Aku menggenggam erat dahan pohon yang tidak sengaja kutemukan di tanah sambil memasang ancang-ancang menyerang. Ini satu-satunya caraku untuk bertahan. Sebenarnya aku bisa saja bersembunyi dan otomatis membuatku lebih aman dari siapapun atau apapun yang sedang menungguku di balik semak, tapi kondisi Natasha tidak memungkinkan untuk itu. Untuk berdiri saja mungkin dia kesulitan, apalagi bersembunyi dalam waktu secepat mungkin. Tak punya pilihan lain, mau tak mau aku harus mencoba melawan dengan dahan seadanya ini. Melawan untuk diriku sendiri, juga untuk Natasha. Aku mengawasi semak-semak yang mulai tersibak. Dua orang muncul pada saat bersamaan dan membuatku membelalak panik. Melawan satu orang aku masih bisa, tapi dua? “Talitha!” Aku tersentak kaget mendengar suaraku disebut. Suara De

