Chapter 11 - Talitha

1080 Kata
Sial, sial, sial. Lagi-lagi Natasha! Aku mengeluh dalam hati. Dari semua orang, kenapa harus dia? Maksudku, kalau memang harus ada yang akhirnya memergokiku sedang berada di tengah hutan, kenapa orang itu harus Natasha? Baru semalam dia memergokiku masuk ke dalam hutan. Sekarang, malah lebih parah. Bukan hanya memergokiku masuk ke dalam hutan, tapi Natasha benar-benar memergokiku saat aku sedang berada di dalam hutan! Sial. Dia pasti akan langsung melaporkanku pada salah satu panitia dalam waktu dekat. b******k! Tapi tunggu… Kenapa dia bisa memergokiku di sini? Apa dia mengikutiku? Tapi aku sama sekali tidak melihatnya saat mengawasi sekelilingku sebelum masuk ke dalam hutan tadi! Demi Tuhan. Benarkah dia benar-benar mengawasiku dan berniat menangkap basah diriku untuk menghancurkan impianku? Brengsek! Mendadak saja, aku merasa amat marah pada Natasha. Aku tidak pernah tahu apa alasannya membenciku, tapi bukankah keterlaluan jika dia segiat ini untuk menghancurkan cita-citaku? Aku bahkan tidak pernah mengganggunya! Aku berhenti melangkah. Dari langkahnya yang mendadak berhenti, aku tahu Natasha yang berjalan beberapa langkah di belakangku, juga ikut berhenti berjalan begitu aku menghentikan langkahku. Mulai meradang, aku berbalik menatap Natasha. Natasha tampak kaget saat melihatku menoleh ke arahnya. “Apa sih sebenernya mau lo, Nat? Ngapain lo ngikutin gue sampai ke sini?” tanyaku gusar. Natasha terdiam sejenak sebelum akhirnya menatapku dengan gaya pongahnya yang biasa. “Kamu tadi ngomong sama siapa? Kamu ketemuan sama siapa di dalam hutan,” tanya Natasha penasaran. Aku mencelos. b******k. Maesa juga mendengar saat aku sedang mengobrol dengan Davina? Tahu aku tidak bisa berdalih, aku menatap tajam ke arah Natasha. Tanpa mengalihkan tatapanku, aku melangkah mendekati Natasha. “Itu…. Bukan…. Urusan…. Kamu!” geramku sungguh-sungguh. “Aku harap ini kali pertama dan kali terakhir kamu buntutin aku dan mencoba ikut campur dalam urusanku seperti ini. Jika sekali lagi saja aku tahu kamu sedang mengulang kesalahan yang sama, aku benar-benar tidak akan tinggal diam!” lanjutku mengancam. Tanpa berniat menunggu jawaban Natasha, aku berbalik dan buru-buru melangkah keluar dari hutan.   *   Aku memilih mengistirahatkan mata dan tubuhku sejenak di dalam tenda begitu aku berhasil keluar dari hutan tanpa terlihat oleh siapapun. Saat aku telah membaringkan tubuhku, aku baru memikirkan semua perkataan Davina kembali. Jujur saja, semua perkataan Davina sama sekali tidak masuk akal. Lagipula andaipun semua yang dicurigai Davina itu benar, rasanya kejadian itu juga terlalu lama untuk diselidiki lebih lanjut. Penyelidikan kembali untuk kejadian itu akan sangat menyulitkan polisi, apalagi aku dan Davina yang jelas-jelas hanya amatir. Jujur saja, sebenarnya aku tidak tertarik untuk melakukan hal lain selain berkonsentrasi pada semua kegiatanku di sini. Tapi entah kenapa, saat bersama Davina, aku punya dorongan aneh untuk membantu kesulitan gadis itu. Apalagi saat tahu dia rela menyelinap ke sini hanya untuk membongkar kematian sahabatnya. Aku menghela napas panjang. Perlukah aku terlibat dalam hal ini? Bahkan sebelum melibatkan diri dalam hal ini saja, aku sudah cukup kesulitan mengikuti padatnya kegiatan di sini, apalagi dengan membantu Davina dan semua kecurigaannya yang sebenarnya belum tentu kebenarannya itu. Aku kembali membayangkan Davina. Saat pertama kali aku melihatnya, dia memang seperti orang yang depresi. Kesedihannya tampak nyata di wajah dan matanya. Terus terang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Davina. Aku sendiri punya banyak teman, tapi aku tidak merasa mempunyai seorang sahabat sama sekali. Jadi aku sama sekali tidak bisa membayangkan diriku akan mengorbankan banyak hal seperti yang sedang Davina lakukan sekarang. Ow, sial, aku bahkan tidak bisa membayangkan tempat tinggal Davina