Chapter 10 - Natasha

1179 Kata
“Siapa yang masuk hutan tengah malam kemarin?” ulang Kak Tyas saat aku tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaannya. Aku berpikir cepat. Dari awal aku sudah bertekad akan menghancurkan Talitha apapun caranya. Ketika aku tidak sengaja melihat Talitha masuk ke dalam hutan pun, aku merasa luar biasa bahagia karena aku punya kesempatan besar untuk membuat Talitha menderita. Tapi entah kenapa, setelah aku benar-benar diberi kesempatan untuk melaporkan Talitha, aku malah merasa agak ragu. “Eh, er, tidak, Kak, tidak ada apa-apa. Saya hanya bicara sendiri tadi,” kataku reflek. Kak Tyas memandangku sangsi. Sebelum kembali mengajakku bicara, kulihat Kak Tyas melirik name tagku terlebih dahulu. “Ok, Natasha. Seperti yang telah kami jelaskan di awal, seharusnya tidak ada satu perserta pun yang boleh memasuki hutan tanpa izin dan pengawasan dari kami. Kami membuat peraturan ini demi keselamatan kalian juga. Sekenal-kenalnya kami dengan daerah ini, tetap saja yang kita hadapi itu hutan. Besar pula. Tidak ada yang bisa menjamin kita tidak tersesat di sana. Jadi saya benar-benar minta tolong sama kamu, kalau memang kamu tahu seseorang mungkin melanggar peraturan dengan memasuki hutan, laporkan pada kami. Jangan malah dilindungi. Kalau nantinya ada sesuatu yang terjadi pada orang yang kamu lindungi, bukankah nantinya akan jadi beban moral juga buat kamu.” Brengsek. Gara-gara melindungi Talitha, aku malah mendapat ceramah mendadak. Apa sebaiknya aku mengaku saja? Tapi rasanya rugi jika aku mengaku sekarang. Aku sama sekali tidak mempunyai bukti bahwa Talitha memasuki hutan semalam. Tanpa bukti, mana mungkin akan ada yang mempercayaiku. Salah-salah aku malah akan kembali mendapat ceramah mendadak karena disangka ingin menfitnah Talitha. Terpaksa aku hanya mengangguk patuh sambil menunduk pura-pura merasa bersalah. Sepertinya Kak Tyas sengaja menungguku untuk mengaku. Buktinya Kak Tyas bukannya pergi, malah duduk di sampingku. Ketika tidak ada tanda-tanda aku akan membuka suara baru Kak Tyas menghela napas panjang dan mulai tampak akan beranjak dari sisiku. “Kalau begitu lanjutkan kegiatan kamu. Jangan lupa, langsung kabari para pantia begitu kamu melihat ada yang melanggar peraturan di sini.” “Iya, Kak,” kataku pelan. Aku menunggu Kak Tyas hingga lenyap dari pandanganku. Setelahnya, aku berniat mencari Talitha. Siapa tahu aku bisa mengorek rahasianya yang lain. Baru akan mengedarkan pandanganku untuk mencari Talitha, mendadak saja Tim muncul di hadapanku. Aku melonjak kaget. Dengan kesal, aku menatap tajam Tim yang kini menatapku serius. “Lo ngomong apa ke Kak Tyas barusan? Dia tanya-tanya apa?” cecar Tim tiba-tiba. Aku mengernyit tak suka mendengar perkataan Tim. Sejak awal, aku tahu kalau Tim termasuk orang yang ingin tahu urusan orang lain, tapi aku sungguh tidak menyangka dia sekepo ini. “Lo apaan sih, Tim? Gue mau ngomong apa ke Kak Tyas dan yang lain, kayaknya itu bukan urusan lo deh,” balasku jengkel. Tim menatapku tajam. Dan aku agak syok karenanya. Aku memang baru mengenal Tim, tapi selama aku mengenal Tim, tidak pernah sekalipun aku melihatnya serius seperti sekarang. Bukan hanya serius, Tim malah tampak…. Marah? “Gue harap lo nggak ngomong apa-apa sama Kak Tyas tadi. Terutama karena lo nggak tahu jelas tentang apa yang mau lo laporin ke dia. Saran gue, Nat, urus aja diri lo sendiri. Jangan repot ngurusin apa yang bukan urusan lo,” kata Tim tajam sebelum melangkahkan kakinya meninggalkanku begitu saja bahkan sebelum aku merespon perkataannya. Aku mengerjap tak percaya. Ketidakpercayaanku meningkat pesat menjadi kemurkaan. Ada apa dengan orang-orang di perkemahan ini? Kenapa rasanya tidak ada yang normal di sini. Aku mengumpat kesal. Saat aku kembali ke kelompokku, aku sengaja duduk berjauhan dengan Tim. Dia pun sepertinya enggan berdekatan denganku. Jangankan berdekatan, dia bahkan enggan melihatku! Dasar b******k.   *   Rasanya tubuhku luar biasa lelah hari ini. Karena tidurku yang sama sekali tak nyenyak semalam, ditambah lagi dengan padatnya aktivitas yang harus kujalani hari ini, rasanya aku ingin berteriak dan memutuskan menyerah untuk melanjutkan pelatihan sinting ini. Aku baru memutuskan untuk tidur sejenak saat acara bebas ketika tidak sengaja aku melihat Talitha. Jangan tanya padaku kenapa aku bisa tiba-tiba memperhatikannya di antara puluhan anak lainnya karena aku sendiri tidak tahu. Namun rasanya memang radarku agak peka jika itu berhubungan dengan Talitha. Mungkin kebencianku padanya sudah terlalu dalam sehingga aku reflek tahu jika ada dirinya di sekitarku. Mataku reflek nyalang memandang Talitha. Aku semakin menajamkan mataku saat menangkap keanehan sikap Talitha. Dari gelagatnya, sepertinya Talitha berencana melakukan sesuatu yang mencurigakan. Secara naluriah, aku mulai berjalan mendekati Talitha tanpa mengalihkan pandangan mataku sama sekali dari Talitha. Saat aku melihatnya mulai melangkah ke memasuki hutan tanpa sepengetahuan yang lain, aku menyipit kaget. Hutan lagi? Aku bergeming, mulai ragu tentang apa yang harus kulakukan. Terus terang, aku tidak suka membayangkan aku harus memasuki hutan sekalipun demi mengikuti Talitha dan mengetahui rahasianya. Tapi aku juga tahu aku akan merasa mati penasaran jika aku tidak mengikuti Talitha kali ini. Kupaksa otakku berpikir cepat. Tapi sebelum aku sempat memutuskan, sosok Talitha mulai menghilang dari pandanganku. Sadar bahwa semakin lama aku berpikir, semakin besar aku kehilangan sosok Talitha, reflek aku mempercepat langkahku dan menyusulnya masuk ke dalam hutan. Aku langsung mengumpat begitu kakiku melangkah masuk ke area hutan. b******k. Gara-gara sempat ragu, sekarang aku kehilangan jejak Talitha. Kuedarkan pandanganku ke sekelilingku, tapi hasilnya nihil. Talitha tidak tampak di mana-mana. Aku kembali berpikir logis. Lebih aman jika sekarang aku berbalik dan kembali ke tendaku untuk tidur siang misalnya. Tapi saat aku kembali mengingat tujuanku datang kemari, aku menolak untuk kembali ke tenda. Sambil merapatkan jaketku, aku memberanikan diri untuk melangkah lebih dalam ke arah hutan. Aku tidak pernah ingat berapa lama aku berjalan. Aku hanya ingat aku sudah hampir menyerah karena lelah dan frustasi. Aku ingin lanjut mencari Talitha, tapi aku tidak bisa. Talitha benar-benar seperti lenyap ditelan bumi dan bahkan aku pun tidak tahu di mana diriku sekarang. Aku ingin kembali ke kemah, namun sayangnya itu juga tidak bisa kurealisasikan. Sekalipun aku sudah mengambil ranting pohon yang berserakan di tanah, menusuknya dengan sehelai daun dan menyebarkannya di jalanan yang telah kulewati, aku sama sekali tidak menemukan tanda yang telah kutinggalkan saat aku berniat untuk kembali. Sambil memaki keputusan bodohku juga menahan ketakutan yang mulai merayap di hatiku, aku kembali mencoba peruntunganku. Agak teratih, aku melangkah pelan mencari jalan pulang. Saat tiba-tiba aku mendengar suara Talitha, rasanya aku hampir menangis karena gembira. Semangatku kembali meningkat. Ketakutanku mereda. Dengan lebih percaya diri, aku mengikuti suara samar Talitha. Suara Talitha tampaknya berasal dari area dekat danau. Tanpa ragu, aku melangkah mendekati Talitha dan berhenti saat jarak kami tinggal satu atau dua meter. Awalnya aku ingin menyapa Talitha, tapi saat mendengar Talitha seolah bicara dengan orang lain, aku mengurungkan niatku. Aku mencoba melongok Talitha, mencari tahu dengan siapa Talitha berbicara. Namun aku malah membelalak bingung. Sepertinya tidak ada siapapun selain Talitha. Jadi dengan siapa Talitha bicara? Aku kembali melirik kiri dan kananku dengan seksama. Sepertinya tidak ada tanda-tanda seseorang selain Talitha. Tapi itu jelas-jelas tidak mungkin. Aku sangat yakin tadi mendengar Talitha bercakap-cakap dengan seseorang. Karena bingung, aku kehilangan konsentrasiku dan membuatku menginjak dedaunan. Talitha langsung menoleh tak bersahabat denganku. Sebelum aku bisa membela diriku sendiri, Talitha sudah berjalan ke arahku dengan tatapan sinis. “Lo masih inget kan sama yang gue bilang sebelum ke sini? Jangan coba-coba ganggu gue atau lo akan gue bikin menyesal,” ancam Talitha sinis sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan hutan. Untuk kali pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak terpancing emosi sama sekali mendengarkan ancaman Talitha. Satu-satunya yang kupikirkan dan kulakukan sekarang hanyalah mengikuti Talitha agar aku bisa keluar dari hutan terkutuk ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN