Sejak kapan Devon ada di sini?
Aku dan Kak Daniel menoleh kaget pada Devon yang tiba-tiba muncul dan mengatakan hal yang sama sekali tidak enak didengar. Aku menyipit pada Devon. Dia jelas tidak punya sopan santun sama sekali pada orang yang lebih tua.
“Kamu adalah…. Devon?” tanya Kak Daniel setelah melirik name tag Devon.
Alih-alih marah pada Devon, Kak Daniel malah tersenyum simpul. “Kalian pacaran?” tanya Kak Daniel sambil tersenyum makin lebar.
“Ya,” jawab Devon.
“Tentu saja tidak!” jawabku tak terima.
Kak Daniel melirikku dan Devon secara bergantian sambil tersenyum simpul. “Ah, baiklah, saya rasa mengerti,” kata Kak Daniel penuh arti. “Baiklah kalau begitu. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian. Saya juga harus lanjut patroli.”
Aku mengangguk sopan sementara Devon hanya berdiri sambil menatap dingin pada Kak Daniel.
“Oh ya, Ta, saya sampai lupa bilang. Tulisan-tulisan kamu waktu babak penyisihan kemarin bagus banget, Ta. Saya termasuk penggemar tulisan kamu, jadi saya sangat berharap kamu bisa sukses di sini. Kalau ada tugas atau apapun yang mau kamu tanyakan ke saya, jangan ragu untuk bertanya ya. Kalau saya bisa bantu, pasti akan saya bantu,” kata Kak Daniel yang tiba-tiba menoleh kembali padaku.
Aku tersenyum penuh terima kasih. “Makasih banyak pujiannya, Kak,” kataku sungguh-sungguh.
Kak Daniel kembali tersenyum sebelum melambaikan tangannya dan mulai berjalan menjauh. Begitu Kak Daniel dalam jarak yang cukup jauh untuk mendengar pembicaraanku dengan Devon, aku langsung menatap tajam ke si pencuri bendera yang ternyata benar-benar tidak punya sopan santun itu.
Saat aku menatap Devon, ternyata cowok itu juga tengah menatapku lekat.
“Lo bener-bener nggak punya sopan santun ya. Nggak sopan banget cara lo ngomong ke Kak Daniel tadi,” kataku ketus.
“Dia yang nggak tahu diri. Tebar pesona sana sini. Pakai bilang tulisan lo bagus segala,” kilah Devon tak terima.
Aku melotot mendengar jawaban Devon. “Tulisan gue memang bagus kali!” sergahku kesal.
Devon mendengus pelan. “Lo gampang banget ditipu, Ta,” cibir Devon. “Dia itu suka sama lo, Ta. Gue sudah merhatiin dia dari tadi pagi dan beneran, bentar-bentar dia suka lirik-lirik lo.”
Perkataan Devon membuat pipiku memanas. Buru-buru aku memalingkan wajahku sebelum Devon sempat melihat pipiku yang pasti terlihat mulai bersemu.
“Elo… Kalaupun yang lo bilang itu bener, itu nggak ada hubungannya sama lo,” kataku salah tingkah.
“Memang sih. Tapi gue nggak suka aja sama sikapnya. Senior yang baik seharusnya nggak ngegoda juniornya apalagi saat sedang acara seperti sekarang ini. Lagian gue serius waktu bilang ada yang bisik-bisik tentang lo sama Kak Daniel tadi. Mungkin mereka berdua cuma iri sama lo, tapi tetep aja nggak ada untungnya kalau lo sampai digosipin sama mereka,” sahut Devon santai. “Kalau lo nggak percaya, lo bisa lihat di deket pendopo sana. Cewek bando biru sama cewek iket kuda di sampingnya. Dari tadi mereka ngomongin lo melulu.”
Reflek, aku menoleh ke arah yang dibilang Devon. Memang sih, ada dua cewek yang sedang berdiri berdua sambil terkikik tak jelas. Tapi daripada sedang membicarakan aku, kedua cewek itu malah lebih terlihat seperti sedang membicarakan Devon. Malah bisa dibilang, mereka berdua sama sekali tidak menatapku, melainkan sesekali melirik malu-malu pada Devon.
“Lo beneran b**o atau cuma mau pamer?” sindirku ketus. “Cewek-cewek itu jelas-jelas lagi ngomongin lo, bukan gue. Dari tadi mereka ngelirik-ngelirik lo, bukan gue!” lanjutku gemas.
Devon tiba-tiba tersenyum menatapku. “Oh ya? Mereka ngelirik-ngelirik gue? Dan lo cemburu? Nggak perlu cemburu, Ta. Tenang aja, Ta, gue cuma ngelirik lo kok. Sejak awal, gue cuma bisa ngeliatin lo.”
Aku melongo menatap Devon. Niatku untuk mencari tahu tentang Vina darinya mendadak lenyap seketika. Tanpa banyak bicara, aku melangkah besar-besar menjauhi Devon.
“Hei, Ta. Lo mau ke mana? Ujung-ujungnya nanti kita juga barengan, jadi sekalian aja kita nunggu waktu sambil ngobrol di pendopo,” kata Devon yang mendadak berhasil menyamai langkahku.
“Nggak perlu. Gue nggak mau ngabisin lebih banyak waktu sama cowok aneh kayak lo. Waktu saat pelatihan itu sudah lebih dari cukup.”
Devon terkekeh sementara aku mempercepat langkahku. Tak ingin berlama-lama dengan Devon, aku memutuskan untuk meninggalkan cowok yang sepertinya tidak akan pernah bisa serius itu.
Baru dua langkah, aku mendengar suara seseorang memanggil Devon. Aku tidak peduli, tentu saja. Tapi ketika Devon memanggil nama teman yang baru memanggilnya, aku tidak bisa tidak menoleh.
Tim…
Ternyata Davina benar. Devon mempunyai teman bernama Tim.
Reflek, aku setengah berlutut dan berpura-pura mengikat tali sepatuku. Aku ingin menoleh dan melihat rupa Tim agar besok-besok aku bisa mencaritahu tentang Vina darinya alih-alih Devon, tapi aku sama sekali tidak berani. Devon pasti akan langsung memergokiku kalau aku melakukan itu.
Terpaksa, aku hanya bisa berlama-lama mengikat tali sepatuku sambil berharap bisa mendengar sedikit percakapan Devon dan Tim yang bisa membantuku agar lebih yakin soal Davina.
“Sialan, Von. Mulai hari ini, para tutor bakal patroli siang malam. Kita nggak bisa lagi masuk hutan seenaknya!” omel Tim kesal.
Deg.
Perkataan Tim membuatku reflek membeku. Aku buru-buru menajamkan pendengaranku untuk mendengar lebih lanjut tentang apa yang ingin dikatakan Tim.
"Dan lo tahu ini semua gara-gara siapa? Gara-gara--"
Aku tidak pernah mendengar kelanjutan ucapan Tim. Devon yang buru-buru mendesis dan memberi isyarat pada Tim untuk diam, membuatku tidak mungkin melakukannya. Sejenak hening yang tercipta di antara kami. Tak lama kemudian baru suara Devon kembali terdengar di gendang telingaku.
“Hoi, Ta, lo lagi ngapain sih? Nyari duit jatuh?” teriak Devon tiba-tiba.
Aku mengumpat kesal. Sial, Devon mungkin tahu aku tengah menguping pembicaraannya sehingga dia mendadak menegurku seperti barusan.
Tak ingin Devon lebih curiga, aku mencoba bersikap santai. Setelah benar-benar memasang tali sepatuku yang sejak tadi hanya kulepas dan kupasang kembali, aku berdiri tanpa menoleh sama sekali pada Devon.
"Itu Talitha ya?" tanya Tim yang langsung membuatku membelalak kaget.
Tim tahu tentang diriku juga? Tapi kenapa?
Aku penasaran setengah mati, tapi akhirnya hanya bisa melangkah pergi. Tanpa pamit atau sekedar basa-basi, aku melangkahkan kakiku dengan pikiran baru. Ada yang aneh dengan Devon dan Tim.
Devon dan Tim saling mengenal seperti pengakuan Davina.
Mereka berdua juga sering keluar masuk hutan sepertiku.
Dan anehnya, bahkan Tim tahu aku padahal aku saja baru mengetahui namanya beberapa menit yang lalu.
Aku terhenyak. Bahkan tanpa menanyakan apa-apa pada Devon, aku sudah bisa menebak bahwa hasil akhirnya. Aku sama sekali tidak ingin percaya, tapi sepertinya semua yang dikatakan Davina itu benar. Ah, sial. Bagaimana mungkin pelatihan sebesar dan seterkenal ini malah menyembunyikan seorang pembunuh? Dan apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah berjanji pada Davina akan membantunya jika semua yang dikatakannya terbukti benar. Tapi dengan apa aku bisa membantunya? Aku bahkan tidak tahu dari mana aku harus membantunya!
***