atau bagaimana caranya mencari makan sekarang. Niat tidurku lenyap seketika saat aku mengingat Davina. Ah, sial, mungkin aku memang perlu membantunya jika memang semua ceritanya benar. Sekalipun aku tidak tahu aku bisa membantu seperti apa, paling tidak, aku sudah menawarkan bantuan padanya. Ya, begitu saja. Tapi sebelum aku benar-benar memutuskan untuk membantu Davina, terlebih dahulu aku harus memastikan bahwa semua ceritanya padaku soal Vina itu benar. Dan itu berarti aku harus berurusan dengan si pencuri bendera. Ah, salah, maksudku Devon. Setelah tahu bahwa kakaknya meninggal di perkemahan ini, mendadak aku menjadi empati padanya. Pasti berat bagi pria itu untuk datang mengikuti acara serupa seperti acara terakhir yang dihadiri kakaknya sebelum kakaknya meninggal. Aku melirik arlojiku. Masih ada sisa satu jam untuk kembali berkumpul di pendopo. Aku memutuskan untuk keluar tendaku dan mencari Devon.   *   Terus terang, aku tidak berharap aku akan menemukan Devon di pendopo sore itu. Begitu keluar dari tendaku, aku mengelilingi daerah sekitar tenda dan sama sekali tidak melihat Devon. Namun saat aku melangkah ke kemar mandi dan melewati pendopo, aku tidak sengaja melihat Devon. Dan senyumku langsung terukir tipis saat menemukan pria yang sekarang tengah melamun sendiri dalam pendopo yang kosong itu. Aku baru akan melangkahkan kakiku mendekati Devon ketika suara bariton seorang pria memanggil namaku. Reflek, aku berbalik dan menemukan Kak Daniel, salah satu tutor favorit mayoritas cewek di sini, sedang berjalan semringah ke arahku. “Hai, Talitha,” sapanya riang. Aku tersenyum dan membalas sapaannya sopan. “Hai, Kak Daniel.” “Kamu nggak istirahat? Kurang capek ya kegiatan hari ini?” Aku tertawa kecil. “Saking capeknya, malah jadi nggak bisa tidur, Kak.” “Wah, kalian nggak tahu aja kalau kalian diberi waktu bebas agak lama karena malam ini kita mau bercapek-capek ria. Kegiatan malam ini full, jadi ada baiknya kalau kamu istirahat begitu kamu bisa istirahat.” “Kak Daniel kok nggak istirahat juga? Panitia capeknya biasanya double kan?” Kak Daniel mengangguk pelan. “Harusnya panitia juga mau istirahat, tapi ada laporan tentang peserta didik yang seenaknya keluar masuk hutan entah untuk apa, sekarang para panitia gantian patroli.”                                                               Deg. Jantungku langsung terasa berhenti selama beberapa detik. Apa kata Kak Daniel tadi? Ada laporan tentang peserta didik yang seenaknya keluar masuk hutan? Apa Kak Daniel sedang menyindirku? Apa itu sebabnya dia mendadak mendatangiku seperti barusan? Apa Natasha sialan itu yang telah melaporkanku? Berbagai pertanyaan mulai berputar di kepalaku. Keringat dingin pun rasanya mulai mengalir di wajahku. Oh sial. Apa yang harus kukatakan jika Kak Daniel mengintrograsiku? Sial! “Talitha…. Kamu kok tiba-tiba ngelamun?” tanya Kak Daniel mengejutkanku. Aku tersentak kaget namun buru-buru tersenyum. “Eh, enggak, Kak. Mendadak mikir aja, memangnya di hutan ada apaan sampai ada yang mau ke sana,” kilahku cepat. “Itu dia. Padahal kami pasti punya alasan kenapa kami sampai melarang kalian ke hutan tanpa pengawasan. Kami hanya nggak ingin terjadi hal buruk sama kalian. Hutan itu berbahaya. Apalagi danau di tengah hutan itu,” kata Kak Daniel lirih. Cerita Kak Daniel membuatku tertarik. Baru aku ingin memancingnya untuk menceritakan tentang kisah Davina yang terkesan ditutupi dari pemberitaan tentang acara ini, tiba-tiba sebuah suara tajam menyeruak di antara aku dan Kak Daniel. “Akan lebih baik kalau pembicaraan kalian dihentikan sekarang. Tidak akan bagus untuk Talitha kalau dia terlalu dekat dengan salah satu tutor lawan jenis di sini. Kalau kalian belum sadar, itu cewek-cewek di sana sudah mulai ngeliatin kalian sambil bisik-bisik nggak jelas,” kata Devon yang entah kapan sudah berada di belakangku.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN