Fiuh…
Kupikir aku tidak akan bisa keluar dari hutan terkutuk ini. Tapi syukurlah, aku bisa. Aku mulai mengembangkan senyumku saat melihat Talitha sudah tiba di tepi hutan dan langsung menoleh ke kanan dan kirinya sebelum akhirnya berlari cepat kembali ke tenda. Untuk kali ini, aku sudah tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan Talitha. Aku lebih peduli dengan keadaanku. Syukurlah aku bisa keluar hidup-hidup dari hutan yang membuat bulu kudukku merinding itu.
Aku buru-buru mempercepat langkahku. Aku tidak ingin sendirian di hutan sekalipun jarakku dengan tepi hutan hanya tinggal beberapa meter. Entah aku yang pengecut atau memang hutan selalu membawa suasana mencekam seperti ini, aku tidak bisa berhenti merinding sejak memasuki hutan ini.
Aku merapatkan jaketku. Sambil melirik sekelilingku, aku mulai mempercepat langkahku. Tepat saat jarakku dengan tepi hutan tinggal satu meter, mendadak sebuah sosok muncul di hadapanku. Aku terlonjak setengah mati saat hampir menabrak sosok yang mendadak menghalangi jalanku. Saking terkejutnya, aku jatuh terduduk sambil menatap ketakutan pada sosok yang menghadangku. Namun saat aku mulai mengenali wajah Kak Tyas, aku mulai menghela napas lega. Syukurlah, hanya Kak Tyas.
“Jadi, bisa tolong kamu jelaskan ke saya tentang apa yang kamu lakukan di dalam hutan sementara semua teman-teman kamu sedang berada di tenda mereka untuk beristirahat?” tanya Kak Tyas dingin.
Well, ok, memang aku bilang syukur hanya Kak Tyas yang menemukanku. Tapi setelah melihat wajah Kak Tyas yang dingin dan tampak tidak bersahabat, aku mulai berubah pikiran. Sial. Apa yang harus kukatakan pada Kak Tyas?
“Saya menunggu jawaban kamu, Natasha,” kata Kak Tyas dingin.
Aku menunduk dalam. Otakku berpikir cepat. Apa yang harus kukatakan pada Kak Tyas sekarang. Atau mungkin aku harus mengaku? Yang benar saja kalau aku yang harus menerima hukuman hanya untuk melindungi Talitha. Kalau hukumannya adalah langsung dipulangkan dari sini, masih tidak apa-apa. Tapi bagaimana kalau hukumannya masuk ke hutan sendirian? Atau entah apa yang ada hubungannya dengan hutan. Oh tidak, tidak, aku tidak bisa mengambil risiko.
Aku berdiri perlahan. Setelah membersihkan celanaku yang kotor terkena dedaunan, aku mulai berdiri tegak dan menatap Kak Tyas lekat.
“Saya mengikuti Talitha, Kak,” jawabku berani.
Kak Tyas mengerjap bingung. “Talitha?”
Aku mengangguk pelan. “Iya, Talitha, Kak. Kebetulan dia satu sekolah sama saya. Dia ada di kelompok merah. Kelompoknya Kak Tyas kalau nggak salah,” bukaku cepat. “Semalam saya melihatnya masuk ke dalam hutan. Saya memang melihatnya dari kejauhan dan tidak punya bukti apa-apa, tapi saya cukup yakin itu Talitha. Lalu tadi saya tidak sengaja melihatnya lagi, jadi saya merasa penasaran dan berakhir dengan mengikuti Talitha,” lanjutku tanpa ragu.
Kak Tyas memandangku sangsi. “Lalu apa yang dilakukan Talitha di dalam hutan?” tanya Kak Tyas heran. “Kamu bilang kamu mengikutinya kan? Apa yang kamu lihat? Lalu di mana Talitha sekarang? Apa dia sudah kembali ke tenda atau masih berada di dalam hutan?” cecar Kak Tyas penasaran.
Aku mengerjap bingung mendengar banyaknya pertanyaan Kak Tyas. Setelah menggeleng pelan, aku mulai menjawab pertanyaannya satu per satu. “Saya tidak tahu, Kak. Tadi saya sempat tersesat di hutan dan kehilangan jejak Talitha, Kak. Setelah mencari beberapa saat, saya baru menemukan Talitha di dekat danau.”
Mata Kak Tyas membelalak kaget saat mendengar ceritaku. “Di dekat danau? Untuk apa Talitha ke dekat danau?”
Aku mengernyit bingung. Ini hanya perasaanku saja atau memang Kak Tyas terlihat agak syok mendengar ceritaku barusan?
