"Maaf, Tuan Bian. Saya mau mengepel lantainya," ucap salah seorang pelayan dengan sopan. "Oh, silahkan!" jawab Bian santai. Fatwa mengembuskan napas lega, sebab tadi dia mengira jika yang barusan menuruni tangga adalah Dimas. "Fatwa, kenapa kamu tampak tegang begitu?" tanya Bian heran. "Oh tidak apa - apa," jawab Fatwa agak gugup. "Apa Kak Dimas menindasmu lagi?" tanya Bian semakin penasaran. "Tidak, bukan begitu," balas Fatwa kian gugup. Bian tertawa, sebab walaupun Fatwa sudah menjadi janda dan menjadi seorang ibu tetap saja terlihat polosnya. Bahkan seperti gadis yang baru tumbuh remaja. "Bian, boleh aku minta tolong padamu?" pinta Fatwa agak malu - malu. Bian menoleh dan memperhatikan Fatwa dengan serius. "Aku akan selalu ada untukmu, Fatwa. Bukankah aku sudah bilang jika ada

