk akal di telinga dan otakku. Andaipun cerita ini benar, apa yang diharapkan Devon untuk ditemukannya di hutan mengingat kakaknya sudah meninggal setahun yang lalu. Bahkan orang awam sepertiku saja tahu tidak akan ada yang mungkin biasa ditemukan Devon di hutan ini sekarang.
“Gue… Gue turut prihatin sama kakak Devon,” kataku lirih.
Tim melirikku lalu tersenyum tipis. “Thank. Akan kusampaikan padanya nanti.”
“Tapi omong-omong, kenapa lo penasaran sama Talitha tadi? Apa lo curiga kalau Talitha tahu sesuatu tentang ini?” tanyaku lagi.
Tim melirikku lalu mengangguk pelan. “Gue nggak curiga, tapi Devon yang curiga. Menurut Devon, Talitha pernah menyebutkan nama kakaknya waktu dia lagi ngobrol sama Talitha.”
Aku mengangguk mengerti. Aku tidak tahu sama sekali tentang urusan Talitha, Devon maupun Tim, tapi paling tidak sekarang aku mengerti jelas bahwa keputusanku untuk pergi ke pelatihan ini adalah sebuah kesalahan besar. Bukan hanya harus menghadapi banyaknya tugas yang harus kukerjakan, tapi bahkan di sini adalah tempat menghilangnya seseorang! b******k.
“Mendadak gue merinding. Ayo cepat selesaikan tugas kita dan kembali ke tenda,” ajakku cepat.
Tim menertawaiku namun ikut menyusul langkahku. Setelah kami berdua hampir menyelesaikan tugas kami dan hampir sampai di pendopo, Tim tiba-tiba melirikku ramah.
“Omong-omong, waktu tadi lo kepergok Kak Tyas tadi, lo alasan apa ke Kak Tyas? Lo nggak bilang Talitha masuk ke hutan lagi kan?” tanya Tim santai.
“Tentu saja gue cerita semua yang gue tahu. Gue cerita soal talitha ke Kak Tyas.”
Tim kaget mendengar jawabanku. Mendadak wajahnya yang mulai ramah, kembali tak bersahabat. Tanpa kata, cowok labil itu malah mendahuluiku berjalan cepat ke pendopo.
Apa Tim lagi-lagi marah padaku? b******k. Siapa bilang hanya cewek yang suka bersikap sulit ditebak? Cowok terbukti juga sama sulitnya. Sial.
***