“Er, saya juga nggak tahu sih, Kak. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya sempat tersesat, jadi saya tidak tahu tentang apa yang dilakukan Talitha. Namun saya sempat mendengar Talitha berbicara dengan seseorang, Kak. Saya tidak melihat atau mendengar lawan bicara Talitha, tapi saya sempat mendengar Talitha bicara seolah dia tidak sendirian,” jelasku cepat. “Begitu Talitha tahu ada saya, dia buru-buru menghampiri saya, Kak. Dia bilang pada saya untuk tidak mencampuri urusannya lagi. Karena saya takut tersesat lagi, akhirnya saya memilih mengikuti Talitha dan tidak lagi mencari sosok yang diajak bicara oleh Talitha.”
Wajah Kak Tyas yang semakin pias membuatku yakin bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Talitha maupun Kak Tyas. Entah apa.
“Kak Tyas kok kelihatannya kaget banget waktu tahu Talitha ada di dekat hutan? Memangnya ada apa sih, Kak, di dalam sana?” tanyaku menyelidik.
Kak Tyas tersentak dan buru-buru menggeleng menanggapiku. “Tidak, tidak ada apa-apa. Hanya saja hutan itu sangat berbahaya buat kalian-kalian. Apalagi di tengah hutan sana. Ada baiknya kalau kalian mematuhi peraturan yang kami buat untuk kebaikan kalian sendiri,” kata Kak Tyas tegas. “Terima kasih sudah mau jujur pada saya, Natasha. Tapi andai kamu menemukan kasus seperti ini lagi, tolong langsung cerita pada kami ya. Jangan bertindak sendiri seperti langsung mengikuti Talitha seperti ini.”
Aku tak punya pilihan selain mengangguk mengerti.
“Kalau begitu kamu bisa kembali ke tenda. Masalah Talitha, biar saya yang akan mengawasinya nanti. Istirahatlah dulu sebelum mengikuti acara nanti malam,” kata Kak Tyas sambil mundur selangkah untuk memberiku jalan.
Aku mengucapkan terima kasih dan melangkah maju. Namun belum genap lima langkah, Kak Tyas sudah memanggilku kembali. “Dan saya harap ini kali terakhir kamu masuk hutan sendirian seperti ini ya, Natasha. Apapun alasannya, kalian tidak boleh memasuki hutan ini tanpa izin.”
Aku mengangguk tegas. “Iya, Kak. Saya mengerti.”
*
“Kerjasama tim adalah hal yang penting untuk keberlangsungan sebuah media. Namun untuk mendapatkan kerjasama tim yang baik itu tidak mudah. Masing-masing dari kita perlu menjadi dekat, lebih saling mengenal dan terutamanya lebih bisa saling percaya dengan patner kita. Saat kita bisa mendapatkan semua itu, otomatis kita akan bisa membangun media kita jauh lebih solid daripada sebelumnya. Nah, malam ini, kita akan memulai proses pengenalan untuk kesolidan tim kita. Bagaimana caranya? Kita akan melakukannya sekaligus sambil sedikit berolahraga. Kita akan berjalan mengelilingi hutan. Pertama kita akan berjalan bersama masing-masing kelompok, namun nantinya, di daerah-daerah tertentu, kami sudah menyiapkan beberapa pos yang harus dilewati berpasangan,” jelas Kak Daniel, yang menjadi penanggung jawab acara untuk malam ini.
Aku melongo, tidak bisa mempercayai pendengaranku. Aku harus ke hutan? Lagi?
Setelah kembali ke tenda sore tadi, aku hanya sempat merebahkan diri selama kurang dari setengah jam sebelum aku kembali bersiap-siap mengikuti rangkaian acara yang telah dipersiapkan panitia malam ini. Yang tidak kusangka adalah kami akan kembali menjelajahi hutan untuk melatih keberanian dan kerjasama antar kelompok, yang nantinya akan berguna untuk membentuk tim yang lebih solid. Aku mengerang. Berada di hutan saat sore hari saja sudah berhasil membuatku merinding tak karuan, bagaimana jika pada malam hari.
“Untuk kelompoknya, kalian semua sudah dibagi dalam kelompok bukan? Kita memakai kelompok kalian yang itu. Dan untuk pasangannya, biar kita tidak perlu membuang waktu lagi, kita akan membagi pasangan malam ini sesuai dengan pasangan kalian dalam mengerjakan berita. Tenang saja, tidak usah takut. Sekalipun kita akan melewati hutan, asalkan kalian mengikuti sesuati arahan kami, kalian tidak mungkin tersesat,” lanjut Kak Daniel.
Setelah mendengar perkataan Kak Daniel, aku otomatis memikirkan Tim. Sejak dia ‘melabrakku’ siang tadi, dia sama sekali belum menyapaku lagi. Padahal sebelum-sebelumnya, dia termasuk sangat ramah padaku.
Reflek aku melirik Tim. Saat aku tengah meliriknya, ternyata Tim pun tengah melirikku. Namun begitu tatapan kami bersirobok, Tim langsung memalingkan matanya dariku.
Aku mengumpat dalam hati. s**t. Sepertinya malamku akan jauh lebih panjang daripada yang kubayangkan sebelumnya.
***